Mengenal Mekonium: Feses Pertama Bayi

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 08/01/2020
Bagikan sekarang

Tahukah Anda? Bayi dalam kandungan Anda ternyata sudah makan dan minum. Bahkan, bayi saat masih dalam kandungan bisa mengeluarkan feses pertamanya. Feses pertama bayi inilah yang disebut sebagai mekonium. Namun, normalnya feses bayi keluar pertama kali saat bayi sudah lahir. Tentu, feses bayi ini berbeda dengan feses biasanya. Ingin tahu seperti apa itu mekonium bayi? Berikut penjelasannya.

Apa itu mekonium?

Mekonium adalah feses pertama bayi. Normalnya, feses ini akan dikeluarkan bayi setelah lahir, kira-kira 24 jam pertama setelah bayi lahir. Jika bayi tidak mengeluarkan mekonium selama 24 jam pertama setelah kelahiran, maka bayi perlu diperiksa oleh dokter. Bayi mungkin mengalami penyumbatan pada ususnya atau masalah kesehatan lain, seperti hipotiroidisme, cystic fibrosis, atau penyakit Hirschsprung. Selain itu, mekonium juga dapat dikeluarkan bayi saat bayi masih berada di dalam kandungan, tapi hal ini dapat membahayakan bayi.

Feses pertama bayi mengandung bahan-bahan yang terdapat dalam cairan ketuban yang ditelan bayi saat dalam kandungan. Beberapa yang dapat Anda temukan dalam mekonium adalah sel-sel kulit yang telah dibuang, sel-sel usus, lendir, empedu, air, dan lanugo (bulu halus yang menutupi bayi). Ya, mekonium tidak mengandung sisa-sisa makanan yang seperti Anda bayangkan.

BACA JUGA: Apa yang Terjadi Jika Air Ketuban Rusak?

Seperti apa rupa dan bentuk feses pertama bayi?

Feses pertama bayi bukan berwarna kuning atau coklat seperti yang Anda pikirkan. Tetapi, feses pertama bayi mempunyai warna hitam kehijauan. Jadi, jika Anda melihat feses bayi baru lahir berwarna hitam kehijauan, Anda jangan terkejut karena ini hal yang normal terjadi pada semua bayi baru lahir.

Tekstur mekonium pun lebih kental dan lengket, tidak seperti feses biasa. Namun, mekonium tidak mengeluarkan bau seperti feses biasanya. Hal ini karena mekonium bebas dari bakteri, usus bayi belum dimasuki oleh mikroorganisme.

Saat mekonium bayi keluar pada bayi yang sudah lahir, mekonium ini sangat lengket menempel di kulit bayi. Jadi, Anda perlu hati-hati saat membersihkannya. Mungkin Anda membutuhkan minyak untuk membantu membersihkan kulit bayi yang terkena mekonium.

Mungkin, bayi yang baru lahir akan mengeluarkan mekonium berkali-kali dalam sehari atau lebih. Namun, ini tidak akan berlangsung lama. Lama-kelamaan feses bayi yang keluar akan berubah warna menjadi kuning seperti biasanya dan juga mengeluarkan bau. Setelah beberapa hari bayi lahir (kira-kira 3-5 hari setelah lahir), feses bayi akan berubah warna seiring dengan pemberian makan kepada bayi.

Apa yang menyebabkan feses bayi sudah keluar saat masih dalam kandungan?

Sebagian bayi mungkin akan mengeluarkan mekonium saat masih berada dalam kandungan atau saat proses kelahiran. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah karena stres fisiologis yang dialami bayi dalam kandungan, seperti infeksi atau proses kelahiran yang sulit. Penekanan pada tali pusar atau kepala bayi saat proses kelahiran dapat menyebabkan mekonium keluar.

Pada saat ini, bayi mengalami kekurangan oksigen sesaat yang menyebabkan otot-otot sphincter bayi berelaksasi, sehingga mekonium dapat keluar sebelum bayi berhasil lahir ke dunia. Bayi yang sudah bisa mengeluarkan mekonium sebelum lahir artinya sudah memiliki sistem pencernaan yang matang sebelum mereka lahir.

BACA JUGA: Bahaya Prolaps, Saat Tali Pusar Mendahului Kepala Bayi

Mekonium yang keluar dalam rahim dapat bercampur dengan cairan ketuban. Saat cairan ketuban pecah, Anda dapat melihat warna cairan tersebut untuk memperkirakan kapan mekonium sudah dikeluarkan oleh bayi.

  • Jika warna cairan ketuban kehijauan, artinya mekonium baru saja dikeluarkan oleh bayi.
  • Jika warna cairan ketuban kecoklatan atau kekuningan, biasanya mekonium dikeluarkan lebih awal atau sudah lama berada dalam cairan ketuban.

Mekonium yang terdapat dalam cairan ketuban dapat membahayakan kesehatan bayi dalam kandungan karena bayi bisa saja menghirup mekonium dalam cairan ketuban tersebut. Bayi yang menghirup mekonium dalam cairan ketuban, baik sebelum, selama, atau setelah persalinan dapat mengalami sindrom aspirasi mekonium dan ini dapat membahayakan bayi.

Apa akibatnya jika bayi sudah buang air besar di dalam perit?

Sindrom aspirasi mekonium adalah masalah pernapasan yang terjadi karena bayi menghirup mekonium saat masih dalam kandungan di akhir kehamilan atau selama proses kelahiran. Mekonium dalam cairan ketuban yang dihirup bayi dapat menyumbat saluran pernapasan bayi, sebagian atau seluruhnya. Penyumbatan pada saluran pernapasan bayi menyebabkan bayi lebih sulit bernapas dan bayi mengalami kekurangan oksigen. Infeksi paru-paru juga bisa terjadi karena mekonium masuk ke dalam paru-paru bayi.

Tidak semua bayi yang mengeluarkan mekonium dalam kandungan akan mengalami sindrom aspirasi mekonium. Beberapa bayi tidak mengalami masalah ini dan beberapa lainnya dapat mengalami sindrom aspirasi mekonium mulai dari tingkat ringan sampai sangat serius. Hal ini tergantung dari seberapa parah mekonium menyumbat saluran pernapasan bayi dan berapa lama hal tersebut terjadi.

Faktor risiko dari sindrom aspirasi mekonium adalah:

  • Bayi yang lahir melewati tanggal seharusnya ia lahir (lahir pada usia kehamilan lebih dari 41 minggu)
  • Bayi mengalami kesulitan saat dilahirkan atau bayi mengalami kondisi gawat janin
  • Bayi mengalami masalah dengan plasenta atau tali pusar
  • Bayi lebih kecil dari usia kehamilan (small for gestational age), ditandai dengan berat badan bayi rendah

Tanda-tanda dari sindrom aspirasi mekonium adalah:

  • Bayi bernapas lebih cepat (takipnea) atau mengalami kesulitan bernapas
  • Napas bayi mendengus
  • Pernapasan bayi berhenti sesaat (apnea)
  • Sianosis (kulit bayi berwarna kebiruan)
  • Dada bayi lebih besar

BACA JUGA: Pengaruh Pada Bayi Jika Cairan Ketuban Terlalu Banyak Atau Sedikit

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

    Tahukah Anda, bahwa melakukan aborsi sendiri dapat menyebabkan munculnya penyakit ganas pada sang ibu? Itulah penyebab utama dari kematian ibu di dunia.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Melahirkan, Kehamilan 01/04/2020

    Bisakah Epilepsi Dideteksi Sejak Janin Dalam Kandungan?

    Epilepsi merupakan gangguan saraf yang dapat mengganggu perkembangan anak. Namun, bisakah mendeteksi epilepsi sejak janin di dalam kandungan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila

    Konsumsi Buah Selama Kehamilan Memengaruhi Perkembangan Otak Janin

    Khasiat buah memang sudah dikenal oleh semua orang karena menyehatkan. Akan tetapi, ternyata buah baik untuk perkembangan otak janin lho. Bagaimana bisa?

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi

    Normalkah Bayi Menjulurkan Lidah? Apa Saja Alasannya?

    Bayi Anda suka menjulurkan lidah? Hal ini memang merupakan hal yang normal, meski demikian ada kondisi yang perlu diwaspadai jika dilakukan berlebihan.

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila

    Direkomendasikan untuk Anda

    bahan kimia kosmetik autisme

    Benarkah Bahan Kimia Kosmetik Tingkatkan Risiko Autisme pada Janin?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
    pergerakan janin

    Cara Mengenali dan Menghitung Pergerakan Janin dalam Kandungan

    Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 25/04/2020
    susu formula yang tidak bikin sembelit untuk bayi anak

    Pilihan Susu Formula Agar Bayi Tidak Sembelit

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 22/04/2020
    berat badan bayi ideal

    Berat Badan Bayi Ideal Usia 0-12 Bulan

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 02/04/2020