Si Kecil Mengidolakan Artis, Perlukah Orangtua Khawatir?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Melihat anak yang sibuk mengidolakan artis favoritnya, mungkin sebagian besar orangtua jadi ikut bernostalgia akan masa lalu mereka sendiri. Kawula muda generasi dulu dibikin heboh oleh The Beatles atau Queen, sementara anak zaman sekarang dibuat geger oleh girlband atau boyband K-Pop. Namun, sampai batas mana perilaku fangirling atau fanboying anak masih bisa dibilang wajar?

Anak mengidolakan artis, orangtua tak usah cemas

Dalam istilah modern, perilaku mengagumi idola atau mengidolakan artis disebut dengan fangirling atau fanboying. Sosok yang diidolakan pun bukan hanya selebrita dunia hiburan, tapi bisa juga atlet, aktor, klub olahraga, atau tokoh-tokoh penting lainnya.

Sikap anak yang mengagumi seseorang kenamaan atau suatu hal sebetulnya masih dianggap wajar. Memiliki sosok idola yang dijadikan panutan juga menjadi bagian yang lumrah dari proses tumbuh kembangnya. Sebab, anak akan mencoba membangun kemandirian psikologis dan emosionalnya dengan cara ini.

Melansir Medical Daily, psikolog bernama Shira Gabriel mendapati kekaguman seorang anak pada artis dapat berdampak positif bagi kehidupannya. Gabriel berteori, anak akan menyerap setiap karateristik positif yang dimiliki idolanya dan kemudian memadukan semua itu ke dalam dirinya.

Pada gilirannya, kekaguman anak pada artis akan memberikannnya kesempatan untuk berekspresi dan membentuk jati diri. Hal ini adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan dalam hubungan nyata, karena mereka takut ditolak atau tidak diterima oleh lingkungannya.

Gabriel lanjut mengatakan, anak yang mengidolakan artis terlihat memiliki kepercayaan diri dan self-esteem yang lebih tinggi ketimbang anak yang tidak memiliki idola. Self-esteem adalah karakteristik yang muncul dari bagaimana kita cara memandang dan menghargai diri sendiri.

Self-esteem yang positif muncul dari rasa bangga atas kemampuan yang dikuasai. Self-esteem juga termasuk dengan keyakinan dalam diri bahwa kita berhak memperoleh kebahagiaan, cinta, dan kesuksesan.

Maka, seseorang yang punya self-esteem tinggi akan tahu dan paham apa yang terbaik bagi dirinya sendiri serta bagaimana caranya mencapai itu, sementara juga tetap mengakui apa yang jadi kekurangannya. Dari membangun self-esteem yang positif, anak akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi ke depannya.

Namun, tahukah Anda jika ada batasan yang harus dipahami terkait perilaku fangirling atau fanboying itu?

Ajak anak bicara jika obsesinya berlebihan

Pada kasus yang parah, perilaku mengidolakan artis dapat berubah menjadi obsesi yang mengganggu kehidupan sosial dan sekolah anak. Hal ini terjadi ketika anak malah terlalu fokus pada kehidupan sosok idolanya dibandingkan dirinya sendiri.

Maka Anda perlu waspada jika kekaguman anak pada artis membuatnya sampai mengisolasi diri, menghamburkan uang untuk membeli merchandise, malas/bolos sekolah, mengubah penampilan dirinya agar mirip artis yang diidolakan, hingga menguntit ke mana pun si artis pergi (stalking).

Kondisi ini dikenal dengan Celebrity Worship Syndrome, istilah yang dipopulerkan oleh Dr. Lynn McCutcheon pada awal tahun 2000. Sindrom tersebut membuat seorang anak menjadi sangat terfokus pada kehidupan artis idolanya hingga menimbulkan rasa cemas, stres, dan depresi jika tidak mendapat kabar terbaru tentangnya.

Tentunya, Anda tidak ingin membiarkan anak jadi terobsesi berlebihan pada idola. Sebagai langkah pertama, Anda dapat mencari tahu siapa artis yang diidolakannya agar bisa memulai topik pembicaraan seru dengannya.

Mengetahui siapa artis idola anak juga membantu Anda mengamati perilaku sang artis, sehingga Anda dapat menentukan batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak saat mengagumi sosok tersebut.

Misalnya, memberi contoh prestasi yang telah diraih sang idola agar anak juga termotivasi untuk berprestasi. Sementara jika ada perilaku sang artis yang negatif, beri penjelasan ke anak bahwa perilaku tersebut tidak boleh dicontoh dengan alasan logis dan tanpa menghakimi.

Beri tahu dirinya tidak mengikuti kehidupan sang artis secara berlebihan karena ia memiliki kehidupan pribadi yang harus dijalani, di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitarnya. Jelaskan juga padanya bahwa sang artis memiliki kehidupan pribadinya sendiri sehingga tidak perlu selalu diikuti.

Baca Juga: