home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Nasi vs Roti: Manakah yang Lebih Baik untuk Menu Sarapan Anak?

Nasi vs Roti: Manakah yang Lebih Baik untuk Menu Sarapan Anak?

Biasanya nasi atau roti menjadi pilihan menu sarapan favorit orangtua untuk disajikan di meja makan setiap pagi. Selain penyajiannya cepat, nasi dan roti tergolong mudah untuk dikreasikan menjadi bermacam-macam masakan. Lantas kalau mau membandingkan gizi keduanya, mana yang lebih baik dijadikan menu sarapan untuk anak — nasi atau roti?

Asupan gizi yang ideal dalam satu porsi menu sarapan anak

Sarapan memberikan pasokan energi yang dibutuhkan anak untuk melalui hari yang melelahkan. Pasalnya, sarapan pagi menyumbang hingga 20-25 % dari kebutuhan energi total per hari (standar kebutuhan kalori anak sekolah usia 7-12 tahun adalah 1.600-2.000 kalori). Sarapan pagi juga dapat membantu tubuhnya agar lebih efisien dalam mengolah makanan sebagai energi, sehingga anak lebih jarang merasa lapar.

Untuk dapat meraih manfaat ini, menu sarapan sehat untuk anak haruslah terdiri dari 300 gram karbohidrat, 65 gram protein, 50 gram lemak, 25 gram serat, serta asupan berbagai vitamin dan mineral. Jangan kaget dulu melihat besarnya jumlah karbohidrat yang dibutuhkan anak. Kebutuhan glukosa anak memang dua kali lipat lebih besar dibanding orang dewasa. Karbohidrat penting untuk meningkatkan tumbuh kembang otak anak. Glukosa yang dipecah dari karbohidrat merupakan energi utama bagi otak. Selain itu, glukosa juga digunakan oleh otak untuk mengatur dan menjalankan sistem sarafnya.

Itu sebabnya banyak penelitian yang menunjukkan bahwa menu sarapan tinggi kalori dapat membantu anak-anak belajar lebih baik di sekolah. Artinya anak dapat lebih berkonsentrasi dalam mengingat dan menyelesaikan masalah di setiap mata pelajaran. Namun tentunya sumber karbohidrat yang dipilih tak boleh sembarangan. Nasi dan roti merupakan sumber makanan tinggi karbohidrat. Lalu, mana yang lebih baik untuk anak?

nafsu makan tb pada anak

Menu sarapan sehat untuk anak, lebih baik pakai nasi atau roti?

Sebelum menentukan mana yang lebih baik untuk menu sarapan anak, ada baiknya Anda memahami dulu tentang konsep indeks glikemik dalam makanan. Indeks Glikemik (IG) mengukur seberapa cepat karbohidrat yang terdapat dalam makanan untuk diubah menjadi gula oleh tubuh. Semakin tinggi nilai glikemik suatu makanan, semakin tinggi peningkatan kadar gula darah tubuh.

Tingkat indeks glikemik ini dapat memengaruhi kerja otak anak. Seperti yang telah diuraikan di atas, glukosa adalah sumber energi utama otak. Oleh karena itu, semakin tinggi skor IG suatu makanan, semakin tinggi kadar gula darah yang diproduksi, maka semakin baik pula kerja otak anak. Dilansir dari Harvard School bahwa indeks glikemik pada nasi putih (72) lebih rendah daripada skor IG roti tawar putih (75). Lantas, apa ini artinya otomatis roti putih lebih baik ketimbang nasi untuk menu sarapan anak? Belum tentu.

Nasi atau roti sebenarnya sama saja

Nasi dan roti sebenarnya sama-sama tergolong makanan indeks glikemik tinggi. Makanan dengan indeks glikemik tinggi lebih cepat dicerna tubuh sehingga lebih cepat meningkatkan gula darah. Tapi di sisi lain, gula darah yang dihasilkan ini akan sangat cepat turun kembali sehingga mereka yang mengonsumsi makanan indeks glikemik tinggi akan lebih cepat merasa lapar.

Perasaan lapar yang timbul ini turut memengaruhi konsentrasi saat bekerja ataupun belajar. Anak yang kelaparan selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung cenderung lebih sulit berkonsentrasi dibandingkan dengan mereka yang masih merasa kenyang. Sebaliknya, makanan yang mengandung indeks glikemik rendah akan membuat kadar glukosa dalam darah mampu bertahan lebih lama dan lebih stabil dibandingkan dengan kadar indeks glikemik tinggi.

Menu sarapan sehat untuk anak adalah yang seimbang

Terlepas dari apa pilihan sumber karbohidrat anak untuk sarapan, sarapan pagi yang sehat memerlukan porsi karbohidrat, protein, dan lemak yang seimbang untuk menjaga tingkat energi tetap stabil sepanjang hari.

Cara mudah untuk menentukan porsi sarapan yang ideal adalah membagi piring makan Anda menjadi empat bagian. Setiap bagiannya harus diisi dengan masing-masing zat gizi yang diperlukan tubuh Anda di pagi hari.

Isi bagian pertama dengan karbohidrat kompleks, misalnya roti gandum, nasi merah, atau bubur gandum (oatmeal). Bagian kedua bisa Anda isi dengan lemak tak jenuh seperti kacang-kacangan. Bagian ketiga sebaiknya diisi dengan protein, baik itu dari telur atau daging tanpa lemak. Terakhir, lengkapi menu sarapan sehat Anda dengan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Rachmawati E. Agar Cerdas, Ajari si Kecil Sarapan Pagi. Kompas. 2008
  2. Asupan Gizi Anak Sekolah Memprihatinkan. Kompas. 2007
  3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Perbaikan Gizi Anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. 2005:59-64; 73-77
  4. Dea J, Wagstaff S. Increased Breakfast Frequency and Nutirional Quality Among Schoolchildren After A National Breakfast Promotion Campaign in Australia Between 2000 and 2006. Health Education Research. 2011; 26:1086-1096
  5. Indeks Glikemik : Arti dan Manfaatnya. Majalah Kesehatan.2011
  6. Garbutt A, et al. What Is Glycemix Index?. News Medical. 2013
  7. Taki Y, et al. Brain Development in Childhood. The Open Neuroimaging Journal. 2012; 6:103-110
  8. Santos N. Breakfast: essential brain food for children. Journal Of Family Health Care. 2012
  9. Garrow J, James W. Human Nutrition and Dietetics. New York : Churchill Livingstone, 1995
  10. Taki Y, et al. Breakfast Staple Types Affect Brain Gray Matter Volume and Coginitive Function in Healthy Children. The Open Neuroimaging Journal. 2012; 6:103-110
  11. Micha, et al. Glycaemix Index and Glycaemix Load of Breakfast Predict Cognitive Function and Mood In School Children : A Randomised Controlles Trial. The British Journal of Nutrition. 2011; 106 :1552-61
  12. Elrick H, et al. Plasma Insulin Response to Oral and Intravenous Glucose Administration. The Journal Of Clinical Endocrinology and Metabolism. 1964;1076-1082
  13. Rambali B, et al. The Contribution Of Cocoa Additive To Cigarette Smoking Addiction. The National Institute For Public Health And The Environmental. 2002
  14. Hussein L, et al. Effect of Wheat Processing on the Tryptophant Content of the Resulting Product. American Association of Cereal Chemist. 1971;530-533
  15. Daniel P M, et al. The Effect of Insulin Upon The Influx of Tryptophan Into The Brain of The Rabbit. The Journal of Physiology. 1981; 551-562

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh dr. Ivena
Tanggal diperbarui 08/11/2017
x