Kupas Tuntas 3 Mitos Kulit Bayi yang Menyesatkan

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/01/2018
Bagikan sekarang

Ada banyak mitos yang beredar soal perawatan kulit bayi. Misalnya minum air kelapa saat hamil bisa membuat kulit bayi Anda jadi putih. Padahal, Anda tidak bisa sembarangan memercayai mitos kulit bayi. Anda harus tahu fakta-fakta yang telah terbukti secara medis soal kulit buah hati Anda. Apa saja mitos kulit bayi yang seharusnya Anda tinggalkan? Berikut penjelasannya. 

Mitos: Anda perlu menggunakan sabun antiseptik untuk si kecil

Salah. Mitos kulit bayi yang sering Anda percayai salah satunya adalah penggunaan sabun antiseptikPenting untuk diketahui oleh para orang tua bahwa meskipun struktur kulit pada bayi sama dengan dewasa, tingkat maturitas fungsinya tidak sama. Kulit bayi, terutama yang baru lahir, sangat halus, lembut dan belum diproteksi secara maksimal oleh sistem imunitas tubuh. Hal ini mungkin membuat Anda berpikir bahwa sabun antiseptik adalah pilihan terbaik ketika Anda memandikan si kecil. Faktanya, sabun antispetik ini sering menyebabkan iritasi kulit pada si kecil.

Gunakan sabun bayi ringan yang sesuai dengan pH netral kulit (5,5) tanpa parfum dan pewarna sama sekali untuk menghindari iritasi atau alergi. Bahan di dalam sabun juga harus diperhatikan. Jangan pakai sabun antiseptik (fenol, kresol), yang mengandung deodoran (triklosan, heksaklorofen), ataupun sabun yang mengandung detergen seperti sodium lauryl sulphate (SLS) dan sodium laureth sulphate (SLES) . Senyawa kimianya dapat menimbulkan iritasi maupun bersifat beracun bila terserap kulit bayi.

Mitos: Rajin minum susu kedelai saat hamil bisa membuat kulit bayi Anda putih

Salah. Kedelai tidak memiliki peran apa pun dalam menentukan warna kulit seseorang ketika lahir ke dunia. Sampai saat ini tidak ada penelitian medis yang dapat mendukung nasihat turun temurun ini. Mitos kulit bayi yang satu ini sering dipercayai oleh para ibu hamil sehingga mereka rajin mengonsumsi susu kedelai.

Padahal, faktor utama penentu terang atau gelapnya warna kulit seseorang adalah genetik warisan kedua orangtua. Warna kulit manusia yang berbeda antar satu dan lainnya ditentukan oleh jumlah melanin (zat pewarna kulit). Semakin banyak melanin di kulit Anda, akan semakin gelap warna kulit Anda.

Sedikit banyaknya melanin yang Anda miliki dikendalikan oleh gen keturunan kedua orangtua Anda. Jika Anda dan pasangan memiliki warna kulit yang berbeda, maka bayi Anda akan mewarisi genetik pigmen kulit yang paling dominan di antara keduanya.

Mitos: Minyak zaitun, minyak pijat paling aman untuk bayi

Salah. Mitos kulit bayi berikutnya yang mungkin juga sering Anda percayai adalah mengenai minyak pijat yang harus menggunakan minyak zaitun. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh University of Manchester, memijat bayi sebaiknya tidak menggunakan minyak zaitun atau bunga matahari. Penelitian tersebut menemukan, produk yang selama ini aman dan menyehatkan bagi orang dewasa, ternyata bisa meningkatkan risiko kerusakan kulit pada bayi.

Penelitian ini melibatkan 115 bayi baru lahir selama 28 hari. Bayi dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu yang menggunakan minyak zaitun, minyak biji bunga matahari, dan tidak memakai minyak sama sekali. Hasil penelitian menunjukkan, minyak zaitun terlalu keras untuk kulit bayi. Peneliti dr. Alison Cooke menjelaskan, minyak bisa terurai menjadi asam lemak yang merusak struktur kulit bayi.

Minyak tersebut bisa merusak pelindung kulit bayi yang masih sangat sensitif. Hal ini memungkinkan terjadinya iritasi, kekeringan kulit, kulit pecah-pecah, berisiko eksim atau peradangan pada kulit bayi. Peneliti mengingatkan, membran sel kulit bayi sangat sensitif sehingga butuh waktu sekitar dua tahun untuk berkembang secara utuh.

Lalu, apa yang harus Anda gunakan untuk memijat bayi? Spesialis kulit merekomendasikan orangtua untuk menggunakan krim yang lembut bagi kulit bayi dan sudah terbukti aman setiap kali dioleskan pada bayi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pilihan Susu Formula Agar Bayi Tidak Sembelit

Susu formula ternyata bisa membuat bayi sembelit. Lantas, seperti apa susu formula untuk bayi yang tidak bikin sembelit? Lihat beberapa pilihannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Susu Sapi vs Susu Kedelai, Mana yang Lebih Bernutrisi?

Susu kedelai merupakan salah satu alternatif terbaik untuk susu sapi. Namun, sebenarnya mana yang lebih unggul soal nutrisi di antara keduanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Nutrisi, Hidup Sehat 10/04/2020

Berat Badan Bayi Ideal Usia 0-12 Bulan

Berat badan bayi ideal merupakan patokan utama terhadap kualitas perkembangan dari bayi. Berapa seharusnya berat badan bayi di satu tahun pertamanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Ibu, Ini Cara Memilih Sabun dan Perawatan Kulit Kering pada Bayi

Memilih sabun dan perawatan untuk kulit kering bayi tidak lagi membingungkan. Cukup terapkan langkah-langkah ini untuk menjaga kelembapan kulit si kecil.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Kulit Bayi, Parenting 02/04/2020

Direkomendasikan untuk Anda

cara menggunakan minyak zaitun olive oil

Manfaat dan Cara Menggunakan Minyak Zaitun Dengan Benar untuk Memasak

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
pengganti mentega

5 Bahan Pengganti Mentega untuk Membuat Kue yang Lebih Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
selain untuk mandi, banyak fungsi antiseptik cair yang bermanfaat untuk kesehatan

5 Fungsi Antiseptik Cair Selain untuk Mandi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 12/05/2020
sabun untuk kulit bayi sensitif

Cara Memilih Sabun untuk Kulit Bayi yang Sensitif

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020