Ibu, Ketahui Manfaat, Jenis, dan Efek Samping dari Imunisasi Polio pada Si Kecil

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 Maret 2021 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Polio adalah penyakit menular karena oleh virus polio yang menyerang sistem saraf pusat dan merusak sistem saraf motorik. Hal tersebut bisa mengakibatkan kelumpuhan pada otot yang bersifat sementara, bahkan bisa permanen. Penyakit ini tidak ada obatnya, tapi Anda bisa mencegahnya dengan pemberian imunisasi anak jenis polio. Seperti apa cara kerja vaksin polio dan apakah ada efek sampingnya?

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Apa itu imunisasi polio?

efek samping imunisasi dpt

Fungsi dan manfaat imunisasi polio adalah mencegah penyakit polio atau lumpuh layu yang bisa membuat kelumpuhan bahkan berpotensi menyebabkan kematian.

Polio termasuk ke dalam imunisasi anak yang wajib diberikan sebelum bayi berusia 6 bulan, bersamaan dengan vaksin hepatitis B, DPT, dan HiB. Imunisasi polio juga termasuk dalam daftar imunisasi yang harus Anda ulang, seperti vaksin MMR.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan dalam situs resminya penyebab penyakit ini adalah virus polio yang menyerang otak dan sumsum tulang belakang.

Akibat dari penyakit ini, penderita tidak bisa menggerakan bagian tubuh tertentu, biasanya terjadi pada salah satu atau bahkan kedua kakinya. 

Ada dua jenis vaksin polio yang harus anak-anak dapatkan, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV) apa yang membedakannya?

Vaksin polio oral (OPV)

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) imunisasi polio yang oral adalah virus polio yang masih aktif, tetapi sudah lemah.

Ini membuatnya masih bisa berkembang biak dalam usus dan bisa merangsang usus dan darah, untuk membentuk zat kekebalan tubuh (antibodi) terhadap virus polio liar. 

Apa maksud virus polio liar? Ini artinya, kalau ada virus polio liar masuk ke dalam usus bayi, antibodi yang sudah terbentuk dalam usus dand arah akan mematikan virus polio liar.

Secara teknis, imunisasi polio oral berfungsi untuk mencegah virus polio liar berkembang biak agar tidak membahayakan bayi dan menularkan ke anak-anak lain.

Vaksin polio suntik (IPV)

Apa itu imunisasi polio suntik? Vaksin polio suntik, berisikan virus polio yang sudah tidak aktif (mati) atau Inactive Polio Vaccine (IPV).

Masih menurut IDAI, cara kerja vaksin polio suntik yaitu, virus polio yang sudah mati ini tidak bisa berkembang biak dalam usus dan tidak membuat kekebalan.

Akan tetapi, masih bisa terjadi kekebalan di dalam darah. Ini membuat virus polio liar masih bisa berkembang biak di usus, tanpa membuat anak merasa sakit karena ada kekebalan dalam darah.

Namun ini hal yang buruk karena virus polio liar masih berkembang biak dalam usus dan bisa menyebar lewat feses atau tinja ke anak-anak lain.

Hal tersebut membuat peluang anak-anak terkena penyakit polio lebih besar. 

Wajib memberikan vaksin polio oral pada wilayah yang transmisi atau perpindahan virus polio liarnya masih tinggi.

Hal tersebut bertujuan agar usus bayi bisa mematikan virus polio liar dan menghentikan penyebarannya.

Anak yang terlambat imunisasi bisa membuat penyebaran penyakit ini menjadi lebih luas.

Siapa yang perlu mendapatkan vaksin polio?

Jadwal imunisasi polio

Center for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan pemberian imunisasi polio pada anak sebanyak 4 kali dengan jeda setiap satu bulan.

Namun tidak hanya anak-anak yang perlu mendapatkan imunisasi ini, orang dewasa juga membutuhkannya. Berikut panduan dan penjelasannya.

Bayi dan anak-anak

Berdasarkan tabel jadwal imunisasi anak 2020 rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pemberian imunisasi polio sebanyak 4 kali sejak bayi baru lahir, yaitu:

  • Usia 0-1 bulan
  • Umur 2 bulan
  • Usia 3 bulan
  • Umur 4 bulan
  • usia 18 bulan (pengulangan)

Untuk bayi baru lahir, ia mendapatkan vaksin polio oral (OPV), lalu pada imunisasi polio berikutnya mendapat suntikan (IPV) atau OPV kembali. Pada dasarnya, anak-anak perlu mendapatkan satu kali imunisasi IPV.

Pemberian susu (baik ASI atau formula) pada bayi setelah imunisasi oral selesai. Kolostrum yang terkandung dalam ASI, memiliki antibodi tinggi yang bisa mengikat vaksin polio oral, sehingga bisa bekerja optimal.

Pemberian vaksin polio oral (OPV) wajib pada anak usia 0-59 bulan, meski sebelumnya sudah mendapatkan imunisasi yang sama.

Inilah yang membuat WHO bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional Polio setiap tahun. 

Orang dewasa

Sebagian besar orang dewasa tidak memerlukan vaksin polio karena sudah mendapatkan imunisasi ini saat anak-anak.

Namun, ada tiga kelompok orang dewasa yang berisiko tinggi terkena polio dan perlu mempertimbangkan untuk mendapatkan vaksin polio.

Berikut tiga kelompok orang dewasa yang berisiko terkena polio, berdasarkan rekomendasi Center for Disease Control and Prevention (CDC):

  • Bepergian ke negara dengan angka polio tinggi.
  • Pekerja laboratirum dan menangani kasus yang mengandung virus polio.
  • Petugas kesehatan yang merawat pasien atau berhubungan dekat dengan penderita penyakit polio.

Ketiga kelompok ini termasuk yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio sama sekali, harus mendapatkan 3 kali vaksin polio suntik (IPV), dengan rincian:

  • Dosis pertama bisa kapan saja.
  • Suntikan kedua, 1-2 bulan setelah dosis pertama.
  • Dosis ketiga, 6-12 bulan setelah suntikan kedua.

Untuk orang dewasa yang sudah pernah mendapatkan 1-2 kali imunisasi polio sebelumnya, hanya perlu melakukan satu atau dua kali imunisasi ulang. Ini tidak bergantung dengan jeda waktu imunisasi pertama.

Bila orang dewasa berisiko terpapar virus polio dan sudah menerima imunisasi lengkap, baik oral maupun suntik, bisa mendapatkan imunisasi IPV sebagai booster.

Anda bisa melakukan imunisasi polio booster kapan saja dan berlaku seumur hidup.

Adakah kondisi yang membuat seseorang menunda pemberian vaksin polio?

Anak sakit demam

Pemberian imunisasi polio adalah upaya untuk mencegah penyakit yang menyerang sistem saraf dan otot manusia.

Meski manfaatnya sangat banyak, ada beberapa kondisi yang membuat anak perlu menunda bahkan tidak mendapatkan vaksin polio, yaitu:

Alergi yang mematikan

Bila anak Anda memiliki alergi yang sangat parah sampai bisa mengancam nyawa karena bahan dalam vaksin, sebaiknya tidak mendapatkan imunisasi polio. Alergi yang membahayakan ini (anafilaktik) seperti:

Konsultasikan dengan dokter atau petugas medis lain bila anak Anda memiliki alergi yang sangat berbahaya pada jenis obat tertentu.

Menderita sakit ringan (tidak enak badan)

Imunisasi tidak bisa anak terima ketika ia sedang menderita sakit ringan, seperti batuk, pilek, atau demam.

Dokter akan menyarankan untuk menunda pemberian vaksin dan meminta Anda untuk datang ketika si kecil sudah dalam keadaan sehat. 

Namun, IDAI menyarankan anak yang sedang batuk pilek tanpa demam, tetap bisa mendapatkan imunisasi polio oral (OPV), tetapi tidak untuk IPV. 

Efek samping vaksin polio

bayi mandi saat demam setelah vaksin polio

Sama dengan kinerja obat, imunisasi juga memiliki dampak dan pengaruh setelah pemberiannya.

Namun efek samping imunisasi yang ditimbulkan cenderung ringan dan bisa hilang dengan sendirinya. Berikut efek samping ringan setelah vaksin polio:

  • Demam ringan setelah imunisasi
  • Nyeri pada bekas suntikan
  • Pengerasan kulit pada area suntikan

Dampak imunisasi polio bisa hilang dengan sendirinya dalam waktu 2-3 hari, sehingga Anda tidak perlu khawatir anak bisa sakit setelah imunisasi.

Namun pada kasus yang sangat jarang terjadi, imunisasi polio memiliki efek samping cukup parah, yaitu:

  • Nyeri bahu
  • Pingsan
  • Reaksi alergi parah yang terjadi beberapa menit atau jam setelah menerima vaksin

Kasus tersebut sangat jarang terjadi, perbandingannya adalah 1 dari 1 juta pemberian vaksin.

Reaksi alergi yang terjadi biasanya seperti sesak napas, detak jantung berdegup kencang, kelelahan sangat parah, sampai napas yang berbunyi.

Kapan harus ke dokter?

periksa ke dokter

Anda perlu berkonsultasi ke dokter ketika anak Anda mengalami efek samping berat setelah pemberian vaksin polio. Berikut beberapa kondisi yang membuat Anda perlu berkonsultasi ke dokter, mengutip dari Family Doctor:

  • Ruam kulit (gatal sampai seperti terbakar)
  • Mengalami masalah pernapasan
  • Tubuh dingin, lembap, berkeringat
  • Hilang kesadaran

Saat berkonsultasi dengan dokter, beritahu bahwa anak Anda baru mendapatkan imunisasi polio, sehingga bisa petugas medis bisa menanganinya sesuai kondisi.

Namun harus dipahami bahwa manfaat imunisasi lebih besar dibanding efek sampingnya, sehingga penting diberikan untuk si kecil.

Pasalnya, anak yang tidak mendapat imunisasi lebih rentan terkena penyakit berbahaya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

polio adalah

Polio, Penyakit yang Menyebabkan Kelumpuhan Otot

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
imunisasi mencegah penyakit

Daftar Penyakit Berbahaya yang Bisa Dicegah Dengan Imunisasi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2017 . Waktu baca 8 menit

Neuropati Radialis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2016 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Masalah Kesehatan Akibat Pencemaran Air di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 21 Juni 2016 . Waktu baca 7 menit