Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apa Itu Sebum? Kenali Fungsinya untuk Kesehatan Kulit

Apa Itu Sebum? Kenali Fungsinya untuk Kesehatan Kulit

Istilah sebum sering muncul pada produk perawatan kulit. Banyak produk yang menawarkan klaim free atau no sebum. Namun, apakah artinya sebum perlu dihindari?

Sebelum Anda membeli produk skincare tersebut, cari tahu lebih lanjut tentang sebum di sini.

Apa itu sebum?

sebum

Sebum adalah istilah lain dari minyak kulit. Minyak kulit ini tersusun dari berbagai molekul-molekul lemak yang disebut lipid. Secara lebih spesifik kandungan minyak kulit terdiri dari:

  • gliserida,
  • asam lemak bebas,
  • ester lilin,
  • squalene,
  • ester kolesterol, dan
  • kolesterol.

Sebum sebenarnya bisa ditemukan hampir di seluruh permukaan kulit. Hanya saja, ada beberapa bagian tubuh yang memiliki jumlah minyak terbanyak, yakni:

  • punggung tengah,
  • dahi,
  • dagu,
  • kulit kepala, dan
  • dada bagian tengah.

Jumlah kelenjar sebasea (penghasil minyak kulit) pada area ini tergolong banyak, bahkan mencapai 400–900 kelenjar per sentimeter persegi.

Pada area yang sedikit, jumlah kelenjar sebasea tidak lebih dari 100 kelenjar per sentimeter persegi.

Bagian tubuh dengan jumlah minyak paling sedikit, yaitu area tangan dan kaki. Sebum bahkan tidak ditemukan pada telapak tangan dan kaki.

Bagaimana sebum diproduksi?

kelenjar sebasea sebum kulit

Sebum diproduksi di kelenjar sebasea. Minyak kulit ini nantinya akan disalurkan melalui saluran sebasea, lalu dibawa ke folikel rambut hingga permukaan kulit. Proses ini membutuhkan waktu selama 2–3 minggu.

Saat sampai ke permukaan kulit, minyak akan bercampur dengan lipid atau lapisan lemak alami pada kulit, keringat, dan paparan lingkungan.

Produksi minyak dipengaruhi oleh hormon androgen. Hormon ini memuncak saat memasuki usia pubertas sehingga kulit remaja lebih berminyak.

Terlebih, kulit laki-laki cenderung lebih berminyak dibandingkan perempuan karena memiliki androgen yang lebih tinggi.

Sementara itu, sebum pada perempuan juga bergantung pada kadar hormon progesteron. Kulit wajah perempuan lebih berminyak saat mendekati fase menstruasi. Pasalnya, progesteron akan meningkat pada saat ini.

Selain hormon, beberapa faktor lain yang memengaruhi produksi sebum, yaitu:

  • suhu udara lingkungan,
  • penggunaan obat dan bahan aktif tertentu,
  • usia, dan
  • asupan makanan tinggi karbohidrat dan lemak.

Apa fungsi sebum?

Pelembap untuk Kulit Berminyak

Ada banyak produk perawatan kulit yang mengklaim mengurangi kadar sebum, padahal minyak alami ini berguna untuk menjaga kesehatan kulit.

Inilah beberapa fungsi sebum bagi kulit manusia.

1. Menjaga kelembapan kulit

Sebum mampu menjaga hidrasi kulit karena minyak alami ini mampu melapisi permukaan kulit. Hal ini mencegah penguapan air yang terkandung di dalam kulit.

Minyak alami ini juga membantu melembutkan kulit sehingga kulit tidak mengelupas dan pecah-pecah.

2. Melindungi infeksi mikroorganisme berbahaya

Kadar minyak memengaruhi pH kulit wajah. Mengutip hasil studi terbitan Advances in Dermatology and Allergology (2016), kulit dengan jumlah minyak yang tinggi memiliki angka pH yang rendah, sekitar 4–6.

Hal ini berarti sebum dapat menjaga keasaman kulit. Lingkungan kulit yang asam mampu membunuh bakteri dan jamur yang bisa menginfeksi kulit.

3. Menjaga kulit dari paparan sinar UV

Mengutip hasil studi terbitan Experimental Dermatology (2015), kandungan squalene yang ada pada minyak alami kulit mampu melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar UV.

Ketika kulit terpapar sinar UV, squalene akan memberikan sinyal pada sistem kekebalan tubuh untuk segera melindungi kulit.

4. Melindungi kulit dari radikal bebas

Minyak alami ini turut memberikan perlindungan ekstra dalam menjaga ketahanan sel-sel kulit.

Sebum membantu menyebarkan vitamin E dari pembuluh darah ke permukaan kulit. Vitamin E berperan sebagai antioksidan yang melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas.

5. Menjaga suhu tubuh

Suhu lingkungan yang dingin rentan membuat kulit cepat kering. Untuk menjaga suhu tubuh tetap seimbang, kulit akan memproduksi lebih banyak minyak dan sedikit keringat.

Jadi, sebum membantu menjaga keseimbangan suhu tubuh sekaligus menjaga kelembapan kulit di cuaca dingin.

Bagaimana cara menjaga keseimbangan sebum?

Efek sering ganti sabun cuci muka

Kadar minyak yang terlalu sedikit membuat kulit terasa kering dan meningkatkan risiko infeksi. Jumlah minyak yang terlalu banyak juga memicu komedo hingga jerawat.

Untuk mencegah munculnya masalah kulit, Anda perlu menjaga kadar sebum tetap seimbang. Bagaimana caranya?

1. Gunakan pembersih yang lembut

Pembersih yang lembut mampu mengangkat kotoran dengan baik sekaligus menjaga kadar minyak pada kulit.

Hindari sabun muka yang membuat sensasi kulit tertarik agar kulit tidak kering dan iritasi.

2. Pilih produk skincare dengan kandungan bebas minyak

Produk-produk, seperti pelembap atau moisturizer, dengan kandungan minyak justru memicu jumlah sebum berlebih.

Penggunaan produk tersebut bisa membuat pori-pori tersumbat sehingga memicu komedo hingga jerawat.

3. Bersihkan wajah setiap pagi, malam, dan setelah olahraga

Mencuci wajah secara rutin mampu mengurangi minyak berlebih pada kulit. Jadi, Anda bisa terhindari dari risiko komedo dan jerawat.

Pastikan Anda tidak menggunakan sabun dengan scrub karena bisa mengiritasi kulit.

4. Aplikasikan tabir surya setiap siang

Kulit kering merupakan salah satu tanda kerusakan akibat paparan sinar matahari. Jadi, pastikan Anda rutin mengoles tabir surya dengan SPF minimal 30.

Hal ini berguna untuk memberikan perlindungan maksimal pada kulit. Selalu ulangi pemakaian setiap 2 jam sekali.

5. Oleskan pelembap wajah setiap hari

Meskipun Anda memiliki kulit berminyak, mengoleskan pelembap penting untuk menjaga kulit agar tetap terhidrasi. Cara ini membantu menjaga jumlah sebum.

Jika terlalu kering, kulit justru cenderung memproduksi minyak lebih banyak untuk menggantikan minyak yang hilang. Lama-kelamaan, minyak di wajah jadi berlebih.

6. Pilih bahan pelembap yang tepat

Jika memiliki jenis kulit kering, pastikan Anda memilih moisturizer berbahan ceramide dan squalene. Untuk pelembab kulit berminyak, pilih yang mengandung niacinamide.

Ceramide dan squalene adalah kandungan menyerupai pelembap alami kulit. Sementara itu, niacinamide berfungsi untuk mengontrol minyak berlebih.

Sebum pada dasarnya adalah minyak yang ada pada kulit. Minyak alami ini tidak merugikan bagi kesehatan kulit asalkan jumlahnya seimbang.

Kekurangan atau kelebihan minyak alami kulit justru meningkatkan risiko masalah kulit, seperti komedo, jerawat, hingga infeksi kulit.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sebum | DermNet NZ. (2022). Retrieved 25 January 2022, from https://dermnetnz.org/topics/sebum

Nicolaou, A., & Harwood, J. (2016). Skin lipids in health and disease. Lipid Technology, 28(2), 36-39. doi: 10.1002/lite.201600012

Hoover, E., Aslam, S., & Krishnamurthy, K. (2021). Physiology, Sebaceous Glands. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499819/

Boer, M., Duchnik, E., Maleszka, R., & Marchlewicz, M. (2016). Structural and biophysical characteristics of human skin in maintaining proper epidermal barrier function. Advances In Dermatology And Allergology, 1, 1-5. doi: 10.5114/pdia.2015.48037

Picardo, M., Ottaviani, M., Camera, E., & Mastrofrancesco, A. (2009). Sebaceous gland lipids. Dermato-Endocrinology, 1(2), 68-71. doi: 10.4161/derm.1.2.8472

Jain, S., Verma, A., Jain, A., & Hurkat, P. (2016). Transfollicular drug delivery: current perspectives. Research And Reports In Transdermal Drug Delivery, 1. doi: 10.2147/rrtd.s75809

Pappas, A. (2009). Epidermal surface lipids. Dermato-Endocrinology, 1(2), 72-76. doi: 10.4161/derm.1.2.7811

Skin barrier function | DermNet NZ. (2022). Retrieved 25 January 2022, from https://dermnetnz.org/topics/skin-barrier-function

Kuo, S., Shen, C., Shen, C., & Cheng, C. (2020). Role of pH Value in Clinically Relevant Diagnosis. Diagnostics, 10(2), 107. doi: 10.3390/diagnostics10020107

Kim, S., Kim, B., Chun, M., & Youn, S. (2016). Relation between pH in the Trunk and Face: Truncal pH Can Be Easily Predicted from Facial pH. Annals Of Dermatology, 28(2), 216. doi: 10.5021/ad.2016.28.2.216

Oyewole, A., & Birch-Machin, M. (2015). Sebum, inflammasomes and the skin: current concepts and future perspective. Experimental Dermatology, 24(9), 651-654. doi: 10.1111/exd.12774

Your Skin (for Kids) – Nemours. (2022). Retrieved 25 January 2022, from https://kidshealth.org/Nemours/en/kids/skin.html

Purnamawati, S., Indrastuti, N., Danarti, R., & Saefudin, T. (2017). The Role of Moisturizers in Addressing Various Kinds of Dermatitis: A Review. Clinical Medicine & Research, 15(3-4), 75-87. doi: 10.3121/cmr.2017.1363

Dawnielle C. Endly, R. (2017). Oily Skin: A review of Treatment Options. The Journal Of Clinical And Aesthetic Dermatology, 10(8), 49. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5605215/

How to control oily skin. (2022). Retrieved 25 January 2022, from https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-basics/dry/oily-skin

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Feb 02
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan