home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Aerophagia, Saat Tubuh Menelan Udara secara Berlebihan

Aerophagia, Saat Tubuh Menelan Udara secara Berlebihan

Anda mungkin pernah merasakan perut kembung dan sendawa terus-menerus. Hal ini bisa saja terjadi saat Anda terlalu banyak menelan udara atau dalam dunia medis disebut aerophagia. Apakah kondisi ini berbahaya?

Apa itu aerophagia?

Aerophagia atau aerofagia adalah istilah medis untuk menggambarkan kondisi tubuh yang menelan udara secara berlebihan dan terjadi terus-menerus.

Dalam kondisi normal, setiap orang umumnya akan menelan sekitar 2 liter udara dalam sehari. Hal ini biasanya terjadi saat makan dan minum, berbicara, atau tertawa.

Setengah udara tersebut akan keluar dari mulut yang dikenal sebagai sendawa. Sisanya, akan berjalan melalui sistem pencernaan dan keluar melalui rektum yang dikenal sebagai buang angin atau kentut.

Namun, orang yang mengalami aerophagia dan terlalu banyak menelan udara mungkin akan mengalami beberapa gejala yang menimbulkan ketidaknyamanan.

Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi dalam jangka panjang (aerophagia kronis) dan jangka pendek (aerophagia akut).

Seberapa umumkah kondisi ini?

Aerophagia umumnya sering dikaitkan dengan kondisi perut kembung pada bayi. Hal ini bisa terjadi karena bayi sering menelan udara saat menyusu.

Selain itu, kondisi ini juga sering menjadi penyerta masalah kesehatan lain, seperti gangguan pencernaan atau gangguan psikologis, seperti depresi dan kecemasan.

Efek samping dari penggunaan alat medis untuk menangani kondisi tertentu juga bisa membuat tubuh Anda menelan udara secara berlebihan.

Tanda dan gejala aerophagia

Sebagian besar orang tidak memiliki masalah jika tubuh mereka menelan udara. Namun, orang dengan aerophagia yang menelan lebih banyak udara biasanya mengalami ketidaknyamanan.

Beberapa tanda dan gejala aerophagia yang paling umum antara lain:

  • sering bersendawa, terkadang beberapa kali dalam satu menit,
  • perut kembung atau bengkak,
  • kentut secara berlebihan, dan
  • sakit perut.

Kapan sebaiknya harus periksa ke dokter?

Jika merasakan gejala tersebut atau muncul tanda-tanda lainnya, sebaiknya segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Gejala yang Anda alami akibat kondisi ini mungkin berbeda dengan orang lain. Oleh sebab itu, selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

Penyebab dan faktor risiko aerophagia

Mengetahui penyebab menelan udara berlebihan dapat membantu dokter menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Beberapa masalah kesehatan, baik fisik maupun psikologis, serta efek samping prosedur medis yang bisa menyebabkan aerophagia seperti berikut ini.

1. Faktor fisik

Proses bernapas, berbicara, makan, dan minum berpengaruh pada aerophagia.

Berikut sejumlah kondisi yang bisa menyebabkan Anda menelan udara berlebihan.

  • Makan cepat dan terburu-buru
  • Berbicara sambil makan
  • Mengunyah permen karet
  • Minum melalui sedotan
  • Merokok
  • Bernapas melalui mulut
  • Aktivitas olahraga
  • Minum minuman berkarbonasi
  • Menggunakan gigi palsu yang longgar

2. Faktor psikologis

Para ahli berpendapat orang dengan gangguan psikologis, seperti depresi dan kecemasan, memiliki kecenderungan menelan lebih banyak sehingga memicu aerophagia.

Sebuah penelitian dalam jurnal Alimentary Pharmacology And Therapeutics menemukan orang dewasa dengan aerophagia memiliki kecemasan 19 persen lebih besar daripada orang dengan dispepsia fungsional.

3. Efek samping prosedur medis

Anda lebih berisiko mengalami aerophagia jika menderita sleep apnea obstruktif dan melakukan terapi khusus bernama continuous positive airway pressure (CPAP).

Sleep apnea membuat saluran udara tersumbat saat tidur.

Sementara itu, terapi CPAP membantu memberikan udara terus-menerus melalui masker atau tabung sehingga Anda bisa bernapas dengan lancar.

Studi dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menyebutkan bahwa pengguna terapi CPAP punya risiko sebesar 50 persen merasakan gejala aerophagia.

Selain pada penderita sleep apnea, terapi CPAP juga bisa digunakan oleh penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau sedang mengalami kondisi gagal napas lainnya.

Diagnosis

Beragamnya kondisi yang bisa memicu aerophagia membuat dokter perlu melakukan diagnosis untuk menentukan pengobatan yang tepat.

Aerophagia umumnya memiliki gejala dan tanda yang mirip seperti gangguan pencernaan pada umumnya, seperti penyakit GERD, alergi makanan, atau penyumbatan usus.

Pertama, dokter akan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik. Setelahnya, dokter juga akan melakukan tes diagnostik tertentu, seperti endoskopi atau rontgen abdomen.

Dokter akan mendiagnosis gangguan ini jika Anda memiliki dua kondisi, yakni menelan udara berlebihan dan terjadi sendawa berulang. Kondisi ini bisa terjadi selama 12 minggu atau lebih.

Pengobatan aerophagia

Tidak ada pengobatan atau prosedur medis khusus untuk mengobati aerophagia. Namun, mengobati kondisi penyebabnya bisa membantu Anda merasa lebih lega.

1. Konseling dan terapi

Jika penyebabnya berasal dari depresi atau kecemasan, dokter akan memberikan rekomendasi obat atau psikoterapi untuk mengatasi masalah psikologis tersebut.

Saat menjalani terapi ini, Anda mungkin akan mempelajari teknik pernapasan dalam dan lambat yang menjadikan tubuh lebih sadar saat menghirup udara.

2. Obat-obatan

Jika Anda menggunakan gigi palsu atau sedang menjalani terapi CPAP, pastikan bertanya ke dokter apabila kedua hal ini dicurigai menyebabkan aerophagia.

Dokter juga akan memberikan resep obat untuk mengatasi kondisi yang mendasarinya, seperti antasida untuk GERD atau simetikon untuk mengatasi perut kembung.

Pengobatan di rumah untuk aerophagia

Pengobatan aerophagia yang terlambat bisa memicu distensi abdomen, yaitu kondisi perut membesar melebihi ukuran normal akibat penumpukan gas atau cairan.

Setelah melakukan pengobatan ke dokter, Anda juga disarankan untuk melakukan beberapa perubahan gaya hidup seperti berikut ini.

  • Makan dan minum secara perlahan untuk membantu Anda menelan lebih sedikit udara.
  • Mengubah cara makan atau minum, misalnya dengan mulut lebih tertutup.
  • Berhenti merokok, karena saat mengisap rokok Anda juga menelan udara.
  • Hindari minum minuman berkarbonasi atau bir yang melepaskan gas karbon dioksida.
  • Batasi makan permen karet atau permen keras karena mengunyah dan mengisap bisa membuat udara masuk lebih banyak.
  • Bergerak atau berolahraga ringan setelah makan untuk membantu udara keluar.

Jika memiliki pertanyaan atau keluhan lain, sebaiknya konsultasi ke dokter untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Swallowed Air. Michigan Medicine. (2020). Retrieved 10 September 2021, from https://www.uofmhealth.org/health-library/tm6320

Practical tips to reduce bloating, belching and gas. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 10 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gas-and-gas-pains/in-depth/gas-and-gas-pains/art-20044739 

Gastroesophageal reflux disease (GERD) – Diagnosis and treatment. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 10 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gerd/diagnosis-treatment/drc-20361959 

de Jesus, L. E., Cestari, A. B., Filho, O. C., Fernandes, M. A., & Firme, L. H. (2015). Aerofagia patológica: uma causa rara de distensão abdominal crônica [Pathologic aerophagia: a rare cause of chronic abdominal distension]. Revista paulista de pediatria : orgao oficial da Sociedade de Pediatria de Sao Paulo, 33(3), 372–376. https://doi.org/10.1016/j.rpped.2015.01.003 

Bredenoord, A. (2013). Management of Belching, Hiccups, and Aerophagia. Clinical Gastroenterology And Hepatology, 11(1), 6-12. https://doi.org/10.1016/j.cgh.2012.09.006

Harding S. M. (2013). CPAP-related aerophagia: awareness first!. Journal of clinical sleep medicine : JCSM : official publication of the American Academy of Sleep Medicine, 9(1), 19–20. https://doi.org/10.5664/jcsm.2330 

Chitkara, D., Bredenoord, A., Rucker, M., & Talley, N. (2005). Aerophagia in adults: a comparison with functional dyspepsia. Alimentary Pharmacology And Therapeutics, 22(9), 855-858. https://doi.org/10.1111/j.1365-2036.2005.02651.x

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 22/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro