home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Perilaku Anak yang Sering Menyebabkan Masalah (Plus Solusinya)

5 Perilaku Anak yang Sering Menyebabkan Masalah (Plus Solusinya)

Seiring perkembangan anak, ada berbagai macam perilakunya yang harus Anda hadapi. Bahkan ada beberapa masalah umum perilaku anak yang sudah jadi keluhan langganan para orangtua. Berikut ini beberapa masalah dan solusinya yang terjadi pada anak berkisar dari tiga tahun hingga usia prasekolah.

1. Berbohong

Ada tiga alasan kenapa berbohong dilakukan oleh anak-anak, yakni untuk mendapatkan perhatian, untuk menghindari masalah, dan untuk terlihat baik-baik saja. Ada tiga alasan mengapa anak-anak berbohong. Misalnya untuk mendapatkan perhatian atau untuk menghindari masalah.

Beberapa hal yang bisa dilakukan mengatasi anak yang berbohong adalah bantu anak Anda menghindari situasi di mana dia merasa perlu berbohong. Misalnya jika anak menumpahkan makanan dan Anda bertanya kepada anak, “Kamu yang menumpahkan ini?”, anak akan merasa terancam untuk dimarahi sehingga lebih memilih berbohong. Lebih baik katakan, “Makanannya tumpah, ya? Ayo, kita bersihkan.”

Selain itu, jika anak melakukan sesuatu yang salah lalu menceritakannya ke Anda, pujilah kejujurannya. Hal ini akan mengirimkan pesan ke anak Anda bahwa “jika saya jujur Ibu tidak akan marah atau kecewa”.

Di waktu senggang, berceritalah kepada anak tentang dongeng atau kisah mengenai pentingnya kejujuran.

2. Kebanyakan main gadget

Menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar gadget sejak usia dini merupakan perilaku yang membahayakan. Kebiasaan ini bisa meningkatkan risiko obesitas, masalah tidur, dan membuat anak menjadi tak acuh terhadap lingkungannya.

Buatlah peraturan soal penggunaan gadget anak. Contoh, tidak menggunakan gadget saat makan, sebelum tidur, berapa lama dalam sehari boleh memainkan gadget, dan lain sebagainya.

Sebaiknya orangtua tidak membiarkan anak main gadget lebih dari dua jam sehari. Orangtua juga wajib memberikan contoh untuk tidak ketergantungan dengan gadget di depan anak.

Selain itu, untuk mengisi waktu anak, berikan cara yang realistis untuk meningkatkan aktivitas fisik anak dan mengurangi waktu duduknya. Contoh, berikan jadwal olahraga bersama setiap sore, atau mengajak anak bermain di luar, dan lain-lain.

3. Sering merengek (tantrum)

Untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, anak akan merengek atau melepas tantrum guna mengubah pikiran orangtua. Bagi orangtua, kuncinya adalah konsisten. Jika memang kesepakatan awalnya tidak, tetaplah pada pendirian. Jika anak melihat orangtuanya mudah untuk dibujuk dengan rengekan, anak akan semakin sering merengek untuk meminta hal-hal lain yang diinginkannya.

4. Masalah makan

Ada anak yang pilih-pilih makan, ada juga yang merasa selalu lapar dan ingin makan. Untuk mencegah terjadinya kekurangan atau kelebihan makan karena perilaku anak ini, orangtua punya peran penting dalam memberikan pengertian kepada anak mengenai pola makan.

Selain itu, penting bagi orangtua untuk selalu menyajikan makanan sehat dengan porsi dan gizi yang seimbang. Bila anak hobi pilih-pilih makan, jangan terbiasa untuk menuruti keinginannya. Anda memang harus sabar, tapi pelan-pelan perilaku anak bisa diubah.

Begitu juga dengan anak yang hobi makan, jangan gunakan makanan sebagai senjata supaya anak patuh atau tidak merengek lagi. Tegaskan pada anak bahwa ia sudah cukup makan.

5. Bersikap kasar

Ketika anak sudah mulai besar, ia akan mulai menunjukkan caranya meluapkan emosi. Hati-hati bila si kecil sering bersikap kasar. Misalnya memukul kakak dan adiknya, membanting dan melempar barang, atau bicara dengan ketus.

Bila anak menunjukkan perilaku yang kasar, langsung beri tahu bahwa perilakunya tidak bisa diterima dan berikan konsekuensi yang setimpal. Contohnya kalau anak memukul kakaknya, langsung beri tahu pada anak (tapi jangan sambil membentak-bentak) bahwa kekerasan dan sikap kasar itu dilarang.

Kemudian, Anda bisa memberikan konsekuensi, misalnya menyita mainan favoritnya untuk sementara waktu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Magee, Elaine. Helpign Your Not-Thin Child. [online] tersediap pada : https://www.webmd.com/parenting/features/helping-your-not-thin-kids#3 (Diakses 19/11/2017)

Morin, Amy. 2017. Common Child Behavior Problems and Their Solutions. [online] tersedia pada : https://www.verywell.com/common-child-behavior-problems-and-their-solutions-1094944 (Diakses 19/11/2017)

Kids Health. 2017. http://kidshealth.org/en/parents/picky-eater.html

The Australian Parenting Network. 2015. Lies : WHy Children Lie and What To Do. [online] tersedia pada : http://raisingchildren.net.au/articles/lies.html (Diakses 19/11/2017)

Hadapi Balita yang Suka Membantah. [online] tersedia pada : https://www.ayahbunda.co.id/balita-tips/hadapi-balita-yang-suka-membantah (Diakses 19/11/2017)

Morin, Amy. 2017. Top 3 Reasons Kids Tell Lies. [online] tersedia pada : https://www.verywell.com/top-3-reasons-kids-tell-lies-1095001 (Diakses 19/11/2017)


Foto Penulis
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x