Apa itu asma alergi?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu asma alergi?

Asma alergi adalah gejala asma yang dipicu atau muncul sebagai reaksi alergi. Biasa disebut juga allergy-induced asthma.

Orang dengan asma jenis ini biasanya mulai merasakan gejala setelah menghirup udara yang mengandung alergen (zat penyebab alergen). Misalnya asap rokok, polusi udara, serbuk sari, debu, bulu binatang, dan lain masih banyak lagi.

Ketika Anda terpapar alergen, sistem imun tubuh akan menghasilkan suatu senyawa yang disebut immunoglobulin E (IgE) untuk melawan zat-zat yang sebenarnya tidak membahayakan. Produksi IgE yang berlebihan dalam tubuh dapat menyebabkan saluran napas meradang dan membengkak. Akibatnya, Anda akan mengalami sejumlah gejala seperti batuk, mengi, dan sesak napas khas asma.

Penting bagi penderita asma untuk tahu jenis alergen yang mereka miliki. Selain memudahkan pengobatan, hal ini juga dapat membantu mencegah kekambuhan gejala asma.

Seberapa umum kondisi ini?

American Academy of Allergy, Asthma, & Immunology melaporkan bahwa asma alergi merupakan jenis asma yang paling umum. Diperkirakan lebih dari setengah penderita asma di seluruh dunia memiliki alergi.

Meski termasuk kondisi yang umum, asma jenis ini tak boleh disepelekan. Tanpa penanganan yang tepat, seseorang bisa mengalami reaksi alergi parah. Dalam dunia medis kondisi ini disebut dengan syok anafilaktik.

Kalau sudah mengalami syok anafilaksis, penderitanya harus segera mendapatkan perawatan medis di rumah sakit terdekat. Terlambat mendapatkan pertolongan medis dapat berakibat fatal dan membahayakan tubuh penderitanya.

Anda bisa mencegah kondisi ini dengan menghindari faktor risiko yang ada. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Gejala

Apa saja gejala asma alergi?

Gejala asma alergi sama dengan gejala asma pada umumnya. Intensitas gejala yang dirasakan juga dapat bervariasi pada setiap orang, dari ringan hingga berat. Tergantung pada seberapa baik fungsi sistem imun tubuh masing-masing orang.

Berikut beberapa gejala asma alergi yang perlu diwaspadai:

  • Mengi
  • Batuk
  • Sesak di dada
  • Napas terengah-engah
  • Napas pendek

Dalam kasus tertentu, gejala asma alergi juga sering disertai dengan sejumlah reaksi alergi seperti:

  • Kulit terasa gatal
  • Muncul ruam kemerahan di kulit
  • Kulit terkelupas
  • Hidung meler atau tersumbat
  • Mata gatal dan berair
  • Mulut terasa gatal
  • Gatal pada hidung dan tenggorokan
  • Bengkak pada mulut, tenggorokan, atau bibir

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda tidak dapat mengobati alergi dengan menggunakan obat bebas yang dijual di apotek, segera ke dokter.

Anda juga harus mengunjungi dokter jika gejalanya mengganggu kualitas hidup Anda, mengurangi produktivitas di tempat kerja, sekolah, atau mengganggu tidur Anda.

Ingat, hanya Anda yang tahu bagaimana tubuh Anda bekerja. Jadi, jangan ragu periksa ke dokter setiap kali Anda mengalami gejala yang tidak biasa.

Penyebab

Apa penyebab asma alergi?

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan pada substansi yang sebenarnya tidak berbahaya. Substansi ini bernama alergen. Ketika alergen terhirup, tubuh Anda akan secara otomatis menghasilkan antibodi IgE.

Antibodi ini kemudian melepaskan bahan kimia seperti histamin yang menyebabkan pembengkakan dan peradangan pada tubuh. Akibatnya, Anda akan mengalami sejumlah reaksi meliputi hidung tersumbat, mata berair, bersin-bersin, hingga kulit yang terasa gatal.

Bagi beberapa orang, reaksi ini juga dapat memengaruhi paru-paru dan saluran udaranya. Otot-otot di sekitaran saluran udara Anda menegang. Di sisi lain, saluran udara Anda pun meradang dan dipenuhi oleh lendir yang kental. Anda pun akan lebih sulit untuk bernapas lega.

Napas Anda mungkin akan terasa lebih dangkal, cepat, dan tidak teratur. Dada pun terasa sangat sakit dan Anda akan mengalami batuk-batuk serta mengi. 

Faktor risiko

Apa saja faktor risiko asma alergi?

Hanya alergen yang terhirup yang dapat menyebabkan asma alergi. Beberapa alergen yang dapat menyebabkan kondisi ini adalah:

  • Serbuk sari dari bunga, pohon, rumput, atau gulma yang terbawa angin.
  • Jamur
  • Bulu binatang
  • Tungau
  • Debu
  • Kotoran kecoa

Selain alergen yang sudah disebutkan di atas, asma jenis ini juga bisa dipicu dari zat-zat iritan seperti:

  • Asap dari rokok, perapian, lilin, dupa, kembang api, atau pembakaran sampah/
  • Polusi udara.
  • Bahan kimia dalam produk rumah tangga atau kosmetik yang bersifat iritan dan tidak sengaja terhirup.
  • Parfum atau produk wangi-wangian lainnya.

Dalam beberapa kasus, asma jenis ini juga bisa dipicu akibat makanan tertentu. Kondisi ini biasanya dialami oleh penderita asma yang juga punya riwayat alergi makanan.

Beberapa jenis makanan yang paling sering memicu alergi di antaranya susu, produk olahan susu, ikan, kerang-kerangan, telur, kacang, dan lain sebagainya. Namun, reaksi asma terhadap alergen yang dikonsumsi tidak terlalu umum.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis asma alergi?

Hanya dokter yang dapat mendiagnosis asma alergi. Hal pertama yang akan dilakukan dokter adalah menanyakan riwayat medis Anda dan keluarga.

Sambil menanyakan seputar riwayat kesehatan Anda, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan meminta Anda untuk menjalani sejumlah tes tertentu untuk mengetahui zat yang menyebabkan seseorang memiliki reaksi alergi.

Dua tes yang paling umum dan disarankan untuk mendiagnosis kondisi ini adalah:

Tes kulit

Tes ini dilakukan dengan cara menyuntikan zat yang dapat menyebabkan gejala pada kulit. Biasanya zat diberikan pada lengan bawah, lengan atas, atau punggung. Setelah itu, dokter akan mengawasi reaksi pada area suntikan secara ketat.

Hasil tes akan terlihat dalam waktu sekitar 15-30 menit. Jika tidak ada pembengkakan atau kemerahan pada kulit, artinya Anda tidak memiliki alergi terhadap alergen tersebut.

Bentuk lain dari tes kulit alergi adalah tes patch. Tes ini dilakukan dengan menempelkan patch (perekat) yang mengandung alergen ke kulit selama 24 jam. Jika diperlukan, patch juga bisa ditempelkan hingga 48 jam.

Tes darah

Dalam kasus reaksi yang parah, tes darah bisa dilakukan untuk mendiagnosis penyebab asma yang Anda miliki. Dokter akan mengambil sampel darah dan akan mengujinya di laboratorium untuk diperiksa ada tidaknya antibodi dalam tubuh Anda yang melawan alergen tertentu.

Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan tes tambahan untuk memantapkan diagnosisnya. Beberapa di antaranya seperti:

  • Spirometri. Tes ini dilakukan untuk mengukur kapasitas paru-paru. Selain mendiagnosis penyakit asma, spirometri juga dapat membantu memantau perkembangan penyakit lain yang berkaitan dengan fungsi paru. Misalnya, PPOK, bronkitis kronis, emfisema, dan fibrosis paru.
  • Peak flow. Tes ini berfungsi untuk mengukur tekanan udara saat Anda bernapas. Sebenarnya tes ini bisa dilakukan di rumah dengan perangkat genggam yang disebut peak flow meter. Namun guna mendapatkan hasil yang maksimal, tes ini dapat dilakukan di rumah sakit.
  • Fungsi paru-paru. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan bantuan tes pencitraan, seperti rontgen dada dan CT scan. Tujuannya untuk melihat apakah pernapasan Anda mengalami kemajuan setelah rutin minum obat-obatan asma.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati asma alergi?

Ada 3 tipe pengobatan yang dapat digunakan untuk menangani asma alergi. Ada yang bekerja dengan reaksi tubuh Anda terhadap alergen, ada juga yang berupa obat yang bekerja dengan menangani asma dan paru-paru. Tipe pertama dapat digunakan untuk perawatan jangka panjang dan dikonsumsi setiap hari. Dua tipe lainnya dapat digunakan sebagai pengobatan darurat.

Pengobatan alergi

Pengobatan alergi sendiri pada prinsipnya disesuaikan dengan keparahan gejala yang dikeluhkan pasien. Secara umum, berikut pilihan obat yang bisa digunakan untuk meredakan gejala alergi. 

  • Antihistamin. Pengobatan ini dapat mengurangi respon alergi sistem imun terhadap alergen. Cetirizine, loratadine, dan fexofenadine adalah beberapa contoh obat antihistamin yang bisa diminum untuk meredakan gejala alergi. 
  • Semprot hidung. Obat semprot (nasal spray) digunakan untuk pengobatan di area hidung dan sinus, misalnya karena hidung tersumbat. Biasanya obat ini mengandung dekongestan yang membantu mengurangi pembengkakan pada pembuluh darah di hidung untuk membuka jalur napas. Sayangnya obat ini tidak bisa digunakan dalam jangka panjang. Penggunaan secara berlebihan justru dapat memperburuk kondisi Anda. 
  • Obat tetes mata. Alergi dapat menyebabkan mata berair, gatal, dan kering. Guna meredakannya Anda bisa menggunakan obat tetes mata yang banyak dijual di toko obat atau swalayan tanpa harus menebus resep dokter. Pastikan Anda pakai obat tetes mata sesuai aturan pakai yang tertera pada label kemasan. 
  • Kortikosteroid oral. Bila obat antihistamin dan dekongestan tidak mampu meredakan gejala alergi yang Anda alami, cobalah untuk menggunakan obat kortikosteroid oral. Obat ini efektif meredakan gejala alergi akibat peradangan dan pembengkakan. Prednisolone, prednisone, dan methylprednisolone adalah beberapa contoh obat kortikosteroid oral.
  • Imunoterapi. Imunoterapi dapat secara bertahap mengurangi respon imun tubuh Anda. Untuk melakukan ini, seorang imunologis akan menyuntik Anda dengan sejumlah kecil alergen selama beberapa periode waktu. Setelah menjalani beberapa kali terapi, sistem imun Anda tidak akan lagi bereaksi terhadap zat alergen tersebut secara spesifik.

Sebagian besar obat alergi di atas dapat dibeli tanpa resep dokter. Namun, pastikan Anda berkonsultasi terlebih dulu ke dokter sebelum menggunakan obat-obatan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari efek samping yang serius jika digunakan dalam waktu yang lama. Selain itu, segera hentikan pemakaian bila Anda mengalami sejumlah gejala yang tidak biasa. 

Pengobatan asma

Asma tidak bisa disembuhkan. Pengobatan yang ada bertujuan untuk mengendalikan gejala dan mencegah kekambuhannya. Ketika asma alergi kambuh, berikut beberapa pilihan obat-obatan yang bisa Anda gunakan untuk meredakan gejalanya. 

  • Inhaler short-acting beta agonists. Obat ini bertindak cepat untuk membuka saluran udara sehingga memudahkan seseorang untuk bernapas lebih lega. Obat jenis ini dapat digunakan lewat inhaler genggam atau nebulizer. Contoh obat jenis ini adalah albuterol, levalbuterol, pirbuterol, dan bitolterol.
  • Kortikosteroid oral atau suntik. Obat ini dapat meredakan peradangan di saluran napas. Predisone dan methylpredisolone merupakan jenis obat kortikosteroid yang dapat digunakan untuk meredakan sesak napas akibat asma. 
  • Ipratropium. Obat ini bekerja seperti bronkodilator yang secara cepat akan melemaskan saluran udara Anda ketika serangan asma kambuh. Alhasil, Anda dapat bernapas lebih mudah.
  • Leukotriene modifier. Obat ini dapat meredakan pembengkakan sekaligus melemaskan saluran udara yang menegang. Dengan begitu seseorang akan lebih mudah untuk bernapas. 

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat asma alergi?

Asma alergi harus diobati dengan cepat dan tepat. Jika tidak, kondisi ini dapat menyebabkan dapat menjadi masalah serius. Salah satunya adalah syok anafilaksis. 

Syok anafilaksis merupakan sebuah reaksi alergi yang parah dan terjadi secara tiba-tiba ketika Anda terpapar oleh alergen. Reaksi ini berbahaya dan dapat mengancam nyawa penderitanya. 

Gejala umum dari syok anafilaksis adalah:

  • Reaksi pada kulit seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, dan sensasi panas
  • Bengkak pada mulut atau wajah
  • Kesulitan menelan
  • Kesulitan bernapas
  • Tenggorokan seperti ada yang mengganjal
  • Jantung berdetak cepat
  • Mual dan muntah
  • Tekanan darah rendah
  • Gelisah
  • Kehilangan kesadaran (pingsan)

Bila Anda mengalami sejumlah gejala di atas, segera pergi ke IGD terdekat. Semakin cepat mendapatkan pertolongan medis, maka pengobatannya akan semakin mudah. 

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah asma alergi?

Ada sejumlah cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah serangan asma alergi. Beberapa di antaranya seperti:

  • Bersihkan tempat tidur secara rutin sebab kasur, bantal. guling hingga selimut merupakan tempat persembuhnyian favorit bagi tungau. 
  • Gunakan vakum dengan filter HEPA (high efficiency particulate air) untuk menghilangkan semua polutan udara kecil, mulai dari tungau, debu, serbuk sari, dan bulu hewan peliharaan di rumah Anda. 
  • Saat berada di ruangan ber-AC, gunakan humidifier untuk membantu menambah kelembapan udara. 
  • Hindari tidur dengan hewan peliharaan, entah itu anjing atau kecing. 
  • Gunakan masker ketika Anda ingin bermain dengan binatang peliharaan atau berkendara. 
  • Rajin bersih-bersih rumah, terutama di area dapur dan kamar mandi untuk menghindari perkembangbiakan kecoa. 
  • Sering-sering cek fungsi paru menggunakan alat bernama peak flow meter.
  • Mengubah pola makan menjadi lebih sehat. Hindari mengonsumsi makanan yang digoreng dan tinggi lemak. Perbanyak mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang tinggi nutrisi.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

 

Direview tanggal: Oktober 17, 2019 | Terakhir Diedit: Oktober 17, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca