Apa itu keracunan makanan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu keracunan makanan?

Keracunan makanan adalah masalah pencernaan akibat konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit.

Gangguan pencernaan ini juga sering disebut dengan penyakit bawaan makanan.

Seberapa umumkah keracunan makanan?

Kasus keracunan makanan umum terjadi, dan dapat kapan saja memengaruhi setiap orang di segala usia.

Anda dapat terhindar dari keracunan makanan dengan mengurangi faktor risikonya. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Membedakan Keracunan Makanan Dengan Gastroenteritis (Muntaber)

Keracunan makanan sering disamakan dengan muntaber alias gastroenteritis. Gejala utama dari dua penyakit pencernaan ini pun sama, yaitu muntah dan diare.

Namun, kedua kondisi tersebut dapat dibedakan dari cara penularannya. 

Muntaber umumnya menular lewat kontak dengan benda atau permukaan yang telah disentuh orang sakit muntaber. Anda juga bisa terkena muntaber lewat:

  • Makan makanan atau minum air yang sudah terkontaminasi kuman penyebab keracunan makanan
  • Kontak langsung dengan orang yang terinfeksi muntaber. Misalnya, makan pakai sendok yang sama, atau menyentuh tangan penderita yang terkontaminasi feses
  • Udara di sekitar muntah dan kotoran orang yang terinfeksi muntaber

Sementara, keracunan makanan umumnya menyebar lewat hal berikut ini:

  • Cara mengolah makanan yang salah dan tidak steril.
  • Menyimpan daging mentah berdekatan dengan makanan matang di atas meja, di dalam kulkas atau freezer yang sama. Ini bisa menyebabkan bakteri dari makanan mentah pindah ke makanan matang. 
  • Tidak menutup hidangan saat disajikan di atas meja. Ini dapat menyebabkan serangga seperti kecoa atau cicak yang membawa kuman hinggap ke makanan Anda.

Tanda dan Gejala

Apa saja gejala dari keracunan makanan?

Gejala keracunan makanan bisa bervariasi, tergantung pada apa penyebabnya. Tanda-tanda dan gejala yang umum seperti:

  • Mual, muntah, diare berair
  • Nyeri perut dan kram
  • Demam
  • Kurangnya energi dan merasa lemah
  • Kehilangan selera makan
  • Otot sakit
  • Menggigil

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter jika mengalami salah satu dari gejala keracunan makanan parah berikut:

  • Muntah 
  • Muntah atau feses berdarah
  • Diare selama lebih dari tiga hari
  • Sakit perut ekstrem atau kram perut yang parah
  • Kondisi suhu oral lebih tinggi dari 38,6º Celsius
  • Haus yang berlebihan, mulut kering, buang air kecil sedikit atau tidak sama sekali, kelemahan yang parah, pusing,
  • Penglihatan buram, kelemahan otot dan kesemutan di lengan

Gejala tersebut menandakan dehidrasi yang bisa berakibat fatal apabila didiamkan begitu saja. Umumnya dehidrasi akibat keracunan makanan lebih mudah dialami oleh anak-anak atau orang lanjut usia.

Penyebab

Apa yang menyebabkan keracunan makanan?

1. Bakteri

Bakteri yang menjadi penyebab utama keracunan makanan adalah:

  • Campylobacter.
  • Salmonella Typhi, yang juga menjadi penyebab demam tifoid.
  • E. coli O15.
  • Shigella.
  • Clostridium botulinum, yang juga menjadi penyebab botulisme.
  • Staphylococcus aureus.

2. Virus

Norovirus dapat menginfeksi dalam kurun waktu 12-48 setelah Anda mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. 

Gejalanya sama dengan kondisi yang disebabkan oleh bakteri. Antara lain seperti kram perut, diare encer (lebih sering terjadi pada orang dewasa), atau muntah (lebih sering terjadi pada anak-anak).

3. Parasit

Selain virus dan bakteri, parasit juga bisa menjadi penyebab keracunan makanan. Giardia duodenalis merupakan parasit yang dapat hidup di usus hewan dan manusia.

Jika parasit ini masuk ke dalam tubuh Anda lewat makanan, ia bisa menyebabkan diare, kram perut, kembung, mual, dan feses berbau busuk, dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu setelah terpapar. 

4. Makanan tertentu

Anda dapat mengalami keracunan jika Anda makan makanan atau minuman yang tercemar air kotor.

Beberapa makanan tertentu juga dianggap berisiko tinggi menyebabkan keracunan, seperti:

  • Susu mentah (tidak dipasteurisasi)
  • Daging sapi dan unggas yang tidak dimasak matang
  • Hewan laut yang mentah atau tidak dimasak matang
  • Salad mentah seperti salad telur, salad sayur, dan salad kentang.
  • Madu, penyebab keracunan makanan paling umum pada bayi usia kurang dari 12 bulan.

Makanan yang dimasak kurang matang masih mengandung bakteri hidup sehingga dapat menginfeksi pencernaan Anda setelah dikonsumsi.

5. Salah cara mengolah makanan

Keracunan makanan juga bisa terjadi apabila Anda salah cara mengolah dan menyimpan makanan. Kesalahan dalam mengolah makanan ini bisa membuat bakteri berpindah pada makanan dan berkembang biak.

Makanan bisa menyebabkan keracunan makanan apabila dicuci dengan air kotor, dimasak kurang matang, atau disimpan di tempat atau cara yang keliru.

Kondisi ini juga bisa terjadi ketika seseorang yang sedang mengalami keracunan, menyiapkan makanan tanpa mencuci tangan. 

Bakteri penyebab penyakit ini juga dapat berpindah dari satu benda ke benda lainnya. Misalnya saat Anda memotong daging mentah yang terdapat bakteri Salmonella menggunakan pisau. Setelah itu Anda memotong selada pakai pisau yang sama tanpa dicuci.

6. Lokasi tertentu

Bahan makanan dapat terkontaminasi oleh kuman penyebab penyakit di mana saja makanan tersebut diolah, disiapkan, atau disimpan. Terutama di tempat-tempat yang sanitasi airnya buruk, lingkungannya tidak steril, dan orang-orangnya tidak menjaga kebersihan.

Keracunan makanan seringkali mewabah di:

  • Pabrik makanan yang tidak menjalani protokol kebersihan.
  • Restoran yang tidak menjalani protokol kebersihan
  • Toko, warung makan, atau tempat jajanan seperti food court atau kantin sekolah 
  • Rumah 

Makanan-makanan yang diolah, disiapkan, dan disajikan di tempat kotor dapat dihinggapi oleh kuman penyebab keracunan makanan.

Faktor-faktor risiko

Apa saja yang meningkatkan risiko saya mengalami keracunan makanan?

Ada banyak faktor risiko untuk keracunan makanan, seperti:

  • Usia. Semakin tua, sistem kekebalan tubuh kita secara natural melemah saat harus melawan infeksi. Bayi dan anak kecil juga sama rentannya karena di usia muda sistem kekebalan tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa.
  • Kehamilan. Masa kehamilan dapat menurunkan daya tahan dan mengubah kerja metabolisme tubuh, sehingga meningkatkan risiko ibu hamil mengalami infeksi yang dapat terasa lebih parah.
  • Memiliki penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit hati, atau AIDS.

Diagnosis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti saran medis. SELALU berkonsultasi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Bagaimana keracunan makanan didiagnosis?

Keracunan makanan agak sulit untuk didiagnosis karena gejalanya dapat sangat mirip dengan masalah pencernaan lainnya, dan banyak pula sumber infeksi yang bisa menyebabkannya.

Saat cek riwayat kesehatan, dokter pertama-tama akan menanyakan beberapa pertanyaan tentang gejala keracunan makanan yang Anda alami, termasuk durasi dan tingkat keparahannya. 

Dokter mungkin juga akan bertanya tentang pola penyakit. Contohnya, seperti apakah semua orang di keluarga Anda juga ikut mengalami sakit setelah makan hidangan tertentu atau apakah Anda baru pulang dari bepergian. Dari jawaban Anda, dokter dapat menarik beberapa dugaan yang mengarah kepada penyebab keracunan makanan. 

Selanjutnya dokter akan memeriksa tekanan darah, detak jantung, suhu, dan berat badan Anda. Ia juga akan menekan perut Anda atau mendengarkan bunyi perut. Ini  untuk mengecualikan diagnosis kondisi lain yang mungkin mirip dengan gejala keracunan makanan, seperti radang usus buntu.

Dokter biasanya akan memastikan diagnosis lewat tes gejala dehidrasi, tes darah lengkap,tes darah panel metabolik dasar (BMP), tes urin, atau tes feses setelah melakukan pemeriksaan fisik dasar dan mengecek riwayat kesehatan Anda.

Pengobatan

Bagaimana keracunan makanan diobati?

Pada kebanyakan kasus, gejala dapat sembuh sendiri dalam 1-3 hari tanpa perlu pengobatan khusus dari dokter. Pada beberapa orang, gejala bisa bertahan agak lama.

Jika kondisi tidak kunjung membaik atau tambah parah, dokter dapat menganjurkan rawat inap atau pengobatan yang lebih intensif tergantung dari penyebab dan tingkat keparahan gejala Anda.

Berikut adalah beberapa obat keracunan makanan yang dapat diberikan dokter: 

1. Rehidrasi

Dokter dapat merekomendasikan pengobatan rehidrasi untuk mengganti cairan yang hilang saat keracunan makanan disertai diare dan muntah parah. 

Cairan oralit yang mengandung mineral seperti natrium, kalium, dan kalsium dapat diresepkan untuk mengembalikan keseimbangan cairan dalam tubuh Anda yang hilang karena diare. Dokter dapat memberikan cairan elektrolit lewat infus agar efeknya lebih cepat terasa.

Agar tetap terhidrasi, penting juga untuk makan makanan berkuah dan minum air mineral saat di rumah. Anak yang masih diberikan ASI,  bisa tetap disusui lebih lama dan lebih lama apabila ia mengalamikondisi ini. Untuk orang dewasa, mencegah dehidrasi saat keracunan makanan bisa dilakukan dengan mengonsumsi bubuk cairan oralit yang dijual di apotek.

Tuang bubuk oralit dan tambahkan air. Anda juga bisa membuat oralit di rumah dengan cara menambahkan 6 sendok teh gula dan 0,5 sendok teh garam ke 1 liter air.

2. Obat diare

Dokter juga akan memberikan obat diare untuk membantu memadatkan feses yang cair saat keracunan makan. Menurut Kementerian Kesehatan di Indonesia, obat diare yang dapat diberikan adalah yang mengandung kaopectate dan aluminium hidroksida. Obat ini hanya digunakan apabila kondisi diare Anda terjadi lebih dari beberapa hari. 

3. Obat antibiotik

Pada kasus keracunan makanan yang disebabkan karena infeksi bakteri parah, dokter mungkin akan meresepkan obat antibiotik. Obat antibiotik umumnya diberikan untuk infeksi shigellosis (infeksi Shigella).

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan  yang dapat membantu saya mengelola keracunan makanan?

Berikut gaya hidup dan pengobatan rumah dapat membantu Anda mengatasi keracunan makanan:

  • Biarkan perut Anda istirahat. Anda tidak makan boleh dan minum dulu selama beberapa jam setelah gejala muncul
  • Cobalah mengisap potongan es battu atau meminum sedikit air. Air soda tawar, kaldu, atau minuman isotonik non-kafein juga dapat dikonsumsi.
  • Setelah merasa agak baikan, coba perlahan-lahan kembali makan. Makanlah makanan yang hambar, rendah lemak, dan rendah serat, seperti roti, pisang, dan nasi putih.
  • Istirahatlah di rumah karena keracunan makanan dapat berisiko dehidrasi. Kondisi ini juga dapat melemahkan badan Anda.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah keracunan makanan terjadi?

Cara terbaik untuk mencegah kondisi ini adalah dengan menghindari serta mencegah makanan yang Anda konsumsi agar tidak terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit.  

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena kondisi ini:

  • Jangan makan atau jajan sembarangan 
  • Cuci tangan Anda sehabis dari toilet, sebelum memasak, sebelum menyajikan makanan, dan sebelum makan.
  • Hindari mengonsumsi daging mentah, telur mentah, dan unggas mentah.
  • Gunakan pisau, perkakas dan talenan, yang bersih. Setelah potong daging atau bahan makanan mentah lainnya cuci dulu pisau dan alat masak lainnya.
  • Cuci buah-buahan segar dan sayuran dengan air matang.
  • Simpan makanan yang mudah busuk, seperti daging, pada suhu freezer 4º Celsius atau kurang.
  • Daging sapi, kambing, dan domba harus dimasak sampai matang, minimal hingga suhu dalam dagingnya 62º Celsius.
  • Daging giling harus dimasak hingga bagian dalam dagingnya bersuhu 71º Celsius.
  • Daging unggas perlu dimasak hingga 73º Celsius.
  • Sisa makanan harus dipanaskan hingga 73º Celsius sebelum disajikan.

Jika Anda memiliki pertanyaan tentang keracunan makanan, silakan berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter untuk lebih memahami solusi terbaiknya.

Hello Health Group tidak memberikan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: Agustus 22, 2019

Yang juga perlu Anda baca