Melawan Kanker Anak dengan Memperkuat Orangtua

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13/04/2020
Bagikan sekarang

Pilihan pengobatan kanker di Indonesia pada tahun 1990-an masih terbatas. Hal tersebut menjadi kendala bagi orangtua yang hendak berjuang melawan kanker pada anak. Rumah sakit macam RS Dharmais baru berdiri di akhir tahun 1993. Karena itu, saling memperkuat antar-orangtua adalah salah satu kunci pengobatan. 

Cerita orangtua yang melawan kanker pada anak

Saat putri bungsu Retno Soepardji divonis leukemia pada tahun 1990, dia tidak berpikir dua kali untuk menerbangkan putrinya ke Amsterdam, Belanda.

“Dua hari di RSCM, tanpa pulang ke rumah saya langsung terbang ke Amsterdam. Saat itu pengobatan kanker anak di Indonesia belum membahana,kata Retno bercerita kepada Hello Sehat, Rabu (5/2). Retno adalah salah satu pendiri Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI).

Retno membawa putrinya untuk ditangani dokter di Rumah Sakit Academic Medical Center (AMC) Amsterdam, rumah sakit pendidikan yang berafiliasi dengan Universitas van Amsterdam.

Rumah Sakit AMC van Amsterdam

Menyerahkan pengobatan putrinya ke ahli yang terpercaya saja ternyata tidak cukup menghilangkan kekhawatirannya.

Ketidakpastian kesembuhan, bayang-bayang kematian dan kehilangan putri tercinta menjadi serangan psikologis yang kuat untuk Retno.

“Di depan anak kita selalu pasang wajah manis, ceria, tapi tumpah menangis tersedu-sedu di dalam kamar mandi,” kata Retno.

Keteguhan hati Retno, putrinya, dan kekuatan seluruh anggota keluarga membuah hasil. Tiga tahun total pengobatan, tahun 1993, putri Retno dinyatakan survive. Mereka lalu kembali ke Indonesia.

Kanker kembali datang

Tapi ujian sebagai orangtua yang melawan kanker anak kembali datang. Tahun 1994 kanker yang tertidur kembali lagi. Retno pun kembali membawa putrinya ke Amsterdam, dan kini mencoba menguatkan diri menjalani serangkaian pengobatan yang lebih panjang dari sebelumnya.

Sel kanker yang kembali muncul ini bermutasi dari tipe O menjadi tipe T yang menurut keterangan dokter adalah tipe yang lebih berbahaya.

“Tujuh bulan pengobatan beratnya, lalu empat tahun perawatan maintenance-nya. Jadi total semua pengobatan itu delapan tahun dari 1990-1998,” jelas Retno.  

Retno bercerita, betapa mendampingi anak yang mengidap kanker sangat berat. Rumitnya memahami istilah medis, menahan emosi yang berlebihan, dan tekanan-tekanan lainnya. “Orangtua butuh kekuatan super,” ungkapnya.

Retno masih bersyukur karena memiliki finansial yang cukup untuk melawan kanker anak di tempat yang menurutnya terbaik. Ia juga dikelilingi oleh keluarga yang paham tentang medis karena dua adiknya adalah dokter. Sehingga proses pengobatan yang melelahkan ini bisa dilewati.

Menurutnya banyak orangtua yang butuh dukungan finansial dan moral dalam pengobatan kanker. Sebagian dari mereka tidak memahami penyakit tersebut dan perawatannya.

Untuk itu, dia bertekad untuk menolong para orangtua yang membutuhkan dukungan. Sebab, dia yakin dengan cara memperkuat orangtua, maka anak-anak pun bisa semakin kuat.

Makanya, sekarang semua keberuntungan yang saya dapatkan itu membuat saya bertekad untuk membantu anak kanker, membantu orangtua menghadapi ujian ini,” kata Retno.

Anak-anak kanker di YOAI

YOAI komunitas berbagi untuk orangtua melawan kanker anak

Sejak saat itu berbagi dan membantu orangtua lain yang mempunyai anak pengidap kanker menjadi tekad Retno. Ia dan lima rekan sesama orangtua yang anaknya berhasil melawan kanker, sering bertemu. Mereka membahas pembentukan wadah untuk membantu anak pengidap kanker dan orangtuanya. 

“Pendirian YOAI adalah ungkapan rasa syukur karena putra/putri kami berhasil melawan kanker berkat bantuan banyak pihak, dokter relawan, simpatisan, psikolog,” tulis para pendiri YOAI dalam websitenya.

Sejak berdiri 26 tahun lalu, YAOI telah membantu anak-anak pengidap kanker dengan berbagai macam bantuan. Di antaranya membantu biaya pengobatan, pendampingan kesehatan jiwa untuk anak dan orangtua.

“Sepuluh tahun pertama yang kita cari itu pasti uang ya,” tutur Retno. Ia mengatakan betapa yang pentingnya kecukupan ekonomi dalam pengobatan bagi orangtua yang melawan kanker anak, karena pemerintah tidak menanggung penuh biaya pengobatan kanker. 

Misalnya biaya perawatan maintenance, di mana anak kanker yang sudah selesai menjalani pengobatan penuh harus terus melakukan pengecekan secara rutin. Sehingga ketika kanker itu kembali bisa ditangani lebih dini. 

Gejala kembalinya kanker pada anak cenderung tidak terlihat, ketika kanker sudah terlihat biasanya kondisi tersebut sudah pada tahap stadium lanjut. 

“Tapi kalau checkupnya nggak dibayarin, anak-anak didiemin, ketika dia sudah menjadi parah biayanya semakin mahal, kemungkinan sembuh makin kecil,” tegas Retno.

Selain biaya pengobatan, yang menjadi perhatian Retno dan YOAI adalah memberi kekuatan dan motivasi pada anak dan orangtua dalam menjalani pengobatan kanker.

Pentingnya saling memperkuat antara Orangtua 

Patterson, profesor psikologi Universitas Minesota dalam Jurnal The impact of childhood cancer on the family menjelaskan bagaimana diagnosis kanker pada anak akan berpengaruh pada psikologi seluruh anggota keluarga.

Vonis kanker pada anak mengharuskan keluarga untuk membuat penyesuaian terhadap kehidupan sehari-hari mereka yang dapat menyebabkan tidak hanya keregangan pada setiap individu tetapi pada sistem keluarga secara keseluruhan.

Jika dilihat dari perspektif sistem keluarga, apa yang terjadi pada satu anggota keluarga mempengaruhi anggota lainnya, terutama bagi orangtua yang berusaha melawan kanker anak.

Maria Bjork dalam jurnal onkologi pediatrik berjudul Living an Everyday Life Through a Child’s Cancer Trajectory menuliskan dukungan yang memadai dapat membantu keluarga mengatasi berbagai krisis yang disebabkan oleh penyakit dan masa perawatannya. 

“Maka, orang tua yang anaknya mengidap kanker membutuhkan dukungan untuk meringankan beban mereka pada masa awal diagnosis, selama perawatan, di akhir perawatan, bahkan setelah menyelesaikan perawatan,” tulisnya.

Orangtua yang melawan kanker anak butuh kesabaran dan perhatian ekstra. Ketelitian mengingat tanggal kontrol dan minum obat, tekanan biaya yang tinggi, dan mengelola emosi tetap terjaga.

Saat berkumpul bersama, anak-anak juga bisa melatih diri untuk bersosialisasi, bercerita, dan bermain, membuat mereka menjadi anak yang normal. Hal ini diperlukan bukan hanya untuk anak yang masih dalam pengobatan, tapi juga untuk survivor yang dalam masa pemulihan.

diabetes anak sekolah

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pentingnya Menjaga Kesehatan Jiwa Anak-anak Penderita Kanker

Penanganan kanker pada anak tidak melulu soal pengobatan kuratif, tapi juga ada pengobatan psikologis untuk kesehatan jiwa mereka.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Rumah yang Terlalu Bersih Meningkatkan Risiko Leukemia pada Anak

Orangtua tentu ingin rumah tetap bersih agar anak terhindar dari penyakit. Namun, rumah yang terlalu bersih justru meningkatkan risiko leukemia pada anak.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

Kenali Gejala Umum Munculnya Kanker Pada Anak

Dengan mengetahui gejala kanker pada anak, Anda dapat mendiagnosis dini kanker yang dimiliki anak sehingga bisa diobati dengan segera.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina

Cermati Beragam Gejala Kanker Mata Pada Anak, Supaya Bisa Terdeteksi Dini

Kanker mata pada anak (retinoblastoma) adalah salah satu jenis kanker mata yang jarang sekali terjadi. Lantas, apa saja ciri utamanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab neuroblastoma pada anak

Mengapa Neuroblastoma (Jenis Kanker Saraf) Bisa Terjadi pada Anak-Anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 11/03/2020
Perawatan paliatif di rachel house

Sehat dan Bahagia Menjadi Perawat di Rumah Paliatif Anak

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 18/02/2020
Perawatan paliatif anak dari Rachel House

Senyum Anak Penderita Penyakit Kronis di Perawatan Paliatif Rachel House

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 18/02/2020
kanker darah pada anak

Data Anak Penderita Kanker di Indonesia dan Pentingnya Menjaga Mental Mereka

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 07/02/2020