home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Dermatitis Venenata, Penyakit Kulit Akibat Gigitan Tomcat

Definisi|Gejala|Penyebab|Diagnosis dan pengobatan|Pencegahan
Dermatitis Venenata, Penyakit Kulit Akibat Gigitan Tomcat

Definisi

Apa itu dermatitis venenata?

Dermatitis venenata adalah reaksi iritasi pada kulit yang disebabkan oleh gigitan atau kontak langsung antara kulit dengan liur atau bulu serangga. Biasanya, jenis serangga pemicunya adalah kumbang dari marga paederus yang terbang pada malam hari atau biasa disebut tomcat.

Inilah mengapa dermatitis venenata juga dikenal sebagai dermatitis paederus. Jenis dermatitis yang satu ini lebih sering terjadi di wilayah beriklim panas dan tropis yang merupakan habitat bagi kumbang paederus. Di Indonesia, penyebab umumnya adalah serangga tomcat.

Kontak dengan kumbang paederus menimbulkan ciri khas berupa bercak kemerahan pada kulit. Bercak dapat menyebar ke sekitar mata dan berkembang menjadi luka lepuh yang terasa perih.

Luka lepuh sering kali berbentuk linear (memanjang) sehingga kondisi ini juga kerap disebut sebagai dermatitis linearis. Jika tidak ditangani dengan baik, luka lepuh dapat berujung menjadi infeksi kulit atau meninggalkan bekas luka.

Dermatitis venenata pada dasarnya merupakan salah satu bentuk dermatitis kontak iritan sehingga pengobatan keduanya tak jauh berbeda. Bila Anda merasa mengalami gejalanya, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Gejala

Apa gejala dermatitis venenata?

Gejala biasanya muncul dalam 8 – 24 jam setelah terjadi kontak. Namun, kumbang dari jenis yang lain mungkin baru menimbulkan gejala dalam 24 – 48 jam. Banyak penderita justru tidak menyadari bahwa mereka telah berkontak dengan kumbang paederus.

Anda mungkin baru akan mengalami gejala pada esok hari saat bangun tidur. Awalnya muncul bercak-bercak kemerahan pada kulit. Gejala ini dapat disertai rasa gatal, panas, atau perih seperti ditusuk-tusuk.

Beberapa jam kemudian, bercak merah biasanya berkembang menjadi luka melepuh atau benjolan berisi cairan (lenting). Pada kasus yang parah, kulit yang terdampak bahkan bisa tampak lebih gelap atau mengalami kematian jaringan.

Racun serangga dapat menyebar apabila Anda membunuh serangga yang menempel pada kulit atau menggosok kulit yang gatal. Jika Anda menyentuh mata, racun dapat menyebabkan peradangan pada bagian putih mata atau kulit di sekitar mata.

Gejala dermatitis venenata ringan biasanya membaik setelah dua hari. Gejala tingkat sedang dengan luka lepuh mungkin berlangsung selama 7 – 8 hari. Sementara itu, kulit yang tampak lebih gelap umumnya baru pulih setelah satu bulan.

Kapan Anda perlu periksa ke dokter?

Gejala iritasi ringan dapat membaik dengan membersihkan kulit yang terkena racun menggunakan air dan sabun. Di sisi lain, gejala dermatitis venenata parah sebaiknya ditangani dengan pengobatan.

Segera kunjungi dokter apabila muncul gejala demam, nyeri sendi, atau nyeri otot. Pemeriksaan juga diperlukan jika racun serangga menyebabkan peradangan pada bagian dalam telinga atau memicu gejala rinitis (alergi musiman).

Penyebab

Apa penyebab dermatitis venenata?

Berbeda dengan dermatitis pada umumnya, dermatitis venenata disebabkan oleh racun paederin. Racun ini dihasilkan oleh bakteri pseudomonas yang terdapat pada hemolimfa serangga. Hemolimfa adalah cairan yang beredar dalam tubuh serangga, mirip seperti darah pada manusia.

Melansir DermNet New Zealand, paederin merupakan zat kimia yang berpotensi kuat mengiritasi kulit. Jika kulit yang terkena paederin tidak lekas dibersihkan, zat ini dapat menyebabkan pelepasan enzim protease yang menguraikan lapisan pelindung kulit.

Racun paederin juga menghancurkan ikatan kimia antara sel-sel kulit. Sementara itu, sel kulit tidak bisa memperbaiki diri karena paederin turut menghambat pembentukan protein, pembentukan DNA, dan pembelahan sel.

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana dokter mendiagnosis kondisi ini?

Proses diagnosis diawali dengan pemeriksaan fisik dan kondisi kulit. Dokter juga akan mengamati gejala yang timbul, mulai dari bentuk bercak pada kulit, pengikisan kulit, hingga luka lepuh dan kerak yang terbentuk setelah luka lepuh mengering.

Setelah itu, dokter kemungkinan akan melakukan biopsi guna mengambil sampel kulit yang bermasalah. Biopsi berperan penting karena dermatitis paederus memiliki gejala yang sangat mirip dengan kondisi lain, seperti:

Apa saja pilihan pengobatan yang tersedia?

Begitu gejala muncul, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membersihkan kulit dengan air bersih dan sabun. Langkah ini bertujuan untuk membersihkan racun paederin dari kulit dan mencegahnya menyebar ke bagian tubuh lain.

Setelah itu, kompres kulit dengan lap bersih yang dibasahi air dingin dan oleskan obat kortikosteroid. Beberapa jenis salep eksim kortikosteroid dapat dibeli bebas tanpa resep dokter, tapi pastikan Anda mengikuti anjuran pemakaian pada kemasan obat.

Anda juga dapat meredakan nyeri dan gatal dengan obat lain, seperti losion calamine, krim mentol, dan obat anestesi topikal. Beberapa merk anestesi topikal mengandung lidocaine dan benzocaine juga tersedia di apotek seperti halnya obat kortikosteroid.

Gejala dermatitis venenata yang parah kemungkinan perlu diatasi dengan obat-obatan lain. Dokter terkadang memberikan tingtur yodium (larutan yodium, alkohol, dan sejumlah bahan lain) untuk menetralisasi racun dan sebagai antiseptik.

Apabila luka lepuh sudah terinfeksi, dokter akan meresepkan antibiotik dalam bentuk minum. Jenis antibiotik yang digunakan umumnya adalah ciprofloxacin dan antibiotik lain dalam golongan sejenis.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah dermatitis venenata?

Cara paling ampuh mencegah dermatitis venenata adalah dengan menghindari kontak terhadap pemicunya, yakni kumbang paederus seperti tomcat. Selain itu, Anda juga harus tahu cara mengatasi kumbang yang menempel pada kulit.

Di bawah ini adalah beberapa tips sederhana yang bisa Anda lakukan.

  • Mengenali ciri-ciri kumbang paederus.
  • Mengurangi populasi kumbang paederus di sekitar tempat tinggal.
  • Menggunakan lampu yang tidak memancarkan sinar ultraviolet.
  • Mematikan lampu saat tidur.
  • Tidur memakai kelambu selama menetap di wilayah dengan populasi serangga yang tinggi.
  • Mengusir kumbang paederus yang menempel pada kulit tanpa membunuhnya.
  • Tidak menggosok kulit yang terkena racun paederus.
  • Segera membersihkan tangan yang terkena kumbang paederus dengan air bersih dan sabun.

Dermatitis venenata merupakan sejenis dermatitis kontak iritan yang disebabkan oleh kontak dengan kumbang paederus atau tomcat. Seperti jenis dermatitis lainnya, pengobatan dapat membantu meringankan gejala akibat kondisi ini.

Jika Anda merasa mengalami gejalanya, segera kunjungi dokter spesialis kulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jangan menggosok kulit yang terkena racun agar gejala tidak menyebar ke bagian tubuh lain.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Paederus dermatitis. (2020). Retrieved 1 October 2020, from https://dermnetnz.org/topics/paederus-dermatitis/

Paederus Dermatitis. (2020). Retrieved 1 October 2020, from https://www.aocd.org/page/PaederusDermatitis

Fahri, M., Hidayat Nur., and Ismail S. (2019). Dermatitis Venenata. Jurnal Medical Profession (MedPro), 1(1), 23–27.

Karthikeyan, K. and Kumar, A. (2017). Paederus dermatitis. Indian J Dermatol Venereol Leprol, 83(4), 424–431.

Uzunoğlu, E., Oguz, I. D., Kir, B., & Akdemir, C. (2017). Clinical and Epidemiological Features of Paederus Dermatitis Among Nut Farm Workers in Turkey. The American journal of tropical medicine and hygiene, 96(2), 483–487.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 15/10/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x