5 Pantangan yang Harus Diperhatikan Para Ibu Menyusui

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Adanya pengaruh dari lingkungan dan orang-orang sekitar yang mengatakan, “Ibu menyusui sebaiknya jangan makan ini atau minum itu”, mungkin menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak Anda. Inilah mengapa banyak ibu baru yang bertanya-tanya mengenai kebenaran pantangan tertentu yang harus dihindari selama menyusui. 

Memangnya, benar ada pantangan yang tidak dianjurkan untuk dilakukan ibu saat menyusui? Cari tahu jawabannya dalam ulasan ini, ya!

Aneka pantangan bagi ibu selama menyusui

Sebenarnya tidak ada pantangan yang benar-benar tidak diperbolehkan selama menyusui. Hanya saja, para ibu menyusui dianjurkan agar bisa lebih mengatur dan membatasi segala hal supaya tidak berlebihan.

Baik dalam tindakan, asupan makanan, minuman, dan lain sebagainya. Penasaran apa saja pantangan atau berbagai hal yang sebaiknya dibatasi oleh ibu menyusui?

Berikut beberapa hal yang harus para ibu baru perhatikan:

1. Stres

kekurangan hormon dopamin penyebab stres

Sebisa mungkin sebaiknya hindari stres selama Anda sedang menyusui. Ini termasuk salah satu pantangan yang harus diperhatikan ibu menyusui.

Bukan tanpa alasan. Pasalnya, stres yang mengganggu ketenangan hati dan pikiran ibu diyakini dapat memengaruhi kelancaran produksi ASI.

Alhasil, jumlah ASI yang didapatkan si kecil menjadi kurang optimal. Kondisi ini disebabkan karena produksi hormon oksitosin dan prolaktin yang dihasilkan oleh otak, mengalami hambatan ketika ibu sedang stres.

Padahal, kedua hormon tersebut berperan penting dalam kelancaran produksi ASI selama menyusui. Di samping itu, stres ternyata juga bisa memengaruhi kemampuan let down reflex yang membantu memudahkan proses menyusui.

Namun menariknya, di satu sisi sebenarnya hormon oksitosin tidak hanya sebatas untuk meningkatkan jumlah ASI. Hormon oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis di otak, kemudian dilepaskan di dalam aliran darah ini bisa memberikan efek menenangkan selama menyusui.

Artinya, ibu menyusui yang sedang stres biasanya akan merasa jauh lebih santai, tenang, dan rileks, berkat adanya peningkatan hormon oksitosin.  Kuncinya, setiap kali Anda merasa stres dan uring-uringan, usahakan untuk melakukan berbagai kegiatan menyenangkan yang dapat membantu membangkitkan suasana hati (mood).

Entah itu bercerita dengan orang terdekat, melakukan teknik pernapasan dalam, olahraga ringan, menonton film favorit, dan lain sebagainya. Setelah merasa cukup tenang, Anda bisa kembali menyusui si kecil.

Semakin sering Anda menyusui, otomatis produksi hormon oksitosin dan prolaktin akan semakin meningkat. Hormon tersebut kemudian akan membantu mengurangi suasana hati negatif alias stres.

Perasaan rileks dan nyaman yang ibu rasakan seiring seringnya menyusui dan menurunnya stres, dapat bekerja sama untuk membantu melancarkan aliran ASI.

2. Makan jenis makanan tertentu

makan pedas saat sahur

Kesehatan tubuh bayi tentu menjadi perhatian utama Anda selama masa menyusui. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi selama 6 bulan pertama, atau disebut dengan ASI eksklusif.

Itu sebabnya, penting untuk memilah-milah dan membatasi asupan makanan selama menyusui karena sedikit banyak dapat memengaruhi ASI. Bukan tidak mungkin, bayi jadi gampang kembung dan mudah buang angin akibat pengaruh dari makanan yang Anda makan.

Meskipun kemungkinan terjadinya masalah pencernaan tergantung dari kondisi bayi, tapi ibu menyusui sebaiknya tetap cermat dan berhati-hati dalam memilih makanan selama masa menyusui. 

Berikut berbagai pantangan makanan yang harus diperhatikan oleh ibu menyusui guna menghindari munculnya masalah pencernaan pada si kecil:

Makanan yang memicu alergi

Alergi makanan tidak selalu dialami oleh setiap ibu menyusui. Ada juga ibu menyusui yang tidak mengalami masalah alergi makanan apa pun, sehingga bisa dengan bebas makan berbagai jenis makanan.

Makanan pemicu alergi paling umum adalah susu sapi, susu kedelai, makanan berbahan gandum, telur, dan kacang-kacangan. Namun, selama tidak alergi terhadap jenis makanan tertentu, ibu menyusui tidak perlu menghindari berbagai makanan tersebut.

Singkatnya, makanan pemicu alergi tidak perlu dijadikan pantangan oleh semua ibu menyusui. Bahkan, zat gizi pada makanan tersebut bisa menjadi asupan yang baik bagi ibu menyusui yang tidak memiliki alergi makanan.

Sebaliknya, jika ibu sedang menyusui dan memiliki alergi makanan, sebaiknya kurangi atau bahkan hindari pantangan tersebut. Ini karena alergi bisa turut berpengaruh pada kondisi bayi.

Bayi mungkin akan mengalami gejala seperti pilek, diare, kembung, mudah kentut dan bahkan sembelit karena memiliki sensitivitas atau alergi pada makanan tertentu. Di sisi lain, bila Anda tidak punya alergi makanan tapi menemukan adanya gejala alergi pada baik, sebaiknya perhatikan makanan apa saja yang Anda makan sebelumnya.

Gejala alergi pada bayi biasanya muncul dalam kurun waktu 5-24 jam setelah menyusui. Jika terlihat gejala-gejala perut kembung, ibu menyusui mungkin perlu menghindari pantangan makanan tertentu.

Tindakan ini sebaiknya dilakukan selama beberapa hari atau minggu guna melihat perbedaan dan reaksi alergi pada bayi. Konsultasikan juga ke dokter untuk mengetahui sumber zat gizi apa yang bisa menggantikan makanan yang memicu alergi tersebut.

Sayuran yang mengandung gas

Sebenarnya, sayuran dengan kandungan gas yang tinggi bukanlah pantangan yang benar-benar harus dihindari oleh ibu menyusui. Hanya saja, para ibu menyusui disarankan untuk lebih membatasi konsumsinya karena dapat berpengaruh pada pencernaan ibu dan bayi.

Ini karena sayuran seperti brokoli, kembang kol, kubis, dan kacang-kacangan diketahui mengandung raffinose. Raffinose ini adalah zat gula yang harus difermentasi oleh bakteri di usus karena seratnya sulit dicerna.

Tidak jarang, berbagai jenis sayuran ini kerap menimbulkan gas di pencernaan, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Lebih dari itu, karbohidrat dan gula penyebab gas dari beragam sayuran ini bisa masuk dan bercampur bersama ASI.

Jika Anda mencurigai bahwa makanan berserat tersebut menimbulkan gas dan kembung pada perut bayi, sebaiknya hentikan asupan sayuran tersebut untuk beberapa waktu. Alternatif lainnya, Anda bisa merebus atau mengkukus sayuran tersebut guna melunakannya sebelum dimakan.

Makanan pedas

Bawang putih, cabai, jinten, bumbu kari, dan paprika merah merupakan beberapa jenis rempah makanan dengan cita rasa khas, yakni pedas. Bagi Anda pecinta makanan pedas, menyusui bukanlah halangan untuk menghindari makanan dengan rasa pedas. 

Pasalnya, beberapa bayi tidak mengalami masalah karena menyusu dari ibu yang makan pedas. Bahkan, beragam rasa makanan yang dimakan ibu selama menyusui dapat membuat bayi mudah menyukai aneka makanan saat dewasa.

Pantangan makan pedas bagi ibu menyusui biasanya berlaku ketika bayi terlihat tidak nyaman atau mengalami gejala kurang mengenakkan. Contohnya diare, perut kembung, perut penuh dengan gas, dan lainnya.

Jika gejala tersebut dialami oleh si kecil, tandanya Anda harus mengurangi atau menghindari makanan pedas selama masa menyusui. Hal ini bertujuan agar cita rasa makanan pedas tidak memengaruhi rasa alami ASI.

Khususnya bagi bayi dengan sistem pencernaan yang lemah dan belum bisa menerima kandungan rempah dan rasa pedas. Akhirnya menyebabkan bayi mengalami kembung, diare, dan masalah pencernaan lainnya.

Buah atau makanan yang mengandung asam

Sama seperti beberapa makanan yang telah dijelaskan sebelumnya, buah maupun makanan dengan kandungan asam yang tinggi juga bisa menyebabkan rasa begah, kembung, hingga diare pada bayi.

Ambil contohnya buah-buahan seperti jeruk, nanas, lemon, stroberi, dan anggur, diyakini menghasilkan rasa asam yang bisa membuat perut kembung. Bayi memang tidak mengonsumsi buah-buahan tersebut secara langsung. 

Namun, makanan dengan rasa asam yang Anda konsumsi selama masa menyusui dapat bercampur dengan ASI, sehingga kemudian masuk ke dalam tubuh bayi.

Para ibu menyusui bisa menemukan alternatif buah-buahan lain tanpa rasa asam selama menyusui guna menghindari timbulnya gas berlebih pada perut bayi.

3. Konsumsi kafein

minum kopi saat stres

Makanan dan minuman dengan kandungan kafein bisa Anda temukan di dalam kopi, teh, cokelat, minuman bersoda, maupun minuman ringan lainnya. Dalam jumlah yang sedikit, kafein yang ibu konsumsi selama menyusui sebenarnya bukanlah suatu pantangan.

Bayi masih aman menyusui ASI selama jumlah kafein yang Anda konsumsi masih wajar dan tidak berlebihan. Akan tetapi, karena kafein bisa bercampur bersama ASI, sebaiknya hindari konsumsi yang terlalu banyak.

Ini karena sistem pencernaan dan metabolisme tubuh bayi masih kesulitan untuk mencerna kandungan kafein, terutama di awal masa kehidupannya. Selain itu, kafein juga berisiko menyebabkan penumpukan gas serta iritasi pada perut bayi.

Apalagi jika kondisi bayi memang gampang mengalami perut kembung, dan ibu mengonsumsi kafein dalam jumlah yang terlampau banyak. Hal tersebut justru akan menimbulkan rasa tidak nyaman di perut bayi sehabis menyusu.

Bahkan di sisi lain, dosis kafein yang kecil sekalipun di dalam ASI dapat berpengaruh pada pola tidur bayi. Seperti orang dewasa, bayi mungkin mengalami susah tidur sehingga lebih sering terjaga.

Padahal, bayi membutuhkan waktu tidur yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa. Jadi, ada baiknya, ibu menyusui membatasi asupan kafein tidak lebih dari 3 cangkir per hari, atau lebih baik tidak sama sekali.

Cara ini setidaknya bisa membantu mencegah masalah pencernaan pada bayi sekaligus menjaga waktu tidurnya senantiasa optimal.

4. Minum alkohol

tidak minum alkohol

Melansir dari laman Healthy Children, alkohol merupakan pantangan bagi ibu menyusui, menurut American Academy of Pediatrics. Alasan tidak dianjurkannya minum alkohol selama masa menyusui dikarenakan minuman ini dapat masuk dan bercampur bersama darah serta ASI ibu. Selain itu, konsumsi alkohol dalam jangka panjang dapat menurunkan produksi ASI.

Secara tidak langsung, bayi sudah minum alkohol karena ada di dalam ASI. Sebelum terlanjur memberikan ASI yang mengandung alkohol pada bayi, Anda bisa memompa ASI tersebut.

Namun, ASI sebaiknya tidak diberikan pada bayi. Hindari langsung menyusui bayi jika Anda baru saja minum alkohol dalam jumlah yang terlalu banyak.

Sebagai gantinya, tunggu sampai tubuh Anda benar-benar bersih dari alkohol, sekitar 2-3 jam baru boleh menyusui kembali. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu sampai tubuh benar-benar bersih sepenuhnya dari alkohol.

Ketika alkohol sudah tidak ada di dalam aliran darah, kemungkinan ASI juga telah bersih dari pengaruh alkohol.

5. Minum obat-obatan tanpa pengawasan dokter

Minum obat batuk untuk ibu menyusui

Pantangan ibu menyusui lainnya yang perlu diperhatikan yakni mengenai konsumsi obat-obatan. Ada beberapa jenis obat-obatan yang aman untuk diminum selama masa menyusui.

Sementara beberapa jenis lainnya tidak dianjurkan untuk ibu menyusui. Menurut Mayo Clinic, hampir semua obat yang Anda minum dan masuk ke dalam darah, nantinya akan bercampur bersama ASI sampai batas tertentu.

Beberapa jenis obat tertentu memiliki dosis rendah pada ASI, sehingga diyakini tidak menimbulkan risiko buruk bagi bayi. Namun, ada pengecualian bagi obat-obatan lainnya yang dosisnya bisa sangat berpengaruh pada ASI.

Itulah mengapa ibu menyusui perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum minum obat jenis apa pun. Terlebih jika bayi lahir prematur, baru lahir, maupun memiliki kondisi medis tertentu.

Kelompok bayi tersebut memiliki risiko yang lebih besar untuk terpapar efek samping dari obat-obatan yang diminum ibu selama menyusui. Oleh karena itu, selalu patuhi aturan minum obat-obatan dari dokter Anda, termasuk jadwal serta dosis minum obat tersebut.

Dokter akan memberikan rekomendasi obat yang aman diminum selama masa menyusui. Sekali pun obat yang Anda minum tidak dianjurkan saat menyusui, Anda akan mendapatkan alternatif obat lainnya yang tidak berbahaya bagi bayi.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca