Melindungi Anak dari Bayang-Bayang Kejahatan Cyberbullying di Dunia Maya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Zaman sekarang, sepertinya jarang menemukan anak kecil dan remaja yang tidak punya handphone atau gadget nirkabel lainnya. Itu kenapa orangtua harus lebih menaruh perhatian dan waspada terhadap apa saja yang dilakukan oleh anak di dunia maya untuk melindunginya dari cyberbullying. Ya. Meski teknologi memang memudahkan manusia untuk belajar, mendapatkan informasi, dan berkomunikasi, tidak dapat dipungkiri bahwa ada segelintir oknum di luar sana yang menyalahgunakannya untuk berbuat jahat.

Apa itu cyberbullying?

Cyberbullying adalah segala bentuk tindak penindasan dan intimidasi yang dilakukan melalui internet atau teknologi digital lainnya. Cyberbullying umumnya berupa teror teks berisi komentar kasar, olokan, fitnah, penghinaan, pemerasan, hingga ancaman yang ditargetkan pada satu individu atau kelompok — baik secara langsung pada target bullying atau tidak langsung dengan cara menggiring opini orang lain.

Tindak penindasan di dunia maya juga bisa berbentuk foto, gambar, atau video yang ditujukan untuk mempermalukan dan mencoreng nama baik korban. Tidak jarang, konten intimidasi di dunia maya bisa menjurus hal-hal yang berbau seksual dan pornografi anak.

Motivasi pelaku cyberbullying beragam. Mungkin ada yang merasa tersinggung dan marah pada anak Anda sehingga ingin balas dendam, sekadar ingin mencari perhatian, atau bahkan ada pula yang hanya karena iseng mengisi waktu luang.

Cyberbullying adalah tindak penindasan yang sama berbahayanya dengan bullying di sekolah

Anda mungkin lebih familiar dengan tindak bullying di sekolah. Selain mungkin tindakannya yang memang lebih bisa jelas dilihat oleh mata, kasus bullying anak sekolah juga lebih sering diberitakan di media massa. Suka atau tidak, bullying bahkan masih menjadi norma budaya di banyak sekolah di Indonesia.

Namun tidak peduli di mana, bagaimana caranya, dan apapun media perantaranya, bullying adalah tindak kekerasan yang tidak boleh ditolerir. Begitu juga dengan bullying di dunia maya.

Efek cyberbullying adalah sama dengan efek bullying di dunia nyata. Bahkan mungkin bisa lebih parah. Bullying dapat membuat emosi anak jadi tidak stabil, merasa terisolasi, rentan depresi, merasakan sakit fisik, tidak konsentrasi belajar di sekolah, hingga memicu keinginan bunuh diri.

Ini yang harus dilakukan oleh orangtua untuk melindungi anak dari cyberbullying

Dilansir dari Kumparan, data UNICEF tahun 2016 menyebutkan bahwa hampir 50 persen remaja Indonesia usia 13-15 tahun pernah menjadi korban cyberbullying. Lakukan langkah demi langkah di bawah ini untuk mulai melindungi anak dari cyberbullying.

1. Ajak anak untuk berdiskusi tentang cyberbullying

Kebanyakan anak yang masih berusia sangat belia belum memiliki pola pikir matang. Mereka hanya mengetahui bahwa punya akun medsos itu akan membuatnya tampak keren, dan apa yang ditulis atau diunggahnya akan viral dilihat oleh orang banyak. Mereka belum cukup memahami bahwa setiap tindak-tanduk manusia pasti ada konsekuensinya tersendiri, termasuk di dunia maya.

Yang pertama kali harus Anda lakukan adalah membuat anak merasa aman dan nyaman untuk berbicara terbuka bersama Anda. Luangkan waktu untuk berdiskusi dengannya mengenai apa yang dimaksud dengan cyberbullying, apa saja dampaknya jika hal itu terjadi padanya, dan apa konsekuensi bagi dirinya jika anak Anda adalah pelakunya.

Jelaskan topik dengan bahasa yang sederhana agar anak Anda paham, dan jangan pula langsung memberikan “kuliah umum” dengan berbagai bahasan topik dalam satu waktu sekaligus.

gangguan akibat main hp terus

2. Buat aturan sosial media yang tegas

Teknologi dan sosial media tidak selamanya berdampak buruk, tergantung dari bagaimana cara kita menggunakannya. Maka, Anda juga harus lebih dulu belajar mengenai media sosial atau situs yang berpotensi jadi sarana penindasan. Cobalah untuk menggunakannya selama beberapa waktu untuk menguji seberapa aman situs tersebut bagi anak.

Anda juga bisa menyetel pengaturan khusus pada gadget anak yang aman dan sesuai untuk usianya. Biasanya, pada beberapa media sosial terdapat pengaturan khusus yang membuat akun media sosial secara otomatis tidak akan memunculkan komentar negatif, konten dewasa atau kekerasan.

 3. Batasi waktunya online

Orangtua juga harus membuat aturan yang tegas ketika anak menggunakan media sosial, misalnya dengan menetapkan durasi anak online. Sembilan puluh menit sampai dua jam adalah batas waktu yang ideal untuk anak ber-medsos ria dalam satu hari, dan telah disetujui oleh banyak pakar kesehatan dan psikolog dunia.

Sepakati juga seberapa sering anak boleh menggunakan laptop, handphone, atau gadget lainnya selama beraktivitas. Misalnya, anak hanya boleh menggunakan handphone di waktu istirahat sekolah, anak tidak boleh memainkan HP saat makan atau sampai tugas-tugas selesai dikerjakan, dan sebagainya.

4. Diskusikan tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dibagikan secara online

Bantu anak untuk menentukan apa saja yang boleh dan tidak boleh dibagikan secara online di media sosialnya. Hal ini termasuk foto, video, maupun data pribadi seperti nama lengkap, deskripsi fisik, nomor telepon, sekolah, hingga alamat rumah.

Akan lebih baik jika Anda mengetahui semua teman online dan apa yang ia lakukan di dunia maya. Dengan mengikuti akun media sosialnya, Anda akan lebih mudah memantau kegiatan si kecil saat ia menggunakan media sosial.

Beritahu ia juga bahwa ia harus menolak permintaan pertemanan dengan orang asing atau akun-akun yang tidak jelas. Sebaiknya menerima pertemanan dari teman, keluarga, dan kerabat yang dikenalnya saja. Hal ini bertujuan untuk mencegah segala bentuk teror maupun intaian orang-orang jahat.

5. Beritahu anak agar tidak menanggapi ancaman maupun komentar di sosial medianya

Beri tahu anak untuk jangan pernah takut melaporkan tindak cyberbullying yang ia terima di dunia maya. Cari tahu berapa lama kasus bullying sudah terjadi pada anak dan ajak dia untuk menemukan solusinya secara bersama-sama. Katakan padanya untuk tidak usah menanggapi berbagai ancaman dan komentar negatif tersebut.

Ajak anak Anda untuk mengumpulkan semua bukti tindak cyberbullying yang ia terima, screenshoot pesan yang mengandung ancaman, simpan bukti foto, termasuk juga catat alamat e-mail, usernema akun pelaku, atau foto profil di sosial medianya. Gunakan bukti-bukti ini untuk melaporkan tindak bullying tersebut langsung pada platform sosial media tersebut.

Biasanya pelaku cyberbullying sulit dilacak. Maka, laporkan kasus tersebut dan minta bantuan dari pihak sekolah atau kepolisian untuk menindak kasus tersebut.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca