Osteoporosis memang identik dengan orang lanjut usia atau lansia. Namun faktanya, penyakit tulang ini juga bisa terjadi pada anak. Mengapa bisa demikian? Simak penyebab, gejala, dan cara mengobati osteoporosis pada anak melalui artikel berikut.
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None
Osteoporosis memang identik dengan orang lanjut usia atau lansia. Namun faktanya, penyakit tulang ini juga bisa terjadi pada anak. Mengapa bisa demikian? Simak penyebab, gejala, dan cara mengobati osteoporosis pada anak melalui artikel berikut.
Osteoporosis adalah kondisi ketika tulang menjadi lemah atau lebih tipis dari biasanya sehingga jadi rentan patah.
Pada anak, kondisi ini disebut dengan juvenile osteoporosis.
Sebagaimana orang dewasa, juvenile osteoporosis juga terjadi secara progresif. Artinya, tulang yang keropos berisiko semakin memburuk dari waktu ke waktu.
Penyakit ini merupakan kondisi yang langka. Biasanya, juvenile osteoporosis terjadi tepat sebelum masa pubertas atau remaja.
Seringkali, penyakit ini terdiagnosis pada anak usia 7 tahun. Namun, anak di kisaran usia 1-13 tahun juga bisa mengalaminya.
Bila tidak segera ditangani, osteoporosis bisa menimbulkan gangguan pada tumbuh kembang anak.
Bahkan, kondisi ini bisa meningkatkan risiko osteoporosis jangka panjang dan kemungkinan patah tulang yang berulang.
Seringkali, osteoporosis pada anak (juvenile osteoporosis) tidak menunjukkan tanda-tanda.
Biasanya, kondisi ini baru terdeteksi saat anak mengalami patah tulang.
Meski demikian, anak yang mengalami osteoporosis terkadang menunjukkan beberapa gejala berikut:
Meski demikian, tanda-tanda osteoporosis tersebut bisa sama dengan gangguan tulang pada anak lainnya.
Oleh karena itu, pastikan Anda selalu berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan diagnosis yang tepat.
Tulang adalah jaringan hidup yang terus tumbuh dan berkembang.
Jaringan ini secara konstan mengalami regenerasi, seperti membangun tulang baru serta memperbaiki dan mengganti tulang yang rusak.
Proses ini terus terjadi sejak lahir hingga sekitar usia 25 tahun.
Hal tersebut membantu proses tumbuh kembang anak serta mengembangkan kerangka yang kuat untuk mendukung kehidupannya.
Pada anak dengan osteoporosis, proses pembentukan tulang ini terganggu.
Mungkin hanya ada sedikit tulang baru yang terbentuk, terlalu banyak yang hilang, atau kombinasi keduanya.
Akibatnya, tulang menjadi kurang padat, kehilangan kekuatan, dan lebih mudah patah.
Terbentuknya osteoporosis pada anak kerap dikaitkan dengan faktor genetik.
Namun, sebagian besar kasus juvenile osteoporosis terjadi karena kondisi lain yang mendasarinya (secondary osteoporosis).
Berikut adalah beberapa penyebab dari secondary osteoporosis yang biasa terjadi pada anak.
Meski demikian, pada beberapa kasus, penyebab dari penyakit ini tidak diketahui.
Kondisi ini disebut dengan idiopathic juvenile osteoporosis.
Biasanya, osteoporosis juvenile terdiagnosis saat anak mengalami patah tulang.
Untuk menentukan diagnosis, dokter akan menanyakan gejala, riwayat medis anak, serta riwayat medis keluarga Anda.
Setelah itu, dokter pun akan melakukan pemeriksaan fisik pada anak untuk memastikan tanda-tanda dari osteoporosis.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter juga akan menyarankan beberapa tes pemeriksaan seperti berikut.
Jenis tes lainnya mungkin saja anak Anda perlukan untuk memastikan apakah ada kondisi medis tertentu yang menyebabkan juvenile osteoporosis.
Konsultasikan pada dokter mengenai tes pemeriksaan yang tepat terkait osteoporosis juvenile pada anak.
Pengobatan juvenile osteoporosis tergantung pada kondisi yang menyebabkannya.
Jika terjadi karena kondisi medis tertentu, dokter akan mengobati penyakit yang mendasarinya tersebut.
Namun, jika osteoporosis terjadi karena obat-obatan tertentu, dokter mungkin akan menurunkan dosis atau mengganti obat yang anak Anda konsumsi.
Sementara jika osteoporosis terjadi karena kekurangan gizi, seperti vitamin D atau kalsium, meningkatkan asupan nutrisi mungkin bisa menjadi pilihan.
Adapun meningkatkan kebutuhan kalsium pada anak bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan berkalsium tinggi, seperti susu dan produk susu, sayuran hijau, kacang-kacangan, atau biji-bijian.
Sementara meningkatkan asupan vitamin D pada anak bisa dengan berjemur di bawah matahari atau konsumsi makanan dan minuman yang mengandung vitamin D.
Bila perlu, dokter akan memberi suplemen vitamin untuk anak Anda guna membantu memenuhi nutrisi tersebut.
Selain cara tersebut, dokter mungkin akan merekomendasikan beberapa cara pengobatan lainnya untuk mengatasi osteoporosis pada anak.
Selain cara pengobatan tersebut, Stanford Children’s Health menyebut, anak Anda pun perlu mengubah gaya hidup serta menerapkan kebiasaan yang bisa membantu proses pemulihan.
Ini termasuk menjaga berat badan anak tetap sehat, melakukan jalan kaki, latihan menahan beban, hingga mengatur asupan nutrisi.
Asupan nutrisi yang perlu diperhatikan seperti memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D, mengurangi asupan minuman berkafein (seperti soda), serta mengurangi obat yang bisa membuat osteoporosis semakin parah.
Catatan
Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.
Tanya Dokter
Punya pertanyaan kesehatan?
Silakan login atau daftar untuk bertanya pada para dokter/pakar kami mengenai masalah Anda.
Ayo daftar atau Masuk untuk ikut berkomentar