Bagaimana Pola Asuh Orangtua Memengaruhi Perkembangan dan Kepribadian Anak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13/05/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Setiap orangtua punya gaya mengasuh yang berbeda-beda. Nah, beda pola asuh orangtua tentu dampaknya pada perkembangan dan pembentukan watak anak juga berbeda. Namun, sebenarnya seperti apa pengaruh pola asuh orangtua bagi anak? Apakah ada pola asuh yang paling ideal? Pola asuh seperti apa yang paling cocok bagi si kecil? Simak di sini, yuk.

Pola asuh orangtua otoriter

Gaya mengasuh anak ini sifatnya mengatur dan mengekang, mengharuskan anak untuk mengikuti semua perintah tanpa pengecualian. Orangtua juga tidak mengizinkan anak-anak terlibat dalam penyelesaian suatu masalah. Setiap peraturan biasanya tidak didiskusikan dengan anak.

Pada gaya pengasuhan otoriter, orangtua sering menggunakan kata, “Pokoknya begitu,” atau, “Kamu nurut saja!” ketika anak menanyakan alasan ia dilarang melakukan sesuatu.

Pengasuhan otoriter mungkin menggunakan hukuman sebagai ganti dari kedisiplinan. Jadi, daripada mengajarkan anak bagaimana cara mengambil pilihan terbaik, orangtua lebih memilih untuk fokus terhadap cara anak mematuhi aturan.

Anak-anak yang tumbuh dengan gaya pengasuhan seperti ini, biasanya akan menghormati peraturan dan otoritas (misalnya atasannya). Namun, perlu diketahui bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan ini akan memiliki masalah dalam mengembangkan diri dan cenderung lebih agresif.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak tersebut cenderung lebih suka pembohong karena mereka terbiasa berbohong untuk menghindari hukuman. Selain itu, hal ini juga mengurangi kemampuan anak dalam bersosialisasi di mana sangat dibutuhkan untuk kepemimpinan.

Pola asuh orangtua lalai

Gaya mengasuh anak di mana orangtua tidak mengambil peran banyak, justru sedikit tidak peduli. Mereka hanya menghabiskan sedikit waktu dengan anak-anak dan membiarkan anak-anak dengan bebas, baik itu menonton acara televisi atau bermain video games. Sederhananya, orangtua yang menggunakan gaya pengasuhan seperti ini tidak pernah menanyakan kegiatan anak di sekolah, pekerjaan rumah anak, atau tidak tahu bersama siapa ketika anak keluar rumah.

Untuk beberapa kasus, gaya pengasuhan seperti ini sering terjadi pada keluarga yang orangtuanya memiliki masalah kesehatan psikis atau penyalahgunaan obat-obatan, sehingga mereka tidak peduli terhadap psikis dan emosional anak. Orangtua yang menerapkan gaya pengasuhan seperti ini hanya sedikit memahami apa yang anak-anak mereka lakukan.

Anak-anak yang diasuh dengan gaya seperti ini sering memiliki masalah dalam menaati peraturan. Bahkan, anak cenderung untuk melanggar peraturan. Sebab orangtua hanya memberikan sedikit peraturan yang diterapkan, kurangnya pengawasan, dan juga kurangnya perhatian.

Klik gambar di bawah ini untuk mengikuti survei dan dapatkan peluang memperoleh saldo Go-Pay Rp 500 ribu untuk tiga pemenang.

Pola mengasuh anak yang terbuka

Orangtua mungkin jarang memberikan hukuman karena mereka akan memaklumi kesalahan anak dengan cepat.

Orangtua lebih senang mengambil peran sebagai teman dibandingkan orangtua. Bahkan mereka dengan senang hati menjadi tempat untuk bercerita atau sekadar pergi jalan-jalan bersama. Walau menciptakan suasana keluarga yang hangat dan anak cenderung memiliki kreativitas, gaya pengasuhan seperti ini dapat membuat anak yang tidak sadar dengan peraturan karena ingin lebih mengekspresikan diri mereka.

Menurut Verywell.com, anak-anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan seperti ini berisiko tinggi mempunya masalah kesehatan, seperti obesitas.

Mengapa demikian? Karena orangtua biasanya memperbolehkan anak-anak untuk mengonsumsi junk food tanpa memberi tahu batasannya. Selain obesitas, gigi mereka juga akan berlubang karena mereka tidak terlalu menekankan kebiasaan baik, seperti rajin menggosok gigi.

Pola asuh autoritatif (berwibawa)

Jangan tertukar dengan pola asuh orangtua otoriter. Pola asuh orangtua authoritative ini lebih menekankan pada tanggung jawab anak, bukan aturan yang dibuat oleh orangtua. Menurut para ahli, pola asuh autoritatif merupakan yang terbaik dari ketiga pola asuhan yang telah disebutkan di atas.

Bila orangtua otoriter selalu mengatur anak tanpa menjelaskan alasannya, orangtua autoritatif justru lebih mementingkan alasannya. Jadi anak mungkin diceramahi panjang lebar soal kenapa perbuatannya itu salah, bukan serta-merta dibentak atau langsung dihukum. Tujuannya yaitu supaya anak paham mana tindakan yang betul dan mana yang salah.

Mereka juga menggunakan kedisiplinan untuk mencegah kebiasaan buruk dan mendukung kebiasaan baik anak, misalnya memberikan penghargaaan dan pujian terhadap anak jika mereka melakukan kebaikan atau memiliki kebiasaan baik.

Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuhan seperti ini cenderung membuat anak hidup senang dan sukses. Mereka juga menjadi lebih baik dalam mengambil keputusan dan menimbang-nimbang risiko dari keputusan yang telah mereka pilih. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tersebut juga lebih bertanggung jawab dan dapat mengekspresikan pendapat mereka dengan baik ketika dewasa. Mereka bisa mengembangkan diri mereka baik dalam sosialisasi juga mengendalikan diri.

Terkadang orangtua tidak hanya menerapkan satu pola pengasuhan, mereka bisa bersikap fleksibel sesuai keadaaan dan tempat. Oleh karena itu, untuk menjadi orangtua yang berhasil dalam mengasuh anak, jalinlah hubungan yang positif dengan anak-anak Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Baru-baru ini ilmuwan jepang menemukan rahasia cara sempurna memeiuk bayi. Bagaimana caranya agar bayi nyaman dan tenang?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Parenting, Tips Parenting 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Tips ini akan membantu Anda menerapkan kebiasaan kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Yuk, cari tahu apa saja caranya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Sponsored
menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak
Parenting, Tips Parenting 16/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Sponsored
penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit
ruam susu bayi

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit