Kenali Penyebab Scabies dan Faktor Risiko Kudis yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Scabies atau kudis termasuk penyakit kulit yang paling umum dialami. Salah satu studi yang dipublikasikan oleh Current Infectious Disease Reports, mengungkap setidaknya terdapat 300 juta kasus scabies per tahun di seluruh dunia. Apa saja penyebab kudis alias scabies?

Apa penyebab scabies (kudis)?

Penyebab scabies (kudis) adalah tungau bernama Sarcoptes scabiei yang tidak terlihat kasat mata. Tungau ini termasuk serangga berbuku (Artropoda) dan berkaki delapan yang tergolong ke dalam kelas Arachnida dan famili Sarcoptidae.

Sebagai parasit, tungau penyebab scabies ini tinggal di antara lapisan dermal dan epidermal kulit manusia dan hewan. Kulit manusia adalah salah satu tempat tinggal yang ideal baginya berkembang biak. Ketika akan bertelur, tungau betina harus menggali lapisan kulit stratum corneum sedalam 1-10 milimeter untuk menyimpan telurnya hingga akhirnya menetas.

Tungau penyebab kudis biasanya menggali bagian kulit yang sangat tipis, seperti area lipatan kulit, daerah lipatan pusar, dan batang penis pada pria. Biasanya tungau betina meninggalkan 2-3 telur di lapisan tersebut.

Tungau betina akan mati dalam waktu 30-60 hari, sementara telur-telur yang tersimpan dalan lapisan stratum corneum akan berkembang menjadi larva dan selanjutnya menjadi tungau dewasa dan mengulangi siklus perkembangbiakan tungau dari awal.

Tungau yang bersembunyi di lapisan dalam kulit tidak langsung menyebabkan scabies. Tubuh biasanya mulai bereaksi terhadap infeksi tungau beberapa hari atau berminggu-minggu setelahnya. Selama tungau betina membuat lubang di dalam lapisan kulit, bintik merah atau bintil pustula atau papula kemudian mulai muncul di permukaan kulit dalam waktu 2-5 minggu.

Pada orang yang baru pertama kali terinfeksi, masa inkubasi yaitu periode di mana tungau penyebab scabies belum menimbulkan gejala gatal bisa berlangsung selama 2-6 minggu . Setelahnya, barulah gejala kudis seperti rasa gatal mulai muncul. Sebaliknya, pada orang yang sebelumnya pernah terinfeksi, gejala scabies akan muncul dalam waktu beberapa hari.

Akan tetapi, tidak semua orang menunjukkan gejala seperti ruam merah atau bintil pustula selama tungau penyebab scabies berkembang biak di dalam kulit.

Bagaimana tungau penyebab kudis menyebar?

Pada kondisi scabies secara umum, penderita biasanya hanya terinfeksi 10-15 tungau di dalam tubuhnya. Tungau berpindah dari tubuh penderita ke inang yang lain melalui kontak fisik secara dekat dan berkepanjangan, termasuk hubungan seksual.

Dalam artikel yang ditulis peneliti dari Lincoln Memorial University, penularan scabies dari satu orang ke orang lainnya terjadi dalam interaksi antar kulit yang berlangsung selama setidaknya 10 menit. Kontak seperti berjabat tangan dan pelukan tidak bisa menularkan tungau penyebab penyakit kudis.

Selain kontak antar kulit, penularan scabies atau kudis juga bisa terjadi melalui kontak antara kulit dengan pakaian dan seprai yang dipakai oleh orang yang terinfeksi.

Meskipun tungau juga hidup di dalam kulit hewan, namun tungau penyebab scabies pada hewan dan manusia merupakan spesies yang berbeda. Mereka hanya mampu bertahan hidup pada inangnya masing-masing.

Jadi, tungau penyebab penyakit scabies atau kudis tidak dapat berpindah dari kulit hewan untuk tinggal di dalam kulit manusia.

Faktor risiko penyebab dari scabies

Terdapat kondisi-kondisi tertentu yang dapat meningkatkan peluang seseorang untuk lebih mudah tertular tungau penyebab kudis ataupun menunjukkan gejala scabies.

Faktor risiko ini dikelompokkan menjadi risiko terkait kondisi kesehatan, gaya hidup, serta situasi lingkungan tinggal.

1. Kondisi sistem kekebalan tubuh

Siapapun memang bisa tertular tungau penyebab scabies, tapi kondisi sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat menyebabkan perkembang biakan tungau berlangsung lebih cepat.

Sebagaimana yang terjadi pada kondisi scabies berkrusta. Pada scabies biasa, jumlah tungau yang menginfeksi hanya berkisar 10-15, tapi pada scabies berkrusta seseorang bisa memiliki ribuan hingga jutaan tungau di dalam kulitnya.

Selama ini kondisi scabies berkrusta terjadi pada orang-orang dengan kerja sistem imun yang tidak optimal, seperti:

  • Penderita HIV
  • Orang yang menjalani pengobatan kemoterapi atau imunosupressan
  • Penderita leukimia atau kanker darah

2. Pekerjaan 

Orang-orang yang bekerja di tempat-tempat tertentu juga berisiko lebih tinggi untuk mengalami scabies. Beberapa di antaranya adalah perawat, dokter, atau petugas di layanan kesehatan yang melakukan kontak fisik dekat dan secara rutin dengan penderita scabies.

Dalam kondisi ini, menjaga kebersihan diri saja tidak cukup. Anda perlu menghindari kontak kulit secara langsung dengan melindungi diri Anda menggunakan sarung tangan dan masker penutup wajah untuk meminimalisir risiko penularan tungau penyebab penyakit scabies.

3. Lingkungan tempat tinggal

Tungau penyebab scabies bisa ditularkan dengan mudah dalam lingkungan tinggal tertutup yang terdiri dari banyak orang, seperti rumah, asrama, penjara, penitipan anak, dan panti jompo.

Oleh karena itu, jika Anda termasuk orang tinggal atau beraktivitas penuh di lingkungan tersebut sebaiknya perlu untuk selalu waspada. Sebagai langkah pencegahan kudis, usahakan untuk selalu menghndari kontak fisik yang terlalu lama dengan penderita sekaligus tidak menggunakan pakaian atau kain yang sama.

Menjaga lingkungan tinggal tetap bersih dari tungau penyebab kudis juga penting untuk menghindari terulangnya infeksi. Cuci pakaian secara terpisah dan gunakan air panas dan pengering bersuhu tinggi untuk memastikan tungau penyebab penyakit scabies benar-benar mati.

Terakhir, pastikan Anda juga rutin membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang tungau seperti sofa, kasur, dan karpet dengan vacuum cleaner serta menjaga kelembapan ruangan tetap optimal.

Cara menghindari tungau penyebab scabies

Cara terbaik untuk mencegah diri sendiri terinfeksi tungau penyebab scabies (kudis) adalah menghindari atau mengurangi kontak antar kulit yang langsung dan berkepanjangan dengan penderita.

Bagaimana jika saat ini Anda tinggal serumah atau harus berinteraksi dekat dengan orang yang mengalami kudis? Ikuti cara-cara berikut ini untuk mencegah penularan scabies:

1. Jangan saling pinjam barang

Jangan menggunakan pakaian, handuk, sisir, seprai, atau sarung bantal yang sama dengan orang pengidap kudis. Bahkan, pastikan juga Anda tidak dulu tidur di kasur yang sama dengannya. Semakin sering atau lama kontak antarkulit terjadi, semakin besar risiko penularan scabies.

2. Mencuci barang secara terpisah

Cuci pakaian, handuk, seprai, dan benda-benda lainnya yang kemungkinan bisa menjadi tempat menetapnya tungau dengan air panas. Pastikan untuk mencuci barang-barang milik orang yang sedang mengidap scabies terpisah dengan cucian lainnya. Bilas hingga bersih, kemudian jemur di bawah sinar matahari.

Setelah kering pastikan Anda menyegel barang dengan plastik kedap udara setidaknya selam 72 jam sehingga tungau benar-benar mati.

Sementara untuk benda-benda yang tidak bisa dicuci, seperti karpet rumah, sebaiknya dibersihkan secara rutin dengan penghisap debu.

3. Menjaga kebersihan rumah

Penting untuk selalu menjaga setiap ruangan di rumah selalu bersih dan higienis untuk mencegah tungau berpindah-pindah tempat.

Cobalah jaga suhu ruangan, terutama kamar tidur, tetap hangat atau buka tirai jendela sepanjang matahari masih di angkasa agar sinarnya bisa masuk dan membunuh tungau.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Lichen Planus

Lichen planus adalah penyakit kulit berupa peradangan kronis yang menyerang kulit, kuku, dan lapisan mulut. Apakah kondisi ini menular?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Tahi Lalat

Tahi lalay adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, diet, serta cara mengontrol dan mencegah tahi lalat di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Keratosis Pilaris (Penyakit Kulit Ayam)

Keratosis pilaris atau penyakit kulit ayam adalah kondisi kulit yang kering, kasar, dan muncul benjolan-benjolan kecil dan keras.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Berbagai Obat Mata Ikan yang Dapat Menghilangkan Secara Efektif

Mata ikan dapat membuat Anda merasa kesakitan dan tidak nyaman saat melangkah. Untuk itu, Anda harus segera memberi obat mata ikan.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit



Direkomendasikan untuk Anda

impetigo, masalah penyakit dan gangguan kulit

Impetigo

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Pruritus

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
heloma

Heloma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Pityriasis rosea adalah ruam gatal-gatal yang berbentuk lingkaran atau oval, berukuran sekitar 2,5-5 cm, dan umumnya muncul di dada, perut, atau punggung.

Pityriasis Rosea

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 30 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit