Obesitas Pada Anak Memicu Timbulnya Penyakit Hati di Usia Dini

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/04/2020 . 3 menit baca
Bagikan sekarang

Banyak orang yang menganggap anak gemuk nan montok itu sehat dan menggemaskan. Padahal, gemuk tak selalu artinya sehat. Januari 2017 silam, Kementerian Kesehatan lewat rilis medianya melaporkan bahwa kasus obesitas pada anak Indonesia meningkat hingga tiga kali lipat. Jangan sepelekan risiko obesitas pada anak.  Anak yang obesitas berpotensi mengidap berbagai jenis penyakit kronis setelah mereka dewasa, sebut saja diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Obesitas juga meningkatkan risiko penyakit hati pada anak-anak bangsa kita di kemudian hari.

Obesitas pada anak sebabkan perlemakan hati

Timbunan lemak berlebih akan disimpan di berbagai bagian tubuh. Misalnya di bawah kulit, di rongga sekitar perut, pinggang dan pinggul, hingga di bagian dada. Selain itu, kelebihan lemak juga dapat disimpan di hati (liver). Ini kemudian menyebabkan sebuah kondisi yang disebut perlemakan hati (fatty liver).

Perlemakan hati dulu lebih umum ditemukan pada orang obesitas di usia lanjut, tapi kini trennya tampak berubah. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa setidaknya 5 – 17% populasi anak di dunia menderita fatty liver (perlemakan hati) di usia yang bahkan semuda belasan tahun akibat obesitas.

Apabila perlemakan hati terus dibiarkan berlanjut, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko anak terhadap dua penyakit hati kronis yang dapat berakibat fatal, yaitu sirosis hati dan kanker hati. Sirosis merupakan infeksi peradangan kronis yang menyebabkan hati membentuk banyak luka parut. Akibatnya, ukuran hati akan menjadi ciut dan disertai dengan penurunan berbagai fungsi terlalu dini.

Sementara itu, penurunan fungsi hati yang terjadi berkelanjutan tanpa dibarengi dengan perubahan gaya hidup berisiko tinggi untuk menyebabkan munculnya tumor ganas pada hati yang jadi cikal bakal kanker. Kanker hati sampai beberapa dekade terakhir masih dikategorikan sebagai “penyakitnya orang tua”. Namun dalam beberapa tahun terakhir justru terjadi peningkatan kasus pada orang-orang berusia 20 hingga 30-an.

Bagaimana mencegahnya?

1. Mengenalkan gaya hidup sehat sedini mungkin

Usia anak dan remaja adalah masa-masa proses tumbuh kembang sedang paling optimal. Asupan nutrisi dari makanan memang sangat dibutuhkan untuk menunjang proses tersebut, tapi tentu ada aturan mainnya.

Biasakan anak untuk makan teratur dan isi piring makanannya dengan gizi yang seimbang dari variasi sumber makanan sehat. Biasakan juga anak untuk mengimbangi kebiasaan makannya dengan aktivitas fisik teratur untuk membakar kalori yang berlebih.

Pola gaya hidup sehat yang diterapkan sedini mungkin membantu anak lebih disiplin hingga dewasa nanti hingga mencegahnya terkena penyakit hati akibat obesitas.

2. Mengubah persepsi masyarakat bahwa anak gemuk tidak selalu sehat

Seringkali kita mendengar bahwa anak gemuk itu lucu dan menggemaskan. Pandangan tersebut tidak tidak salah total, tetapi kita tetap harus mempertimbangkan dampak kesehatan dari obesitas pada anak.

Hal yang penting diperhatikan adalah pertambahan berat badan anak yang ideal sesuai usia.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Menghadapi Masa Transisi dari Terapi Langsung ke Terapi Online Selama Pandemi

Siapa sangka bahwa kini Anda dapat menjalani terapi via online, terutama di masa pandemi COVID-19? Yuk, simak apa saja yang perlu dipersiapkan.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 03/07/2020 . 5 menit baca

Box Breathing, Teknik Pernapasan yang Bisa Dicoba Saat Sedang Stres

Teknik box breathing bisa menjadi salah satu cara untuk meredakan stres yang melanda. Seperti apa dan bagaimana cara melakukannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . 4 menit baca

Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

Cari tahu perbedaan protein susu sapi dan susu soya untuk si kecil. Pastikan kandungan susu yang ibu berikan baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 03/07/2020 . 6 menit baca

Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penularan Penyakit

Batuk ada etikanya, tak bisa sembarangan. Bukan cuma masalah kesopanan, tapi juga demi kesehatan. Simak etika batuk yang benar di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Batuk, Health Centers 02/07/2020 . 7 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

mitos psikoterapi

Mitos Seputar Psikoterapi yang Salah Kaprah

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 5 menit baca
covid-19 menular lewat ac

Benarkah Ruangan Ber-AC Tingkatkan Risiko Penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 5 menit baca
gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 4 menit baca
protein soya

Kenali Perbedaan Protein Soya dan Isolat Protein Soya Serta Manfaatnya untuk Tumbuh Kembang Anak

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 5 menit baca