Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Anak Batuk Sampai Muntah? Ini Penyebabnya

Anak Batuk Sampai Muntah? Ini Penyebabnya

Pernah melihat anak batuk begitu intens dan ada kalanya ia sampai muntah? Rasanya pasti tidak nyaman bagi anak yang mengalami ini. Namun orangtua tak perlu merasa panik. Coba kenali terlebih dulu penyebab dan gejalanya.

Mengenal penyebab anak batuk sampai muntah

Batuk adalah cara tubuh melindungi diri dari bakteri dan mikroba penyebab infeksi dan penyakit. Batuk sangat mungkin timbul dari iritasi terhadap lingkungan yang memicu si kecil sensitif (berdebu atau udara dingin). Selain itu, batuk juga bisa timbul karena virus atau infeksi bakteri.

Terkadang batuk pada anak terdengar begitu keras dan kuat. Batuk yang kuat dapat berakibat muntah pada si kecil. Kenapa bisa?

Pada umumnya, anak bisa muntah begitu saja setelah ia batuk amat keras. Batuk yang keras ini memicu kontraksi otot pada perut sehingga memungkinkan anak untuk muntah.

Berikut beberapa penyebab anak terbatuk sampai muntah.

1. Pertusis

anak batuk terus menerus

Mengutip dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), pertusis bisa menjadi penyebab anak batuk sampai muntah. Pertusis atau batuk rejan bisa terjadi pada usia bayi, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pertusis bisa berkembang setelah 5-10 setelah terkena paparan.

Gejala awal pertusis meliputi:

  • Hidung meler
  • Demam ringan
  • Batuk ringan sesekali
  • Apnea (berhenti bernapas)

Awalnya, pertusis tampak seperti batuk pilek biasa. Namun, jika tidak disembuhkan segera, bisa berlanjut lebih serius. Gejala bisa berkembang ke arah:

  • Paroxysms, batuk berulang yang cepat diikuti suara “whoop” saat batuk dengan nada yang tinggi
  • Muntah saat atau setelah batuk
  • Kelelahan setelah batuk

Segera hubungi dokter bila si kecil memiliki gejala di atas.

2. Batuk pilek hingga asma

Anak laki-laki mengalami batuk di malam hari

Pada gejala batuk pilek biasa, terkadang bisa menjadi penyebab anak batuk sampai muntah. Si kecil yang sering batuk bisa memicu refleks muntah mereka. Terkadang refleks ini hanya menimbulkan rasa mual saja, tetapi adapun yang membuatnya muntah.

Di samping itu, anak sakit batuk pilek yang memang memiliki asma, bisa memicu ia muntah. Hal ini dikarenakan banyak lendir atau mukus yang mengalir ke dalam perutnya, sehingga menimbulkan rasa mual dan muntah.

3. Respiratory syncytial virus (RSV)

Batuk di malam hari pada anak

RSV merupakan infeksi yang menyerang sistem pernapasan manusia. Gejala yang timbul juga mirip dengan batuk pilek. Sebagai contoh, demam, hidung terseumbat, batuk-batuk, mengi, napas pendek, kulit pucat berwarna biru.

Penyakit ini tidak berbahaya, tetapi perlu ditangani segera. RSV juga menjadi penyebab anak mengalami batuk yang berulang, sehingga memengaruhi refleks muntah. RSV perlu segera ditangani, sebab bisa mengakibatkan komplikasi yang merambat pada pneumonia pada anak dan bronkiolitis.

Cara mencegah anak agar tidak batuk sampai muntah

obat diare anak

Ada beragam penyebab batuk sampai muntah. Namun, sebelum anak sampai pada tahap batuk dengan intensitas serius, seperti terlalu sering dan kuat, ada baiknya segera diobati.

Ibu bisa membawanya ke dokter langsung atau mengobatinya secara mandiri dengan obat yang dijual di apotek. Dengan begitu, gejala dan keluhan anak bisa segera ditangani.

Bila si kecil mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam, ataupun flu ibu memberikannya obat dengan kandungan phenylephrine. Kandungan tersebut membantu melegakan hidung tersumbat akibat batuk pilek, alergi, ataupun hay fever.

Mengutip dari Medline Plus, konsumsi phenylephrine juga dapat mempercepat pemulihan batuk pilek. Selalu baca aturan pakai pada kemasan obat agar obat bisa bekerja secara optimal. Jangan lupa ingatkan si kecil untuk istirahat, sehingga ia bisa cepat sembuh dan gejalanya berangsur menghilang.

Namun, bila Anda ingin memastikan diagnosis mengenai batuk yang dialami si kecil, ada baiknya konsultasikan ke dokter. Nantinya, dokter akan memberikan obat yang sesuai dengan kondisi si kecil.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Coughing (for Parents) – Nemours KidsHealth. (n.d.). Retrieved March 20, 2020, from kidshealth.org website: https://kidshealth.org/en/parents/childs-cough.html

Pertussis. (2019). Retrieved March 20, 2020, from https://www.cdc.gov/pertussis/about/signs-symptoms.html

Phenylephrine: MedlinePlus Drug Information. (2019, November). Retrieved March 20, 2020, from Medlineplus.gov website: https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a606008.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Maria Amanda Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
x