×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:

Cara Mencegah Depresi Pada Anak yang Memiliki Faktor Keturunan

Oleh Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

Kebanyakan orang dewasa melihat bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang bahagia dan tidak ada masalah yang dapat membuat stres. Mereka terbebas dari pikiran tentang pekerjaan, keluarga, keuangan, dan hal lainnya yang biasa orang dewasa pikirkan. Akan tetapi, ternyata tidak semua anak yang mungkin kita pikir tidak punya masalah itu bahagia, loh.

“Depresi dapat terjadi pada anak-anak. Terdapat 3-5% anak dan remaja yang menderita depresi,” kata dr. David Fassler, seorang dokter spesialis kesehatan jiwa.

Sebuah penelitian yang dimuat di The Lancet memperlihatkan bahwa masalah kesehatan jiwa menempati peringkat atas dari daftar masalah kesehatan yang dialami anak. Depresi pada anak sering tidak terdeteksi dan tidak ditangani. Padahal jika tidak ditangani, depresi dapat menjadi semakin berat.

Apa penyebab depresi pada anak?

Depresi terjadi akibat adanya ketidakseimbangan neurotransmiter (zat kimia yang berfungsi untuk mengantarkan informasi antara sel saraf yang satu dengan lainnya). Salah satu peran dari neurotransmiter tersebut adalah untuk mengatur mood.

Terdapat banyak faktor lainnya yang dapat meningkatkan terjadinya risiko depresi pada anak.  Faktor keturunan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi pada anak.

Dokter Fassler mengatakan bahwa jika seorang anak memiliki salah satu orang tua yang menderita depresi maka anak tersebut memiliki risiko sebanyak 25% untuk menderita depresi di kemudian hari. Jika kedua orang tuanya menderita depresi, maka risiko dapat mencapai hingga 75%.

Masalah dalam keluarga dan masalah di lingkungan mereka juga mempengaruhi terjadinya depresi. Selain itu, jika anak memiliki kejadian traumatis seperti kekerasan, penganiayaan, dan penelantaran anak akan memiliki risiko depresi yang semakin tinggi.

Bagaimana cara mencegah depresi pada anak?

1. Kenali risiko depresi pada anak Anda

Jika Anda ingin mencegah anak dari depresi, hal yang paling penting yaitu mencari tahu apakah ada faktor risiko depresi pada anak Anda. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa faktor risiko depresi pada anak di antaranya adalah faktor keturunan, adanya masalah di keluarga maupun di lingkungan, dan kejadian traumatis yang mungkin dialami seorang anak.

2. Lindungi anak Anda dari depresi

Berikut hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi anak Anda dari depresi.

  • Ciptakan hidup yang stabil. Atur jadwal anak Anda sebaik mungkin.
  • Jalin hubungan yang baik. Hubungan anak dengan orang tua, saudara, guru, dan lingkungan sekitarnya penting untuk perkembangan anak.
  • Hubungan yang terbuka antara anak dan orang tua. Dengan adanya keterbukaan, ketika anak sedang mengalami masalah, ia tidak memendamnya sendiri tapi akan bercerita kepada Anda.
  • Berikan semangat dan feedback positif pada anak Anda.
  • Biarkan anak memiliki berbagai pengalaman dalam hidupnya. Anak harus belajar untuk mengatasi kekecewaan dalam hidupnya dan harus dapat menyadari bahwa suatu kekecewaan bukanlah akhir dari segalanya.
  • Cari tahu dan kembangkan bakat anak Anda.
  • Pertimbangkan terapi pencegahan. Jika Anda menyadari bahwa anak Anda memiliki risiko depresi, Anda bisa mempertimbangkan untuk mengikuti terapi pencegahan dalam kelompok bersama dengan anak yang memiliki masalah serupa.

Kapan anak harus dibawa ke dokter?

Anda tidak dapat bisa benar-benar mencegah depresi pada anak. Meskipun Anda mengikuti saran yang telah diberikan, kemungkinan terjadinya depresi belum dapat benar-benar dihilangkan. Jika anak terlihat suka menyendiri, menangis, cenderung diam, dan mudah tersinggung, coba konsultasikan ke dokter spesialis anak. Dengan terapi yang tepat, diharapkan anak dapat kembali ke masa kanak-kanaknya yang menyenangkan.

Baca Juga:

Sumber
×
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We’re excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca