ASI Eksklusif Ternyata Bisa Melindungi Anak dari Risiko Penyakit Jantung Ketika Dewasa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 21/11/2017 . 4 menit baca
Bagikan sekarang

Tidak ada asupan makanan yang lebih baik untuk bayi selain ASI. ASI mampu mencukupi semua kebutuhan energi dan nutrisi penting yang diperlukan si kecil semenjak kelahiran sampai 6 bulan pertama kehidupannya. Bukan hanya itu manfaat ASI bagi bayi. Dirangkum dari berbagai penelitian, risiko penyakit jantung pada bayi ASI ekslusif ketika dewasa ditemukan lebih rendah daripada bayi yang terbiasa menyusu formula.

Bayi ASI eksklusif terlindungi dari risiko penyakit jantung saat mereka dewasa

Bayi ASI eksklusif dilaporkan mengalami penurunan risiko penyakit jantung ketika dewasa nanti, jika dibandingkan dengan bayi yang menyusu sufor. Begitu ungkap sebuah penelitian dari University Northwestern, seperti yang dilansir dari Medical News Today.

Kesimpulan ini ditemukan setelah para peneliti mengamati kadar protein C-reaktif atau CRP dalam tubuh orang-orang dewasa yang dulunya merupakan bayi ASI ekslusif. Penelitian ini sendiri melibatkan 7.000 orang dewasa yang berusia 24 sampai 32 tahun. Mereka juga mengevaluasi berat lahir para peserta penelitian dan berapa lama mereka diberi ASI.

Hasilnya menunjukkan bahwa para peserta penelitian yang sewaktu bayi dulu diberikan ASI selama 3 sampai 12 bulan memiliki tingkat protein C-reaktif yang lebih rendah 20 sampai 30 persen dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah diberi ASI. 

Protein C-reaktif adalah protein yang diproduksi oleh hati dan akan meningkat jika terjadi peradangan di dalam tubuh. Kadar CRP yang terlalu tinggi dapat menyebabkan Anda rentan mengalami infeksi. Tingginya kadar CRP dalam tubuh juga diduga dapat meningkatan risiko penyakit jantung dan penyakit metabolik di masa dewasa.

Penelitian ini kemudian menemukan bahwa peningkatan kadar CRP dalam tubuh juga terkait dengan berat lahir rendah dan durasi menyusui yang lebih pendek. Itu sebabnya penting untuk memberikan bayi ASI ekslusif minimal dalam 6 bulan kehidupannya. Seiring waktu, pemberian ASI eksklusif dapat membantu meningkatkan berat badan bayi BBRL hingga ke taraf normal. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan ibu untuk menyusui bayi ASI ekslusif hingga berusia 12 bulan.

Bayi ASI eksklusif juga terlindungi dari banyak penyakit berbahaya lainnya

Pemberian ASI eksklusif merupakan bagian penting dalam tumbuh kembang dan kesehatan bayi. Selain menurunkan risiko penyakit jantung ketika dewasa nanti, ASI juga dapat melindungi bayi dari beberapa risiko penyakit lainnya, seperti:

  • Infeksi telinga tengah. Pemberiaan ASI selama tiga bulan atau lebih bisa mengurangi risiko penyakit ini hingga 50 persen. Semakin lama durasi menyusui Anda, semakin menurun risiko si kecil.
  • Infeksi saluran pernapasan. ASI eksklusif selama lebih dari empat bulan bisa mengurangi risiko rawat inap untuk infeksi ini hingga 72 persen.
  • Pilek dan infeksi. Bayi ASI eksklusif selama 6 bulan memiliki risiko 63 persen lebih rendah terkena flu dan infeksi telinga atau tenggorokan.
  • Infeksi usus besar. Menyusui dikaitkan dengan pengurangan risiko sebesar 64 persen penyakit ini.
  • Kerusakan jaringan usus. Pemberian ASI eksklusif kepada bayi prematur dikaitkan dengan pengurangan risiko sebesar 60 persen kejadian enterokolitis nekrosis.
  • Sindrom kematian bayi mendadak. Menyusui dikaitkan dengan penurunan risiko 50 persen sindrom kematian bayi mendadak setelah 1 bulan, dan 36 persen mengurangi risiko ini pada tahun pertama.
  • Penyakit alergi. Pemberian ASI eksklusif minimal 3-4 bulan dikaitkan dengan 27-42 persen penurunan risiko asma, dermatitis atopik dan eksim.
  • Penyakit radang usus. Bayi yang diberikan ASI, 30% lebih rendah untuk terkena penyakit radang usus pada anak.
  • Diabetes. Menyusui minimal 3 bulan dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 1 sampai 30 persen dan diabetes tipe 2 sampai 40 persen.
  • Leukemia pada anak. Menyusui selama 6 bulan atau lebih lama terkait dengan penurunan risiko leukemia pada anak berusia 15-20 tahun.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Endokarditis

Endokarditis adalah infeksi bakteri yang menyerang endokardium, bagian dari organ jantung. Ketahui lebih lanjut gejala, penyebab, dan pengobatannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 30/06/2020 . 1 menit baca

Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

Ketika anak suka olahraga atau termasuk aktif beraktivitas, penting untuk menyesuaikan asupan nutrisi agar tumbuh kembangnya tetap optimal.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Nutrisi Anak 30/06/2020 . 6 menit baca

Apakah Seseorang yang Mengalami Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Aritmia merupakan jenis penyakit kardiovaskuler yang mempengaruhi denyut jantung. Lantas, apakah Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Aritmia 24/06/2020 . 5 menit baca

Obat Herbal untuk Penyakit Jantung Koroner, Aman atau Tidak?

Obat herbal untuk jantung koroner harus dilakukan dengan hati-hati. Apa saja obat herbal untuk penderita jantung koroner dan cara aman mengonsumsinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Koroner 22/06/2020 . 6 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

protein susu soya

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 6 menit baca
kelainan katup jantung bawaan pada bayi

Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 7 menit baca
menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 10 menit baca
gagal jantung akut

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 5 menit baca