5 Jenis Batuk Pada Anak, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/05/2020
Bagikan sekarang

Batuk pada anak memang cukup sering terjadi, terutama ketika anak sedang flu. Batuk tersebut biasanya akan sembuh seiring dengan pulihnya tubuh dari penyakit tersebut. Meski begitu, sebagai orangtua Anda perlu memerhatikan jenis batuk tersebut. Pasalnya, ada beberapa penyakit yang gejalanya adalah batuk dan perlu penanganan dari dokter, tidak bisa sekadar melakukan pengobatan batuk di rumah. Untuk mencegah kondisinya bertambah parah, kenali jenis-jenis batuk pada anak berikut ini.

Batuk pada anak yang perlu diwaspadai

anak batuk pilek

Walaupun gejalanya berupa batuk, kemungkinan perbedaan batuk bisa dilihat dari gejala yang menyertainya dan bunyi pada batuk itu sendiri. Berikut penjelasannya:

1. Batuk berdahak pada anak

Anak-anak sering kali terkena batuk karena pilek atau flu. Ini menyebabkan hidung menjadi tersumbat atau berair, nafsu makan berkurang, mata berair, dan sakit tenggorokan. Saat pilek, batuk berdahak juga sering menyertai dan biasanya sembuh dalam 1-2 minggu.

Namun, bila demam terus terjadi disertai berubahnya warna ingus menjadi kehijauan, segera periksa ke dokter. Dikhawatirkan terjadi infeksi bakteri pada anak. Menggunakan humidifier (alat pelembap udara), mandi dengan air hangat, serta mengonsumsi makanan atau minuman yang hangat bisa melegakan saluran napas anak dan meredakan sakit tenggorokan.

2. Batuk mirip mengi pada anak

Batuk pada anak ini terdengar seperti gejala batuk asma yaitu mengi. Mengi adalah suara napas yang mirip siulan bernada tinggi seperti ngik-ngik. Ini memang umum terjadi pada anak yang berusia 6 bulan sampai 3 tahun.

Batuk ini biasanya akan membaik pada siang hari, namun akan memburuk pada malam hari atau saat udara sekitarnya terasa dingin. Biasanya akan bertambah parah saat anak menangis atau merasa gelisah.

Batuk tersebut bisa disebabkan oleh penyakit croup, yaitu infeksi saluran pernapasan yang memengaruhi tenggorokan (trakea), bronkus (saluran udara ke paru-paru), dan laring (kotak suara) sehingga mengalami peradangan atau dipenuhi dengan lendir. Selain batuk mengi, gejala lain yang meliputinya adalah bernapas menjadi lebih cepat.

Untuk meringankan kondisi batuk, menjaga agar anak tidak kedinginan merupakan cara termudah yang bisa dilakukan orangtua.

Anda bisa menyalakan humidifier atau pelembap ruangan supaya suhu kamar menjadi lebih hangat sehingga membantunya meringankan jalan pernapasan. Kemudian, tenangkan anak bila ia menangis atau merasa gelisah. Pastikan juga kebutuhan cairan anak tercukupi untuk menghindari dehidrasi.

Batuk ini umumnya bisa ditangani di rumah dan mengonsumsi obat-obatan seperti ibuprofen atau acetaminophen. Namun, bila kondisinya tidak membaik, segera pergi ke dokter. Bila serangan batuk pada anak terjadi secara tiba-tiba disertai kesulitan bernapas atau mengi terjadi lebih dari lima menit hingga warna kulit di sekitar mulut anak berubah, segera bawa ke dokter.

3. Batuk kering di malam hari

Batuk ini akan memburuk ketika di malam hari atau sehabis beraktivitas fisik. Ini merupakan gejala utama asma pada anak-anak. Penyakit asma merupakan kondisi paru-paru yang meradang dan menyempit sehingga menghasilkan lendir berlebih.

Dilansir dari laman Parents, dr. Debbie Lonzer, seorang asisten dokter anak di Cleveland Clinic Children’s Hospital, mengatakan bahwa lendir di paru-paru menyebabkan sensasi menggelitik sehingga anak-anak dengan kondisi asma menjadi batuk.

Selain batuk, kondisi anak yang kurus, sering mengangkat dada ketika bernapas, atau mudah lelah bisa menjadi pertanda bahwa anak memiliki asma. Apalagi bila anak pernah mengalami kesulitan bernapas. Untuk memastikannya, periksa ke dokter.

Mencegah terjadinya serangan pada asma bisa dilakukan dengan menghindari pemicunya. Untuk kasus ringan, anak mungkin membutuhkan bronkodilator inhalasi dan obat pengendali asma.

4. Batuk tersengal-sengal

Ketika anak (terutama usia di bawah 2 tahun) mengalami batuk tersengal, bernapas dengan cepat dan suaranya terdengar serak, kemungkinan anak mengalami infeksi bronkiolus (bronkiolitis). Bronkiolitis adalah kondisi di mana saluran kecil pada paru-paru mengalami pembengkakan dan berlendir.

Menurut American Academy of Pediatrics, infeksi yang disebabkan oleh virus sinsitial pernapasan ini tidak memerlukan sinar-X pada dada atau tes darah.

Dokter bisa mendiagnosis penyakit dengan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan secara menyeluruh. Untuk kasus berat, anak mungkin memerlukan perawatan dari rumah sakit untuk menerima oksigen, cairan, dan obat-obatan.

5. Batuk rejan pada anak

Batuk rejan atau dikenal dengan pertusis terjadi akibat bakteri pertusis yang menyerang saluran pernapasan. Ini menyebabkan peradangan dan mempersempit bahkan menghalangi saluran pernapasan.

Bayi berisiko tinggi mengalami batuk ini. Apabila usianya belum mencapai satu tahun, ia harus mendapatkan perawatan di rumah sakit serta pengobatan antibiotik untuk mengobati batuk pada bayi karena pertusis.

Gejala batuk rejan awalnya seperti flu, tapi akan muncul batuk pada minggu kedua. Batuknya biasanya lebih cepat dari batuk biasa disertai keluarnya semburan, bahkan bisa muntah atau tersedak karena napas berhenti sejenak.

Penyakit ini mudah menular dan bersifat sangat lama, bahkan batuknya bisa bertahan hingga lebih dari 6 bulan. Oleh karena itu, penyakit ini dikenal juga dengan istilah batuk 100 hari.

Tips agar batuk pada anak cepat sembuh

Tentunya ada tips-tips meredakan batuk anak supaya cepat sembuh. Bila anak batuk, orangtua bisa melakukan beberapa cara meredakan batuk berikut ini:

1. Anak harus istirahat cukup

Ketika batuk pada anak terjadi, anak perlu istirahat yang cukup. Lama istirahatnya tergantung dari parahnya batuk dan seberapa berat gejala lainnya, seperti demam atau pilek. Saat terserang batuk, biasanya anak membutuhkan 2-3 hari untuk istirahat.

Pastikan anak istirahat di rumah dengan tidur cukup dan tidak menjalani aktivitas yang bisa memperlambat penyembuhan batuk. Maka dari itu, kurangi dulu bermain di luar rumah.

Istirahat dan tidur yang cukup adalah salah satu kunci penyembuhan batuk. Namun, pada anak-anak memang tak mudah, terlebih jika si kecil tergolong aktif.  

Apakah anak perlu absen dari sekolah bisa dilihat dari seberapa parah batuk yang dialami. Jika kondisi batuk terjadi berulang kali sampai kondisi anak lemas, lebih baik istirahat di rumah 1-2 hari sampai gejala batuk membaik.

2. Minum obat batuk khusus anak

Penanganan batuk pada anak tergantung dari penyebab dasarnya. Pemberian obat batuk pada anak harus memperhatikan jenis obatnya, seberapa banyak dosisnya, berapa kali sehari harus diberikan.

Pemberian obat batuk sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter. Umumnya batuk sering disebabkan oleh virus, yang mana biasanya akan sembuh sendiri tanpa harus ditangani pakai obat (self limiting disease).

Untuk sementara, orangtua bisa memberikan obat batuk pada anak yang dibeli di apotek. Akan tetapi, pilih obat batuk yang diformulasikan khusus untuk anak, dan yang sesuai dengan jenis batuk anak Anda.

Memilih obat batuk alami menjadi pilihan minim risiko dan lebih efektif untuk mempercepat penyembuhan batuk pada anak.

Umumnya dosis obat batuk anak dari dokter diberikan berbeda-beda berdasarkan usia anak. Namun, ada baiknya periksa ke dokter spesialis anak untuk mengetahui dosis obat batuk yang pas berdasarkan kondisi anak Anda.

Sedangkan bila ingin memberi obat batuk sirup yang di jual di pasaran, orangtua harus mengikuti aturan pakai yang ada di label kemasan. Ingat, selalu gunakan sendok takar. Jangan menggunakan sendok lain untuk anak minum obat batuk.

Penting untuk mengikuti petunjuk pemakaian obat, jangan melebihkan atau mengurangi dosis yang dianjurkan dalam kemasan obat batuk anak.  Bila sudah minum obat dan batuk tidak kunjung sembuh dalam 1-2 minggu, segera bawa anak ke dokter.

3. Berikan anak cairan yang cukup

Untuk merawat anak yang sedang batuk, orangtua juga dapat memastikan anak minum air yang cukup guna mencegah dehidrasi. Orangtua juga dapat memberikan ASI yang cukup apabila si kecil masih mengonsumsi ASI. Jangan sampai anak dehidrasi karena kondisi ini dapat membuat batuk pada anak makin parah kondisinya.

4. Hindari makanan atau minuman penyebab batuk

Saat anak mengalami batuk, hindari mengonsumsi makanan dan minuman tertentu. Misalnya minuman manis, minuman dingin, dan makanan yang digoreng. Disarankan untuk memberikan makanan berkuah hangat yang bisa menghindari batuk karena gatal di tenggorokan.

5. Jauhkan anak dari pemicu alergi

Jika anak mengalami gejala batuk alergi, hindari alergen (pemicu alergi) pada anak. Perhatikan juga kebersihan kasur dan lingkungan rumah. Umumnya debu, jamur, dan bulu hewan peliharaan mudah menempel di sofa atau kasur yang bisa sebabkan anak batuk karena alerginya kumat.

6. Pilih posisi tidur yang paling nyaman

Usahakan anak tidur dengan posisi kepala yang agak diangkat. Maka, ganjal kepala anak dengan bantal yang tinggi saat tidur dan hindari tidur telentang. Tidur telentang bisa bikin lendir menumpuk di tenggorokan dan mengganggu pernapasan anak.

Kapan sebaiknya periksa ke dokter?

gejala asma pada anak ke dokter

Karena penyebab yang mendasari batuk pada anak itu bermacam-macam, perhatikan gejala selain batuk yang menyertainya. Bila batuk disebabkan oleh penyakit ringan, seperti flu, Anda bisa mendapatkan obatnya lebih mudah.

Namun, bila kondisi batuk sangat mengganggu, melakukan pemeriksaan ke dokter merupakan langkah yang tepat. Dokter bisa menyarankan pengobatan yang paling efektif untuk mempercepat proses penyembuhan.

Berikut adalah gejala batuk pada anak yang menandakan si kecil perlu segera di bawa ke dokter:

  • Anak batuk disertai demam tinggi
  • Anak sampai sulit bernapas karena batuk
  • Batuk rejan
  • Nyeri dada
  • Anak sulit atau tidak mau makan
  • Anak mengalami batuk darah
  • Anak mengalami batuk disertai muntah-muntah

Penting untuk memeriksakan ke dokter apabila batuk pada anak sudah berlangsung lebih dari 2 minggu. Selain itu, apabila batuk pada anak sembuh dan kambuh terus selama lebih dari 3 bulan, orangtua wajib periksakan anak ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hindari Risiko Efek Samping Obat, Pilihlah Obat Batuk Alami untuk Ibu Hamil

Jika ingin menghindari risiko efek samping dari obat apotek, sebaiknya gunakan berbagai obat batuk alami untuk ibu hamil ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Batuk, Health Centers 04/10/2019

Anak Batuk Terus Menerus, Apa Ortu Harus Khawatir?

Jika anak mengalami batuk yang terus menerus muncul dan tidak kunjung membaik, apakah orang tua harus waspada? Simak ulasannya di Hello Sehat.

Ditulis oleh: Shylma Na'imah

Mucohexin

PenggunaanUntuk apa mucohexin digunakan? Mucohexin adalah sebuah merek obat yang tersedia dalam bentuk sirup. Obat ini mengandung bromhexine sebagai kandungan utamanya. Bromhexine termasuk ke dalam golongan obat ...

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

Batuk Berdahak

Batuk berdahak adalah jenis batuk yang seringnya disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan. Cari tahu gejala, penyebab, obat, dan cara mengatasinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Direkomendasikan untuk Anda

puasa saat flu saat puasa

Kena Flu Saat Puasa Itu Baik! Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020
cara memilih obat batuk

Jangan Asal Pilih Obat Batuk, Kenali Dulu 4 Gejala Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 18/02/2020
mengatasi batuk berdahak

3 Tips yang Dapat Dilakukan Agar Batuk Berdahak Cepat Hilang

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 24/01/2020
Bahan-bahan obat batuk alami

Efektif Menghentikan Batuk, Coba 13 Ragam Obat Batuk Alami Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24/10/2019