Saat berada di luar ruangan, Anda lebih rentan untuk terkena gigitan serangga, termasuk tomcat. Gigitan serangga ini ternyata dapat berisiko menyebabkan penyakit kulit yang disebut dengan dermatitis venenata.
Saat berada di luar ruangan, Anda lebih rentan untuk terkena gigitan serangga, termasuk tomcat. Gigitan serangga ini ternyata dapat berisiko menyebabkan penyakit kulit yang disebut dengan dermatitis venenata.

Ketahui gejala, penyebab, serta cara mengobatinya dalam ulasan berikut ini.
Dermatitis venenata adalah reaksi iritasi pada kulit yang disebabkan oleh gigitan atau kontak langsung antara kulit dengan liur atau bulu serangga.
Biasanya, jenis serangga pemicunya adalah kumbang dari marga paederus yang terbang pada malam hari atau biasa disebut tomcat.
Inilah mengapa dermatitis venenata juga dikenal sebagai dermatitis paederus. Jenis dermatitis yang satu ini lebih sering terjadi di wilayah beriklim tropis.
Kontak dengan kumbang paederus menimbulkan ciri khas berupa bercak kemerahan pada kulit. Bercak dapat menyebar ke sekitar mata dan berkembang menjadi luka lepuh yang terasa perih.
Luka lepuh sering kali berbentuk linear (memanjang) sehingga kondisi ini juga kerap disebut sebagai dermatitis linearis.
Jika tidak ditangani dengan baik, luka lepuh dapat berujung menjadi infeksi kulit atau meninggalkan bekas luka.

Gejala kondisi ini biasanya muncul dalam 8 – 24 jam setelah terjadi kontak. Namun, kumbang dari jenis yang lain mungkin baru menimbulkan gejala dalam 24 – 48 jam.
Banyak penderita justru tidak menyadari bahwa mereka telah berkontak dengan kumbang paederus. Berikut ini tanda dan gejala dermatitis venenata.
Pada kasus yang parah, kulit yang terdampak bahkan bisa tampak lebih gelap atau mengalami kematian jaringan.
Racun serangga dapat menyebar apabila Anda membunuh serangga yang menempel pada kulit atau menggosok kulit yang gatal.
Jika Anda menyentuh mata, racun dapat menyebabkan peradangan pada bagian putih mata atau kulit di sekitar mata.
Gejala iritasi ringan dapat membaik dengan membersihkan kulit yang terkena racun menggunakan air dan sabun. Di sisi lain, gejala dermatitis venenata parah sebaiknya ditangani dengan pengobatan.
Segera kunjungi dokter apabila muncul gejala demam, nyeri sendi, atau nyeri otot.
Pemeriksaan juga diperlukan jika racun serangga menyebabkan peradangan pada bagian dalam telinga atau memicu gejala rinitis (alergi musiman).
Berbeda dengan dermatitis pada umumnya, dermatitis venenata disebabkan oleh racun paederin.
Mengutip DermNet New Zealand, paederin merupakan zat kimia yang berpotensi kuat mengiritasi kulit.
Racun ini dihasilkan oleh bakteri pseudomonas yang terdapat pada hemolimfa serangga. Hemolimfa adalah cairan yang beredar dalam tubuh serangga, mirip seperti darah pada manusia.
Jika kulit yang terkena paederin tidak lekas dibersihkan, zat ini dapat menyebabkan pelepasan enzim protease yang menguraikan lapisan pelindung kulit.
Racun paederin juga menghancurkan ikatan kimia antara sel-sel kulit.
Sementara itu, sel kulit tidak bisa memperbaiki diri karena paederin turut menghambat pembentukan protein, pembentukan DNA, dan pembelahan sel.
Proses diagnosis diawali dengan pemeriksaan fisik berupa pengamatan bentuk bercak pada kulit, pengikisan kulit, hingga luka lepuh dan kerak yang terbentuk setelah luka lepuh mengering.
Setelah itu, dokter kemungkinan akan melakukan biopsi guna mengambil sampel kulit yang bermasalah.
Biopsi berperan penting karena dermatitis paederus memiliki gejala yang sangat mirip dengan kondisi lain, seperti:
Dermatitis venenata pada dasarnya merupakan salah satu bentuk dermatitis kontak iritan sehingga pengobatan keduanya tak jauh berbeda. Berikut ini beberapa pilihan pengobatannya.
Begitu gejala muncul, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membersihkan kulit dengan air bersih dan sabun.
Langkah ini bertujuan untuk membersihkan racun paederin dari kulit dan mencegahnya menyebar ke bagian tubuh lain. Setelah itu, kompres kulit dengan lap bersih yang dibasahi air dingin
Cara ini juga dapat membantu meredakan gejala gatal yang mungkin muncul, sehingga racun serangga tidak menyebar ke area kulit lainnya ketika Anda tidak sengaja menggaruk kulit.
Begitu gejala muncul, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membersihkan kulit dengan air bersih dan sabun.
Langkah ini bertujuan untuk membersihkan racun paederin dari kulit dan mencegahnya menyebar ke bagian tubuh lain.

Setelah dibersihkan, Anda bisa mengoleskan obat kortikosteroid. Beberapa jenis salep eksim kortikosteroid dapat dibeli bebas tanpa resep dokter, tapi pastikan Anda mengikuti anjuran pemakaian pada kemasan obat.
Anda juga dapat meredakan nyeri dan gatal dengan obat lain, seperti losion calamine, krim mentol, dan obat anestesi topikal.
Beberapa merek anestesi topikal mengandung lidocaine dan benzocaine juga tersedia di apotek seperti halnya obat kortikosteroid.
Gejala dermatitis venenata yang parah kemungkinan perlu diatasi dengan obat-obatan lain.
Dokter terkadang memberikan tingtur yodium (larutan yodium, alkohol, dan sejumlah bahan lain) untuk menetralkan racun dan sebagai antiseptik.
Apabila luka lepuh sudah terinfeksi, dokter akan meresepkan antibiotik oral. Jenis antibiotik yang digunakan umumnya adalah golongan fluoeokuinolon, cephalosporin, dan sejenisnya.
Cara paling ampuh mencegah dermatitis venenata adalah dengan menghindari kontak terhadap pemicunya, yakni kumbang paederus seperti tomcat.
Selain itu, Anda harus tahu cara mengatasi kumbang yang menempel pada kulit. Di bawah ini adalah beberapa tips sederhana yang bisa Anda lakukan.
Jika Anda merasa mengalami gejalanya, segera kunjungi dokter spesialis kulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Hindari menggosok kulit yang terkena racun agar gejala tidak menyebar ke bagian tubuh lain.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Paederus dermatitis. (2020). Retrieved 15 August 2024 from https://dermnetnz.org/topics/paederus-dermatitis/
Fahri, M., Hidayat Nur., and Ismail S. (2019). Dermatitis Venenata. Jurnal Medical Profession (MedPro), 1(1), 23–27.
Karthikeyan, K. and Kumar, A. (2017). Paederus dermatitis. Indian Journal of Dermatology Venereol Leprol, 83(4), 424–431.
Uzunoğlu, E., Oguz, I. D., Kir, B., & Akdemir, C. (2017). Clinical and Epidemiological Features of Paederus Dermatitis Among Nut Farm Workers in Turkey. The American journal of tropical medicine and hygiene, 96(2), 483–487.
Litchman, G. (2023). Contact Dermatitis. NIH. Retrieved 15 August 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459230/
Versi Terbaru
11/10/2024
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro