Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Tidak mudah menjalankan peran orangtua yang senantiasa sabar dengan perilaku anak-anak. Ada kalanya Anda hilang kesabaran saat menghadapi anak, sehingga membentak anak dengan nada yang keras. Membentak memang bukan cara yang baik berkomunikasi dengan anak, bahkan dapat menimbulkan akibat tertentu. Apa saja akibat yang mungkin timbul jika anak terlalu sering dibentak dan bagaimana menyikapinya?

Apa saja akibat anak sering dibentak?

Satu hal yang mungkin tidak Anda sadari, ada akibat yang harus Anda tanggung saat anak sering dibentak oleh orangtua. Beberapa hal di bawah ini adalah akibat yang mungkin terjadi pada anak yang sering kali dibentak.

1. Membuat anak tidak mau mendengarkan orangtua

Jika Anda berpikir saat Anda membentak anak menjadi lebih mendengarkan dan patuh terhadap ucapan Anda, Anda tentu salah besar. Justru, salah satu akibat yang mungkin terjadi saat anak sering dibentak adalah anak Anda jadi tidak mau mendengar nasehat orangtua.

Saat Anda membentak, Anda sebenarnya sedang mengaktifkan salah satu bagian pada otak anak yang memiliki fungsi pertahanan dan perlawanan. Dengan begitu, alih-alih lebih mendengarkan ucapan Anda, akibat dari anak yang sering dibentak membuatnya ketakutan, melawan orangtua, atau justru kabur dari Anda.

Cobalah untuk berdiskusi dengan anak Anda saat anak melakukan kesalahan daripada harus memarahi atau membentaknya dengan keras. Anda mungkin juga akan melihat hasil yang berbeda pada anak setelah menghentikan kebiasaan membentak anak.

2. Menjadikan anak merasa tidak berharga

Anda mungkin pernah merasa bahwa membentak anak membuatnya lebih menghormati Anda. Padahal, anak yang terlalu sering dibentak merasa dirinya tidak berharga. Hal ini tentu menjadi akibat lain dari anak yang sering dibentak oleh orangtua.

Sebagai seorang manusia, anak Anda tentu merasa ingin disayangi dan dihargai, apalagi dengan orang terdekatnya, termasuk Anda sebagai orangtua. Maka itu, terlalu sering membentak anak justru lebih banyak memberikan dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak dibanding sebaliknya.

3. Merupakan salah satu bentuk penindasan terhadap anak

Tahukah Anda bahwa membentak anak adalah salah satu bentuk penindasan atau bullying? Ya, bullying tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah saja, tapi bisa terjadi di rumah. Akibat yang mungkin terjadi pada anak yang sering dibentak bisa jadi mirip dengan dampak bullying

Jika Anda tidak ingin anak Anda memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang buruk, lebih baik Anda menghentikan kebiasaan membentak saat anak membuat salah.

4. Merenggangkan hubungan dengan anak

Saat anak terlalu sering dibentak, salah satu akibat yang mungkin terjadi adalah hubungan orangtua dan anak menjadi renggang. Saat dibentak, anak mungkin merasa sedih, malu, dan tidak disayang lagi. Jadi, tak heran jika anak tidak mau terlalu dekat lagi dengan Anda.

Apalagi, jika Anda tidak mau mendengar alasan anak terlebih dahulu. Anak juga bisa merasa tidak dimengerti bahkan oleh orang terdekatnya sendiri, dalam kasus ini kedua orangtua. Apabila Anda tidak ingin perilaku membentak anak ini membuat hubungan Anda dengan anak menjadi lebih renggang, lebih baik hindari kebiasaan yang satu ini.

5. Membuat anak tidak mau menghormati orangtua

Anak merasa tidak dihargai dan tidak disayang sering menjadi akibat dari anak yang terlalu sering dibentak oleh orangtua. Pasalnya, membentak anak juga bentuk dari Anda yang tidak menghargai anak Anda sendiri. Maka itu, akibat yang mungkin terjadi pada anak yang terlalu sering dibentak oleh orangtua adalah anak menjadi tidak bisa menunjukkan rasa hormat kepada orangtua.

6. Menciptakan perilaku yang sama pada anak di masa depan

Menghardik ternyata bisa memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis anak dalam jangka panjang. Anak yang semasa kecil sering dibentak oleh orangtua lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi akibat trauma masa kecil ini.

Selain itu, menurut sebuah artikel yang dimuat pada Child Development Journal menjelaskan, akibat dari anak yang terlalu sering dibentak orangtua bisa menyebabkan anak melakukan hal yang sama seperti orangtua lakukan saat ia masih kecil. Anak akan tumbuh sebagai orang yang lebih agresif secara fisik maupun verbal.

Pasalnya, saat masih kecil, anak telah terbiasa melihat perilaku kasar baik secara fisik maupun verbal dari orangtua sebagai bentuk penyelesaian masalah. Maka itu, ketika mereka sedang menghadapi masalah, solusi yang terpikirkan adalah perilaku kasar. Hal ini membuat anak Anda, saat dewasa nanti, mungkin tidak akan ragu membentak orang lain.

Jika bentakan Anda diikuti dengan kata-kata yang menyakitkan atau menghina, anak akan kehilangan kepercayaan diri dan hidup dalam kegelisahan.

Apa yang harus dilakukan orangtua meminimalkan akibat anak sering dibentak?

Jika Anda kehilangan kesabaran dan kelepasan membentak anak, jangan terbawa emosi. Anda masih bisa mengikuti langkah-langkah di bawah ini agar anak tidak merasa trauma. Dengan mencoba untuk menahan diri, Anda mungkin bisa mencegah timbulnya perilaku buruk dari anak akibat terlalu sering dibentak. Hubungan Anda dengan anak pun akan tetap terjaga kehangatannya.

  • Tarik napas dalam-dalam

Segera setelah Anda kelepasan membentak atau menyakiti hati anak, tarik napas panjang paling sedikit tiga kali. Jangan berkata-kata apa pun sampai Anda sudah melakukan hal ini.

Ketika Anda sedang dilanda emosi, tubuh Anda jadi lebih tegang. Tanda-tandanya berupa napas Anda pendek-pendek, otot-otot menegang. Selain itu, jantung Anda berdebar dengan hebat. Menarik napas dalam-dalam bisa membantu tubuh lebih rileks sehingga Anda bisa berpikir lebih jernih.

  • Minta maaf dan bertanggung jawab

Ajari anak bahwa melakukan kesalahan itu bukan akhir dunia. Selain itu, saat orangtua meminta maaf, hal ini akan memberi contoh dan mengajarkan anak untuk meminta maaf. Jika Anda telah kelepasan membentak anak, minta maaf pada anak dengan nada yang tenang. Anda bisa berkata, “Maaf ya, nak. Ayah dan Ibu jadi terbawa emosi tadi dan membentakmu.”

Hal ini mungkin membuat anak Anda bisa memaklumi kesalahan yang Anda lakukan, sama halnya dengan Anda yang bisa menahan diri untuk tidak marah pada anak. 

  • Mulai kembali pembicaraan dengan tenang

Ketika Anda membentak-bentak, anak tidak akan sepenuhnya memahami isi perkataan Anda. Jadi setelah meminta maaf, pastikan bahwa emosi Anda telah mereda dan tawarkan pada anak untuk memulai kembali percakapan Anda dari awal, tanpa luapan emosi atau bentakan.

  • Jangan memaksakan pembicaraan saat itu juga

Apabila Anda tidak berhasil menenangkan diri, jangan memaksakan diri untuk menyelesaikan pembicaraan dengan anak saat itu juga. Ambil jeda sesaat dan tentukan waktu yang Anda butuhkan agar ketegangan antara Anda dan anak tidak berlarut-larut.

Sebagai contoh, katakan bahwa saat ini Anda sedang marah besar dan Anda ingin membereskan cucian dulu sambil menenangkan diri. Setelah itu, lanjutkan kembali pembicaraan Anda dengan anak. 

  • Ingatkan anak bahwa Anda mencintainya

Sehabis dibentak, anak Anda akan merasa kecil hati. Agar perasaan tersebut tidak berlarut dan menjadi akibat dari anak terlalu sering dibentak, Anda perlu memberi tahu bahwa Anda tidak membenci anak. Penting bagi Anda untuk mengingatkan anak bahwa Anda mencintai mereka dan Anda hanya sedang merasa lelah dan penuh emosi.

Tips untuk menahan diri membentak anak

Pada kesempatan selanjutnya, jangan sampai Anda kehilangan kesabaran lagi. Terapkan langkah-langkah berikut untuk menahan diri saat berada di puncak emosi. Hal ini cukup efektif agar anak Anda tidak mengalami gangguan perilaku sebagai akibat terlalu sering dibentak. 

  • Kenali emosi dan perasaan Anda

Pahamilah apa yang membuat Anda mengamuk dan kapan Anda mulai terbawa emosi. Sebagai contoh, setiap pulang kerja Anda jadi lebih sensitif. Sadari hal ini dan jangan dijadikan pembenaran untuk memarahi anak. Perhatikan dan jaga nada suara Anda saat berbicara agar tidak meledak-ledak.

  • Bicarakan dengan tenang tapi tegas

Untuk memastikan Anda tidak menegur anak secara berlebihan. Pilih posisi berbicara yang nyaman, misalnya sambil duduk bersama, bukan berdiri. Usahakan juga untuk tidak menegur anak di depan orang lain, seperti kakak dan adiknya atau asisten rumah tangga, supaya Anda terhindar dari tekanan untuk mendisiplinkan anak terlalu keras.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kejang Dengan Demam (Kejang Febrile)

Kejang febrile terkadang dialami anak-anak ketika sedang demam tinggi. Jika terjadi pada anak Anda, langkah ini dapat Anda lakukan.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Pertolongan Pertama 21 Juli 2020 . Waktu baca 6 menit

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Cacingan masih menjadi masalah kesehatan yang mengkhawatirkan. Belum lagi cacingan diduga bisa jadi penyebab stunting pada anak. Cari tahu lebih jauh, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Konten Bersponsor
penyebab stunting
Kesehatan Anak, Parenting 10 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Sebagai orangtua baru, tak perlu takut saat memandikan bayi, Berikut panduan atau cara memandikan bayi baru lahir untuk Anda praktikkan.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25 Juni 2020 . Waktu baca 9 menit

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Para ibu mungkin sudah tidak asing lagi dengan kemunculan ruam susu atau ruam di pipi bayi. Namun, apakah ruam susu itu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 25 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perkembangan anak 16 tahun

Perkembangan Anak Usia 16 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 27 September 2020 . Waktu baca 6 menit
bayi tidur

Informasi Seputar Jam Bayi Tidur, Cara Menidurkan, dan Posisi yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 2 September 2020 . Waktu baca 11 menit
syok anafilaksis adalah

Syok Anafilaksis, Reaksi Alergi Parah yang Membahayakan Nyawa

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 28 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit
kepala bayi terbentur

Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Bayi Terbentur

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit