5 Cara Berdiskusi Dengan Anak Disabilitas Soal Keterbatasannya

Oleh Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Membesarkan anak yang memiliki keterbatasan fisik dan/ atau keterbatasan kognitif (termasuk gangguan perkembangan dan gangguan belajar) bukanlah hal yang mudah. Meski begitu, penting bagi Anda untuk berbicara terbuka dan jujur pada si kecil terkait kondisi yang ia miliki. Lantas, bagaimana caranya memberikan pengertian pada anak disabilitas?

1. Berbicara terbuka dan jujur

Membesarkan anak disabilitas dan berkebutuhan khusus memang merupakan suatu tantangan bagi orangtua. Hal ini tidak jarang membuat para orangtua kesulitan untuk menjelaskan ke anak terkait kondisinya. Beberapa orangtua juga justru memilih menghindar menjawab pertanyaan anak apabila si anak menanyakan kondisinya yang berbeda dengan teman sebayanya.

Mengabaikan atau bahkan menghindari topik sensitif yang berkaitan dengan kondisi anak justru membuat mereka jadi sulit mengenali dirinya sendiri. Pada akhirnya mereka akan terbiasa hidup dengan ketidaktahuan tersebut sampai dewasa.

Misalnya, apabila seorang anak tidak diberi tahu bahwa dirinya memiliki autisme, mungkin mereka tidak akan pernah mengerti kenapa dirinya sangat kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Nah, inilah yang justru akan membuat anak mengira bahwa ada yang salah dengan caranya bergaul, sehingga ia akan tumbuh dan percaya bahwa semua orang tidak menyukai dirinya.

Demikian pula apabila ada seorang anak yang mengalami ketidakmampuan belajar (disleksia). Jika anak tidak tahu bahwa dirinya mempunyai kondisi ini, mungkin mereka akan menganggap dirinya lebih bodoh dibanding dengan teman-teman lainnya. Padahal tidak demikian. Anak yang disleksia hanya lebih sulit untuk bisa memahami pelajaran dari segi visual dan suara, sehingga dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencerna pelajaran di sekolah.

Itu sebabnya, apabila Anda menunjukkan kepada anak kondisinya yang sebenarnya, ini akan membuat anak tidak lagi merasa cemas, takut, atau malu tentang kekurangannya. Tidak hanya itu, anak Anda pun cenderung akan lebih nyaman saat dia tahu bahwa Anda baik-baik saja dan menerima semua kondisi mereka apa adanya.

2. Pakai bahasa yang sederhana dan mudah dipahami

Difabel, disabilitas, atau keterbatasan diri dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan, atau beberapa kombinasi dari ini. Itu sebabnya, Anda harus pahami dulu kondisi disabilitas yang dialami anak Anda. Pasalnya ini akan memengaruhi bagaimana anak mencerna informasi dari Anda.

Terlepas dari hal tersebut, mulailah menjelaskan tentang kondisinya secara singkat, padat, dan jelas dengan kalimat yang mudah dimengerti anak. Hindari penggunaan bahasa panjang dan rumit dan berkonotasi negatif seperti “tidak bisa berjalan,” “tidak bisa mendengar,” dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, jika anak Anda masih berusia di bawah 10 tahun, Anda pun tidak perlu menjelaskan kondisinya menggunakan bahasa medis yang rumit karena hal tersebut justru menyulitkan anak untuk mengerti apa yang Anda bicarakan.

Ingat, jika anak Anda menginginkan lebih banyak informasi, dia akan mengajukan lebih banyak pertanyaan atau dia akan mengajukan pertanyaan yang sama lagi dengan cara yang berbeda di kemudian hari. Jadi, jawablah pertanyaan yang mereka ajukan secara singkat dan tidak perlu terbelit-belit.

3. Fokus pada kelebihan anak

Jangan hanya mengkhawatirkan keterbatasan anak Anda. Penting bagi Anda untuk menanamkan pada anak disabilitas bahwa ketika seseorang tidak bisa melakukan sesuatu dalam sesuatu bidang, bukan berarti mereka tidak bisa unggul dalam bidang lain.

Katakan padanya bahwa mereka juga memiliki segudang kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang pada umumnya. Selain itu, pastikan juga anak Anda tahu bahwa anak disabilitas dan berkebutuhan khusus tidak menghalangi mereka untuk bisa berprestasi.

Anak disabilitas dan berkebutuhan khusus sering merasa dirinya paling buruk dan akhirnya mereka tidak percaya diri. Nah, di sinilah peran Anda untuk menanamkan rasa kepercayaan dirinya mereka. Jangan sungkan untuk memberi pujian dan komentar yang positif kepada anak mulai dari hal terkecil yang bisa dilakukan anak.

Bicarakan tentang semua hal yang anak sukai dan dukunglah hal tersebut. Dengan mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya ini akan membuat anak lebih mengenali keterampilan dan bakatnya sehingga membuat mereka lebih percaya diri.

4. Ajukan pertanyaan pada anak

Sering bertambahnya usia, suatu saat anak Anda mungkin akan memiliki beragam pertanyaan seputar hidupnya ke depan, mulai dari masa pubertas hingga kariernya kelak. Sayangnya, mereka sering kali mengurungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut karena takut membuat Anda jengkel atau justru khawatir.

Meski begitu, jelaskan bahwa Anda dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan kapan pun. Tidak hanya itu, pastikan juga anak Anda tahu bahwa mereka juga dapat mengajukan pertanyaan kepada orang lain, seperti dokter atau anggota tim perawatan lainnya.

Anda bisa mendorong diskusi dengan cara bertanya seperti, “Kamu penasaran tidak, kenapa selama ini kamu harus rutin minum macam-macam obat?” atau, “Apa yang kamu rasakan kalau di jalan ada orang yang ngeliatin kamu terus?” dan pertanyaan semacamnya.

5. Ajak anak bergabung dengan komunitas disabilitas

Anda bisa mempertimbangkan bergabung dengan komunitas difabel ataupun berkebutuhan khusus–baik secara langsung atau online–di mana Anda dapat berbicara dan berbagi informasi dengan orangtua lain tentang anak-anak yang memiliki masalah serupa.

Biasanya, komunitas difabel atau berkebutuhan khusus akan sering mengadakan pertemuan. Nah, kegiatan ini bisa jadi ajang untuk mengajak anak bersosialisasi dengan orang sekitar. Sebelum mengajaknya, ada baiknya Anda berbicara dengan anak Anda.

Jika anak Anda tertarik, usahakan untuk memfasilitasi kegiatan ini. Menghabiskan waktu bersama anak-anak lain yang juga mengalami hambatan serupa bisa membantu anak mencapai potensi terbesarnya. Tidak hanya itu, ini juga membuat anak menyadari bahwa mereka tidak hidup sendiri.

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda untuk membantu memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan We are excited to guide you on your parenting journey. Your first email will arrive shortly. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca