Bolehkah Ibu yang Mengidap Hepatitis Menyusui Bayinya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

ASI adalah makanan yang paling baik untuk dikonsumsi anak, selama kurang lebih 2 tahun pertamanya. ASI mengandung berbagai jenis zat gizi yang diperlukan anak untuk menunjang tumbuh kembang serta terdapat zat antibodi di dalam ASI, sehingga membuat bayi terlindungi dari berbagai zat asing, virus, serta bakteri. Namun bagaimana ketika ASI yang seharusnya melindungi dan menjaga bayi berbagai penyakit infeksi malah menjadi perantara virus antara ia dan ibunya? Amankah jika ibu yang mengidap hepatitis menyusui bayinya?

Apakah hepatitis bisa menular lewat ASI?

Hepatitis adalah salah satu penyakit infeksi yang menular. Hepatitis lebih terkenal di Indonesia dengan nama penyakit kuning. Disebut demikian karena memang salah satu gejalanya adalah kulit dan tubuh menjadi menguning.

Penyakit ini memiliki berbagai jenis, tergantung dengan proses penularannya serta tingkat keparahannya. Hepatitis terbagi menjadi 5 jenis hepatitis yaitu, A, B, C, D, dan E. Masing-masing hepatitis memiliki cara penularannya tersendiri. Penyakit hepatitis A dan E ditularkan melalui fecal-oral. Sedangakan hepatitis B dan C penularannya hampir sama dengan HIV/AIDS yaitu melalui pertukaran cairan dalam tubuh, seperti darah dan air liur. Hepatitis yang mungkin ditularkan adalah hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C.

Oleh karena itu, ibu yang menderita hepatitis bisa saja menularkan virus hepatitis ke anaknya, melalui berbagai hal. Salah satunya adalah ketika pemberian ASI. Jadi, apakah ibu yang menderita hepatitis lebih baik tidak menyusui supaya anaknya tidak tertular? Ini tergantung pada jenis hepatitisnya.

BACA JUGA: Ibu yang Mengidap HIV, Apakah Boleh Menyusui?

Amankah jika penderita hepatitis menyusui anaknya?

Menyusui saat mengidap hepatitis A

Hepatitis A adalah jenis hepatitis yang paling sering terjadi dan menular melalui kontaminasi makanan, air minum, serta bisa tertular dari orang ke orang. Penyakit ini ditandai dengan munculnya gejala kehilangan nafsu makan, mual, muntah, kulit menjadi kuning, serta demam. Pada bayi yang baru lahir sebenarnya hepatitis jarang sekali terjadi. Selain itu, hepatitis A jarang sekali yang menjadi akut dan fatal, sementara hepatitis A tidak bisa menjadi penyakit yang kronis.

Secara umum, Anda bisa memberikan ASI pada bayi Anda dan tidak perlu khawatir bayi Anda akan tertular virus hepatitis. Hepatitis A tidak menular melalui ASI dan tidak ditemukan virus hepatitis A di dalam ASI.

BACA JUGA: 4 Tahap Penyakit Hati: Dari Peradangan Hingga Gagal Hati

Menyusui saat mengidap hepatitis B

Hepatitis B adalah jenis penyakit hepatitis yang ditularkan melalui kontak seksual, sama seperti penularan HIV/AIDS. Seorang bayi yang baru lahir bisa saja terkontaminasi virus hepatitis B akibat terkena darah ibu yang terkontaminasi saat mereka lahir. Gejala dan tanda yang ditimbulkan hampir sama yaitu kulit dan mata menjadi kuning, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah, serta campak. Hepatitis B bisa berkembang menjadi penyakit kronis dan mengakibatkan gangguan hati yang lebih fatal, seperti sirosis dan kanker hati.

Berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B terbukti ditemukan di dalam ASI. Walaupun begitu, bayi bisa terlindungi dari virus hepatitis B jika bayi diberikan vaksinasi hepatitis B. Vaksin tersebut lebih baik diberikan sesaat setelah bayi dilahirkan, dan akan melindungi bayi yang memang memiliki risiko untuk terkena hepatitis B ataupun tidak.

Jika memang Anda positif menderita hepatitis B, maka Anda harus memberikan anak Anda vaksin hepatitis B pada 12 jam pertama setelah kelahiran, lalu ketika bayi berusia 1 atau 2 bulan, dan saat bayi berusia 6 bulan. Kemudian pada usia 9 hingga 18 bulan, bayi harus diperiksakan ke dokter untuk mengetahui apakah memiliki virus hepatitis B positif. 

BACA JUGA: Bagaimana Hepatitis B Dapat Berkembang Jadi Kanker Hati Primer

Menyusui jika Anda mengidap hepatitis C

Agak berbeda dengan jenis hepatitis lainnya, hepatitis C tidak terlihat menimbulkan gejala apapun. Di beberapa kasus, gejala yang timbul hanya datang dan kemudian menghilang kembali. Rata-rata 50% dari penderita hepatitis C adalah pasien yang sudah pernah mengalami atau memiliki riwayat penyakit sirosis atau penyakit hati kronis lainnya. Virus hepatitis C ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengalami hepatitis C. Berhubungan seksual, bergantian dalam menggunakan jarum, serta pemakaian obat-obatan terlarang bisa menjadi sarana penularan hepatitis C.

Pada ibu yang mengalami hepatitis C, tidak ditemukan virus hepatitis C ada di dalam ASI. Tetapi Centers for Disease Control Prevention menganjurkan untuk berhenti dulu memberikan ASI jika memang puting ibu mengalami luka atau berdarah. Hal ini dikhawatirkan karena virus hepatitis C dapat ditularkan melalui darah.

Habis Minum Minuman Beralkohol?

Ukur berapa kadar alkohol dalam darahmu sekarang!

Hitung di Sini!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyebab Bercak Putih di Puting Susu dan Cara Mengatasinya

Pernahkah Anda memiliki bintik atau bercak putih di puting susu atau sekitarnya? Tak usah khawatir, kenali penyebab dan cara mengatasinya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

11 Daftar Makanan yang Dilarang untuk Ibu Hamil

Jika Anda penggemar sushi dan sashimi, tahu tidak kalau makanan Jepang ini dilarang untuk ibu hamil? Kira-kira apa lagi, ya pantangan makanan ibu hamil?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Konten Bersponsor
Ibu hamil tentunya selalu ingin memberikan yang terbaik bagi calon buah hatinya bahkan sejak masih di dalam kandungan. Salah satu upaya terpenting untuk meraih tujuan tersebut adalah dengan menjaga pilihan makanan untuk ibu hamil setiap harinya. Asupan nutrisi yang baik akan membantu si kecil tumbuh sehat dan cerdas sejak dalam kandungan. Akan tetapi, di sisi lain, ada sejumlah makanan dan minuman yang ternyata dilarang untuk ibu saat hamil. Penasaran apa saja daftar pantangan makanan yang tidak boleh dimakan ibu saat hamil? Daftar makanan yang dilarang untuk ibu hamil Berbagai makanan yang akan disebutkan di bawah ini dilarang untuk ibu saat hamil karena diduga dapat menimbulkan efek berbahaya bagi janin di dalam kandungan. Bahkan, dari beberapa pantangan makanan ini dapat menyebabkan keracunan pada ibu hamil. Berikut berbagai pantangan makanan yang sebaiknya dihindari atau tidak boleh dimakan saat ibu sedang hamil: 1. Ikan yang tinggi merkuri Ikan dan hewan perairan (seafood) lainnya adalah sumber protein dan kaya asam lemak omega-3. Kedua nutrisi ini baik untuk perkembangan bayi. Namun, FDA selaku Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat menggolongkan beberapa jenis seafood sebagai makanan yang dilarang untuk ibu hamil karena mengandung merkuri.  Sebetulnya, hampir semua ikan dan hewan air mengandung merkuri. Ini karena senyawa kimia ini adalah limbah yang paling banyak mencemari perairan dan menjadi pantangan makanan untuk ibu hamil. Hanya saja, ada beberapa jenis ikan yang paling tinggi kandungan merkurinya sehingga tergolong sebagai makanan yang dilarang untuk ibu hamil. Jenis ikan tinggi merkuri yang termasuk pantangan makanan bagi ibu hamil adalah ikan hiu, ikan makarel raja, ikan tuna bigeye, ikan todak atau pedang, dan ikan tuna sirip kuning. Ikan-ikan ini mungkin jarang diperjualbelikan di Indonesia, tapi tidak ada salahnya untuk mengetahui jenis-jenis makanan yang dilarang untuk ibu hamil. Beberapa jenis seafood lain yang lebih umum di Indonesia juga dilaporkan memiliki kadar merkuri cukup tinggi (tidak setinggi ikan-ikan yang telah disebutkan di atas) dan termasuk pantangan makanan ibu hamil. Jenis-jenis ikan yang termasuk ke dalamnya adalah udang, salmon, tuna, sarden, lele, ikan bilis, ikan nila (tilapia), dan ikan trout.  Semakin besar ukuran ikan, semakin banyak juga merkuri yang dikandungnya. Ikan dengan kandungan merkuri termasuk makanan yang tidak boleh dimakan saat hamil karena dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak bayi. Jadi, sebaiknya konsumsi ikan-ikan tersebut maksimal hanya 2 kali per minggu. Tidak heran kalau jenis makanan tersebut termasuk pantangan makanan bagi ibu hamil.  2. Sushi Bagi Anda penggemar sushi dan sashimi, sebaiknya setop dulu makan makanan khas Jepang ini selama kehamilan. Sushi dan sashimi termasuk dalam daftar pantangan makanan yang dilarang untuk ibu saat hamil. Seafood mentah atau yang dimasak setengah matang dapat membahayakan janin karena terkadang masih terdapat cacing parasit dalam dagingnya. Bahkan, seafood mentah atau setengah matang bisa semakin berbahaya jika tempat dan proses persiapannya tidak steril. Oleh karena itu, sebaiknya hindari ikan dan kerang mentah seperti yang biasanya ada di sushi dan sashimi. Ini yang menjadikan sushi sebagai makanan yang tidak boleh dimakan saat hamil. Sebaiknya, masak ikan, udang, lobster, dan kerang sampai hingga matang sempurna. 3. Steak setengah matang Steak sebenarnya tidak masalah dimakan oleh ibu hamil. Akan tetapi, steak bisa menjadi salah satu jenis makanan yang dilarang untuk ibu saat hamil bila dagingnya tidak matang dengan sempurna. Selera orang saat menikmati steak bisa berbeda-beda. Ada yang terbiasa dengan tingkat kematangan rare (mentah), medium rare (setengah matang), medium well (agak matang), dan well done (matang sempurna). Dari segi kuliner itu sendiri, daging steak yang lezat adalah yang dimasak medium rare. Namun, daging steak dengan tingkat kematangan medium rare alias setengah matang merupakan pantangan makanan bagi ibu hamil. Daging yang dimasak tidak matang sepenuhnya kemungkinan besar masih mengandung parasit toksoplasmosis yang berbahaya bagi janin. Bukan cuma daging sapi, daging ayam, burung, kalkun, hingga bebek yang dimasak setengah matang juga termasuk makanan dilarang untuk ibu hamil. Usahakan untuk masak daging sampai matang sempurna alias well done sampai kering dan tidak ada cairan merahnya. Jika perlu, gunakan termometer masak untuk memastikan tingkat kematangan daging. 4. Telur setengah matang Telur rebus dan telur mata sapi ½ atau ¾ matang termasuk makanan yang dilarang untuk ibu hamil. Ini karena telur yang belum matang tersebut umumnya masih mengandung bakteri Salmonella aktif yang dapat menginfeksi Anda dan janin di dalam kandungan. Alasan lain yang membuat telur rebus setengah matang menjadi makanan yang dilarang untuk ibu hamil yaitu berisiko membawa infeksi Salmonella. Infeksi Salmonella nantinya dapat menyebabkan muntaber (muntah dan diare). Dalam kasus yang jarang, bakteri Salmonella dapat menyebabkan infeksi cairan ketuban. Meski jarang sekali terjadi, infeksi ini bisa menyebabkan keguguran. Bagi janin, infeksi Salmonella juga sama membahayakannya. Salmonella dapat menembus plasenta dan menginfeksi janin, tetapi kasus ini juga sangat jarang. Inilah alasan mengapa telur setengah matang termasuk makanan yang tidak boleh dimakan saat hamil. Agar aman, hindarilah makan telur setengah matang maupun makan makanan yang mengandung telur mentah atau setengah matang. Masaklah telur sampai matang sehingga tampilan kuning dan putih telurnya padat.  5. Susu mentah Susu juga termasuk ke dalam daftar makanan dan minuman yang menjadi pantangan bagi ibu hamil. Itulah mengapa ada susu ibu hamil untuk membantu melengkapi kebutuhan nutrisi ibu hamil.  Akan tetapi, ibu hamil tidak boleh minum sembarang susu. Susu hewani yang masih mentah dan belum dipasteurisasi termasuk dalam minuman dan makanan yang dilarang untuk ibu hamil. Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan selama beberapa detik untuk membunuh bakteri di dalam susu. Susu mentah tersebut dapat menyebabkan keracunan karena kemungkinan masih terdapat bakteri di dalamnya. Hindari minum susu murni mentah yang belum dipasteurisasi, baik itu susu sapi, susu kambing, atau binatang perah lainnya mentah karena berbahaya untuk tubuh ibu hamil. Bakteri yang terdapat di dalam susu yang belum dipasteurisasi bisa membahayakan janin di dalam kandungan.  Susu yang tidak termasuk makanan yang dilarang untuk ibu hamil adalah susu yang sudah melalui proses pasteurisasi sebelumnya sehingga aman diminum. 6. Terlalu banyak jeroan Ibu hamil sebenarnya boleh makan jeroan seperti hati ayam, hati sapi, ampela ayam, jantung ayam, dan lainnya.  Hanya saja, melansir dari Pregnancy Birth and Baby, jeroan bisa menjadi makanan yang dilarang untuk ibu hamil bila dimakan terlalu banyak dan sering. Hal ini dikarenakan jeroan mengandung banyak vitamin A. Vitamin A memang baik, tapi konsumsi vitamin A berlebihan dapat membahayakan janin. 7. Terlalu banyak kafein Kafein merupakan salah satu daftar pantangan minuman untuk ibu hamil, apalagi jika konsumsinya berlebihan. Ini karena kafein dapat menembus plasenta dan mengakibatkan gangguan pada detak jantung bayi. Sebaiknya batasi konsumsi minuman dan makanan yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, minuman bersoda, dan minuman berenergi semasa hamil. Anda juga bisa mengganti pantangan makanan untuk ibu hamil yang satu ini dengan sesuatu yang lebih sehat, seperti buah dan sayur. 8. Alkohol Meski bukan termasuk makanan, alkohol tergolong minuman yang dilarang untuk ibu hamil. Ibu hamil yang minum alkohol berisiko keguguran dan bayi lahir mati (stillbirth) yang lebih tinggi. Minum sedikit alkohol saja bahkan dapat berdampak pada terganggunya perkembangan otak bayi. Alkohol dilarang dikonsumsi oleh ibu hamil karena dapat menyebabkan fetal alcohol syndrome. Fetal alcohol syndrome adalah sindrom yang dapat menyebabkan kelainan bentuk wajah, kelainan jantung, dan keterbelakangan mental anak sejak dalam kandungan. 9. Herbal Makanan dilarang untuk ibu hamil berikutnya adalah sesuatu yang berbau herbal. Sebaiknya hentikan dulu minum teh herbal, jamu, dan ramuan pengobatan alternatif lainnya selama kehamilan bila tidak disarankan oleh dokter. Sebenarnya tidak semua herbal dilarang selama kehamilan. Menurut American Pregnancy Association, herbal yang jadi pantangan makanan untuk ibu hamil adalah ephedra atau efedrina, dong quai, rosemary, dan chamomile. Beberapa jenis ini dapat berdampak buruk jika dikonsumsi layaknya obat-obatan atau dalam jumlah yang banyak. Dong quai, misalnya, bisa menimbulkan efek stimulan rahim yang dapat menimbulkan kontraksi. Disarankan untuk minum teh dari daun teh biasa dahulu daripada harus mengonsumsi teh herbal. Ibu hamil juga harus berkonsultasi ke dokter saat akan menggunakan herbal jenis apapun. Ini untuk menyamakan pendapat tentang pantangan makanan ibu hamil antara dokter dan pasien. 10. Makanan cepat saji Suka atau tidak, makanan cepat saji (fast food) seperti burger, kentang goreng, dan ayam goreng tepung (fried chicken) juga termasuk makanan yang tidak boleh dimakan terlalu sering saat hamil. Ini karena makanan cepat saji mengandung lemak trans yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas, ukuran janin terlalu besar (makrosomia). 11. Mayones Mungkin Anda pernah mendengar atau sedang bertanya-tanya mengapa mayones termasuk makanan yang tidak boleh dimakan saat hamil. Mayones yang dijual di luaran kadang mengandung telur sebagai bahan dasar pembuatannya. Telur yang dijadikan bahan dasar pembuatan mayones tersebut kebanyakan masih mentah sehingga tidak boleh dimakan oleh ibu hamil.  Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, telur mentah merupakan tempat hidup bakteri, seperti Salmonella. Saat hamil, daya tahan tubuh tengah berada pada posisi rendah sehingga rentan untuk terpapar infeksi. Itu sebabnya, makan telur mentah dalam bentu apa pun bisa sangat berbahaya baik bagi ibu hamil maupun janin yang dikandungnya.
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 14 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Hepatitis D

Hepatitis D merupakan penyakit hati menular yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (HDV). Ketahui gejala, penyebab, dan pengobatannya di sini!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pencernaan, Penyakit Hati (Liver) 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Positif Hamil Atau Gejala Mau Haid? Begini 10 Cara Membedakannya

Mungkin Anda sedang harap-harap cemas menunggu jadwal mens selanjutnya. Membedakan tanda hamil atau haid itu susah-susah gampang, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 14 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menggugurkan kandungan

Cara Menggugurkan Kandungan Ketika Kehamilan Bermasalah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
mengatasi sakit punggung

Saraf Kejepit, Apa Penyebab dan Bagaimana Gejalanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
zat aditif adalah msg

Zat Aditif pada Makanan Ternyata Tak Selalu Berbahaya

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
obat mimisan alami

Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit