Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenal Biduran Kronis, Biduran yang Tak Kunjung Sembuh

Mengenal Biduran Kronis, Biduran yang Tak Kunjung Sembuh

Biduran atau urtikaria dalam istilah medis merupakan masalah kulit yang bisa kambuh berkali-kali selama jangka panjang (kronis). Para ahli menduga biduran kronis bisa muncul karena suatu kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah penyakit autoimun.

Berikut ini penjelasan lengkap terkait urtikaria kronis dari penyebab biduran tak kunjung sembuh hingga pengobatannya.

Apa itu biduran kronis?

Berdasarkan lama waktu timbulnya, biduran atau urtikaria terbagi menjadi dua, yaitu akut dan kronis.

Urtikaria akut atau biduran akut timbul dalam waktu kurang dari enam bulan.

Sementara itu, urtikaria kronis atau biduran kronis sudah berlangsung lebih dari enam bulan atau biduran tak kunjung sembuh karena kambuh berkali-kali.

Meski ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab urtikaria kronis, hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab dari penyakit kulit ini.

Gejala biduran kronis

penyebab biduran

Urtikaria kronis pada seseorang mungkin hampir mirip dengan biduran pada umumnya. Hal yang membedakan adalah lama waktu timbulnya gejala dan kekambuhannya.

Pada biduran akut, gejala muncul secara tiba-tiba dan bisa hilang, lalu kambuh lagi sewaktu-waktu, dalam kurun beberapa minggu saja.

Sebaliknya, biduran kronis cenderung tak kunjung sembuh, kekambuhannya menerus dalam jangka panjang, dan tingkat keparahan gejala cukup berat.

Berikut adalah beberapa gejala dan tanda urtikaria kronis yang berbeda dari biduran biasa.

  • Ruam kulit dan kulit memerah yang dapat muncul di bagian mana saja pada tubuh. Ukuran dan bentuk ruam dapat bervariasi.
  • Kemerahan dan gatal mereda beberapa kali dan dapat menjalar ke berbagai bagian tubuh lain.
  • Gatal tak kunjung sembuh dan parah.
  • Pembengkakan yang menyakitkan (angioedema) pada bibir, kelopak mata, dan tenggorokan.
  • Biduran tak kunjung sembuh, bisa menetap selama lebih dari enam minggu dan sering kambuh tiba-tiba.
  • Kadang-kadang gejala muncul selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Penyebab biduran kronis

Salah satu penyebab urtikaria kronis adalah alergi makanan lantaran munculnya reaksi berlebihan dari sistem kekebalan setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Biduran juga bisa dipicu oleh sejumlah bahan makanan tambahan, termasuk pengawet dan pewarna buatan.

Namun, para ahli meyakini bahwa urtikaria kronis lebih sering disebabkan oleh suatu penyakit autoimun.

Riset dari The Indian journal of medical research (2019) mencatat sekitar 45% pasien dengan urtikaria kronis punya gangguan autoimun, sedangkan 55% sisanya bersifat idiopatik atau tidak diketahui dengan jelas penyebabnya.

Penyakit autoimun terjadi saat sistem imun (kekebalan tubuh) keliru menyerang sel-sel sehat yang ada di tubuh sendiri.

Sistem imun Anda malah menganggap sel sehat sebagai objek asing yang berbahaya. Penyakit tiroid merupakan salah satu penyakit autoimun yang paling sering menyebabkan urtikaria kronis.

Sejumlah penyakit autoimun lainnya yang disebut menjadi penyebab biduran kronis adalah lupus, cryoglobulinemia (kelainan protein darah), dan rheumatoid arthritis (peradangan sendi).

Faktor risiko biduran kronis

Menurut jurnal Indian journal of dermatology (2011) berikut ini adalah beberapa pemicu atau faktor risiko dari urtikaria kronis.

1. Rangsangan fisik

Sekitar 15% kasus urtikaria kronis dipicu oleh rangsangan dari luar tubuh.

Rangsangan tersebut bisa berasal dari menggaruk kulit terlalu keras, tekanan pada kulit, udara dingin, terpapar air, suhu panas, hingga paparan sinar matahari.

2. Infeksi

Urtikaria kronis juga bisa disebabkan oleh sejumlah infeksi virus, jamur, dan parasit. Penyebab infeksi urtikaria kronis dari virus adalah:

  • hepatitis B,
  • Streptococcus (penyebab sinusitis),
  • Helicobacter pylori (penyebab tukak lambung),
  • Mycobacterium tuberculosis (penyebab TBC), dan
  • virus herpes.

Infeksi jamur seperti onikomikosis (jamur kuku kaki), kandidiasis, dan tinea pedis (kutu air) disebut mungkin bisa memicu urtikaria kronis.

Kemudian infeksi parasit seperti strongyloidiasis(cacing gelang), giardiasis (parasit usus), dan amoebiasis (parasit hati), juga dianggap penyebab kondisi ini.

3. Idiopatik

Sebagian besar kasus urtikaria kronis dianggap idiopatik atau tidak diketahui dengan jelas penyebabnya.

Beberapa penyebab urtikaria kronis bisa bersumber dari obat-obatan seperti ibuprofen, pemicu alergi (alergen) seperti gigitan serangga, gangguan saraf, dan stres.

4. Vaskulitis

Vaskulitis merupakan kondisi peradangan pada pembuluh darah yang berakibat terjadinya perubahan di dinding pembuluh darah.

Pasien biduran kronis yang dipicu vaskulitis biasanya mengalami rasa sakit dan sensasi terbakar pada kulit.

Ruam dan rasa gatal bisa berlangsung lebih dari 24 jam, berbeda dengan biduran biasa yang sembuh dalam beberapa menit atau beberapa jam.

Pengobatan biduran kronis

obat biduran

Apabila dokter sudah melakukan diagnosis pada kondisi Anda, biasanya dokter akan meresepkan sejumlah obat untuk meredakan gejala dan tanda biduran kronis.

Dokter mungkin akan meresepkan antihistamin untuk membantu meredakan pelepasan histamin (zat kimia penyebab reaksi alergi).

Selain antihistamin, obat lain untuk biduran tak kunjung sembuh yang mungkin diresepkan seperti loratadin, fexofenadine, cetirizine, dan desloratadin.

Jika antihistamin tidak membantu Anda, dokter mungkin akan meningkatkan dosis obat atau meresepkan obat biduran lain, seperti berikut.

  • Penghambat histamin (H-2). Obat-obatan ini, juga disebut antagonis reseptor H-2, pemberian obat ini bisa melalui suntikan atau diminum secara oral, contoh obat seperti cimetidine dan famotidine.
  • Obat antiradang atau kortikosteroid oral seperti prednison dapat membantu mengurangi pembengkakan, kemerahan dan gatal. Namun, ini untuk pengobatan jangka pendek dari gatal-gatal parah.
  • Antidepresan trisiklik bisa digunakan dalam bentuk krim untuk meredakan gatal. Obat ini dapat menyebabkan pusing dan mengantuk.
  • Obat asma dengan antihistamin, contohnya adalah montelukast dan zafirlukast.
  • Antibodi buatan (monoklonal), seperti omalizumab sangat efektif melawan jenis gatal-gatal kronis yang sulit diobati.
  • Obat penekan kekebalan tubuh, seperti siklosporin dan tacrolimus.

Biduran kronis bisa kambuh beberapa kali. Meski penyebab urtikaria kronis masih belum diketahui secara pasti, ada baiknya Anda untuk melakukan konsultasi medis dengan dokter.

Lewat pemeriksaan, Anda dapat mengetahui apakah memiliki penyakit autoimun dan mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi Anda.


Pernah alami gangguan menstruasi?

Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Khan S. (2019). Urticaria in patients with diabetes: Adverse drug reaction or relapse of underlying autoimmune urticaria?. The Indian journal of medical research, 149(3), 423–425. https://doi.org/10.4103/ijmr.IJMR_1060_17 

Lee, S. J., Ha, E. K., Jee, H. M., Lee, K. S., Lee, S. W., Kim, M. A., Kim, D. H., Jung, Y. H., Sheen, Y. H., Sung, M. S., & Han, M. Y. (2017). Prevalence and Risk Factors of Urticaria With a Focus on Chronic Urticaria in Children. Allergy, asthma & immunology research, 9(3), 212–219. https://doi.org/10.4168/aair.2017.9.3.212 

Nuzzo, V., Tauchmanova, L., Colasanti, P., Zuccoli, A., & Colao, A. (2011). Idiopathic chronic urticaria and thyroid autoimmunity: Experience of a single center. Dermato-endocrinology, 3(4), 255–258. https://doi.org/10.4161/derm.3.4.17066

Sachdeva, S., Gupta, V., Amin, S. S., & Tahseen, M. (2011). Chronic urticaria. Indian journal of dermatology, 56(6), 622–628. https://doi.org/10.4103/0019-5154.91817 

Schaefer P. (2017). Acute and Chronic Urticaria: Evaluation and Treatment. American family physician, 95(11), 717–724. PMID: 28671445

Oakley, Amanda. (2021). Chronic urticaria. Dermnet New Zealand. Retrieved April 4, 2022 from, https://dermnetnz.org/topics/chronic-urticaria 

Chronic hives – Diagnosis & treatment. (2020). Mayo Clinic. Retrieved April 4, 2022 from, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-hives/diagnosis-treatment/drc-20352723 

Chronic hives – Symtopms & Causes. (2020). Mayo Clinic. Retrieved April 4, 2022 from, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-hives/diagnosis-treatment/drc-20352723 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui Apr 28
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro