Awas, Orangtua yang Depresi Bisa Mengganggu Mental Anak

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 02/12/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Depresi adalah kondisi medis yang bisa menyerang siapa saja. Sayangnya, banyak orang menyepelekan kondisi ini dan mengabaikan begitu saja tanda-tandanya. Padahal, jika tidak segera ditangani dengan benar, dampak dari depresi bisa menjalar ke orang-orang terdekat Anda. Hal ini tentu tidak boleh dipandang sebelah mata. Apalagi kalau Anda sudah berkeluarga dan memiliki anak. Pasalnya, meski Anda yang menderita depresi, anak Anda juga bisa mengalami berbagai masalah pada kesehatan mentalnya. Untuk mencari tahu bagaimana depresi orangtua memengaruhi anak, simak baik-baik informasi berikut ini.

BACA JUGA: Apakah Anda Mengidap Depresi Terselubung? Kenali Gejalanya

1. Gangguan perilaku dan emosi

Anak yang dibesarkan oleh orangtua depresi cenderung menunjukkan gangguan perilaku bahkan sejak masih bayi. Bayi yang orangtuanya depresi lebih sulit ditenangkan ketika menangis, susah makan atau minum ASI, dan tidak bisa tidur nyenyak. Pada anak usia di bawah lima tahun (balita) gangguan perilaku yang nampak antara lain emosi meledak-ledak, gangguan mood, dan gangguan defisit atensi dan hiperaktivitas (ADHD). Sementara itu, anak usia sekolah sampai remaja yang orangtuanya depresi berisiko mengalami gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan mood, dan kecanduan (rokok, alkohol, atau obat-obatan).

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal internasional Pediatrics pada 2011 menunjukkan bahwa kemungkinan anak mengalami gangguan perilaku dan emosi naik dua kali lipat jika sosok ayah menderita depresi. Sementara, kalau ibunya yang menderita depresi, risiko anak mengalami gangguan perilaku dan emosi mencapai tiga kali lipat. Kalau kedua orangtuanya depresi, kemungkinan tersebut meroket hingga empat kali lipat.

BACA JUGA: 8 Hal yang Tak Boleh Diucapkan Pada Orang yang Depresi

2. Prestasi di sekolah menurun

Pada 2016, studi yang dipublikasikan oleh Journal of the American Medical Association Psychiatry membuktikan bahwa depresi orangtua berakibat buruk pada prestasi anak di sekolah. Hal ini bisa disebabkan oleh dua hal. Yang pertama, depresi yang dialami ayah dan/ atau ibu mengakibatkan perubahan genetik pada saraf dan otak anak yang lahir. Anak pun lahir dan tumbuh dengan gangguan sistem saraf pusat (neurodevelopmental problem). Maka, saat balita bisa terlihat bahwa kemampuan berbahasa anak sangat terbatas. Ketika mencapai usia sekolah pun ia kesulitan mengikuti pelajaran.

BACA JUGA: Hati-Hati, Depresi Pada Ayah Bisa Menyebabkan Bayi Prematur

Sebab yang kedua adalah depresi orangtua membuat ayah dan/ atau ibu kesulitan mendampingi anak dalam belajar. Anak juga mungkin disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga atau mengurus adiknya karena orangtuanya terlalu lemah untuk melaksanakan tugas-tugas hariannya. Akibatnya, anak jadi sulit berkonsentrasi dan tidak punya waktu belajar.

3. Memandang rendah dirinya sendiri

Jika orangtuanya depresi, anak akan kesulitan membangun citra diri yang positif. Ia cenderung memandah rendah dirinya sendiri. Ini karena orangtua yang depresi lebih sering bersikap negatif dan mengkritik anak. Anak pun tumbuh dengan pola pikir yang negatif.

Tak jarang pula anak menyalahkan dirinya sendiri atas depresi orangtua. Anak menganggap bahwa kehadirannya memicu depresi pada orangtuanya. Dalam beberapa kasus, orangtua secara tidak sadar menyalahkan anak karena depresi yang dialaminya.

BACA JUGA: 7 Hal yang Wajib Orangtua Lakukan untuk Kesehatan Mental Anak

Dalam jangka panjang, pola pikir anak tersebut bisa memengaruhi hubungan pribadi serta kariernya. Kesulitan mempertahankan hubungan dengan teman dekat dan kekasih kerap dikeluhkan oleh anak yang orangtuanya depresi. Selain itu, anak juga bisa kehilangan semangat dan ambisi untuk mengejar karier. Anak merasa bahwa dirinya memang tidak pantas mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidup.

4. Risiko anak mengalami depresi meningkat

Depresi adalah kondisi medis yang bisa diturunkan pada anak secara genetik. Selain itu, anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak sehat juga lebih berisiko mengalami depresi di kemudian hari. Ini karena secara tidak sadar, anak menyimpan pola perilaku orangtuanya di dalam pikiran. Maka, pemicu sederhana seperti konflik dalam hidup anak bisa mengakibatkan depresi.

Akan tetapi, hal ini bisa dicegah dengan cara menangani depresi orangtua sejak dini. Selain itu, anak juga sebaiknya langsung mencari bantuan ketika gejala depresi sekecil apapun muncul. Anak bisa berkonsultasi pada guru konseling di sekolah, psikolog anak, atau psikiater.

BACA JUGA: Menjalani Hidup Bersama Orangtua yang Depresi

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

    Menekuni usaha yang sesuai passion adalah impian sejumlah orang. Namun, jangan sampai lupa waktu. Simak cara menjaga kesehatan untuk pebisnis sekarang.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Asuransi, Hidup Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit

    Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

    Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

    8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

    Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

    Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

    Camilan yang gurih memang menggoda. Namun, sebaiknya mulai ganti camilan Anda dengan kacang almond, terutama untuk penderita hipertensi.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hipertensi, Health Centers 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    kode wadah plastik pada makanan atau minuman

    Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    botol plastik hangat

    Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    manfaat bersepeda

    Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
    kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

    Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit