home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Hati-hati, Stres dan Cemas Bikin Maag Gampang Kambuh

Hati-hati, Stres dan Cemas Bikin Maag Gampang Kambuh

Jika Anda pernah merasakan perut melilit saat stres atau cemas, Anda tidak sendirian. Rupanya maag, rasa cemas, dan stres saling berkaitan dan dapat memperparah satu sama lain. Apa hubungan antara berbagai kondisi ini bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya.

Apa hubungan rasa cemas dan maag?

Artikel Kesehatan Seputar Gastritis dan Maag

Maag merupakan kumpulan gejala atau keluhan yang muncul akibat gangguan pada sistem pencernaan.

Ada beragam penyakit yang menimbulkan maag, tapi kondisi ini biasanya disebabkan oleh aliran balik (refluks) asam lambung ke kerongkongan.

Ciri utama maag yaitu rasa tak nyaman atau panas pada ulu hati akibat asam lambung (heartburn).

Rasa nyeri disebabkan karena otot sfingter pada perbatasan kerongkongan dan lambung tidak berfungsi dengan baik sehingga asam lambung mengalir balik.

Selain heartburn, pasien maag juga sering kali mual, muntah, dan merasa seperti ada yang tersangkut dalam kerongkongannya.

Jika refluks asam lambung terjadi 2 – 3 kali dalam seminggu, ini disebut sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Ada sejumlah hal yang bisa memperparah maag, salah satunya stres dan rasa cemas.

Menurut sebuah penelitian terbitan Journal of Neurogastroenterology and Motility, orang dengan gangguan kecemasan lebih rentan mengalami gejala GERD.

Menurut para peneliti, stres dan kecemasan mungkin memperparah maag dengan cara berikut.

  • Rasa cemas yang berlebihan bisa meningkatkan produksi asam lambung.
  • Rasa cemas dapat mengurangi tekanan pada sfingter atau otot kerongkongan sehingga asam lambung mengalir balik.
  • Stres membuat otot menjadi tegang. Jika stres memengaruhi otot lambung, hal ini bisa menekan organ-organ di sekitarnya dan mendorong asam lambung.

Penelitian sebelumnya dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology pun telah menunjukkan bahwa pasien GERD yang mengalami kecemasan berlebih cenderung menghadapi gejala yang lebih parah.

Buruknya lagi, gangguan cemas dan maag memperparah satu sama lain.

Pasien GERD yang mengalami nyeri dada memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.

GERD lambat laun dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Pada saat yang sama, stres dan kecemasan membuat gejala GERD semakin parah.

Untuk menghapus siklus tanpa akhir ini, Anda tentu perlu mengelola keduanya sekaligus.

Rasa cemas juga memperparah gangguan pencernaan lain

obat progesteron

Stres membuat tubuh Anda berada dalam mode fight or flight. Kondisi ini membuat jantung berdenyut lebih cepat, tekanan darah naik, otot menengang, dan memicu peningkatan kerja organ pencernaan.

Menurut Dr. Kenneth Koch, profesor kedokteran dari Wake Forest Baptist Medical Center, AS, stres dapat memengaruhi sistem pencernaan dengan cara:

  • menyebabkan kejang pada otot kerongkongan,
  • meningkatkan produksi asam lambung,
  • memperparah diare atau sembelit, serta
  • menimbulkan rasa mual.

Dr. Koch juga menambahkan bahwa pada kasus yang parah, stres dapat mengurangi aliran darah dan oksigen menuju lambung.

Stres tidak hanya memperparah maag, tapi juga memicu kram, peradangan, dan gangguan keseimbangan bakteri usus.

Berbagai gangguan tersebut dapat memperparah gejala pada pasien tukak lambung, sindrom iritasi usus (IBS), dan penyakit radang usus (IBD).

Oleh sebab itu, orang yang memiliki gangguan pencernaan amat dianjurkan untuk mengelola stresnya.

Beda gejala maag dan rasa cemas

sindrom dumping dumping syndrome

Meskipun berasal dari sistem yang berbeda, maag dan rasa cemas memiliki beberapa gejala yang mirip.

Ketika Anda mengalami kecemasan yang berat, efeknya memang dapat memengaruhi sistem pencernaan.

Baik maag, stres, dan rasa cemas sama-sama bisa menimbulkan heartburn, mual, dan sakit perut.

Anda mungkin merasa seperti ada yang tersangkut dalam kerongkongan. Perasaan susah menelan ini kadang disertai dengan suara serak.

GERD dan gangguan kecemasan juga sama-sama bisa mengganggu tidur.

Biasanya, berbaring membuat gejala GERD makin parah karena asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Ditambah lagi, rasa cemas berlebih membuat Anda susah tidur.

Namun, tetap saja ada perbedaan antara gejala maag dan kecemasan.

Selain gejala umum tersebut, pasien GERD mungkin juga kesulitan menelan atau mengeluarkan cairan saat sendawa.

Sementara itu, gejala gangguan kecemasan di luar sistem pencernaan meliputi:

  • rasa gelisah dan tidak bisa diam,
  • jantung berdebar,
  • otot berkedut,
  • nyeri dada,
  • rasa takut yang muncul tiba-tiba,
  • serangan panik,
  • napas menjadi cepat,
  • sesak napas,
  • ketegangan fisik atau mental, dan
  • kesulitan untuk fokus.

Mengatasi maag dan rasa cemas

Tidak sedikit orang yang bergelut dengan rasa cemas akibat penyakit asam lambung atau sebaliknya.

Anda yang memiliki kedua kondisi ini sekaligus mungkin juga khawatir akan kemungkinan kambuh ketika sedang menghadapi situasi penuh tekanan.

Meski demikian, Anda bisa mengatasi keduanya dengan cara berikut.

1. Konsumsi obat maag

Obat maag tersedia dalam bentuk resep maupun nonresep.

Semuanya bekerja dengan cara yang berbeda, mulai dari menetralkan asam lambung, menghalangi produksi asam lambung, hingga membantu pemulihan sfingter kerongkongan.

Berikut contoh dari tiap jenis obat maag.

  • Antasida: aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida.
  • H-2 receptor blockers: cimetidine, famotidine, dan ranitidine.
  • Proton pump inhibitors (PPI): esomeprazole dan rabeprazole.
  • Obat prokinetik: bethanechol dan metoclopramide.

2. Pengobatan untuk mengurangi kecemasan

obat sakit maag tablet efektif

Jika maag Anda semakin parah akibat stres dan gangguan kecemasan, dokter mungkin juga menyarankan konsumsi antidepresan dan terapi untuk meringankan keduanya.

Berikut pengobatan yang dapat Anda jalani.

  • Konsumsi antidepresan golongan SSRI seperti citalopram dan fluoxetine.
  • Konsumsi antidepresan golongan SNRI seperti duloxetine dan venlafaxine.
  • Obat benzodiazepine seperti alprazolam dan lorazepam.
  • Terapi kognitif perilaku secara rutin.

Ketika mengonsumsi obat untuk gangguan kecemasan, Anda harus selalu mengikuti resep dokter.

Jangan menambah, mengurangi dosis, atau berhenti mengonsumsi obat tanpa berkonsultasi terlebih dulu.

3. Pencegahan di rumah

Stres dan rasa cemas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Jadi, tak heran bila hal ini menjadi rintangan tersendiri bagi pasien maag.

Maka dari itu, Anda juga harus menjalani gaya hidup sehat untuk meringankan keduanya.

Berikut beberapa tips yang bisa Anda coba.

  • Makan makanan yang beragam dan bergizi seimbang.
  • Menghindari makanan penyebab maag.
  • Lebih aktif berolahraga, setidaknya berjalan kaki 15-30 menit sehari.
  • Mengurangi asupan kafein.
  • Menghindari alkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang.
  • Melakukan teknik relaksasi seperti yoga atau meditasi.
  • Menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter.

Maag, rasa cemas, dan stres yang tidak terkelola dengan baik bisa memperparah satu sama lain.

Kabar baiknya, Anda bisa mengatasi masalah ini dengan gaya hidup sehat dan pengobatan yang sesuai.

Namun, sebelum mengonsumsi obat apa pun, pastikan Anda telah berdiskusi dengan dokter.

Beberapa obat, khususnya untuk gangguan kecemasan, harus Anda konsumsi secara hati-hati. Jadi, Anda perlu mendapatkan diagnosis yang tepat terlebih dulu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Stress and stomach pain: When should you see a specialist? – UChicago Medicine. (2020). Retrieved 21 September 2021, from https://www.uchicagomedicine.org/forefront/gastrointestinal-articles/stress-and-stomach-pain-when-should-you-see-a-specialist

Irritable Bowel Syndrome (IBS) | Anxiety and Depression Association of America, ADAA. (2021). Retrieved 21 September 2021, from https://adaa.org/understanding-anxiety/related-illnesses/irritable-bowel-syndrome-ibs

Gastroesophageal reflux disease (GERD) – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2021). Retrieved 21 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gerd/diagnosis-treatment/drc-20361959

Mohammad, S., Chandio, B., Soomro, A., Lakho, S., Ali, Z., Ali Soomro, Z., & Shaukat, F. (2019). Depression and Anxiety in Patients with Gastroesophageal Reflux Disorder With and Without Chest Pain. Cureus. doi: 10.7759/cureus.6103

Kessing, B., Bredenoord, A., Saleh, C., & Smout, A. (2015). Effects of Anxiety and Depression in Patients With Gastroesophageal Reflux Disease. Clinical Gastroenterology And Hepatology, 13(6), 1089-1095.e1. doi: 10.1016/j.cgh.2014.11.034

Choi, J., Yang, J., Kang, S., Han, Y., Lee, J., & Lee, C. et al. (2018). Association Between Anxiety and Depression and Gastroesophageal Reflux Disease: Results From a Large Cross-sectional Study. Journal Of Neurogastroenterology And Motility, 24(4), 593-602. doi: 10.5056/jnm18069

Haruma, K., Kinoshita, Y., Sakamoto, S., Sanada, K., Hiroi, S., & Miwa, H. (2015). Lifestyle Factors and Efficacy of Lifestyle Interventions in Gastroesophageal Reflux Disease Patients with Functional Dyspepsia: Primary Care Perspectives from the LEGEND Study. Internal Medicine, 54(7), 695-701. doi: 10.2169/internalmedicine.54.3056

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan