backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Ibu Hepatitis Boleh Menyusui, Apakah Bayi Bisa Tertular?

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany · Tanggal diperbarui 18/11/2022

Ibu Hepatitis Boleh Menyusui, Apakah Bayi Bisa Tertular?

Penyakit hepatitis yang cepat menular membuat khawatir apakah ibu hepatitis boleh menyusui. Tidak sedikit yang bertanya-tanya kemungkinan penyakit hati yang dialami ibu dapat menular pada bayi melalui ASI.

Apakah ibu hepatitis boleh menyusui?

Ada kekhawatiran tersendiri ketika ibu menyusui mengalami penyakit hepatitis.

Pasalnya, ASI yang merupakan salah satu sumber makanan utama bayi dicurigai dapat menjadi media penularan penyakit pada organ hati ini.

Akan tetapi, situs Centers for Disease Control and Prevention membantah kecurigaan ini, bahkan menjelaskan bahwa ibu dengan hepatitis B boleh menyusui bayinya.

Simak alasan mengapa ibu hepatitis boleh menyusui dalam penjelasan berikut ini.

1. ASI bukan media penularan hepatitis

paracetamol untuk ibu menyusui

Dugaan bahwa ASI terbuat dari darah adalah mitos belaka.

ASI merupakan cairan pada tubuh yang komponennya berbeda dari darah.

Menurut WIC Breastfeeding Support, ASI dibuat oleh kumpulan sel bernama alveoli yang berbentuk seperti kumpulan anggur.

Proses produksi ASI didorong oleh hormon progesteron dan estrogen yang terjadi sejak masa kehamilan.

Hal ini sekaligus menjawab kekhawatiran apakah jenis penyakit hepatitis dapat menular lewat ASI, sehingga ibu hepatitis boleh menyusui si kecil.

2. Risiko penularan kecil bila bayi sudah vaksin

Risiko penularan HBV (virus hepatitis B) dari ibu ke anak selama proses menyusui bisa diminimalisasi jika bayi yang lahir dari ibu positif HBV menerima vaksin HBV saat lahir.

Bayi yang baru lahir akan mendapatkan pemeriksaan darah untuk melihat adanya risiko terjangkit virus hepatitis dan segera mendapatkan vaksin dalam 12 jam.

Sayangnya, hal ini tidak berlaku pada kasus penularan HCV (virus hepatitis C) karena belum ada vaksin untuk jenis hepatitis ini.

Meski demikian bukan berarti anak dapat bebas 100% dari penularan virus ini setelah mendapatkan vaksin. 

Pasalnya, HBV maupun HCV dapat menular pada anak sebelum proses menyusui terjadi, misalnya saat proses persalinan.

3. ASI membantu meningkatkan kekebalan tubuh anak

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling baik untuk dikonsumsi anak, selama kurang lebih 2 tahun pertamanya. 

ASI mengandung berbagai jenis zat gizi yang diperlukan anak untuk menunjang tumbuh kembang serta terdapat zat antibodi di dalam ASI

Hal ini membantu bayi terlindungi dari berbagai zat asing, virus, serta bakteri. 

Meskipun tidak sepenuhnya mencegah penularan, ASI dapat membantu tubuh bayi lebih kuat sehingga saat tertular pun gejala yang ditimbulkan tidak menjadi parah.

Oleh karena itu, sangat disarankan bagi ibu yang terkena hepatitis boleh menyusui bayinya.

Namun, ibu menyusui perlu berhati-hati dalam hal perlekatan yang benar dan perawatan payudara selama menyusui.

Meskipun ASI bukan media penularan, luka di payudara yang memungkinkan kontak langsung darah ibu hepatitis dengan bayi dapat mengakibatkan penularan penyakit ini.

Cara mencegah penularan dari ibu menyusui ke bayi

ibu terinfeksi covid-19 bisa menyusui langsung tidak asi perah

Ibu menyusui yang menderita hepatitis bisa saja menularkan virus hepatitis ke anaknya melalui berbagai hal, misalnya saat puting luka dan anak terpapar darah dari ibu.

Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa ibu dan orang terdekat lakukan untuk mencegah penularan dari ibu menyusui ke bayi.

Berikut ini langkah pencegahan yang bisa dilakukan berdasarkan jenis hepatitis yang dialami ibu menyusui.

1. Hepatitis A

Hepatitis A adalah jenis hepatitis yang paling sering terjadi dan menular melalui kontaminasi makanan, air minum, serta bisa tertular dari orang ke orang. 

Pada bayi yang baru lahir sebenarnya hepatitis jarang sekali terjadi. Selain itu, hepatitis A jarang sekali yang menjadi hepatitis akut dan hepatitis kronis.

Secara umum, ibu menyusui bisa memberikan ASI pada bayi dan tidak perlu khawatir bayi Anda akan tertular virus hepatitis. 

Hepatitis A tidak menular melalui ASI dan tidak ditemukan virus hepatitis A di dalam ASI.

Namun, sebaiknya ibu menyusui tetap menjaga kebersihan dan menerapkan protokol kesehatan ketat saat menyusui bayinya.

2. Hepatitis B

Hepatitis B adalah jenis penyakit hepatitis yang ditularkan melalui kontak seksual dan interaksi yang memungkinkan adanya kontaminasi darah, sama seperti penularan HIV/AIDS. 

Seorang bayi yang baru lahir bisa saja terkontaminasi virus hepatitis B akibat terkena darah ibu yang terkontaminasi saat mereka lahir.

Hepatitis B bisa berkembang menjadi penyakit kronis dan mengakibatkan gangguan hati yang lebih fatal, seperti sirosis dan kanker hati.

Walaupun begitu, bayi bisa terlindungi dari virus hepatitis B jika bayi diberikan vaksinasi hepatitis B. 

Jika memang Anda positif menderita hepatitis B, bayi harus mendapatkan vaksin hepatitis B pada 12 jam pertama setelah kelahiran.

Selanjutnya, vaksin kedua dan ketiga diberikan saat bayi berusia 1 atau 2 bulan dan saat bayi berusia 6 bulan.

3. Hepatitis C

Belum ada vaksin untuk mencegah infeksi hepatitis C, tetapi Anda tetap bisa melakukan upaya pencegahan lainnya.

Salah satu caranya adalah menjaga agar bayi tidak terpapar darah dari ibu menyusui yang positif mengalami hepatitis.

Menurut situs Rady Children’s Hospital, risiko penularan hepatitis C dari ibu menyusui ke anak cukup rendah, yaitu sekitar 4% dari kasus yang dilaporkan.

Bahkan American Academy of Pediatrics mendukung ibu dengan hepatitis C untuk tetap menyusui bayinya.

Sebagai langkah pencegahan, ibu menyusui dengan luka pada payudara sebaiknya menghentikan proses menyusui untuk sementara waktu, hingga luka sembuh.

Bila khawatir akan terjadinya penularan saat menyusui langsung atau direct breastfeeding, ibu boleh menyusui dengan memompa payudara untuk diberikan hasilnya pada si kecil.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany · Tanggal diperbarui 18/11/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan