Kondisi Apa Saja yang Membuat Bayi Perlu Segera Menerima CPR (Resusitasi Jantung Paru)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Bayi sudah bisa bernapas sendiri dengan paru-parunya begitu dilahirkan ke dunia. Namun di sisi lain, masalah pernapasan cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir. Itu sebabnya sesak napas pada bayi tak bisa disepelekan. Biasanya, langkah penyelamatan yang akan dilakukan dokter adalah dengan melakukan resusitasi alias CPR. Lantas, kondisi apa saja yang membuat resusitasi bayi diperlukan?

Kenapa resusitasi bayi penting?

bayi disunat

Selama di kandungan, bayi mendapatkan pasokan oksigen melalui plasenta. Ketika plasenta dipotong saat lahir, pasokan oksigen pun terputus sehingga bayi perlu mengambil oksigen dari udara dan mulai belajar bernapas.  Namun, tidak semua bayi mungkin bisa spontan untuk menghirup udara setelah lahir. Maka diperlukanlah upaya resusitasi segera setelah lahir agar ia bisa bernapas.

Resusitasi adalah pemberian napas buatan guna memberikan pasokan oksigen lebih sehingga merangsang jantung dan paru bayi mulai bekerja. Resusitasi bayi adalah upaya penyelamatan nyawa. Jika setelah lahir bayi tidak kunjung bisa bernapas sendiri, tubuhnya akan perlahan kekurangan oksigen yang dapat mengarah pada kerusakan organ fatal bahkan kematian.

Selain sebagai cara untuk membantu bayi bisa bernapas sendiri, berbagai masalah kesehatan saat lahir pun menjadi alasan kuat mengapa bayi butuh resusitasi.

Apa saja kondisi yang membuat bayi perlu diresusitasi?

resusitasi bayi

Tidak semua bayi yang baru lahir memerlukan tindakan resusitasi. Biasanya resusitasi bayi diperlukan dalam kondisi tertentu seperti:

Lahir dalam kondisi prematur

Bayi prematur biasanya lahir tiga minggu sebelum tanggal perkiraan kelahiran (sebelum 37 minggu). Akibatnya, bayi prematur memiliki berbagai masalah kesehatan yang tidak bisa disepelekan, seperti paru-paru yang belum terbentuk sempurna sehingga

Masalah pernapasan yang sering kali menghampiri bayi prematur adalah penyakit paru-paru kronis (PPOK) dan apnea (napas ngorok saat tidur). Resusitasi bayi saat lahir prematur menjadi salah satu langkah penyelamatan yang paling utama.

Terlambat lahir

Berbanding terbalik dengan prematuritas, bayi dikatakan terlambat lahir saat persalinan dimulai lewat dari 42 minggu usia kehamilan. Saat bayi terlambat lahir, plasenta yang bertugas memasok nutrisi dan oksigen dari ibu tidak lagi berfungsi seefektif sebelumnya. Akibatnya muncul berbagai masalah seperti peningkatan risiko selama persalinan akibat pasokan oksigen yang buruk hingga berisiko mengalami aspirasi mekonium.

Aspirasi mekonium adalah kondisi saat bayi bernapas dengan cairan yang mengandung feses pertamanya. Kondisi ini tentu saja bisa menghalangi saluran pernapasannya untuk dapat berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, biasanya resusitasi diperlukan setelah kelahiran.

Proses persalinan yang lama

Persalinan normalnya memakan waktu 12-18 jam. Namun, pada kondisi tertentu proses melahirkan berjalan hingga 24 jam. Umumnya, persalinan macet terjadi pada proses melahirkan bayi besar lewat jalur normal atau posisi bayi sungsang. Ibu yang memiliki jalur lahir terlalu sempit atau kontraksinya sangat lemah juga berisiko mengalami persalinan lama.

Persalinan yang memakan waktu terlalu lama bisa membahayakan janin. Berbagai risiko seperti kadar oksigen yang rendah untuk bayi, irama jantung bayi yang tidak normal, cairan ketuban yang terkontaminasi zat-zat berbahaya, dan infeksi uterus bisa saja terjadi. Itu kenapa bayi bisa lahir dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Resusitasi bayi menjadi salah satu cara penyelamatan untuk menormalkan kondisi bayi.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca