backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

5 Penyebab BAB Bayi Berbusa dan Penanganannya, Berbahayakah?

Ditinjau oleh dr. Yoviena Kusuma Dewi, CLC · Konsultan Laktasi · KMNC Depok


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 07/03/2024

5 Penyebab BAB Bayi Berbusa dan Penanganannya, Berbahayakah?

Berbeda dari orang dewasa, sistem pencernaan bayi belum berkembang secara sempurna. Oleh karena itu, bayi lebih rentan mengalami gangguan pencernaan hingga menyebabkan perubahan pada tinja. Bahkan, bayi juga bisa mengalami BAB atau pup yang berbusa. Lalu, kenapa BAB bayi bisa berbusa dan bagaimana cara mengatasinya? Simak di bawah ini.

Penyebab BAB bayi berbusa

ISK pada bayi

Buang air besar (BAB) berbusa pada bayi biasanya merupakan tanda dari beberapa kemungkinan penyebab, tetapi tidak selalu berbahaya.

Beberapa penyebab feses bayi berbusa mungkin termasuk berikut ini.

1. Asupan udara yang berlebihan

Ketika menyusu atau minum susu dari botol, bayi mungkin secara tidak sengaja mengonsumsi udara dari botol susu secara berlebihan.

Udara ini kemudian dapat terperangkap di dalam saluran pencernaan bayi dan bercampur dengan tinja, sehingga menyebabkan BAB berbusa.

Hal ini sering terjadi jika bayi tidak menyusu dengan benar atau bila botol susu tidak dipasang dengan baik.

2. Pola makan

Tubuh beberapa bayi mungkin merespons perubahan pola makan dengan BAB yang berbusa.

Perubahan pola makan ini misalnya saat Anda memberikan susu formula atau mulai memperkenalkan makanan padat pendamping ASI (MPASI).

Melansir dari La Leche League International, feses bayi bisa menjadi berbusa dan berwarna kehijauan akibat terlalu kenyang minum ASI.

Saat mulai MPASI, BAB bayi juga mungkin berubah akibat makan makanan tertentu. Adapun hal ini merupakan respons normal dan biasanya akan membaik seiring waktu.

3. Intoleransi makanan atau alergi

Jika bayi memiliki intoleransi laktosa atau alergi terhadap suatu bahan makanan, seperti protein susu sapi, ini dapat menyebabkan reaksi pada pencernaannya.

Salah satu kemungkinan reaksi tersebut, yaitu feses bayi yang menjadi berbusa.

Selain perubahan pada feses bayi, kondisi ini juga bisa menyebabkan gejala lain, seperti ruam kulit, muntah, atau kesulitan bernapas.

4. Infeksi saluran pencernaan

Infeksi bakteri, virus, atau parasit di saluran pencernaan bayi dapat menyebabkan pup berbusa.

Beberapa infeksi tersebut di antaranya gastroenteritis, infeksi usus oleh rotavirus, infeksi Salmonella typhi atau Escherichia coli (E. coli), dan infeksi parasit Giardia.

Kondisi ini juga sering disertai dengan gejala lain, seperti diare, muntah, demam, atau kelelahan.

5. Konsumsi antibiotik

Penggunaan antibiotik oleh ibu saat menyusui atau oleh bayi itu sendiri bisa menyebabkan pup si Kecil berbusa.

Antibiotik sering mengganggu keseimbangan bakteri alami di saluran pencernaan, baik pada bayi maupun orang dewasa.

Ini bisa menimbulkan perubahan dalam konsistensi tinja dan jumlah bakteri yang dapat menyebabkan BAB berbusa.

Selain membuat tinja berbusa, antibiotik juga dapat menyebabkan perubahan lain dalam saluran pencernaan bayi, seperti diare atau iritasi lambung.

Apakah BAB bayi berbusa berbahaya?

BAB berbusa merupakan kondisi yang umum pada bayi dan tidak selalu berbahaya. Meski begitu, Ibu sebaiknya memeriksakan si Kecil ke dokter jika pup yang berbusa disertai dengan gejala lain, seperti demam, diare berat, muntah, atau kehilangan berat badan yang signifikan, Dokter dapat membantu menentukan penyebabnya dan memberikan saran atau perawatan yang sesuai.

Cara mengatasi BAB bayi berbusa

ruam popok pada bayi

Cara mengatasi BAB berbusa pada bayi tergantung pada penyebabnya. Berikut beberapa langkah yang mungkin membantu.

1. Perhatikan pola makan bayi

Pastikan bayi Anda menyusu atau minum susu dari botol dengan benar. Bantu bayi Anda untuk mengosongkan udara dari mulut mereka saat menyusu atau minum susu dengan posisi yang tepat.

Anda dapat melakukannya dengan memastikan bahwa bibir bayi menutup area puting botol susu secara rapat, dan pastikan puting susu terisi penuh dengan susu.

Posisikan juga kepala dan badan bayi sehingga mulut mereka berada sejajar dengan puting susu, sehingga bayi dapat menyusu tanpa mengonsumsi udara secara berlebihan.

Namun saat ini, di pasaran juga telah banyak pilihan botol susu yang memiliki fitur memisahkan jalur udara dan cairan dari dalam botol.

2. Pertimbangkan pola makan

Jika bayi baru-baru ini memulai makanan padat, perhatikan apakah perubahan tersebut memengaruhi tinjanya.

Mungkin ada makanan tertentu yang menyebabkan BAB bayi berbusa, sehingga Anda perlu menghindari memberikan makanan tersebut untuk sementara waktu.

3. Lakukan pemeriksaan infeksi

Jika tinja berbusa disertai dengan gejala infeksi seperti diare, muntah, atau demam, lebih baik konsultasikan kepada dokter anak.

Terlebih jika feses yang berbusa disertai dengan gejala yang mengkhawatirkan seperti bayi dehidrasi, kehilangan berat badan yang signifikan, atau tidak ingin makan.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada infeksi yang memerlukan perawatan medis.

4. Perhatikan alergi makanan

Jika Anda mencurigai bahwa bayi Anda memiliki alergi makanan atau intoleransi tertentu, bicarakan dengan dokter anak.

Dokter dapat membantu Anda dalam mengetahui makanan penyebabnya dan menyarankan langkah-langkah untuk mengatasi kondisi tersebut.

5. Jaga kebersihan

Selain menjaga kesehatan saluran pencernaan bayi, penting juga untuk menjaga area popok bayi tetap bersih dan kering.

Ganti popok bayi secara teratur dan bersihkan dengan lembut menggunakan tisu basah atau kain lembut.

6. Hindari penggunaan antibiotik tanpa resep

Jika tinja berbusa terjadi setelah bayi mengonsumsi antibiotik, bicarakan dengan dokter Anda sebelum menghentikan atau melanjutkan penggunaan obat.

Dokter dapat memberikan saran terbaik berdasarkan kondisi bayi Anda terkait penggunaan obat tersebut.

Selalu penting untuk berkonsultasi kepada dokter anak jika Anda memiliki kekhawatiran tentang tinja bayi Anda atau jika pup berbusa terus-menerus muncul.

Jangan biarkan BAB berbusa terjadi terlalu lama pada bayi Anda untuk mencegah kondisi yang lebih parah.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau oleh

dr. Yoviena Kusuma Dewi, CLC

Konsultan Laktasi · KMNC Depok


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 07/03/2024

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan