Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab Munculnya Ruam Eksim di Pipi Bayi Ternyata Bukan Karena ASI

Penyebab Munculnya Ruam Eksim di Pipi Bayi Ternyata Bukan Karena ASI

Ruam kemerahan gatal dan terasa perih yang muncul di pipi bayi sering disebut sebagai eksim susu. Disebut demikian karena banyak orang yang menganggap kemunculannya disebabkan oleh konsumsi susu atau cipratan ASI saat sedang menyusu. Akibatnya, tidak jarang juga orangtua yang malah memutuskan untuk membatasi atau menghentikan pemberian ASI pada bayinya. Padahal, bayi masih memerlukan asupan nutrisi dari ASI untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Lantas, benarkah air susu ibu adalah penyebab dari ruam eksim pada kulit bayi?

Apa itu eksim susu?

Istilah ‘eksim susu’ berawal dari pemahaman bahwa segala hal yang ibu makan selama masa kehamilan dan menyusui akan terserap ke dalam ASI.

Maka ketika ibu memakan makanan yang dapat memicu reaksi peradangan atau alergi pada kulit, zat-zat tersebut akan tersalurkan ke dalam tubuh bayi lewat ASI yang ia minum. Zat-zat pemicu peradangan tersebut juga dipercaya dapat memunculkan ruam pada pipi bayi ketika cairan ASI berkontak langsung dengan kulitnya saat menyusu.

Itu kenapa kemudian banyak ibu hamil dan menyusui yang biasanya diberikan pantangan makanan tertentu, misalnya pantang makan telur, kacang-kacangan, dan produk yang mengandung susu. Dari pemahaman inilah istilah eksim susu mulai digunakan untuk menjelaskan kemunculan eksim pada bayi.

Namun, anggapan tersebut kurang tepat. Eksim susu bukan istilah medis yang resmi dan benar untuk menggambarkan kemunculan ruam merah pada kulit bayi. Hal ini diperjelas oleh dr. Srie Prihianti, Sp. KK, PhD, spesialis kulit yang juga selaku ketua Kelompok Studi Dermatologi Anak (KSDAI) di PERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Kelamin Indonesia).

Ketika ditemui oleh tim Hello Sehat di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/11), dr. Yanti, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa ruam merah di pipi bayi tidak tepat disebut dengan eksim susu.

Dunia kedokteran hanya mengenal istilah eksim alias dermatitis atopik. Eksim tergolong sebagai salah satu jenis penyakit dermatitis yang umum terjadi pada bayi dan anak kecil.

Penyebab ruam eksim pada bayi bukan karena air susu ibu (ASI)

Eksim adalah peradangan kronis yang dipicu oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi sel lemak yang disebut ceramide dalam jumlah cukup.

Penyebab eksim memang belum dapat dipastikan. Namun, ruam atau bintik kemerahan khas eksim yang menyebabkan pipi bayi merah, bersisik, dan terasa gatal tidak disebabkan oleh konsumsi atau paparan susu (ASI).

Sampai saat ini, yang peneliti tahu adalah risiko dermatitis atopik kemungkinan besar cenderung dipengaruhi oleh faktor genetik, fungsi sistem imun bayi, dan faktor eksternal lainnya.

Gejala eksim itu sendiri umumnya mulai muncul pada 6 bulan pertama kehidupan bayi. Pada enam bulan pertama ini jugalah bayi sangat disarankan untuk menyusui ASI eksklusif. Namun sekali lagi, kemunculan eksim pada bayi bukan disebabkan oleh konsumsi atau paparan ASI.

Satu hal yang pasti adalah: risiko bayi mengalami eksim dapat lebih besar jika terlahir dalam keluarga yang memiliki riwayat alergi makanan. Melansir National Eczema Association, sekitar 30 persen penderita eksim di dunia sudah lebih dulu memiliki alergi terhadap suatu makanan; biasanya makanan yang mengandung kacang, telur, dan susu.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa memang ada kaitan antara alergi makanan, termasuk alerhgi susu, dengan kemunculan penyakit eksim. Namun, susu itu sendiri bukanlah penyebab kemunculan eksim untuk yang pertama kalinya.

Bagi anak yang memiliki alergi terhadap susu atau produk olahannya, reaksi alergi dapat memperparah gejala eksim jika terus menerus mengonsumsinya.

Bayi yang mengalami ruam eksim boleh minum susu atau ASI

Melihat penjelasan di atas, jelas bahwa eksim susu tidaklah disebabkan oleh konsumsi atau paparan ASI. Maka dari itu, menghentikan pemberian ASI eksklusif bukanlah solusi yang tepat untuk menghilangkan eksim.

Menghentikan atau membatasi ASI artinya Anda mencegah bayi mendapatkan asupan makanan terbaiknya. Dalam jangka panjang, hal ini menghambat proses tumbuh kembangnya. Bayi yang kurang mendapatkan asupan protein dari susu sangat berisiko mengalami penyakit kwashiorkor (defisiensi protein), yang juga turut menambah kerusakan pada kulit.

Kandungan nutrisi dalam ASI justru dapat mengoptimalkan fungsi sistem imun bayi yang dapat memperbaiki reaksi alergi terhadap makanan seiring waktu. Maka dari itu, bayi tetap harus, bisa, dan boleh menyusu ASI. Namun, ibu sebaiknya memang menghindari berbagai jenis makanan yang memicu munculnya alergi makanan pada bayi.

Bagaimana perawatan eksim pada bayi?

Tanda-tanda eksim pada bayi umumnya adalah kulit kering yang terdapat ruam-ruam merah bersisik dan terasa gatal. Peradangan kulit ini bisa berlangsung lama, namun gejalanya bisa mereda dan kambuh sewaktu-waktu.

Meskipun bisa kambuh lagi sewaktu-waktu, penyakit kulit yang dianggap sebagai eksim susu sebetulnya bisa dirawat dengan perawatan untuk kulit kering dan sensitif. Penting juga untuk menghindari pemicu yang menyebabkan eksim kambuh.

Ibu bisa meringankan gejala eksim pada bayi dengan cara berikut ini:

1. Oles obat eksim setelah mandi

Saat mandi, usahakan semua badan bayi terutama yang terkena eksim terendam air untuk mendapatkan kelembapan menyeluruh. Bilas dengan air bersih.

Kemudian gunakan krim obat atau salep eksim dalam tiga menit setelah keluar dari bak mandi untuk mempertahankan kelembapan kulitnya.

2. Pilih sabun bayi yang aman

Untuk cegah iritasi kulit makin parah akibat eksim susu, ada baiknya pilih sabun yang mengandung bahan hypoallergenic, tidak berwarna, dan tidak berpewangi.

Biasanya sabun yang wangi dan ada warnanya mengandung bahan kimia yang bisa memperparah eksim.

3. Pakai pelembap kulit yang aman

Dr. Srie menyarankan untuk menggunakan pelembap hypoallergenic yang ringan (bertuliskan “mild” pada labelnya), ber-pH seimbang, dan mengandung bahan organik. Sebaiknya, pelembap pilihan Anda juga mengandung ceramide yang berguna untuk memperbaiki jaringan kulit sensitif bayi.

Baca dan cermati kandungan komposisi pelembap bayi Anda. Oleskan pelembap setidaknya dalam 3-5 menit setelah memandikan bayi.

Hindari juga memakaikan bayi baju dari bahan yang kerap memicu gatal atau iritasi (wol atau kain sintetis).

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Jones. (2018). Everything you need to know about eczema and food allergies. Retrieved 22 January 2020, from https://nationaleczema.org/eczema-food-allergies/

Diet and Eczema: The Facts. (2020). Retrieved 22 January 2020, from https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/eczema/treatment-16/eczema-diet

Eczema in Children. (2015). Retrieved 22 January 2020, from https://acaai.org/allergies/who-has-allergies/children-allergies/eczema

Eczema in Children | National Eczema Association. (2020). Retrieved 22 January 2020, from https://nationaleczema.org/eczema/children/

Eczema in Children | National Eczema Association. (2020). Retrieved 22 January 2020, from https://nationaleczema.org/eczema/children/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x