5 Jenis Batuk Pada Anak dan Masing-masing Penyebabnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Batuk pada anak memang cukup sering terjadi, terutama ketika anak sedang flu. Batuk tersebut biasanya akan sembuh seiring dengan pulihnya tubuh dari penyakit tersebut. Meski begitu, sebagai orangtua Anda perlu memerhatikan jenis batuk tersebut. Pasalnya, ada beberapa penyakit yang gejalanya adalah batuk dan perlu penanganan dari dokter, tidak bisa sekadar melakukan pengobatan di rumah. Untuk mencegah kondisinya bertambah parah, kenali jenis-jenis batuk pada anak berikut ini.

Batuk pada anak yang perlu diwaspadai

Walaupun gejalanya berupa batuk, kemungkinan perbedaan batuk bisa dilihat dari gejala yang menyertainya dan bunyi pada batuk itu sendiri. Berikut penjelasannya:

1. Batuk berdahak

Anak-anak sering kali terkena flu. Ini menyebabkan hidung menjadi tersumbat atau berair, nafsu makan berkurang, mata berair, dan sakit tenggorokan. Saat flu, batuk juga sering menyertai dan biasanya sembuh dalam 1-2 minggu.

Namun, bila demam terus terjadi disertai berubahnya warna ingus menjadi kehijauan, segera periksa ke dokter. Dikhawatirkan terjadi infeksi bakteri pada anak. Menggunakan humidifier (alat pelembap udara), mandi dengan air hangat, serta mengonsumsi makanan atau minuman yang hangat bisa melegakan saluran napas anak dan meredakan sakit tenggorokan.

2. Batuk mirip mengi

Batuk ini terdengar seperti gejala asma yaitu mengi. Mengi adalah suara napas yang mirip siulan bernada tinggi seperti ngik-ngik. Ini memang umum terjadi pada anak yang berusia 6 bulan sampai 3 tahun. Batuk ini biasanya akan membaik pada siang hari, namun akan memburuk pada malam hari atau saat udara sekitarnya terasa dingin. Biasanya akan bertambah parah saat anak menangis atau merasa gelisah.

Batuk tersebut bisa disebabkan oleh penyakit croup, yaitu infeksi saluran pernapasan yang memengaruhi tenggorokan (trakea), bronkus (saluran udara ke paru-paru), dan laring (kotak suara) sehingga mengalami peradangan atau dipenuhi dengan lendir. Selain batuk mengi, gejala lain yang meliputinya adalah bernapas menjadi lebih cepat.

Untuk meringankan kondisi batuk, menjaga agar anak tidak kedinginan merupakan cara termudah yang bisa dilakukan orangtua. Anda bisa menyalakan humidifier atau pelembap ruangan supaya suhu kamar menjadi lebih hangat sehingga membantunya meringankan jalan pernapasan. Kemudian, tenangkan anak bila ia menangis atau merasa gelisah. Pastikan juga kebutuhan cairan anak tercukupi untuk menghindari dehidrasi.

Batuk ini umumnya bisa ditangani di rumah dan mengonsumsi obat-obatan seperti ibuprofen atau acetaminophen. Namun, bila kondisinya tidak membaik, segera pergi ke dokter. Bila serangan batuk terjadi secara tiba-tiba disertai kesulitan bernapas atau mengi terjadi lebih dari lima menit hingga warna kulit di sekitar mulut anak berubah, segera bawa ke dokter.

3. Batuk kering di malam hari

Batuk ini akan memburuk ketika di malam hari atau sehabis beraktivitas fisik. Ini merupakan gejala utama asma pada anak-anak. Penyakit asma merupakan kondisi paru-paru yang meradang dan menyempit sehingga menghasilkan lendir berlebih. Dilansir dari laman Parents, dr. Debbie Lonzer, seorang asisten dokter anak di Cleveland Clinic Children’s Hospital, mengatakan bahwa lendir di paru-paru menyebabkan sensasi menggelitik sehingga anak-anak dengan kondisi asma menjadi batuk.

Selain batuk, kondisi anak yang kurus, sering mengangkat dada ketika bernapas, atau mudah lelah bisa menjadi pertanda bahwa anak memiliki asma. Apalagi bila anak pernah mengalami kesulitan bernapas. Untuk memastikannya, periksa ke dokter.

Mencegah terjadinya serangan pada asma bisa dilakukan dengan menghindari pemicunya. Untuk kasus ringan, anak mungkin membutuhkan bronkodilator inhalasi dan obat pengendali asma.

4. Batuk tersengal-sengal

Ketika anak (terutama usia di bawah 2 tahun) mengalami batuk tersengal, bernapas dengan cepat dan suaranya terdengar serak, kemungkinan anak mengalami infeksi bronkiolus (bronkiolitis). Bronkiolitis adalah kondisi di mana saluran kecil pada paru-paru mengalami pembengkakan dan berlendir.

Menurut American Academy of Pediatrics, infeksi yang disebabkan oleh virus sinsitial pernapasan ini tidak memerlukan sinar-X pada dada atau tes darah. Dokter bisa mendiagnosis penyakit dengan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan secara menyeluruh. Untuk kasus berat, anak mungkin memerlukan perawatan dari rumah sakit untuk menerima oksigen, cairan, dan obat-obatan.

5. Batuk rejan

Batuk rejan atau dikenal dengan pertusis terjadi akibat bakteri pertusis yang menyerang saluran pernapasan. Ini menyebabkan peradangan dan mempersempit bahkan menghalangi saluran pernapasan. Bayi berisiko tinggi mengalami penyakit ini dan bila usianya belum mencapai satu tahun, ia harus mendapatkan perawatan di rumah sakit serta pengobatan antibiotik.

Gejala batuk rejan awalnya seperti flu, tapi akan muncul batuk pada minggu kedua. Batuknya biasanya lebih cepat dari batuk biasa disertai keluarnya semburan, bahkan bisa muntah atau tersedak karena napas berhenti sejenak. Penyakit ini mudah menular dan bersifat sangat lama, bahkan batuknya bisa bertahan hingga lebih dari 6 bulan. Oleh karena itu, penyakit ini dikenal juga dengan istilah batuk 100 hari.

Karena penyebab yang mendasari batuk pada anak itu bermacam-macam, perhatikan gejala selain batuk yang menyertainya. Bila batuk disebabkan oleh penyakit ringan, seperti flu, Anda bisa mendapatkan obatnya lebih mudah. Namun, bila kondisi batuk sangat mengganggu, melakukan pemeriksaan ke dokter merupakan langkah yang tepat. Dokter bisa menyarankan pengobatan yang paling efektif untuk mempercepat proses penyembuhan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca