Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Si Kecil Diare, Apakah Perlu Minum Antibiotik?

Si Kecil Diare, Apakah Perlu Minum Antibiotik?

Bayi dan balita sering mengalami diare. Namun bukan berarti Anda boleh meremehkan penyakit saluran pencernaan yang satu ini. Diare bisa menyebabkan masalah kesehatan yang lebih berbahaya jika tidak ditangani dengan baik. Anak diare biasanya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, maupun parasit. Lantas, bolehkah memberikan obat antibiotik untuk obat diare anak?

Sekilas tentang diare pada anak Indonesia

Diare ditandai dengan frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari tiga kali sehari dengan tekstur feses yang cair.

Penelitian yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology menunjukkan bahwa tinggi badan anak yang terkena diare saat berusia 6 bulan-2 tahun lebih pendek 2,5 cm dari anak-anak lain seusianya yang sehat. Penyusutan tinggi badan ini bisa jadi masalah permanen jika diare tidak ditangani dengan baik.

Terlebih, menurut data Riskesdas Kemenkes tahun 2007, diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan balita (25,26%) di Indonesia. Diare pun menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian anak di seluruh dunia.

Kapan orangtua boleh memberikan obat antibiotik untuk anak diare?

Seperti yang telah disebutkan di atas, diare pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun parasit yang menyerang saluran pencernaan. Namun sebelum memberikan antibiotik anak untuk obat diare, Anda harus memperhatikan dulu apa gejala diarenya.

Diare yang disebabkan oleh bakteri atau parasit biasanya menampakkan gejala feses cair yang berdarah akibat adanya peradangan pada usus. Sementara itu, diare yang disebabkan oleh virus juga mengakibatkan feses bertekstur cair, namun tidak berdarah karena tidak terjadi peradangan.

Akan tetapi, sebenarnya lumayan sulit untuk bisa menentukan apa penyebab diare hanya dengan melihat gejala yang kasat mata. Untuk diagnosis yang lebih pasti, bawalah anak ke dokter untuk diperiksa dan diambil sampelnya. Tes laboratorium dapat secara akurat menentukan apa yang menyebabkan anak diare.

Ketika diperiksa di dokter, sampel feses anak yang diare akibat bakteri atau parasit dapat ditemukan adanya leukosit (sel darah putih). Sebaliknya, diare yang disebabkan oleh virus tidak terlihat leukosit dalam sampel fesesnya.

Ketika dokter mengetahui bahwa penyebab diare pada anak adalah infeksi bakteri, barulah dokter akan meresepkan obat antibiotik untuk menyembuhkan penyakitnya. Karena antibiotik adalah anti-bakteri, infeksi virus tidak dapat diobati oleh antibiotik. Beberapa parasit penyebab diare bisa diobati dengan antibiotik anak, khususnya jika disebabkan oleh parasit Giardia intestinalis. Jika diare anak disebabkan oleh infeksi parasit jenis lainnya, dokter akan meresepkan obat lain.

Oleh karena itu, konsultasikan dulu dengan dokter mengenai kondisi anak Anda.

Tips merawat anak yang sakit diare

Diare seringnya menyebabkan dehidrasi, terutama pada anak bayi dan balita. Dehidrasi bahkan lebih rentan terjadi jika anak juga demam tinggi saat diare. Dehidrasi ditandai dengan mata yang terlihat cekung atau kulit yang tidak elastis ketika dicubit.

Selain memberikan obat diare untuk anak sesuai petunjuk dokter, orangtua harus memastikan anak tetap mendapat asupan cairan yang cukup untuk menghindari dehidrasi. Berikan air putih atau minuman elektrolit, namun jangan berikan soda atau jus buah.

Bila anak diare terlanjur mengalami dehidrasi, harus segera ditangani dalam waktu 4-6 jam. Si kecil dapat diberikan minum oralit atau lewat infus di dokter.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Kliegman, R. & Nelson, W. E. Nelson textbook of Pediatric. (Elsevier, 2011).
  2. WHO. Diarrhoeal disease. (2013). Available at: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/. (Accessed: 21st January 2017)
  3. Feigin, R. Feigin and Cherry’s Textbook of Pediatric Infectious Diseases. Pediatric critical care medicine : a journal of the Society of Critical Care Medicine and the World Federation of Pediatric Intensive and Critical Care Societies 2, (2014).
  4. Fletcher, S. M., McLaws, M.-L. & Ellis, J. T. Prevalence of gastrointestinal pathogens in developed and developing countries: systematic review and meta-analysis. J. Public health Res. 2, 9 (2013).
  5. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. (Departemen Kesehatan RI, 2011).
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh dr. Ivena Diperbarui 05/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri