Panduan Memilih Makanan Pertama Terbaik untuk Bayi Usia 6 Bulan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Makanan pertama untuk bayi perlu diberikan secara bertahap selepas ASI eksklusif selama 6 bulan pertamanya. Ini karena setelah bayi berusia 6 bulan, ASI saja sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Maka itu, diperlukan asupan makanan lain untuk menunjang kebutuhan gizi bayi. Lantas, apa saja makanan yang bisa diberikan untuk bayi usia 6 bulan dan bagaimana aturannya?

Kenapa bayi harus diberikan makanan lain di usia 6 bulan?

Setelah masa pemberian ASI eksklusif bayi selama 6 bulan selesai, kini saatnya ia diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). Alasannya karena di usia ini, pemberian ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hariannya.

Terlebih karena secara keseluruhan, kebutuhan gizi sang anak bertambah sehingga perlu makanan tambahan selain ASI. Khususnya beberapa zat gizi makro seperti protein dan lemak, dan zat gizi mikro seperti mineral.

Sementara ASI, hanya dapat memenuhi kebutuhan energi sekitar 65-80 persen. Kandungan zat gizi ASI juga terbilang sangat sedikit untuk memenuhi kebutuhan harian bayi, jika harus dikonsumsi sendiri tanpa tambahan dari makanan lain.

Namun jika memungkinkan, ASI sebaiknya masih diberikan selagi bayi diperkenalkan dengan makanan di 6 bulan pertamanya atau MPASI. Ibaratnya, pemberian MPASI bisa dikatakan sebagai masa transisi dari asupan yang semula hanya susu saja, kemudian berubah menjadi makanan semi padat.

Hal ini pun didukung oleh berubahnya sistem pencernaan dan kekebalan tubuh bayi yang semakin berkembang secara bertahap. Jika awalnya hanya mampu mencerna ASI saja, kini tubuhnya sudah berkembang lebih mantap untuk mencerna makanan semi padat.

Masa peralihan dari ASI eksklusif ke makanan semi padat seperti ini dikenal sebagai masa penyapihan (weaning period). Masa ini dikenal sebagai proses dimulainya pemberian makanan khusus selain ASI yang dilakukan secara bertahap.

Mulai dari jenis, jumlah, frekuensi, hingga tekstur dari makanan 6 bulan tersebut diberikan secara bertahap sampai bayi dapat menerimanya dengan baik.

Secara umumnya, tujuan pemberian makanan pertama untuk bayi mulai usia 6 bulan yakni:

  • Memenuhi kebutuhan gizi bayi.
  • Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima berbagai macam makanan dengan rasa dan tekstur yang berbeda-beda.
  • Mengembangkan dan melatih kemampuan motorik bayi seperti mengunyah dan menelan.

Kebutuhan gizi bayi usia 6 bulan mengalami peningkatan

Salah satu alasan yang mendasari perubahan asupan makanan pada bayi usia 6 bulan yakni karena adanya peningkatan kebutuhan zat gizi hariannya. Meliputi kebutuhan energi dan zat besi selepas usianya memasuki 6 bulan.

Menurut WHO, saat bayi berusia 6 bulan ada kesenjangan pada kebutuhan energi dan zat besi yang tidak bisa dipenuhi hanya dari ASI saja. Itulah mengapa di usia 6 bulan ini, bayi membutuhkan makanan pelengkap guna memenuhi semua kebutuhan gizi hariannya.

Berikut rentang kesenjangan antara kebutuhan energi dan zat besi, dengan asupan yang terpenuhi dari ASI:

Kebutuhan energi bayi

  • Usia 6-8 bulan: kebutuhan energi per hari sebanyak 600 kkal, tapi hanya sekitar 400 kkal yang diberikan oleh ASI. Artinya, masih kurang sekitar 200 kkal per hari.
  • Usia 9-11 bulan: kebutuhan energi per hari sebanyak 700 kkal, tapi hanya sekitar 400 kkal yang diberikan oleh ASI. Artinya, masih kurang sekitar 300 kkal per hari.
  • Usia 12-23 bulan: kebutuhan energi per hari sebanyak 900 kkal, tapi hanya sekitar 350 kkal yang diberikan oleh ASI. Artinya, masih kurang sekitar 550 kkal per hari.

Kebutuhan zat besi bayi

  • Usia 7-12 bulan: kebutuhan zat besi per hari sebanyak 11 mg
  • Usia 1-3 tahun: kebutuhan zat besi per hari sebanyak 7 mg
  • Usia 4-8 bulan: kebutuhan zat besi per hari sebanyak 10 mg

Untuk kebutuhan zat besi bayi dari rentang usia 0-5 bulan, masih terpenuhi dengan baik berkat adanya cadangan zat besi selama kelahiran. Namun setelah itu alias saat usianya masuk 6 bulan, cadangan tersebut sudah habis.

Ditambah lagi karena asupan ASI yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan zat besi harian bayi usia 6 bulan. Nah, bagian yang kurang tersebut merupakan jumlah asupan energi dan zat besi yang dibutuhkan untuk menutup kesenjangan seiring bertambahnya usia anak.

Perhatikan tanda bayi siap untuk menerima makanan pertama

mpasi instan untuk bayi

Selain kebutuhan gizinya yang memang semakin berkembang, secara tidak langsung bayi juga akan mulai menunjukkan tanda-tanda kesiapan untuk diberikan makanan pertama di usia 6 bulan. Mulai dari terlihat sudah mampu menahan kepalanya sendiri, tertarik dengan berbagai macam makanan, bahkan berusaha meraih makanan di depannya.

Jika bayi sudah menunjukkan tanda-tanda seperti itu, artinya ia sudah siap untuk diperkenalkan dengan makanan pertamanya. Namun di samping itu, penting untuk diperhatikan oleh setiap orangtua agar sebaiknya memperkenalkan bayi dengan makanan lain selain ASI di waktu yang tepat.

Jika diperkenalkan terlalu dini, maka risikonya bayi akan berhenti menyusu terlalu dini, sehingga ia tidak mendapatkan manfaat dari ASI lagi. Sebaliknya, jika diperkenalkan terlalu lama bayi akan lebih sulit untuk menerima makanan padat, sehingga bisa kekurangan vitamin dan mineral yang ia butuhkan.

Berikut beberapa tanda fisik yang harus diperhatikan ketika bayi sudah mulai siap untuk menerima makanan pertama di usia 6 bulan:

  • Refleks menjulurkan lidah sudah sangat berkurang, atau bahkan menghilang.
  • Perkembangan keterampilan yang semula hanya mampu mengisap dan menelan cairan saja, kini sudah mulai bisa mengunyah dan menelan makanan lain. Terutama makanan yang lebih kental dan padat, serta dapat memindahkan makanan dari bagian depan ke belakang mulut.
  • Mampu menahan kepala agar tetap tegak.
  • Duduk dengan sedikit bantuan atau tanpa bantuan sama sekali, dan mampu menjaga keseimbangan badan ketika tangannya berusaha meraih benda di dekatnya.

Berikut beberapa tanda psikologis yang harus diperhatikan ketika bayi sudah mulai siap untuk menerima makanan pertama di usia 6 bulan:

  • Mulai tertarik dan berusaha meniru kebiasaan makan orang-orang terdekatnya.
  • Menjadi lebih mandiri dan berani mencoba makanan baru.
  • Menunjukkan keinginan untuk makanan. Misalnya dengan membuka mulut, memajukan tubuh ke depan atau ke arah makanan, serta mampu menunjukkan keengganan untuk makan atau kenyang dengan menarik tubuh ke belakang dan menjauh.

Aturan pemberian MPASI untuk bayi 6 bulan

menu MPASI tunggal

Pemberian makanan bayi usia 6 bulan untuk pertama kali tidak boleh sembarangan. Berikut panduan dari WHO yang bisa dijadikan acuan dalam memberikan MPASI untuk si kecil:

1. Perhatikan jenis makanannya

Sebelum memberikan makanan pertama untuk bayi di usia 6 bulan, perhatikan kalau ada beberapa jenis sediaan MPASI. Pertama yakni MPASI yang disediakan secara khusus alias buatan rumah tangga maupun pabrik.

Sedangkan yang kedua, yakni MPASI dari makanan yang biasa dimakan anggota keluarga tapi telah dimodifikasi. Tujuannya agar lebih mudah dimakan oleh bayi, sekaligus dapat memenuhi kebutuhan zat gizi hariannya.

Sebagai orangtua, Anda dihimbau untuk jangan asal dalam memberikan makanan pertama bayi di usia 6 bulan. Berikut beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menyediakan bahan makanan untuk MPASI:

  • Mengingat zat besi merupakan salah satu mineral yang kebutuhannya kadang tidak terpenuhi setelah usia 6 bulan, maka pilihlah bahan makanan utama yang kaya zat besi. Sumber zat besi yang bisa diberikan untuk bayi seperti daging merah, hati sapi atau ayam, kuning telur, makanan laut, dan lain sebagainya.
  • Berikan makanan padat pertama untuk bayi yang terbuat dari sumber beras. Sementara pemberian gandum dan campuran serealia lainnya dengan kandungan gluten, sebaiknya ditunda sampai bayi berusia 8 bulan.
  • Telur bisa mulai diberikan pada bayi meskipun belum berusia 1 tahun.
  • Tidak ada urutan tertentu mengenai jenis atau bahan makanan yang sebaiknya diberikan terlebih dahulu pada bayi.

Sementara untuk jenisnya, berikut beberapa pilihan makanan pertama untuk bayi di usia 6 bulan:

  • Sayuran yang dihaluskan (puree), seperti wortel, ubi, kentang, brokoli. 
  • Buah-buahan yang dihaluskan (puree), seperti apel, pir, mangga, atau pepaya yang sudah dimasak (dikukus), atau alpukat dan pisang yang ditumbuk.
  • Bubur yang terbuat dari nasi, tepung beras, atau tepung beras merah, dan bisa ditambahkan dengan ASI atau kaldu ayam maupun kaldu daging. 
  • Sereal khusus bayi yang telah difortifikasi dengan zat besi. 

Setelah bayi sudah menerima makanan tersebut dengan baik, kemudian Anda bisa memberikan makanan lainnya yang lebih bervariasi, seperti daging, ayam, ikan, telur, hati sapi, dan lainnya.

2. Perhatikan tekstur makannya

Jika bayi sudah berusia 6 bulan dan sudah menunjukkan tanda bahwa ia siap untuk menerima makanan padat, Anda mulai bisa untuk memperkenalkannya dengan makanan pertama. Dalam hal ini, berikan ia makanan yang memiliki tekstur lunak dan lembut terlebih dahulu. 

Di samping karena bayi belum mempunyai gigi yang lengkap, sistem pencernaannya juga belum siap untuk menerima makanan keluarga. Bayi masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi di masa peralihan dari ASI ke makanan keluarga secara bertahap.

Oleh karena itu, mulailah dengan memberinya makanan lunak dalam porsi kecil dengan konsistensi halus yang telah melalui proses penyaringan sebelumnya. 

Hancurkan terlebih dahulu makanan tersebut sampai halus dan lunak, sehingga memudahkan bayi untuk menelannya. Mungkin akan memakan waktu beberapa lama sampai bayi benar-benar dapat menerima berbagai macam makanan padat.

Bayi perlu waktu untuk terbiasa dengan rasa dan tekstur baru dari makanan padat. Penting bagi Anda untuk mengenalkan makanan padat ke bayi secara bertahap seiring bertambahnya usia si kecil. 

Sembari mempersiapkan tekstur yang sesuai, jangan lupa perhatikan dan jaga kebersihan proses pengolahan MPASI. Berikut beberapa poin penting yang harus diterapkan:

  • Mencuci tangan sebelum mengolah makanan dan memberikan makan bayi.
  • Simpan makanan di tempat yang bersih.
  • Gunakan peralatan memasak dan makan yang telah dicuci bersih.
  • Sebaiknya gunakan sendok, piring, dan mangkuk, serta hindari penggunaan botol saat memberikan makan.

3. Perhatikan porsi makanannya

Awal-awal masa perkenalannya dengan makanan padat, bayi masih membutuhkan asupan ASI di samping makanan padatnya. ASI masih menjadi makanan utama bayi karena ASI memberikan vitamin, zat besi, dan protein yang diperlukan bayi.

Itu sebabnya, makanan padat berguna sebagai pendamping ASI, dan bukan pengganti ASI. Jika memungkinkan, WHO menganjurkan pemberian ASI sampai bayi berusia 2 tahun.

Pada saat ini, bayi hanya mampu makan sedikit makanan lunak yang Anda berikan karena ukuran lambung bayi masih kecil. Anda mungkin hanya perlu memberikan makanan satu kali dalam sehari dan mungkin bayi hanya mampu menerima 2-3 sendok makan per hari.

Jika bayi sudah mampu menerima makanan padat satu kali dalam sehari, kemudian Anda dapat tingkatkan jumlahnya menjadi 2-3 kali dalam sehari. Selain makanan utama tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menganjurkan pemberian selingan sekitar 1-2 kali sehari. 

Ketika memberikan makanan bayi di usia 6 bulan ini diselingi dengan ASI, sebaiknya susui bayi sebelum Anda memberikan makanan padat.

Pasalnya, menyusu sebelum makan merupakan cara yang baik untuk membantu menjaga transisi pemberian ASI ke makanan padat. Dengan begitu, bayi tetap mendapatkan ASI yang masih ia butuhkan bersamaan dengan makanan padatnya.

Dikhawatirkan jika bayi diberi makan terlebih dahulu baru kemudian diberi ASI, kemampuan menerima ASI-nya akan lebih sedikit. Selanjutnya, frekuensi serta porsi pemberian MPASI bisa ditingkatkan secara bertahap di beberapa bulan ke depan. 

4. Terapkan responsive feeding

Responsive feeding adalah cara pemberian MPASI secara langsung, alias dengan menyuapi anak, sampai nantinya anak bisa makan sendiri tapi tetap dengan bantuan Anda. Dalam hal ini, Anda disarankan agar lebih sabar dan tidak terlalu memaksa kemampuan anak.

Sebisa mungkin, biarkan pikiran anak fokus ke makanan di hadapannya. Hindari makan sembari bermain, menonton TV, atau bermain gadget yang bisa mengganggu fokus anak. Jika anak menolak berbagai jenis makanan, coba sajikan makanan dalam berbagai kombinasi rasa dan tekstur.

Tak kalah penting, usahakan untuk selalu menjaga kontak mata saat Anda sedang menyuapi anak. Misalnya dengan mengajaknya bicara agar lebih bersemangat saat makan, bukan justru memarahinya karena tidak mau makan.

Contoh menu MPASI yang tepat untuk bayi 6 bulan

Syarat MPASI yang harus terpenuhi yakni kaya zat gizi di dalamnya. Oleh karena itu, pastikan MPASI yang diberikan untuk bayi mengandung zat gizi 4 kuadran seperti:

  • Karbohidrat, contohnya nasi, kentang, mie, roti, dan bihun.
  • Protein, terutama sumber hewani. Contohnya daging, ayam, ikan, dan telur.
  • Buah atau sayur.
  • Lemak, yang berasal dari minyak, santan, margarin, dan lain sebagainya.

Supaya asupan vitamin, mineral, dan energi bayi tercukupi dengan baik, Anda bisa memberikan makanan selingan atau camilan di antara waktu makan utamanya. Contohnya bubur kacang hijau, biskuit yang dihancurkan, puree buah, dan lain sebagainya.

Sementara untuk menu makan utamanya, sebaiknya terdiri atas menu 4 kuadran dan bukan menu tunggal. Menu tunggal adalah makanan yang hanya terdiri atas 1 macam bahan saja, seperti buah saja, sayur saja, lauk saja, dan lainnya.

Berbeda dengan menu makanan 4 kuadran yang berisikan beberapa macam bahan makanan berbeda. Mulai dari daging, ikan, telur, sayur, buah-buahan, hingga nasi yang diolah halus dan dicampur menjadi satu.

Untuk contoh menu campuran, Anda bisa membuat semangkuk nasi tim yang dicampur dengan beberapa lauk pauk dan sayur. Misalnya membuat bubur yang berasal dari beras putih, kemudian diberi tambahan suwiran hati sapi, sawi, dan wortel.

Selanjutnya olah bahan-bahan tersebut hingga halus menggunakan blender, kemudian masak sampai matang. Intinya, pemberian menu makanan pertama untuk bayi usia 6 tahun tidak bisa hanya satu macam saja.

Melainkan, harus dikombinasikan bersama sumber makanan lainnya dengan tekstur yang lebih halus. Sebab hal tersebut justru berisiko membuat anak kekurangan zat gizi lainnya.

Selain itu, perkembangan otak anak bisa terhambat bahkan sampai masalah gizi tertentu, seperti stunting. Di sisi lain, pemberian vitamin dan mineral di dalam MPASI, khususnya zat besi, seng, dan vitamin A, sebaiknya tidak terlewatkan.

Salah satu sumber zat gizi yang baik untuk bayi yakni hati sapi, daging sapi, serta sayuran berdaun hijau.

Bagaimana cara memperkenalkan MPASI kepada bayi?

makanan hangat pada bayi

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, pengenalan jenis, tekstur, konsistensi, frekuensi, serta jumlah makanan harus dilakukan secara bertahap. Berikut cara mengenalkan makanan pertama untuk bayi di usia 6 bulan yang harus Anda pahami:

  • Berikan makanan sebanyak 1-2 sendok teh, atau secukupnya sesuai kemampuan bayi setelah minum ASI maupun susu formula. Jika bayi selalu menolak makanan baru, berikan makanan tersebut sebelum ASI atau susu formula.
  • Setiap jenis makanan baru diperkenalkan satu persatu secara perlahan, dan ulangi pemberiannya selama 2 hari. Hal tersebut bertujuan agar bayi dapat belajar mengenali rasa, aroma, dan jenis makanan tersebut.
  • Mengenalkan jenis makanan baru untuk bayi tidak bisa dilakukan hanya dengan 1-2 kali pemberian saja, melainkan harus 10-15 kali. Tujuannya untuk memastikan kalau bayi memang menyukai atau tidak menyukai makanan tersebut, sebelum mengambil kesimpulan terlalu cepat.
  • Jumlah makanan padat yang diberikan selanjutnya bisa ditambahkan secara bertahap, sampai mencapai jumlah yang sesuai dan bisa dihabiskan bayi.

Jika si kecil tampak tidak tertarik atau menyukai makanan tertentu, hindari memaksanya. Sebagai gantinya, usahakan untuk tetap memberikan jenis makanan tersebut tetapi mungkin dengan cara dan tampilan yang berbeda.

Entah itu dicampur atau dikombinasikan dengan sumber makanan lainnya. Sebab di masa ini, anak memang membutuhkan waktu untuk belajar mengenal dan menyukai berbagai macam makanan baru.

Bukan itu saja, si kecil juga sedang dalam masa perkembangan untuk makan dengan cara dan jumlah yang berbeda.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca