backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

2

Tanya Dokter
Simpan

Dampak Diare Berulang pada Bayi Perlu Diwaspadai

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Dampak Diare Berulang pada Bayi Perlu Diwaspadai

Diare merupakan gangguan saluran pencernaan yang bisa dialami oleh siapa saja, termasuk bayi.1 Pada orang dewasa, diare mungkin bisa membaik dengan cepat, tetapi pada bayi, diare membutuhkan perhatian khusus.1,5 Pasalnya, diare yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu kondisi diare yang berulang dan menimbulkan komplikasi yang fatal.2

Dampak diare berulang pada bayi

Pada umumnya, bayi memiliki tinja yang lunak, terlebih jika bayi belum memulai makan makanan padat. Namun, bila konsistensi tinja bayi menjadi lebih encer, berair, atau frekuensi buang air besar terjadi lebih sering dari biasanya, kondisi ini disebut diare pada bayi.3

Tingkat keparahan diare pada bayi dapat terlihat dari frekuensi dan konsistensi buang air besarnya.3

Si Kecil mengalami diare ringan bila tinja encer dan terjadi sebanyak tiga sampai lima kali sehari.3

Diare sedang terjadi bila tinja encer sebanyak enam sampai sembilan kali sehari. Sementara itu, diare berat diukur dari tinja encer yang terjadi sepuluh kali atau lebih dalam sehari.3

Diare pada bayi memerlukan perhatian khusus Ayah dan Bunda karena kondisi ini berisiko menimbulkan kondisi yang lebih parah, berikut penjelasannya.

1. Dehidrasi

Saat bayi mengalami diare, tubuhnya akan kehilangan banyak cairan dan elektrolit dari aktivitas buang air besar, muntah, keringat, urine, dan napas, sehingga kondisi dehidrasi dapat terjadi dengan cepat.4 

Terdapat beberapa tanda saat bayi alami dehidrasi, seperti:5

  • popok hanya basah sedikit atau tidak sama sekali dalam 8–12 jam terakhir,
  • urine berwarna kuning pekat atau coklat, 
  • tidak keluar air mata saat menangis,
  • bibir dan mulut kering,
  • kurang aktif dari biasanya, 
  • sering mengantuk, dan
  • sulit dibangunkan dari tidur.

Ayah dan Bunda perlu memerhatikan tanda dehidrasi di atas dan mengambil langkah cepat untuk mengatasi kondisi tersebut. 

Pasalnya, dehidrasi pada bayi yang tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan si Kecil dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.6

2. Stunting

Kondisi diare yang terjadi secara berulang pada bayi dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, seperti stunting.2,8

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, terdapat 21,6 persen balita yang mengalami stunting dan diare menjadi salah satu faktor risikonya.7,15

Saat diare terjadi, bakteri akan masuk ke saluran pencernaan dan berkembang biak. Bakteri mengeluarkan toksin atau zat yang mengganggu proses pencernaan, sehingga bayi tidak dapat mencerna nutrisi dengan baik.8

Kondisi diare parah mengakibatkan bayi mengalami kekurangan nutrisi dan pertumbuhannya terganggu.2,8

3. Kematian

Diare tak hanya menyebabkan kesakitan, tetapi juga dapat menjadi penyebab kematian pada bayi.1 Secara global, satu dari sembilan anak meninggal akibat diare.16

Sementara itu, menurut data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2020, diare menjadi penyumbang kematian nomor dua pada bayi usia 29 hari–11 bulan.2 

Sebagian besar kasus kematian akibat diare terjadi karena hilangnya cairan tubuh sehingga terjadi kerusakan organ.4,9 Selain itu, infeksi bakteri septik juga dapat menjadi penyebab kematian bayi akibat diare.4

Penyebab diare berulang pada bayi

Diare pada bayi yang tidak diwaspadai dengan baik dapat menyebabkan kondisi yang berulang. Ayah dan Bunda perlu menyelidiki penyebab diare pada bayi sehingga kondisi diare tidak terjadi berulang kali. Berikut adalah beberapa penyebab diare terjadi berulang kali.

1. Intoleransi laktosa

Terdapat beberapa bayi yang mungkin tidak dapat menyerap kandungan gula atau laktosa dalam susu formula.10 

Hal ini menyebabkan bakteri dalam saluran pencernaan mengubah laktosa menjadi gas.3 Akibatnya, si Kecil memiliki beberapa gejala, seperti sering buang gas, tinja encer, dan perut kembung.10 

2. Alergi susu sapi

Selain tidak dapat menyerap laktosa, beberapa bayi lain mungkin alergi terhadap protein dalam susu sapi.10 

Hal ini biasanya terjadi ketika bayi pertama kali mengkonsumsi susu formula atau makanan yang mengandung susu.

Gejala dari alergi susu sapi umumnya lebih parah dibandingkan intoleransi laktosa, seperti adanya reaksi pada kulit, diare, muntah, dan gejala seperti flu.10

3. Infeksi virus, bakteri, atau parasit

Infeksi virus merupakan penyebab diare pada bayi yang paling sering terjadi.2 Salah satu jenis virus yang menjadi penyebab utama diare berat pada bayi, yaitu rotavirus.2 

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, 41–58 persen dari total kasus diare pada balita yang dirawat inap disebabkan oleh rotavirus.2

Selain virus, infeksi bakteri dan parasit juga bisa menyebabkan diare berulang pada bayi.

Infeksi virus, bakteri, atau parasit ini umumnya bermula pada tangan yang tidak bersih kemudian masuk ke mulut atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.12 

Infeksi virus, bakteri, atau parasit ini biasanya menyebabkan timbulnya gejala diare, muntah, dan demam.

Cara mencegah diare pada bayi

Ayah dan Bunda tentunya tidak ingin melihat si Kecil alami diare dan kehilangan waktu bermain bersamanya. Oleh sebab itu, Anda bisa lakukan beberapa hal kecil tapi efektif mencegah diare, seperti di bawah ini.

1. Menyesuaikan asupan bayi

Bila si Kecil diberikan susu formula, maka sebaiknya sesuaikan dengan kebutuhannya. Pasalnya, tidak semua bayi akan cocok dengan satu susu formula. 

Beberapa mungkin bisa mengalami reaksi intoleransi laktosa atau alergi susu sapi saat mencoba susu formula.10

Oleh sebab itu, Ayah dan Bunda perlu memerhatikan kondisi bayi saat minum susu formula. 

Bila gejala intoleransi laktosa atau alergi susu sapi muncul maka hentikan penggunaan susu tersebut dan beralih ke susu yang diformulasikan sesuai dengan kondisi bayi.10

2. Menjaga kebersihan sekitar bayi

Cara selanjutnya dalam mencegah diare pada bayi adalah selalu menjaga kebersihan. Dengan demikian bayi dapat terhindar dari virus, bakteri, atau parasit penyebab diare. 

Untuk menjaga kebersihan sekitar bayi pastikan Anda mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah menggunakan kamar mandi, mengganti popok bayi, dan sebelum menyiapkan makanan atau minuman si Kecil.12 Selain itu, Ayah dan Bunda juga perlu rutin membersihkan mainan yang sering digunakan bayi.12

3. Melakukan vaksinasi rotavirus

Nah, untuk mencegah diare berulang pada si Kecil tidak cukup dengan menjaga kebersihan saja tetapi juga perlu dibantu dengan melakukan vaksinasi rotavirus.13

Vaksinasi ini berguna meningkatkan imunitas dan menurunkan risiko bayi alami diare berulang akibat infeksi virus.   

Selain melakukan imunisasi lengkap, melakukan vaksinasi rotavirus direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebagai tambahan perlindungan untuk mencegah diare berat pada anak.14 

Terdapat dua jenis vaksinasi rotavirus yang dibedakan dari jumlah dosisnya, yaitu dua dosis dan tiga dosis. Kedua jenis vaksin rotavirus ini dapat diberikan mulai dari usia enam minggu.14 

Pada jenis vaksin rotavirus tiga dosis, memerlukan selang waktu 6–14 minggu untuk dosis kedua dan empat sampai delapan minggu untuk dosis ketiga.14

Sementara itu, vaksin rotavirus dua dosis memerlukan selang waktu empat minggu untuk dosis kedua. Pemberian dosis kedua harus diselesaikan pada usia 24 minggu.14

Mengingat rentang pemberian vaksin yang singkat, Ayah dan Bunda perlu gerak cepat dalam memberikan vaksinasi rotavirus agar tidak terlambat dan si Kecil mendapatkan perlindungan maksimal. Yuk, berikan si Kecil perlindungan dari kondisi diare dengan melakukan vaksinasi rotavirus di sini

Pesan kesehatan ini disampaikan oleh GSK Indonesia. Hanya sebagai informasi umum. Materi yang terkandung dalam artikel ini bukan merupakan saran medis. Konsultasikan langsung kepada Dokter Anda untuk pertanyaan medis.

NP-ID-RVU-ADVR-240002 AD: Feb 2024 ED: Feb 2026 

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan