Vaksin Flu: Ketahui Manfaat, Efek Samping, dan Jadwal Pemberian pada Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Ada berbagai jenis imunisasi yang harus diberikan pada anak sejak usia baru lahir. Salah satu vaksin yang perlu diberikan pada si kecil adalah influenza atau flu saat ia berusia 6 bulan. Manfaat imunisasi ini adalah mengurangi risiko dan keparahan anak ketika terserang flu. Berikut penjelasan seputar vaksin flu (influenza) pada anak dan orang dewasa.

Apa itu vaksin flu (influenza)?

jenis vaksin influenza

Imunisasi influenza adalah salah satu cara untuk menekan risiko dan tingkat keparahan seseorang yang terkena flu.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan jadwal imunisasi influenza dimulai sejak bayi berusia 6 bulan dan diulang setiap tahun. 

Influenza adalah penyakit serius yang dapat menyebabkan rawat inap dan bahkan kematian. Setiap musim flu berbeda-beda, dan infeksi influenza dapat mempengaruhi setiap orang dengan berbeda.

Bahkan orang yang sehat dapat menjadi sangat sakit akibat flu dan menularkannya ke orang lain.

Mengutip dari Immunize, flu bisa menyebabkan radang paru-paru, infeksi darah, diare dan kejang pada anak. Kondisi akan semakin parah bila seseorang memiliki kondisi medis tertentu, seperti penyakit jantung atau paru-paru. 

Meski terkesan sepele, flu bisa membuat kondisi seseorang sangat parah dan memburuk. Terutama pada lansia berusia 65 tahun ke atas, perempuan hamil, anak-anak, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Siapa yang perlu mendapat vaksin flu (influenza)?

gejala flu singapura pada anak

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin flu diberikan sesuai usia anak. Berikut rinciannya:

  • Bayi usia 6-35 bulan: 0,25 ml
  • Anak usia di atas 3 tahun: 0,5 ml

Untuk anak usia kurang 8 tahun yang baru melakukan vaksin flu pertama kali, diperlukan dua kali imunisasi dengan jarak minimal 4-6 minggu.

Sementara bila anak di atas usia 8 tahun, hanya satu kali dan diulang setiap tahun. Tidak seperti imunisasi hepatitis B yang diulang hanya sampai usia bayi kurang dari satu tahun.

Selain anak-anak, vaksin flu juga perlu diberikan kepada beberapa kelompok, yaitu:

  • Orang-orang berusia 50 tahun ke atas
  • Orang-orang dengan penyakit paru kronis (termasuk asma), kardiovaskular (kecuali hipertensi), ginjal, hati, neurologis, hematologis, atau kelainan metabolisme (termasuk diabetes mellitus)
  • Orang-orang dengan imunosupresi (termasuk imunosupresi yang disebabkan pengobatan atau HIV)
  • Wanita yang sedang atau akan hamil selama musim influenza dan wanita hingga 2 minggu setelah persalinan
  • Orang yang berusia 6 bulan hingga 18 tahun dan menerima terapi aspirin jangka panjang dan yang dapat berisiko mengalami sindrom Reye setelah infeksi virus influenza
  • Orang-orang yang tinggal di panti jompo atau fasilitas layanan medis kronis lain
  • Orang-orang dengan obesitas ekstrim (indeks massa tubuh 40 atau lebih)
  • Petugas pelayanan medis

Untuk memudahkan, Anda bisa memberitahu petugas kesehatan mengenai kondisi tubuh yang sedang dan pernah dialami. Ini membuat Anda ditangani dengan cara yang tepat.

Siapa saja yang tidak dianjurkan mendapat vaksin influenza?

perbedaan influenza dan alergi

Daftar orang-orang yang tidak boleh mendapatlan vaksin influenza menurut CDC, yaitu:

Bayi dibawah usia 6 bulan

Imunisasi pada anak di bawah usia 6 bulan tidak disarankan. Bayi yang baru lahir memperoleh sistem kekebalan tubuh dari ibunya hingga beberapa minggu. Setelah itu, sistem imunnya akan berkembang dan akhirnya kuat.

Sebelum memasuki usia 6 bulan, respons imun pada tubuh bayi masih belum memenuhi syarat untuk diberikan vaksin flu. Bila vaksin flu diberikan, justru bisa menimbulkan masalah kesehatan tertentu.

Pasalnya, vaksin terbuat dari virus yang sudah dilemahkan kemampuannya. Meski begitu, sistem kekebalan bayi di bawah 6 tahun belum kuat sama sekali, jadi tetap tidak bisa bertahan menghadapi virus yang ada di dalam vaksin flu.

Untuk menghindari bayi dari penyebaran virus, orang-orang yang berada di dekat mereka perlu mendapatkan vaksin flu. Setelah bayi berusia 6 bulan atau lebih, mereka baru boleh diberikan vaksin.

Pada usia ini, sistem imun bayi sudah mampu melawan virus flu. Ini penting untuk mencegah bayi dari kejang atau diare, bahkan kematian akibat komplikasi flu di kemudian hari.

Orang yang sedang sakit

Ketika sakit sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah, misalnya saat Anda demam tinggi. Bila pada kondisi tersebut Anda diberikan vaksin, sistem imun harus bekerja lebih berat; melawan virus di tubuh sekaligus virus dari vaksin.

Ini bisa menyebabkan gejala yang ditimbulkan setelah vaksinasi menjadi lebih parah. Jadi, pilihan amannya adalah mendapatkan vaksin setelah tubuh benar-benar pulih dari penyakit.

Kelompok orang ini harus konsultasi ke dokter dulu sebelum vaksin flu

Di Indonesia, pemberian vaksin influenza belum diwajibkan. Orang yang memiliki kondisi berikut harus melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter mengenai manfaat dan risiko yang akan didapatkan setelah menerima vaksin.

Beberapa kondisi yang butuh pertimbangan dari dokter sebelum melakukan vaksinasi flu, meliputi:

Orang yang memiliki alergi terhadap komponen vaksin

Awalnya Centers for Disease and Prevention (CDC) tidak merekomendasikan pemberian vaksin flu pada orang yang memiliki alergi telur. Vaksin flu diketahui menyebabkan reaksi alergi pada orang dengan alergi telur.

Sebab vaksin yang diberikan melalui suntikan mengandung sedikit protein telur, yaitu ovalbumin. Ini dikhawatirkan akan menimbulkan gejala gatal dan bentol pada kulit.

Namun, terjadi perubahan terhadap aturan tersebut. Orang dengan alergi tetap bisa mendapatkan vaksin flu. Namun ada beberapa syarat, yaitu vaksin yang diberikan sesuai dengan kondisi, usia, dan tentunya berlisensi.

Anak alergi telur dianjurkan melakukan vaksinasi di rumah sakit, sebagai upaya perawatan tindak lanjut jika ada reaksi alergi parah yang terjadi.

Sebagai contoh pembengkakan di tubuh, gangguan pernapasan, pusing, atau muntah berulang. Biasanya, pasien akan diamati reaksinya selama 30 menit setelah menerima vaksin flu.

Orang dengan kondisi Guillain Barre Syndrome (GBS)

Sindrom Guillain-Barré adalah gangguan autoimun langka yang menyebabkan sistem kekebalan menyerang sel-sel saraf yang sehat. Kondisi ini menyebabkan kelemahan, mati rasa, kesemutan, bahkan  kelumpuhan.

Penyebab kondisi ini tidak diketahui, tetapi akan muncul ketika seorang dalam keadaan sakit, seperti flu atau infeksi paru-paru. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan.

Namun, beberapa obat dapat mengurangi keparahan gejala dan memperpendek durasi penyakit.

Flu yang menjadi salah satu pemicu GBS membuat pemberian vaksin sangat diawasi. Sebab, pada kebanyakan orang yang memiliki riwayat penyakit GBS, komplikasi berat berisiko tinggi terjadi setelah vaksinasi.

Apa efek samping vaksin influenza?

mencegah influenza pada anak

Pada umumnya, efek samping dari imunisasi yang timbul setelah disuntikkan vaksin influenza tidak terlalu berbahaya. Hal ini bisa terjadi kepada anak-anak hingga orang dewasa. Agar tidak panik, berikut efek samping dari vaksin flu yang sering terjadi. 

Efek samping yang umum terjadi

Efek samping dari imunisasi biasanya tidak parah. Berikut beberapa dampak vaksin yang umum terjadi:

1. Kulit memerah pada area suntikan

Salah satu efek yang sering muncul setelah vaksinasi adalah kulit memerah pada bagian yang disuntikkan, biasanya pada lengan bagian atas. Setelah disuntik, kulit Anda akan mengalami gejala berupa:

  • Kulit kemerahan
  • Rasa nyeri dan hangat
  • Pembengkakan pada area tersebut

Tidak perlu khawatir, kondisi ini hanya berlangsung paling lama 2 hari setelah vaksin dilakukan. Namun, jika tidak nyaman dengan kondisi ini, mengonsumsi obat penghilang rasa nyeri, seperti ibuprofen.

2. Sakit kepala dan nyeri otot

Selain reaksi pada daerah yang disuntik, beberapa orang merasakan pusing dan sakit kepala setelah disuntikkan vaksin flu (influenza).

Tidak hanya itu, otot-otot Anda juga terasa nyeri dan pegal. Kondisi ini masih terbilang normal dan biasanya akan berlangsung hingga 2 hari. 

Supaya meringankan efek samping dari vaksin flu yang dialami, Anda bisa mengonsumsi obat pereda nyeri. Akan tetapi, obat tersebut hanya diperbolehkan untuk orang dewasa, setidaknya berusia di atas 16 tahun.

Selain itu, tidak dianjurkan bagi ibu hamil yang menderita gejala ini untuk meminum obat yang sama.

3. Demam

Biasanya selama 2 hari setelah vaksin flu, suhu badan akan meningkat alias Anda akan mengalami demam. Selama demam tidak melebihi 38 derajat Celcius, Anda tak perlu khawatir karena hal ini akan hilang dengan sendirinya.

Memang tidak diperlukan pengobatan khusus untuk mengatasi hal ini. Akan tetapi, jika ingin lekas sembuh karena mengganggu aktivitas harian, terdapat beberapa pilihan pengobatan untuk demam. 

Beberapa pilihan pengobatan untuk atasi demam yaitu:

  • Mengonsumsi obat penurun panas, seperti paracetamol sesuai takaran
  • Meminum obat-obatan seperti ibuprofen untuk melawan peradangan

Untuk anak-anak dan orang dewasa, disarankan minum air putih yang banyak agar tubuh tidak dehidrasi.

4. Badan terasa lesu hingga pingsan

Menurut laporan dari VAERS, 62 persen remaja yang diberikan vaksin influenza mengalami efek samping berupa badan lemas sampai pingsan.

Walaupun kondisi ini sangat normal bagi beberapa orang dan tidak berbahaya, tidak sadarkan diri bisa menyebabkan cedera apabila tidak langsung ditangkap oleh orang sekitar.

Cara mencegah terjadinya kondisi ini bisa dilakukan dengan memberikan camilan sebelum imunisasi dan duduk atau berbaring untuk beberapa saat setelah vaksin influenza disuntikkan.

Efek samping sangat langka yang serius

Setelah Anda mengetahui beberapa gejala efek samping yang ternyata memang umum terjadi, ternyata masih ada beberapa efek samping vaksin influenza yang jarang terjadi tapi cukup serius.

Apabila Anda mengalaminya segera konsultasikan kepada dokter Anda untuk mendapatkan perawatan.

1. Demam tinggi

Walaupun demam merupakan dampak yang sangat normal setelah vaksinasi, suhu badan lebih dari 38 derajat celcius adalah hal yang patut dikhawatirkan.

Apabila mengalami hal ini, segera datangi klinik atau dokter terdekat untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

2. Anafilaktik

Anafilaktik adalah reaksi alergi yang bisa menyebabkan pingsan hingga kematian. Gangguan ini sangat jarang terjadi setelah imunisasi dilakukan, seperti: 

  • Detak jantung yang cepat dan lemah
  • Mual dan muntah
  • Ruam pada kulit
  • Penurunan kesadaran

Apabila Anda mengalami gejala-gejala di atas, konsultasikan kepada dokter Anda untuk mengetahui apa yang harus dilakukan.

3. Reaksi alergi lainnya

Pada kasus tertentu, efek samping dari vaksin influenza dapat menimbulkan reaksi alergi yang cukup serius, seperti:

  • Gatal-gatal
  • Pembengkakan
  • Sulit bernapas
  • Detak jantung lebih cepat
  • Pusing
  • Badan terasa lesu

Gejala ini dikategorikan sebagai efek samping yang cukup berbahaya. Apabila Anda mengalami kondisi tersebut, segera datangi IGD untuk perawatan lebih lanjut.

Efek samping vaksin influenza memang tidak begitu berbahaya. Kebanyakan gejala yang ditimbulkan sifatnya umum dan hanya berlangsung sebentar.

Maka, memberi anak vaksin sangat penting karena anak yang tidak diimunisasi atau anak terlambat imunisasi justru lebih rentan terkena penyakit.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin PCV : Ketahui Manfaat, Jadwal, dan Efek Sampingnya

Vaksin PCV atau pneumokokus adalah salah satu dari rangkaian imunisasi yang perlu diberikan pada anak. Ini penjelasan lengkap seputar vaksin PCV.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24 Juli 2020 . Waktu baca 9 menit

Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penularan Penyakit

Batuk ada etikanya, tak bisa sembarangan. Bukan cuma masalah kesopanan, tapi juga demi kesehatan. Simak etika batuk yang benar di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Konten Bersponsor
Batuk ke arah siku etika batuk
Batuk, Kesehatan Pernapasan 2 Juli 2020 . Waktu baca 7 menit

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Para ahli menemukan mutasi baru pada coronavirus yang membuatnya lebih mudah menginfeksi. Apakah virus ini lebih berbahaya dari sebelumnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 25 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Vaksin Rotavirus, Bermanfaat untuk Mencegah Diare Parah pada Anak

Vaksin rotavirus termasuk ke dalam imunisasi tambahan yang dianjurkan IDAI. Mengapa vaksin ini perlu diberikan dan adakah efek sampingnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24 Juni 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

imunisasi yang harus diulang

Daftar Imunisasi Anak yang Harus Diulang

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Imunisasi untuk Remaja

Daftar Imunisasi Penting untuk Anak Usia 9-16 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit
imunisasi vaksin hib

Vaksin HiB: Manfaat, Efek Samping, dan Jadwalnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit
masker n95 mencegah penularan covid-19

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit