home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kudis Api (Norwegian Scabies; Kudis Berkrusta)

Definisi |Tanda-tanda dan gejala|Penyebab |Faktor-faktor risiko|Diagnosis|Pengobatan
Kudis Api (Norwegian Scabies; Kudis Berkrusta)

Definisi

Apa itu kudis api (Norwegian scabies)?

Kudis api atau scabies berkrusta merupakan bentuk penyakit kudis atau scabies yang sangat parah. Penyakit ini disebabkan oleh tungau atau kutu parasit yang sama dengan penyakit kudis pada umumnya, yaitu Sarcoptes scabiei, yang tinggal dan bersarang di dalam kulit.

Perbedaannya, klit yang terinfeksi kudis atau scabies pada umumnya hanya memiliki 10-15 tungau di dalam kulit. Namun pada kasus kudis api, terdapat ribuan hingga jutaan tungau yang menginfeksi kulit.

Selain berbahaya bagi penderita, penyakit kulit ini juga sangat menular. Orang yang mengalami kudis api bisa menularkan kutu scabies lebih cepat daripada orang dengan scabies biasa.

Secara medis kudis api juga dikenal dengan nama Norwegian scabies. Penamaan tersebut tidak menandakan penyakit ini disebabkan dari kutu yang berasal dari Norwegia ataupun hanya bisa diderita oleh orang-orang keturunan Norwegia. Nama ini diambil dari kasus penyakit scabies berkrusta yang pertama kali ditemukan di Norwegia pada pertengahan abad ke-19.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Penyakit kulit menular seperti scabies atau kudis bisa dialami oleh siapapun yang melakukan kontak fisik antar kulit dengan penderita.

Kondisi scabies berkrusta umumnya dialami oleh orang yang terlebih dulu mengalami penyakit kudis biasa. Terdapatnya gangguan pada sistem imun membuat tungau berkembang biak lebih cepat dari sebagaimana mestinya.

Menurut DermNet New Zealand, penderita kudis yang kemudian mengalami Norwegian scabies paling banyak ditemukan di wilayah Australia Utara.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda dan gejala kudis api ( Norwegian scabies)?

Tubuh baru akan menunjukkan gejala kudis setelah 4-6 minggu setelah paparan awal terhadap tungau penyebab scabies. Namun, jika Anda pernah terkena penyakit ini sebelumnya, ciri dan gejala scabies bisa saja muncul lebih cepat, yaitu sekitar 1 hingga 4 hari setelah paparan.

Gejala kudis api semula muncul pada sela-sela jari, siku, lutut, telapak tangan dan kaki. Kemudian bisa menyebar dengan cepat dan meluas ke seluruh bagian tubuh.

Akan tetapi menurut CDC, pada sebagian besar kasus penderita kudis api awalnya bisa saja tidak memperlihakan tanda dan gejala scabies.

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala kudis api berdasakan perkembangan penyakit dari awal hingga infeksi semakin parah:

  • Ruam kulit

Kudis api mulanya ditandai dengan kemunculan ruam kulit berupa bintik-bintik merah yang bisa juga berbentuk bintil pustula. Kenampakannya bisa terlihat seperti jerawat, tapi dalam bintil pustula ini biasanya terlihat lubang dalam kulit yang digali oleh tungau.

  • Kulit gatal

Ruam kulit akibat scabies biasa menimbulkan rasa gatal yang intens. Rasa gatal pada kulit bisa semakin kuat dan bertambah parah di malam hari. Akan tetapi, pada kasus kudis api, rasa gatal pada ruam biasanya tidak terlalu kuat.

  • Kulit berkerak dan bersisik

Seiring bertambahnya jumlah tungau di dalam kulit, pada bagian kulit yang memunculkan ruam akan timbul plak-plak merah yang mengerak dan kulit mulai terlihat bersisik.

Gejala Norwegian scabies ini bisa muncul pada beberapa bagian tubuh yang berbeda secara bersamaan dengan cepat.

  • Luka akibat infeksi

Kudis api bisa sangat berbahaya karena penyakit ini biasanya juga diiringi dengan terjadinya infeksi kulit sekunder yang disebabkan oleh bakteri, seperti jenis staphylococcus penyebab impetigo. Infeksi ini biasanya ditandai dengan munculnya luka terbuka pada kulit.

Kapan Anda sebaiknya pergi ke dokter?

Jika Anda menunjukkan tanda-tanda dan gejala kudis api seperti di atas, segera berkonsultasi ke dokter spesialis kulit.

Norwegian scabies merupakan penyakit kulit yang membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin untuk menghindari penyakit komplikasi yang lebih berbahaya dan penularan penyakit yang cepat.

Penyebab

Apa penyebab kudis api (Norwegian scabies)?

Penyakit kudis api terjadi ketika terdapat ratusan hingga ribuan tungau penyebab scabies yang tinggal dan berkembang biak di dalam kulit. Padahal pada penderita scabies biasanya hanya terdapat 10-20 tungau yang menginfeksi kulit.

Pada kasus Norwegian scabies rata-rata tungau yang bersarang di kulit bisa mencapai 4000 per satu gram kulit. Penderita scabies berkrusta juga mungkin terinfeksi hingga 1 juta tungau.

Penyebab mengapa jumlah tungau penyebab scabies bisa bertambah jumlahnya dengan pesat sebenarnya belum diketahui secara pasti.

Menurut National Institutes of Health (NIH), diketahui peristiwa ini berkaitan dengan kondisi sitem kekebalan tubuh yang melemah dengan cepat atau secara terus menerus, gangguan pada sistem saraf, dan disabilitas fungsi tubuh.

Hal ini bersesuaian dengan kondisi sistem imun memperlihatkan peningkatan eosinofil ketika tungau berkembang biak dengan cepat di dalam kulit,

Faktor-faktor risiko

Apa yang membuat saya berisiko terkena kudis api (Norwegian scabies)?

Beberapa hal dan kondisi kesehatan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit kudis api. Faktor-faktor risiko dari penyakit kulit ini adalah:

  • Tinggal atau melakukan kontak fisik terus-menerus dengan orang yang mengidap kudis.
  • Mengalami penyakit kudis dan tidak menjalani pengobatan dan perilaku bersih sehat.
  • Melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi.
  • Memiliki kondisi kekebalan tubuh yang lemah.
  • Mengidap penyakit HIV/AIDS.
  • Melakukan operasi transplantasi organ.
  • Mengidap kanker dan menjalani pengobatan kemoterapi.
  • Tinggal bersama di panti jompo, penjara, asrama, dan bermain tempat penitipan anak yang memiliki scabies.

Diagnosis

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?

Awalnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik melalui identifikasi gejala pada kulit terlebih dahulu. Kondisi kudis api bisa saja diduga sebagai penyakit kulit lain seperti dermatitis, eksim, psoriasis.

Untuk memperoleh hasil diagnosis yang lebih pasti, dokter akan mengambil sampel kulit yang terdampak. Selanjutnya, sampel tersebut akan dianalisis di bawah mikroskop untuk melihat apakah terdapat tungau atau telurnya.

Pemeriksaan sampel kulit lebih lanjut juga mungkin dilakukan untuk mengetahui berapa jumlah tungau Norwegian scabies yang menginfeksi kulit.

Pengobatan

Apa pengobatan yang tepat untuk kudis api (Norwegian Scabies)?

Dikarenakan gejalanya yang sangat parah, penyakit kudis api juga sulit untuk disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan penyakit kudis biasa.

Sebelum menjalani pengobatan dengan obat topikal atau salep, bagian kulit yang mengerak dan bersisik harus diangkat terlebih dahulu.

Obat topikal (salep scabies)

Obat topikal perlu dioleskan ke seluruh bagian tubuh yang terinfeksi dalam waktu 8-12 jam sehingga menyerap maksimal ke dalam kulit. Berikut ini adalah jenis salep scabies yang bisa mengobati penyakit kudis api:

  • 5% krim permethrin, untuk menghilangkan kudis dan telurnya (untuk anak 2 bulan ke atas dan wanita hamil)
  • 25% persen losion benzyl benzoate
  • 5 sampai 10% salep sulfur
  • 10% krim crotamiton (tidak boleh digunakan untuk anak dan wanita hamil).
  • 1% losion lindane (tidak untuk anak di bawah dua tahun, wanita hamil atau menyusui, lansia, dan orang yang memiliki berat kurang dari 50 kg).

Obat oral (pil ivermectin)

Selain obat topikal, pengobatan juga dikombinasikan dengan obat oral, yaitu pil ivermectin. Untuk menyembuhkan kudis api, dibutuhkan dosis 2-3 kali lebih tinggi. Ikuti anjuran dari dokter untuk aturan penggunaannya.

Gejala kudis api bisa sangat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Oleh sebab itu, tak jarang dokter juga memberikan pengobatan tambahan seperti:

  • Antihistamin untuk mengendalikan rasa gatal dan membantu merilekskan tubuh saat tidur.
  • Losion Pramoxine untuk mengendalikan rasa gatal yang tak tertahankan.
  • Antibiotik untuk menghilangkan infeksi bakteri.
  • Salep kortikosteroid untuk mengurangi kemerahan, bengkak, dan gatal.

Tak hanya orang yang terinfeksi, pengobatan scabies ini juga diperlukan semua orang yang pernah melakukan kontak dengan orang yang menderita Norwegian scabies secara menerus atau tinggal bersama dengan penderita.

Meskipun orang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala scabies berkrusta.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ebrahim, K. C., Alves, J. B., Tomé, L. A., Moraes, C. F., Gaspar, A. D., Franck, K. F., Hussein, M. A., Cruz, L. R., Ebrahim, L. D., & Sidney, L. F. (2016). Norwegian scabies – rare case of atypical manifestationAnais brasileiros de dermatologia91(6), 826–828. https://doi.org/10.1590/abd1806-4841.20164811

What Is Norwegian Scabies?. (2020). Retrieved 5 March 2020, from https://www.medicinenet.com/what_is_norwegian_scabies/views.htm

Crusted scabies | DermNet NZ. (2020). Retrieved 5 March 2020, from https://dermnetnz.org/topics/crusted-scabies/

CDC – Scabies – General Information – Frequently Asked Questions (FAQs). (2020). Retrieved 5 March 2020, from https://www.cdc.gov/parasites/scabies/gen_info/faqs.html

Crusted scabies | Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD) – an NCATS Program . (2020). Retrieved 5 March 2020, from https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/12151/crusted-scabies

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 28/04/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x