Apa Itu Polio?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu polio?

Polio, atau yang disebut juga dengan poliomyelitis, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus. Virus ini dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kerusakan pada sistem saraf motorik.

Kondisi tersebut dapat mengakibatkan kelumpuhan pada otot, baik yang bersifat sementara maupun permanen. Pada kasus yang lebih berat, polio dapat memengaruhi kemampuan bernapas dan menelan pada penderita.

Penyakit ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Untungnya, saat ini sudah terdapat vaksinasi yang dapat mencegah penularan penyakit ini. Selain itu, angka kejadian penyakit ini telah mengalami penurunan yang signifikan, meskipun kasusnya masih banyak terjadi di negara-negara berkembang.

Seberapa umumkah polio?

Polio diperkirakan pertama kali muncul sekitar 6000 tahun lalu. Penyakit ini sempat menjadi wabah di Amerika dan di belahan dunia lainnya pada tahun 1940 dan 1950-an, hingga akhirnya vaksinasi penyakit ini ditemukan pada tahun 1950-an.

Sejak tahun 1988, kasus kejadian penyakit telah berkurang sejauh 99 persen. Bahkan, World Health Organization (WHO) telah menyatakan bahwa beberapa negara, seperti Amerika, telah terbebas dari penyakit ini.

Akan tetapi, keberadaan virus ini masih dapat ditemukan di negara-negara berkembang, terutama Pakistan, Afghanistan, dan Nigeria.

Penyakit ini lebih mudah menyerang wanita hamil, anak kecil yang belum diimunisasi, dan orang dengan sistem imun tubuh yang buruk.

Meskipun tidak dapat disembuhkan secara total, polio dapat diatasi dan dicegah dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai penyakit ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala polio?

Polio memiliki tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Namun, terkadang beberapa orang yang sudah terinfeksi virus tidak menunjukkan tanda-tanda dan gejala apapun. Gejala yang muncul pun tergantung pada jenis polio apa yang menyerang penderita

Terdapat 3 jenis infeksi, yaitu nonparalitik, paralitik, erta sindrom pascapolio. Ketiganya memiliki gejala-gejala yang sedikit berbeda.

1. Nonparalitik

Tanda-tanda dan gejala dari jenis nonparalitik dapat berlangsung dari 1 hingga 10 hari. Gejala yang muncul mungkin menyerupai flu biasa, dan disertai pula dengan:

  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Tubuh kelelahan
  • Meningitis

Jenis nonparalitk juga biasa disebut dengan polio abortif.

2. Paralitik

Sekitar 1% kasus polio dapat berkembang menjadi jenis paralitik. Sesuai dengan namanya, jenis paralitik dapat menyebabkan kelumpuhan (paralysis) pada saraf tulang belakang (spinal), batang otak (bulbar), atau keduanya (bulbospinal).

Gejala awal yang muncul mungkin tidak berbeda jauh dengan gejala nonparalitik. Namun, setelah 1 minggu, gejala yang lebih parah akan timbul. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Kehilangan refleks
  • Nyeri dan kejang otot yang parah
  • Salah satu bagian tubuh terasa lemas dan tidak bertenaga
  • Kelumpuhan tiba-tiba, dapat bersifat sementara atau permanen
  • Bentuk bagian tubuh yang tidak sempurna, terutama di pinggang, pergelangan kaki, dan kaki

3. Sindrom pascapolio

Ada kemungkinan polio kembali lagi meski Anda sudah disembuhkan. Kondisi ini dapat terjadi sekitar 15 hingga 40 tahun setelah pertama kali terinfeksi virus.

Tanda-tanda dan gejala yang umumnya muncul adalah:

  • Lemah otot dan sendi
  • Nyeri otot yang semakin memburuk
  • Lebih mudah lelah
  • Penyusutan otot
  • Kesulitan bernapas dan menelan (disfagia)
  • Depresi
  • Kesulitan mengingat dan berkonsentrasi

Diperkirakan sekitar 25 hingga 50 persen orang yang sembuh dari polio kembali menunjukkan tanda-tanda dan gejala di atas.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang Anda rasakan ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Apa saja komplikasi kesehatan yang diakibatkan oleh polio?

Polio, terutama yang berjenis paralitik, dapat mengakibatkan kelumpuhan temporer (sementara) atau permanen pada otot. Selain itu, penyakit ini juga dapat menyebabkan cacat fisik, kelainan bentuk tulang, bahkan kematian.

Selain itu, penderita kemungkinan dapat mengembangkan kondisi yang disebut dengan sindrom post-polio. Sindrom ini rata-rata akan muncul 35 tahun setelah penderita pertama kali terinfeksi.

Tanda-tanda dan gejalanya meliputi:

  • Nyeri otot dan sendi yang bertambah parah
  • Penyusutan otot
  • Kelelahan tanpa alasan yang jelas
  • Lebih mudah kedinginan
  • Mengalami gangguan tidur, seperti sleep apnea
  • Kesulitan konsentrasi
  • Daya ingat menurun
  • Perubahan suasana hati, yang berpotensi menjadi depresi

Penyebab

Apa penyebab polio?

Polio adalah penyakit yang sangat mudah menular. Virus umumnya ditemukan di feses yang terinfeksi. Terkadang, virus juga dapat ditularkan melalui batuk atau bersin karena virus tersebut dapat bertahan hidup di dalam tenggorokan dan usus. Namun, kasus kejadiannya lebih jarang ditemukan.

Orang-orang yang tinggal di daerah dengan akses air bersih yang kurang, atau sistem sanitasi yang buruk, lebih mudah terpapar virus akibat meminum air yang terkontaminasi. Selain itu, tinggal berdekatan atau bersama dengan orang yang terinfeksi juga dapat meningkatkan risiko penularan.

Wanita hamil, orang-orang dengan sistem imun tubuh yang lemah, penderita HIV, dan anak-anak adalah golongan orang yang lebih mudah terserang virus polio.

Apabila Anda belum pernah menerima suntik vaksinasi, Anda memiliki risiko yang cukup tinggi untuk terserang penyakit ini apabila Anda:

  • Bepergian ke area yang baru saja dilanda wabah
  • Tinggal bersama orang yang menderita penyakit tersebut
  • Bekerja di laboratorium dan menangani virus tersebut
  • Baru saja melakukan operasi pengangkatan amandel
  • Menderita stres berat

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko saya untuk terkena polio?

Meskipun angka kejadiannya telah mengalami penurunan, polio adalah penyakit yang dapat terjadi pada hampir semua orang. Penyakit ini tidak mengenal kelompok usia serta golongan ras penderitanya.

Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit ini. Perlu Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terserang penyakit atau kondisi kesehatan tertentu.

Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang dapat menderita suatu penyakit atau kondisi kesehatan tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu seseorang untuk terkena polio:

1. Usia

Polio adalah penyakit yang dapat menyerang individu dari semua usia. Namun, angka kejadiannya lebih banyak ditemukan pada anak-anak.

2. Tidak pernah mendapatkan suntik vaksinasi atau imunisasi

Apabila Anda belum pernah mendapatkan suntik vaksinasi atau imunisasi untuk pencegahan penyakit ini, risiko Anda untuk terinfeksi virus jauh lebih tinggi.

3. Wanita hamil

Wanita yang sedang mengandung juga memiliki peluang yang cukup besar untuk terinfeksi virus penyakit polio.

4. Bepergian atau tinggal di daerah dengan virus atau wabah polio

Jika Anda sedang mengunjungi daerah yang pernah atau baru saja mengalami wabah penyakit tersebut, kemungkinan Anda untuk tertular jauh lebih besar. Hal ini dapat semakin memburuk apabila Anda belum pernah menjalani vaksinasi.

5. Berdekatan langsung dengan orang yang terinfeksi virus

Virus dari penyakit ini sangat mudah menular dari satu penderita ke orang-orang di sekitarnya. Hal ini dikarenakan virus mudah menempel di mana saja, bahkan pada partikel-partikel udara.

Jika Anda sering berdekatan, terlebih lagi melakukan kontak fisik dengan orang yang sudah terinfeksi, risiko Anda untuk tertular virus lebih tinggi.

6. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk

Tubuh dengan sistem imun atau kekebalan yang kurang baik tidak dapat melawan infeksi virus dan bakteri dengan maksimal. Hal ini menyebabkan berbagai penyakit, termasuk polio, mudah menyerang tubuh.

Beberapa orang mengidap penyakit autoimun yang menyebabkan kekebalan tubuhnya tidak bekerja dengan sempurna, seperti penderita HIV/AIDS.

7. Pernah menjalani prosedur tonsilektomi

Jika Anda pernah melakukan prosedur pengangkatan amandel atau tonsilektomi, besar kemungkinan Anda dapat tertular oleh virus penyakit ini. Hal ini disebabkan karena amandel memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh.

8. Sedang stres berat

Tubuh yang sedang didera banyak beban pikiran dapat memicu stres. Stres juga membuat tubuh lebih rentan terserang berbagai macam infeksi virus dan bakteri, termasuk polio.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis polio?

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui apakah Anda mengalami kelumpuhan atau kaku di bagian leher dan punggung, kesulitan bernapas, menelan, dan reflek tubuh lainnya yang tidak wajar.

Selain itu, untuk mendapatkan hasil diagnosis yang lebih akurat, dokter akan mengambil sampel dari sumsum tulang belakang. Cairan tersebut akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi.

Poliovirus juga mungkin dapat bersarang di cairan dahak tenggorokan, feses, atau cairan serebrospinal (cairan yang melapisi otak dan saraf tulang belakang). Kemungkinan, dokter juga dapat mengambil sampel dari area-area tersebut.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk mengatasi polio?

Polio merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. Pengobatan yang ada hanya berfokus pada pereda rasa sakit, mencegah terjadinya komplikasi kesehatan, serta menambah tenaga.

Beberapa jenis obat yang mungkin diberikan dokter adalah:

  • Obat pereda rasa sakit, seperti ibuprofen
  • Obat anti kejang untuk menenangkan otot
  • Obat antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih
  • Ventilator atau alat bantu pernapasan
  • Terapi fisik untuk meringankan rasa sakit
  • Rehabilitasi paru untuk memperpanjang ketahanan fungsi paru-paru

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi polio?

Polio memang tidak dapat disembuhkan, namun Anda dapat mencegahnya dengan cara melakukan vaksinasi. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemberian vaksinasi polio dapat dilakukan melalui oral polio vaccine (OPV) inactivated polio vaccine (IPV). Pemberian keduanya dilakukan secara bertahap yaitu pada usia anak :

  • Pemberian OPV dilakukan pada saat baru lahir
  • Usia 2,3,4 bulan dapat diberikan OPV maupun IPV, namun disarankan setidaknya mendapatkan sekali vaksin IPV.
  • usia 18 bulan sebagai boaster
  • Antara 4-6 tahun, ketika anak baru pertama kali masuk sekolah dasar

IPV berpotensi menyebabkan alergi pada beberapa orang. Efek samping dari alergi ini dapat berupa sesak napas, mengi, percepatan detak jantung, hingga pusing.

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mencegah penyakit ini:

  • Hindari makanan atau minuman yang baru saja dikonsumsi orang yang terinfeksi
  • Bertanya ke tim medis apakah Anda sudah pernah mendapatkan vaksinasi atau belum
  • Sering mencuci tangan Anda
  • Gunakan hand sanitizer jika tidak ada sabun
  • Pastikan Anda menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang benar-benar bersih
  • Menutup mulut ketika sedang batuk atau bersin
  • Hindari kontak fisik secara langsung dengan penderita, seperti berpelukkan atau berbagi peralatan makan

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 28, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca