Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenali dan Waspadai Gejala Penyakit Difteri yang Bisa Berakibat Fatal

Kenali dan Waspadai Gejala Penyakit Difteri yang Bisa Berakibat Fatal

Difteri adalah momok penyakit yang kembali mewabah di Indonesia sejak tahun 2017 silam. Pada kasus yang parah, difteri bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti kulit, sistem saraf, hingga bahkan ke jantung. Dampak difteri bisa lebih fatal jika terjadi pada anak-anak. Maka dari itu, simak gejala serta tanda difteri yang perlu diketahui orangtua.

Penularan difteri

gejala dan tanda difteri anak

Di Indonesia, difteri kembali mewabah karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dan vaksinasi difteri.

Padahal, anak-anak maupun orang dewasa orang-orang yang tidak pernah mendapatkan vaksin paling berisiko terhadap penularan difteri.

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri biasanya menular melalui kontak langsung dengan penderita.

Baik itu kontak kulit langsung dengan memegang benda yang terkontaminasi bakteri difteri, maupun dari menghirup udara yang mengandung partikel bakteri.

Gejala atau tanda difteri biasanya tidak langsung muncul setelah terpapar bakteri pertama kali.

Umumnya, gejala baru tampak dalam 2 hingga 5 hari setelah seseorang terinfeksi.

Bakteri akan melalui masa inkubasi terlebih dahulu yang rata-rata berlangsung selama 1-10 hari.

Gejala difteri berdasarkan jenisnya

Gejala atau tanda utama dari difteri adalah selaput abu-abu tebal yang juga dikenal dengan istilah pseudomembrane.

Selaput lendir ini tersusun dari leukosit, bakteri, pecahan sel, dan fibrin.

Selaput ini melekat pada jaringan di dasarnya sehingga bisa mengeluarkan darah ketika Anda mencoba mengangkatnya.

Lalu, selaput lendir dapat menyebar secara luas, bahkan bisa menutupi seluruh bagian tenggorokan dan cabang bronkus.

Ini merupakan salah satu hal yang menjadikan difteri penyakit menular karena dapat menghambat jalan napas dan berujung pada kematian.

Secara medis, gejala difteri dapat dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan bagian tubuh yang mengalaminya.

Dalam edisi ketiga buku Manson’s Tropical Infectious Diseases, penyakit difteri dibagi ke dalam:

  • faucial diphtheria yaitu jenis difteri paling umum yang menyerang sistem pernapasan
  • laryngeal diphtheria atau difteri laring yang menyerang pita suara,
  • nasal diphtheria yang memengaruhi saluran napas di hidung, dan
  • cutaneous diphtheria yang berdampak pada kulit.

Keempat jenis bakteri ini akan memperlihatkan tanda yang berbeda. Penting bagi Anda untuk mengenali setiap gejalanya sehingga selalu siaga melakukan penanganan.

1. Gejala difteri secara umum

Faucial diphtheria merupakan jenis difteri yang paling umum terjadi termasuk pada anak karena dapat menyerang saluran pernapasan.

Dalam selang beberapa hari, sel dalam sistem pernapasan mati dan membentuk selaput lendir tebal berwarna abu-abu.

Lama kelamaan selaput lendir ini bisa melebar sehingga menyelimuti bagian lidah hingga ke bagian dalam hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan.

Tak jarang, selaput ini menyebabkan pembengkakan pada bagian leher dan kelenjar getah bening.

Kemunculan gejala difteri yang berhubungan dengan gangguan pernapasan umumnya berlangsung secara perlahan.

Ciri-ciri faucial diphtheria

  • Sakit tenggorokan dan suara serak
  • Kelenjar getah bening membesar; leher tampak bengkak
  • Hidung mampet atau hidung mengeluarkan lendir
  • Demam dan menggigil
  • Tubuh terasa lemah, ngilu, dan nyeri (malaise)
  • Sulit menelan
  • Batuk dengan suara keras dan serak

Gejala dari komplikasi difteri pernapasan

Apabila organ yang terpengaruh dari racun bakteri merupakan jantung dan sistem saraf, maka dapat menimbulkan komplikasi.

Sebagai contoh, peradangan jantung (myocarditis), gangguan irama jantung, pelemahan otot serta saraf, dan gangguan penglihatan.

2. Gejala difteri laring

Jenis difteri kedua yang kerap dialami adalah difteri laring, khususnya oleh anak-anak.

Bakteri menyerang bagian pita suara sehingga gejala atau tanda utamanya adalah suara yang berubah serak dan terdengar bunyi bising atau stridor ketika bernapas.

Gangguan kesehatan yang muncul di awal umunya adalah:

  • Demam
  • Suara serak
  • Batuk kering
  • Napas yang memendek

Pada kasus difteri parah yang menyerang anak gejalanya bisa membuat merasa kesulitan bernapas, berkeringat, dan mengalami sianosis atau perubahan warna kulit.

3. Gejala difteri nasal

Selain selaput lendir, gejala atau tanda difteri lainnya adalah keluarnya cairan dari hidung.

Cairan yang dikeluarkan mulanya sangat encer, tetapi lama kelamaan bisa mengeluarkan nanah atau bahkan bercampur dengan darah.

Gejala difteri nasal paling umum terjadi pada bayi dan bisa bersifat ringan, kecuali jika disertai dengan gejala lainnya yang menyerang saluran pernapasan.

4. Gejala difteri kulit

Cutaneous diphtheria atau difteri kulit dapat menyebabkan gangguan pada kulit. Jenis difteri lebih umum ditemukan di daerah tropis.

Jika Anda mengalami difteri jenis ini biasanya gejalanya adalah sakit, bintik-bintik atau ruam kemerahan, dan pembengkakan pada kulit.

Tanda-tanda seperti ini dapat muncul pada kulit di area kaki dan tangan.

Ruam pada kulit akan membentuk selaput lendir atau membran yang dikelilingi oleh bercak merah.

Selaput lendir ini bisa sembuh dalam waktu dua hingga tiga minggu sekaligus akan meninggalkan bekas luka.

5. Gejala difteri ganas (malignant diphtheria)

Apabila infeksi yang disebabkan bakteri difteri semakin parah, maka dapat menimbulkan malignant diphtheria.

Gejala difteri yang muncul lebih parah, beragam, dan akut daripada jenis difteri lainnya.

Lebih dari 50% kasus difteri ganas berakibat fatal dan memiliki angka kematian yang tinggi,

Akan tetapi, kondisi ini masih bisa disembuhkan dengan pengobatan difteri.

Selaput lendir lebih banyak muncul dan menyebar dengan cepat ke berbagai bagian tubuh lainnya, seperti ke langit-langit tenggorokan, nasofaring, dan lubang hidung.

Secara umum inilah gejala yang dialami oleh orang dewasa atau anak ketika kondisinya bertambah parah:

  • Demam tinggi
  • Denyut nadi cepat,
  • Leher bengkak
  • Mengeluarkan darah dari mulut, hidung, dan kulit

6. Gejala difteri lainnya

Infeksi bakteri penyebab difteri juga dapat berlangsung di bagian tubuh lainnya, seperti telinga dan vagina. Hal ini dapat memperlihatkan gejala seperti telinga mengeluarkan cairan.

Gejala akibat komplikasi difteri

tanda difteri pada anak

Difteri adalah infeksi menular yang komplikasinya sangat berbahaya jika tidak segera diobati.

Risiko komplikasi dapat muncul ketika racun bakteri difteri sudah sampai menyerang organ vital seperti otak, sistem saraf, dan jantung.

Gejala difteri yang semakin parah menandakan dampak dari penyakit ini semakin mebahayakan keselamatan nyawa anak.

Kondisi ini ditujukkan dengan meluasnya penyebaran selaput lendir di dalam tubuh.

Meskipun penderita difteri telah sembuh dari infeksi, risiko kematian tetap tinggi karena adanya dampak dari racun yang menyebar di dalam tubuh.

Berikut beberapa gejala atau tanda difteri pada anak maupun orang dewasa akibat komplikasi, seperti:

1. Miokarditis

Racun yang dikeluarkan bakteri difteri juga dapat terbawa melalui alairan darah dan merusak sel-sel di dalam tubuh, hingga meracuni jantung.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya miokarditis, yaitu peradangan pada dinding otot jantung.

Gangguan jantung yang disebabkan oleh miokarditis bisa bersifat ringan hingga berat, bahkan bisa menyebabkan gagal jantung serta kematian secara tiba-tiba.

Gejala miokarditis secara umum

Miokarditis yang dapat ditandai dengan berbagai kondisi klinis seperti:

  • Melemahnya suara jantung
  • Irama jantung berdetak dengan cepat
  • Terkadang muncul tanda-tanda gagal jantung kongestif
  • Kontraksi ventrikel jantung melemah

2. Neuropati

Sistem saraf juga dapat terpengaruh oleh infeksi dan racun bakteri yang terjadi dibagian faring.

Kondisi toksisitas neurologis atau sistem saraf yang teracuni disebut juga dengan neuropati atau neuritis.

Komplikasi ini relatif jarang terjadi dan biasanya muncul setelah infeksi pernapasan parah yang diakibatkan difteri.

Namun, komplikasi pada sistem saraf muncul di akhir, umumnya setelah 3 sampai 8 minggu gejala difteri umum berlangsung, bahkan hingga gejala tersebut mereda.

Apabila racun dari C. diphtheria sampai merusak bagian saraf yang mengatur otot pernapasan, maka otot tersebut bisa mengalami kelumpuhan.

Alhasil, proses respirasi atau pernapasan tidak mungkin bisa berlangsung tanpa alat bantu yang mendukung keberlangsungan pernapasan.

Gejala neuropati secara umum

Komplikasi neuropati diperlihatkan dengan sejumlah kondisi klinis yang meliputi:

  • Kelumpuhan otot faring, laring, dan pernapasan
  • Penglihatan yang kabur
  • Terjadinya regurgitasi atau cairan yang naik ke atas hidung
  • Kegagalan napas akibat melemahnya otot pernapasan
  • Pelemahan pada sejumlah otot tubuh
  • Menurunya sensitifitas sensori

Beberapa komplikasi lainnya yang disebabkan oleh difteri adalah tubular akut, nekrosis, koagulasi intravaskular diseminata, endokarditis, dan pneumonia sekunder.

Infeksi kulit yang terkait komplikasi difteri termasuk eksim, psoriasis, atau impetigo. Pada kasus yang parah, difteri dapat menyebabkan kematian.

Tidak semua orang merasakan gejala difteri

Pada beberapa anak atau orang dewasa, gejala difteri kadang tidak tampak jelas.

Ada juga kasus difteri yang hanya menimbulkan gejala ringan seperti demam pada anak dan sakit tenggorokan layaknya gejala flu umum.

Meski begitu, perlu dipahami bahwa anak yang mengalami difteri masih dapat menularkan pada orang lain hingga 5-6 minggu setelah paparan infeksi awal.

Walaupun, anak tidak merasa sakit dan tidak menunjukkan tanda difteri sama sekali.

Kapan harus ke dokter?

Gejala awal difteri memang mirip dengan gejala infeksi saluran pernapasan akibat virus, yaitu pilek atau flu.

Namun, bukan berarti Anda bisa mengabaikan gejala yang terjadi pada anak.

Hal ini karena gejala difteri bisa berkembang sehingga membutuhkan evaluasi lebih lanjut dari tenaga medis.

Maka dari itu, segera segera hubungi dokter apabila anak atau anggota keluarga lainnya mengalami gejala atau tanda difteri seperti ini:

  • Sakit tenggorokan yang parah sehingga sulit untuk menelan
  • Demam tidak tinggi
  • Nafsu makan menurun
  • Menurunnya daya tahan tubuh
  • Hidung berair dan sulit bernapas
  • Detak jantung meningkat
  • Pembengkakan kelenjar di leher
  • Kelemahan ekstrem atau mati rasa pada otot tubuh
  • Munculnya selaput lendir pada faring atau tenggorokan
  • Suara berubah serak

 

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Diphtheria Vaccination | CDC. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/diphtheria/index.html

Diphtheria. (2020). Retrieved 12 November 2020, from http://conditions.health.qld.gov.au/HealthCondition/condition/14/33/40/diphtheria

Diphtheria – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897

Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri. (2017). Retrieved 12 November 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/himbauan-idai-tentang-peningkatan-kewaspadaan-terhadap-kasus-difteri

Diphtheria in Children – Health Encyclopedia – University of Rochester Medical Center . (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=P02511

Diphtheria Symptoms & Causes | Boston Children’s Hospital. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/d/diphtheria/symptoms-and-causes

Diphtheria (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/diphtheria.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Atifa Adlina Diperbarui 08/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x