home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa Bedanya AHA, BHA, dan PHA Sebagai Bahan Aktif dalam Produk Skincare?

Apa Bedanya AHA, BHA, dan PHA Sebagai Bahan Aktif dalam Produk Skincare?

Coba periksa label komposisi yang tertera pada produk perawatan kulit Anda. Apakah ada kandungan AHA, BHA, atau PHA? Produk perawatan kulit yang berfungsi untuk eksfoliasi atau mengangkat sel kulit mati biasanya mengandung salah satu zat ini.

Lantas, apa beda ketiganya dan bagaimana cara mengombinasikan bahan-bahan tersebut agar dapat bekerja maksimal pada kulit terutama jika dipakai sebagai produk skincare?

Perbedaan AHA, BHA, dan PHA

Produk skin care alami

Salah satu bahan aktif yang paling banyak digunakan dalam produk perawatan kulit adalah asam. Istilah ‘asam’ mungkin masih identik dengan zat kimia yang berbahaya atau merusak. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

Jika digunakan dalam konsentrasi yang tepat, asam justru bisa menjadi ‘obat’ mujarab untuk berbagai masalah kulit. Dalam dunia skin care, asam terbagi menjadi AHA, BHA, dan satu lagi yang jarang disebutkan yaitu PHA. Berikut perbedaan ketiganya.

1. Alpha-hydroxy acid (AHA)

Alpha-hydroxy acid (AHA) atau asam alfa hidroksi merupakan jenis asam larut air yang didapat dari pengolahan tanaman dan hewan. Kandungan AHA pada perawatan kulit dapat ditemukan dalam bentuk:

  • citric acid (berasal dari jeruk),
  • glycolic acid (berasal dari tebu),
  • hydroxycaproic acid (berasal dari royal jelly),
  • hydroxycaprylic acid (berasal dari hewan),
  • lactic acid (berasal dari karbohidrat),
  • malic acid (berasal dari buah-buahan), dan
  • tartaric acid (berasal dari anggur).

AHA memiliki banyak fungsi untuk kecantikan dan kesehatan kulit, dari mengobati jerawat, menghilangkan bekas jerawat, mengangkat sel kulit mati, hingga mencerahkan rona kulit yang tidak merata.

Senyawa alami ini juga terbukti ampuh untuk mengecilkan pori-pori, mengembalikan kekenyalan dan kelenturan kulit, hingga menangkal efek penuaan dini seperti kerutan dan garis halus.

AHA dan semua turunannya adalah senyawa yang terbukti aman untuk kulit. Namun, mengingat sifatnya yang cukup mengiritasi, Anda disarankan untuk menggunakan produk perawatan kulit yang mengandung konsentrasi AHA kurang dari 10 persen.

Dari ketujuh jenis AHA yang umum digunakan, glycolic acid dan lactic acid adalah yang paling populer karena jarang membuat iritasi. Ini sebabnya banyak sekali produk skin care di pasaran mengandung kedua bahan tersebut.

2. Beta-hydroxy acid (BHA)

mitos skin care

Beta-hydroxy acid (BHA) atau asam beta hidroksi adalah asam larut lemak yang biasanya didapat dari kulit pohon willow, kayu manis, atau daun wintergreen. Asam salisilat sebagai satu-satunya sumber BHA sering dipasarkan sebagai obat jerawat.

Perbedaan AHA dan BHA adalah BHA mengandung pelembap. Oleh karena itu, produk perawatan wajah yang mengandung BHA lebih direkomendasikan untuk mengatasi masalah kulit berminyak karena bersifat mengeringkan.

Namun, selain mengeringkan jerawat, asam salisilat ternyata juga berfungsi untuk membersihkan kulit mati serta mengurangi produksi minyak alami (sebum) sehingga mengurangi terbentuknya komedo hitam (blackhead) dan komedo putih (whiteheads).

BHA juga disarankan untuk orang yang memiliki penyakit kulit rosacea karena dapat mengurangi kemerahan pada wajah dan membuat wajah terlihat lebih halus. Akan tetapi, tidak semua kulit dengan rosacea bisa bereaksi baik dengan produk pengelupasan kulit.

Jika Anda ingin mengobati jerawat, carilah produk perawatan kulit yang mengandung konsentrasi BHA sekitar 0,5-5 persen. Pastikan untuk tidak melebihi rentang tersebut karena semakin tinggi konsentrasi BHA, semakin besar risiko kulit mengalami iritasi.

3. Polyhydroxy acid (PHA)

Polyhydroxy acid (PHA) adalah senyawa turunan dari AHA yang berfungsi mengelupas sel-sel kulit mati dan meratakan warna kulit. Berbeda dengan AHA dan BHA, PHA cenderung tidak mengiritasi kulit atau membuatnya sensitif terhadap sinar matahari.

PHA membantu proses eksfoliasi lapisan kulit terluar tanpa membuat kulit menjadi kering. Berkat sifat ini, PHA cocok bagi kulit yang sensitif terhadap AHA dan BHA. PHA juga dapat menyediakan asupan antioksidan untuk meningkatkan kolagen pada kulit wajah sehingga mengurangi proses penuaan.

Beberapa jenis PHA yang dapat Anda temukan adalah gluconolactone, galactose, dan lactobionic acids. Di antara ketiganya, gluconolactone adalah jenis PHA yang paling umum ditemukan dalam produk perawatan kulit.

Tips dalam menggunakan AHA, BHA, dan PHA

urutan pemakaian skin care

AHA, BHA, dan PHA sebenarnya memiliki fungsi yang mirip. Ketiganya dapat saling mendukung fungsi satu sama lain. Namun, mengingat fungsinya sama-sama sebagai eksfoliator, Anda perlu memerhatikan beberapa hal sebelum menggunakan ketiganya.

Berikut hal-hal yang perlu Anda perhatikan saat menggunakan AHA, BHA, dan PHA.

1. Kenali nama lain bahan aktif

AHA dan BHA sering dicantumkan dalam label kemasan menggunakan nama lain. Bentuk lain AHA biasanya adalah glycolic acid, lactic acid, malic acid, mandelic acid, hingga citric acid. Sementara bentuk lain BHA adalah salicylic acid.

2. Kenali fungsinya

AHA lebih cocok digunakan untuk Anda yang mengalami masalah kulit berkaitan dengan penuaan seperti flek hitam dan kerutan, sedangkan BHA lebih disarankan bagi Anda yang memiliki kulit sensitif dan rentan berjerawat.

3. Perhatikan pemakaian produk secara berbarengan

Beberapa orang berpendapat bahwa penggunaan BHA dan AHA secara bersamaan bisa memberikan hasil yang lebih baik, tapi ini tidak selalu diperlukan. Kalaupun Anda ingin memakai keduanya sekaligus, sebaiknya lakukan pada waktu yang berbeda.

Sebagai contoh, gunakan AHA pada siang hari dan BHA pada malam hari. Beberapa hari sekali, gantilah dengan PHA. Jika Anda punya lebih dari satu masalah kulit dan ingin memakai beberapa produk, mulailah dengan konsentrasi yang paling rendah.

4. Pertimbangkan pemakaian produk lain

Baik AHA dan BHA keduanya akan lebih efektif bekerja jika kondisi wajah Anda sudah dalam keadaan bersih, yaitu setelah cuci muka dan pakai produk toner. Tunggu sekitar 3 – 5 menit atau hingga kulit betul-betul kering untuk memaksimalkan pengelupasan.

Setelah itu, produk kosmetik lain seperti pelembap, serum, krim mata, sunscreen, atau foundation boleh digunakan. Jika ingin menggunakan produk resep topikal seperti renova, retinoid, dan sebagainya, gunakanlah BHA atau AHA terlebih dahulu.

Jangan menggunakan PHA bersamaan dengan vitamin C dan retinol. PHA dan vitamin C bisa saling menghilangkan fungsi masing-masing, sedangkan campuran PHA dan retinol dapat menyebabkan iritasi.

AHA, BHA, dan PHA merupakan eksfoliator kimia bagi kulit. Bahan-bahan ini bekerja dengan mengelupas sel kulit mati sehingga kulit tampak lebih cerah. Selalu gunakan ketiganya sesuai anjuran pemakaian untuk mendapatkan hasil terbaik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Alpha Hydroxy Acids. (2020). Retrieved 19 October 2020, from https://www.fda.gov/cosmetics/cosmetic-ingredients/alpha-hydroxy-acids

Abels C, et al. (2011). A 10% glycolic acid containing oil-in-water emulsion improves mild acne: A randomized double-blind placebo-controlled trial. Journal of Cosmetic Dermatology.

Alpha hydroxy acids. (2020). Retrieved 19 October 2020, from
fda.gov/Cosmetics/ProductsIngredients/Ingredients/ucm107940.htm

Understanding the ingredients in skin care products. (2020). Retrieved 19 October 2020, from my.clevelandclinic.org/health/articles/10980-understanding-the-ingredients-in-skin-care-products

Green, B., Yu, R. and Van Scott, E., 2009. Clinical and cosmeceutical uses of hydroxyacids. Clinics in Dermatology, 27(5), pp.495-501.

Kornhauser A, et al. (2009). The effects of topically applied glycolic acid and salicylic acid on ultraviolet radiation-induced erythema, DNA damage and sunburn cell formation in the human skin. Journal of Dermatological Science, 55(1), pp.10-17.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Gladys Mangkuliguna Diperbarui 10/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x