Bolehkah Si Kecil Makan Telur Setengah Matang?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Bagi sebagian orang, makan telur setengah matang memberikan sensasi kelezatan yang berbeda. Teksturnya yang sedikit cair memberikan kenikmatan tersendiri bagi orang yang menyukainya. Lantas, dibalik rasanya yang menggugah selera, apakah anak juga boleh makan telur setengah matang?

Pasalnya, ada yang bilang jika telur setengah matang itu masih mengandung bakteri yang bisa membuat si kecil sakit. Nah, sebelum memberikannya pada anak, yuk, baca dulu ulasan berikut ini.

Telur setengah matang untuk anak, apakah aman?

anak makan telur

Ketika tak punya banyak waktu untuk menyiapkan sarapan untuk anak, Anda mungkin langsung buru-buru memasak telur. Entah itu telur dadar, telur ceplok, atau telur orak-arik kesukaan anak. Ya, telur memang menjadi salah satu bahan makanan yang praktis diolah ke berbagai masakan tanpa butuh waktu yang lama.

Selain itu, telur juga mengandung protein, vitamin, mineral, dan bahkan asam lemak omega-3 yang tidak ditemukan pada makanan lainnya. Meski nutrisinya sangat beragam, Anda juga harus memperhatikan cara pengolahannya. Tanpa disadari, cara Anda menyajikan makanan untuk anak juga bisa memengaruhi nutrisi yang diserap oleh tubuhnya, lho.

Meskipun telur setengah matang terasa lezat, tapi beberapa orang lainnya menganggap makanan ini tidak sehat dan rentan menyebarkan penyakit. Anda pun jadi bertanya-tanya, apakah ini artinya anak tidak boleh makan telur setengah matang?

Sayangnya, anak balita tidak dianjurkan untuk makan telur setengah matang. Menurut Dr. Madelyn Fernstrom, PhD yang merupakan pakar di bidang gizi dan kesehatan, anak usia di bawah 5 tahun hanya boleh makan telur matang. Ini karena telur yang tidak dimasak dengan benar rentan mengandung bakteri Salmonella yang dapat membahayakan tubuh.

Bahaya infeksi Salmonella pada telur setengah matang

makan telur

Sebetulnya, bukan hanya anak-anak saja yang dianjurkan untuk menghindari telur yang dimasak setengah matang. Orang dewasa pun sebaiknya tidak mengonsumsi telur yang dimasak dengan cara setengah matang.

Terlebih bagi orang yang sistem imunnya rendah, seperti anak-anak atau lansia, lebih rentan jatuh sakit akibat infeksi Salmonella. Menurut Badan POM Amerika Serikat (FDA), telur yang terkontaminasi menyebabkan sekitar 142.000 kasus infeksi Salmonella per tahun. Bahkan, penyebab keracunan makanan yang paling umum terjadi karena infeksi Salmonella dari telur.

Telur semestinya dimasak dan dimakan saat benar-benar matang. Panas yang digunakan untuk memasak telur dapat membunuh bakteri Salmonella di dalam telur. Sebaliknya, ketika telur tidak dimasak hingga benar-benar matang, maka akan ada kemungkinan bakteri Salmonella tetap tinggal dan menginfeksi tubuh manusia.

Saat bakteri Salmonella berhasil masuk ke dalam tubuh, hal ini akan menimbulkan gejala yang mirip seperti gejala keracunan makanan. Gejala infeksi Salmonella meliputi perut kram, mual, muntah, diare, sakit kepala, hingga demam. Gejala tersebut memang dapat hilang dengan sendirinya, namun terkadang dibutuhkan antibiotik untuk mengurangi risiko komplikasi.

Ingat! Hanya berikan telur yang matang untuk anak

resep olahan telur

Untuk menjaga kesehatan anak dari penyakit, jangan sesekali memberikan telur setengah matang untuk anak. Pastikan dulu bagian kuning dan putih telur yang Anda masak benar-benar matang, ya.

Misalnya dengan merebus telur, membuat telur dadar, telur mata sapi, telur orak-arik, atau olahan telur untuk anak lainnya. Masak telur dengan suhu minimal 85 derajat Celcius dan tunggu sampai telur benar-benar matang sempurna. Hal ini bertujuan supaya bakteri Salmonella yang mungkin ada di dalam telur akan mati dan tidak mengontaminasi tubuh si kecil.

Perhatikan juga proses pengolahan telurnya. Anda boleh mengolah telur dengan cara digoreng, misalnya membuat telur dadar atau telur ceplok, untuk anak. Namun, ada baiknya jangan terlalu sering karena minyaknya bisa menambah kolesterol pada telur.

Berikan variasi yang lain, misalnya dengan cara direbus dan ditambah dengan irisan tomat, brokoli, atau sayuran rebus lainnya yang anak sukai. Dengan begitu, si kecil akan mendapatkan asupan vitamin dan mineral yang lebih lengkap serta sehat bagi perkembangannya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca