Anak Terlalu Sibuk Ekskul dan Les Bimbel Malah Tidak Harmonis Dengan Keluarga Sendiri

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum.

Setiap orangtua tentu akan berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Beberapa bahkan sampai mendaftarkan anak-anak mereka mengikuti berbagai ekskul, les bimbel, klub olahraga, dan kursus privat seperti les musik atau kursus bahasa asing demi menjadikannya sebagai anak berprestasi. Semua ini dilakukan supaya anak mereka memiliki kesempatan yang lebih baik untuk sukses di kemudian hari.

Meski begitu, ada baiknya Anda pertimbangkan masak-masak sebelum mendaftarkan anak ikut banyak kegiatan tambahan di luar waktu sekolahnya. Ketika anak terlalu disibukkan dengan aktivitas di luar rumah, ia akan semakin jauh dengan keluarganya sehingga dapat berdampak buruk pada keharmonisan keluarga.

Memaksa anak ikut banyak ekskul dan bimbel membuatnya tidak akrab dengan keluarga sendiri

manfaat belajar musik anak

Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepulang sekolah memang banyak manfaatnya. Selain menambah wawasan dan mengasah minat serta bakatnya, beragam kegiatan ini bisa membantunya memperluas lingkup pertemanan dengan orang-orang baru. Meski begitu, jangan sampai anak malah merasa sangat kewalahan dengan aktivitasnya yang segudang sehingga menomorsekiankan keluarganya.

D. Sharon Wheeler selaku peneliti studi yang dipublikasikan dalam Taylor and Francis Journal Sport, Education, and Society menjelaskan bahwa risiko kebanyakan ikut ekskul akan lebih berat daripada manfaatnya jika terlalu dipaksakan.

Penelitian tersebut dilakukan dengan cara mewawancarai 50 keluarga dari 12 sekolah dasar yang ada di  Inggris bagian utara dan barat. Sekitar 88 persen dari seluruh anak mengikuti kegiatan di luar jam sekolah hingga 4-5 kali dalam seminggu, sementara 58 persennya mengikuti lebih dari satu ekskul yang mulai pada malam hari.

Wheeler beserta timnya menemukan bahwa anak-anak usia SD yang mengikuti ekskul dan kegiatan tambahan di luar sekolah hingga 4-5 kali dalam seminggu, bahkan hingga sampai larut malam, membuatnya mudah kelelahan dan tidak fokus sehingga jarang menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

Ekspektasi ortu yang kelewat tinggi juga menjauhkan anak dari keluarga

tantrum pada anak yang berbahaya

Suniya Luthar, seorang profesor psikologi di Columbia, berpedapat bahwa jumlah kegiatan ekskul yang diikuti anak bukanlah satu-satunya sumber masalah.

Masalahnya mulai muncul ketika orangtua mengawasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan dan menempatkan ekspektasi yang amat tinggi bagi mereka — “Pokoknya kamu harus dapat hasil yang bagus!” atau “Dalam 3 bulan, kamu harus sudah bisa kuasai teknik [olahraga/bermusik/dst] yang baru!” dan seterusnya.

Tekanan berat dan ekspektasi tinggi agar selalu sukses dalam bidang akademis dan non-akademis berpotensi membahayakan perkembangan dan kesejahteraan anak. Lama-lama, ini juga menjauhkan anak dari interaksi dengan anggota keluarga terdekatnya karena merasa diteror dan diperlakukan bagai robot.

Dr. Luthar dan Polly Young-Eisendrath, dua orang psikolog klinis sekaligus co-penulis buku The Self-Esteem Trap, setuju bahwa terlalu banyak mengharuskan si kecil melakukan berbagai kegiatan sepulang sekolah dapat memberikan masalah pada kehidupan anak.

Pasalnya, saat usia anak belum menginjak 11-12 tahun, anak sedang belajar untuk mulai mengembangkan dirinya. Nah, mengikuti kegiatan yang terlalu banyak hingga diluar batas kemampuannya dapat berisiko untuk mengganggu perkembangan alami anak. Ibarat sebuah perangkat elektronik yang terlalu dibebankan dengan pekerjaan yang berat, lambat laun perangkat itu akan rusak. Begitu pula dengan kondisi si kecil.

Jadi, apa yang harus orangtua lakukan?

mengajarkan anak peduli sesama

Sebenarnya sah-sah saja mendaftarkan anak ikut berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler untuk mengasahnya menjadi pribadi yang lebih unggul.

Yang lebih perlu ortu perhatikan adalah di mana batas wajarnya hingga tidak sampai merugikan kesehatan anak, juga hubungannya dengan Anda serta anggota keluarga lainnya. Jangan sampai anak terlalu sibuk dan kerepotan menghadiri les sana-sini sampai tidak lagi mau peduli dengan kondisi keluarganya sendiri.

Sebelum memutuskan les ini-itu untuk anak, baiknya selaraskan dulu keinginan Anda dengan apa yang anak inginkan atau minati. Jika anak tidak berminat untuk les piano, tapi Anda menganggapnya penting, jangan paksakan sehingga bisa menjadi bibit percekcokan di kemudian hari. Dilansir dari laman The New York Times, Dr. Michael Thompson, seorang psikolog klinis dan penulis buku The Pressured Child, menyarankan Anda sebagai orangtua untuk ikuti saja kemauan dan minat anak agar ia tidak merasa terpaksa dan terbebani ketika menjalaninya.

Selain itu, usakan juga untuk selalu meluangkan dan menjadwalkan waktu berkumpul keluarga yang berkualitas, setidaknya 2-3 hari sekali. Jangan sampai, si kecil merasa jauh dengan keluarganya akibat terlalu sibuk dengan kegiatan yang ia tekuni.

Anda bisa melakukannya di luar rumah dengan pergi ke taman bermain ataupun di rumah dengan hanya sekadar menonton film, memasak bersama, hingga curhat dengan satu sama lain.

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca