Benarkah Konsumsi Gula Membuat Anak Hiperaktif?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda pernah mendengar konsumsi gula pada anak dapat menyebabkan tingkah laku anak menjadi hiperaktif? Jika ya, maka Anda tidak sendiri. Banyak orangtua mengkhawatirkan efek konsumsi gula terhadap tingkah laku anak mereka. Beberapa percaya bahwa konsumsi gula dapat mengakibatkan anak menjadi hiperaktif.

Apakah benar konsumsi gula dapat menyebabkan anak hiperaktif?

Jawabannya adalah tidak. Sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan secara ilmiah bahwa komponen yang terdapat dalam gula dapat menyebabkan anak hiperaktif. Ketertarikan terhadap gula dan hubungannya dengan hiperaktivitas pada anak bisa jadi dimulai sejak tahun 1973, ketika seorang ahli alergi Benjamin Feingold, M.D., mempublikasikan diet Feingold. Feingold memperkenalkan diet bebas salisilat, pengawet, dan pewarna buatan pada makanan anak-anak untuk mengatasi masalah hiperaktivitas pada anak. Meskipun Feingold tidak menyebutkan gula sebagai salah satu komponen yang dapat mengakibatkan hiperaktivitas, tetapi sepertinya orangtua menganggap bahwa mengeliminasi semua jenis zat aditif dari makanan anak mereka adalah ide yang lebih baik. Gula kemudian juga menjadi salah satu bahan makanan yang dianggap harus dibatasi.

Setelah itu, para ahli mulai meneliti efek gula terhadap perilaku anak, tetapi tidak ditemukan bukti yang cukup untuk mendukung klaim bahwa gula menyebabkan sifat hiperaktif. Penelitian dari University of Kentucky mengobservasi tidak adanya pengaruh penambahan dan pengurangan zat aditif pada makanan anak, meskipun orangtua dari anak-anak tersebut melaporkan tingkah laku hiperaktif pada anak mereka. Tes klinis juga mendukung hasil penelitian tersebut. Penelitian lain terkait gula dan hiperaktivitas juga dilakukan oleh University of Iowa. Dokter Wolraich membagi anak-anak menjadi dua kelompok, yang normal dan yang dilaporkan sensitif terhadap gula. Kedua kelompok anak-anak ini diberi gula pasir, aspartam, dan sakarin. Tetapi tidak ditemukan adanya perbedaan perilaku pada kedua kelompok tersebut.

Lalu mengapa sampai saat ini masih banyak yang percaya konsumsi gula dapat menyebabkan anak hiperaktif? Ini lebih disebabkan oleh faktor psikologis. Beberapa peneliti mengatakan bahwa jika Anda berekspektasi gula akan menyebabkan anak Anda menjadi hiperaktif, maka pandangan Anda terhadap hal tersebut juga akan ikut berubah. Suatu penelitian yang diterbitkan di Journal of Abnormal Child Psychology menunjukkan bahwa orangtua cenderung menganggap anaknya hiperaktif ketika mereka diberit ahu bahwa anaknya baru saja mengonsumsi minuman ringan yang mengandung tambahan gula. Selain itu, anak biasanya menjadi lebih aktif di lingkungan yang ramai seperti pesta ulang tahun misalnya, di mana cenderung terdapat banyak makanan yang tinggi gula. Secara tidak sadar, hal ini juga mempengaruhi pandangan orangtua terkait gula dan hiperaktivitas.

Tetapi konsumsi gula memang mungkin mempengaruhi perilaku

Meskipun tidak secara spesifik menyebutkan bahwa konsumsi gula berarti anak Anda akan menjadi hiperaktif, tetapi gula memang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Sebuah penelitian dilakukan untuk mengecek pengaruh gula terhadap tingkat konsentrasi. Mereka yang mengonsumsi sarapan tinggi kandungan gula mengalami penurunan konsentrasi lebih cepat jika dibandingkan dengan mereka yang tidak sarapan atau sarapan sereal yang terbuat dari whole grain. Penelitian lain dari Yale University menyatakan bahwa anak yang diberi gula kemudian akan memiliki kadar adrenalin yang lebih tinggi. Ini merupakan efek dari tingginya kadar gula dalam darah. Gula termasuk karbohidrat sederhana yang mudah diserap oleh tubuh sehingga menyebabkan kadar gula darah naik dengan cepat. Kadar adrenalin yang tinggi dapat memberi efek perilaku hiperaktif pada anak.

Konsumsi gula tidak hanya meningkatkan kadar adrenalin. Saat anak mengonsumsi makanan tinggi gula, maka kadar gula dalam darah meningkat drastis. Ini menyebabkan insulin juga diproduksi lebih banyak untuk menurunkan kadar gula darah sehingga kadar gula darah turun kembali dengan cepat. Penurunan kadar gula darah yang tiba-tiba dapat mengakibatkan anak menjadi rewel karena tubuh seolah-olah kekurangan energi dan sel-sel tubuh kelaparan. Jika hal ini terjadi, anak Anda mungkin akan meminta makanan manis lagi dan siklus kenaikan dan penurunan gula darah yang relatif cepat akan terjadi kembali. Jika hal ini dibiarkan terus berlangsung, bukan hanya perubahan perilaku, anak Anda akan berisiko mengalami resistensi insulin di kemudian hari.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

Ketika anak suka olahraga atau termasuk aktif beraktivitas, penting untuk menyesuaikan asupan nutrisi agar tumbuh kembangnya tetap optimal.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
nutrisi untuk anak aktif
Parenting, Nutrisi Anak 30/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Munculnya kista saat hamil adalah hal yang umum terjadi. Walau biasanya tidak berbahaya, ibu hamil perlu memahami apa saja pengaruhnya terhadap kandungan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

Benarkah frozen yogurt memiliki kandungan lemak yang lebih sedikit dari es krim? Cari tahu di sini untuk memastikan apakah frozen yogurt memang lebih sehat.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 17/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Masturbasi Saat Hamil

Masturbasi Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 12/08/2020 . Waktu baca 3 menit
cek kehamilan dengan test pack

Kapan Saya Bisa Mulai Cek Kehamilan dengan Test Pack?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 11/08/2020 . Waktu baca 6 menit
Konten Bersponsor

Peran Penting Nutrisi untuk Kurangi Dampak Stunting pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit
Konten Bersponsor
protein susu soya

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . Waktu baca 6 menit