Bagaimana Pola Asuh Orangtua Memengaruhi Perkembangan dan Kepribadian Anak?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Setiap orangtua punya gaya mengasuh yang berbeda-beda. Nah, beda pola asuh orangtua tentu dampaknya pada perkembangan dan pembentukan watak anak juga berbeda. Namun, sebenarnya seperti apa pengaruh pola asuh orangtua bagi anak? Apakah ada pola asuh yang paling ideal? Pola asuh seperti apa yang paling cocok bagi si kecil? Simak di sini, yuk.

Pola asuh orangtua otoriter

Gaya mengasuh anak ini sifatnya mengatur dan mengekang, mengharuskan anak untuk mengikuti semua perintah tanpa pengecualian. Orangtua juga tidak mengizinkan anak-anak terlibat dalam penyelesaian suatu masalah. Setiap peraturan biasanya tidak didiskusikan dengan anak.

Pada gaya pengasuhan otoriter, orangtua sering menggunakan kata, “Pokoknya begitu,” atau, “Kamu nurut saja!” ketika anak menanyakan alasan ia dilarang melakukan sesuatu.

Pengasuhan otoriter mungkin menggunakan hukuman sebagai ganti dari kedisiplinan. Jadi, daripada mengajarkan anak bagaimana cara mengambil pilihan terbaik, orangtua lebih memilih untuk fokus terhadap cara anak mematuhi aturan.

Anak-anak yang tumbuh dengan gaya pengasuhan seperti ini, biasanya akan menghormati peraturan dan otoritas (misalnya atasannya). Namun, perlu diketahui bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan ini akan memiliki masalah dalam mengembangkan diri dan cenderung lebih agresif.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak tersebut cenderung lebih suka pembohong karena mereka terbiasa berbohong untuk menghindari hukuman. Selain itu, hal ini juga mengurangi kemampuan anak dalam bersosialisasi di mana sangat dibutuhkan untuk kepemimpinan.

Pola asuh orangtua lalai

Gaya mengasuh anak di mana orangtua tidak mengambil peran banyak, justru sedikit tidak peduli. Mereka hanya menghabiskan sedikit waktu dengan anak-anak dan membiarkan anak-anak dengan bebas, baik itu menonton acara televisi atau bermain video games. Sederhananya, orangtua yang menggunakan gaya pengasuhan seperti ini tidak pernah menanyakan kegiatan anak di sekolah, pekerjaan rumah anak, atau tidak tahu bersama siapa ketika anak keluar rumah.

Untuk beberapa kasus, gaya pengasuhan seperti ini sering terjadi pada keluarga yang orangtuanya memiliki masalah kesehatan psikis atau penyalahgunaan obat-obatan, sehingga mereka tidak peduli terhadap psikis dan emosional anak. Orangtua yang menerapkan gaya pengasuhan seperti ini hanya sedikit memahami apa yang anak-anak mereka lakukan.

Anak-anak yang diasuh dengan gaya seperti ini sering memiliki masalah dalam menaati peraturan. Bahkan, anak cenderung untuk melanggar peraturan. Sebab orangtua hanya memberikan sedikit peraturan yang diterapkan, kurangnya pengawasan, dan juga kurangnya perhatian.

Pola mengasuh anak yang terbuka

Orangtua mungkin jarang memberikan hukuman karena mereka akan memaklumi kesalahan anak dengan cepat.

Orangtua lebih senang mengambil peran sebagai teman dibandingkan orangtua. Bahkan mereka dengan senang hati menjadi tempat untuk bercerita atau sekadar pergi jalan-jalan bersama. Walau menciptakan suasana keluarga yang hangat dan anak cenderung memiliki kreativitas, gaya pengasuhan seperti ini dapat membuat anak yang tidak sadar dengan peraturan karena ingin lebih mengekspresikan diri mereka.

Menurut Verywell.com, anak-anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan seperti ini berisiko tinggi mempunya masalah kesehatan, seperti obesitas.

Mengapa demikian? Karena orangtua biasanya memperbolehkan anak-anak untuk mengonsumsi junk food tanpa memberi tahu batasannya. Selain obesitas, gigi mereka juga akan berlubang karena mereka tidak terlalu menekankan kebiasaan baik, seperti rajin menggosok gigi.

Pola asuh autoritatif (berwibawa)

Jangan tertukar dengan pola asuh orangtua otoriter. Pola asuh orangtua authoritative ini lebih menekankan pada tanggung jawab anak, bukan aturan yang dibuat oleh orangtua. Menurut para ahli, pola asuh autoritatif merupakan yang terbaik dari ketiga pola asuhan yang telah disebutkan di atas.

Bila orangtua otoriter selalu mengatur anak tanpa menjelaskan alasannya, orangtua autoritatif justru lebih mementingkan alasannya. Jadi anak mungkin diceramahi panjang lebar soal kenapa perbuatannya itu salah, bukan serta-merta dibentak atau langsung dihukum. Tujuannya yaitu supaya anak paham mana tindakan yang betul dan mana yang salah.

Mereka juga menggunakan kedisiplinan untuk mencegah kebiasaan buruk dan mendukung kebiasaan baik anak, misalnya memberikan penghargaaan dan pujian terhadap anak jika mereka melakukan kebaikan atau memiliki kebiasaan baik.

Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuhan seperti ini cenderung membuat anak hidup senang dan sukses. Mereka juga menjadi lebih baik dalam mengambil keputusan dan menimbang-nimbang risiko dari keputusan yang telah mereka pilih. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tersebut juga lebih bertanggung jawab dan dapat mengekspresikan pendapat mereka dengan baik ketika dewasa. Mereka bisa mengembangkan diri mereka baik dalam sosialisasi juga mengendalikan diri.

Terkadang orangtua tidak hanya menerapkan satu pola pengasuhan, mereka bisa bersikap fleksibel sesuai keadaaan dan tempat. Oleh karena itu, untuk menjadi orangtua yang berhasil dalam mengasuh anak, jalinlah hubungan yang positif dengan anak-anak Anda.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: November 28, 2017 | Terakhir Diedit: November 27, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca