Efek Buruk Jika Orangtua Terlalu Ikut Campur Dalam Kehidupan Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Juli 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Menjaga agar anak tetap sehat dan selamat adalah bagian dari naluri orangtua, dan setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk melakukannya. Beberapa orangtua bahkan terlalu melindungi anak mereka, bukan hanya dari permasalahan besar, tetapi juga dari hal kecil dan tanggung jawab yang seharusnya mereka bisa atasi sendiri. Hal ini dikenal dengan  pola asuh helicopter parenting dan istilah ini relatif menjadi lebih populer dalam satu dekade terakhir.

Apa itu helicopter parenting?

Helicopter parenting adalah istilah yang merujuk pada cara pola asuh anak oleh orangtua yang terlalu berfokus terhadap kehidupan anak. Akibatnya, orang tuaterlalu ikut campur terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak mereka. Berbeda dengan pola asuh yang menuruti berbagai keinginan anak, pola asuh helicopter parenting lebih cenderung menentukan bagaimana anak seharusnya bertindak, dan lebih bersifat terlalu melindungi anak dari kesulitan atau kegagalan.

Pada dasarnya, hal ini dilandasi oleh niat yang baik, namun orangtua yang melakukan helicopter parenting cenderung menyelesaikan berbagai urusan yang dihadapi anak, meskipun si anak sebenarnya dapat menyelesaikannya sendiri. Pakar psikologi Michael Ungar mengatakan (sebagaimana yang dilansir oleh Psychology Today), “Hal ini (helicopter parenting) tentu saja tidak sesuai dengan tujuan utama pola asuh anak untuk menjadikannya mampu menyelesaikan berbagai tugas orang dewasa.“

Ia juga berpendapat bahwa melatih anak untuk mengambil keputusannya sendiri jauh lebih penting dibandingkan membiarkan mereka bergantung pada orangtua untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.

Helicopter parenting dapat berupa berbagai perilaku orangtua yang terlalu memonitor kehidupan sekolah, sosial, bahkan pekerjaan anak, misalnya:

  • Menentukan jurusan pendidikan yang diambil oleh anak meskipun anak tidak menyukainya.
  • Memonitor jadwal makan dan olahraga.
  • Orangtua meminta anak untuk selalu memberikan kabar di mana ia berada dan dengan siapa.
  • Saat nilai anak buruk, orangtua menghubungi guru atau dosen untuk protes.
  • Ikut campur jika ada permasalahan dengan teman atau pekerjaan.

Kenapa orangtua terlalu ikut campur dalam kehidupan anak?

Terdapat banyak alasan orangtua terlalu melakukan campur tangan dalam kehidupan anak. Namun pada dasarnya hal ini disebabkan oleh kecemasan yang berlebihan orangtua terhadap bagaimana anak menjalani hidup mereka. Akibatnya, helicopter parent melakukan berbagai hal untuk membantu mengatasi permasalahan hidup, bahkan mengambil alih hal yang seharusnya dilakukan oleh anak.

Meskipun terkesan hal ini hanya dilakukan oleh orangtua dengan anak yang telah beranjak dewasa, tetapi perilaku helicopter parenting juga dapat terjadi pada setiap tahap perkembangan anak. Orangtua yang selalu cemas dan sudah terbiasa membantu anaknya dalam berbagai hal sejak ia masih anak-anak kemungkinan akan terus melakukannya hingga dewasa. Tanpa disadari, saat sudah remaja atau dewasa, anak cenderung menjadi mudah cemas dan selalu mengandalkan orangtua saat menghadapi kesulitan.

Kenapa terlalu ikut campur dalam kehidupan anak adalah pola asuh yang kurang baik?

Berikut beberapa alasan terlalu melindungi anak dapat berdampak kurang baik:

Tidak membiarkan anak tumbuh

Anak yang diasuh oleh orangtua yang terlalu mengawasi dan ikut campur cenderung mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah, karena ia memiliki kepercayaan diri yang rendah dan lebih takut akan kegagalan.  Semakin jauh orangtua ikut campur dalam tanggung jawab anak, maka semakin sedikit kepercayaan mereka akan kemampuan anaknya. Seiring dengan pertumbuhanny,a hal ini tidak hanya membuat anak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan masalah, namun juga dapat berdampak pada kehidupan sosial, pendidikan, bahkan karir setelah ia dewasa.

Anak tidak memiliki coping skill

Coping skill adalah keterampilan seseorang agar dapat menghadapi permasalahan dan rasa kekecewaan atau kegagalan dengan baik. Selalu membantu anak sehingga mereka tidak pernah salah atau mengalami kegagalan adalah hal yang dapat menghambat perkembangan coping skill. Akibatnya, anak tidak terbiasa mengatasi masalah atau menghadapi kegagalan, dan mereka tidak pernah belajar bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut.

Menurunnya kepercayaan diri anak

Sikap orangtua yang terlalu ikut campur saat anak sudah memasuki usia remaja akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri untuk bergaul dengan anak seusianya. Hal ini juga akan menyebabkan ia lebih sulit bergaul dan menutup diri bahkan saat ia dewasa. Perlu dipahami oleh orangtua, bahwa kepercayaan diri adalah sesuatu yang hanya dapat diperoleh saat anak bergantung kepada kemampuannya sendiri, baik dalam mengambil keputusan maupun menerima konsekuensi.

Orangtua membantu anak hanya karena kecemasan berlebih

Sebagian besar perilaku helicopter parenting didasari oleh kecemasan  berlebih, dibandingkan niat untuk menolong anak. Beberapa kecemasan orangtua bahkan disebabkan karena takut merasa bersalah saat anak mengalami kegagalan, atau takut apa yang orang lain pikirkan tentang anak mereka, bukan karena rasa cemas akibat kemampuan anak atau permasalahan yang sedang dihadapi anak. Saat Anda sebagai orang tua mengalami kecemasan, sebaiknya bicarakan bagaimana anak menghadapi permasalahan tersebut. Memberikan arahan dan motivasi tanpa ikut campur secara langsung akan lebih baik bagi anak dalam menyelesaikan masalah.

Yang dapat dilakukan orang tua agar tidak terlalu ikut campur

Terlalu khawatir dan ikut campur dalam kehidupan anak bukanlah cara yang bijak untuk menjalin kedekatan dengan Anak. Berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari pola asuh helicopter parenting:

Biarkan anak berusaha sesuai dengan kemampuan

Seiring dengan pertumbuhannya, anak mengalami perkembangan yang bertahap dalam melakukan berbagai hal. Oleh karena itu, membiarkan anak belajar untuk menangani hal dan tanggung jawabnya sendiri adalah hal terbaik untuk membuatnya lebih mandiri dan mengembangkan kemampuannya dalam menjalani kehidupan. Selain itu, ada baiknya orangtua membiarkan anak membuat keputusan dan menerima konsekuensinya sendiri, selama hal tersebut tidak membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan anak.

Saat anak dalam kesulitan, jangan membuatnya cemas

Hindari terlalu cemas dan membuat sesuatu terkesan lebih buruk dari yang sebenarnya. Hal ini hanya akan membuat anak bingung dan menjadi mudah cemas karena respon negatif yang diberikan orangtua terhadap suatu permasalahan. Hadapi kesulitan bersama dengan anak, dengan menghadirkan respon yang lebih positif dan tanpa membuat anak lebih cemas.

Jangan membuat anak menjadi pusat dari kehidupan Anda

Hal ini adalah penyebab utama sebagian orangtua cemas akan pilihan apa yang diambil oleh anaknya. Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyadari bahwa anak memiliki kehidupan, dan berhak menentukan pilihannya sendiri. Serta ingat, tinggi atau rendahnya pencapaian anak bukanlah indikator yang sesuai dengan kualitas pola asuh anak yang Anda lakukan.

Hargai pendapat anak

Memaksakan pendapat terhadap anak dapat menyebabkan anak tidak memiliki pendirian akan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu, pahamilah sebagai sesuatu yang positif jika anak Anda memiliki pendapat yang berbeda dengan Anda. Jika hal tersebut tidak kurang sesuai dengan kebaikan anak, cobalah ajak ia berbicara dan pahami mengapa anak Anda berpikir demikian.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Cara Efektif Mengajarkan Anak Gosok Gigi

    Mengajarkan anak gosok gigi memang gampang-gampang susah. Lantas, bagaimana caranya agar mereka mau menggosok gigi secara teratur? Simak tipsnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Parenting, Tips Parenting 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Tips Mencari Tahu dan Mengembangkan Bakat Anak

    Setiap anak memiliki bakat yang berbeda. Orang tua perlu mengenali dan membantu mengembangkan bakat anak sejak dini. Bagaimana caranya?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Parenting, Tips Parenting 10 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Cara Menghilangkan Dahak pada Anak Secara Alami

    Dahak yang menumpuk di tenggorokan bisa membuat anak Anda tidak nyaman. Berikut cara alami yang dapat membantu menghilangkan dahak pada anak.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Parenting, Tips Parenting 9 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    11 Gejala Pneumonia Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

    Pneumonia pada anak diklaim sebagai penyebab kematian anak tiap 20 detik. Berikut beberapa gejala pneumonia pada anak yang sebaiknya Anda ketahui.

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Parenting, Tips Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    kenakalan remaja

    Orangtua Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
    bullying pada remaja

    Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
    gangguan atau penyimpangan makan pada remaja

    Penyebab Gangguan Makan pada Remaja dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit
    pendidikan montessori

    Mengenal Metode Pendidikan Montessori: Membebaskan Anak untuk Bereksplorasi

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 4 menit