Benarkah Junk Food Meningkatkan Risiko Anak Kena Alergi?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24/08/2019
Bagikan sekarang

Makan junk food memang lebih menggiurkan ketimbang makan makanan sehat, seperti sayur-mayur. Meski enak, makanan ini dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan jika konsumsi berlebihan. Studi melaporkan salah satu dampak junk food, yakni meningkatkan risiko alergi pada anak. Namun, benarkah demikian?

Studi: junk food tingkatkan risiko alergi pada anak

Siapa yang tidak tergoda dengan junk food? Makanan ini disajikan dengan kombinasi yang menggoyang lidah, mulai dari rasa gurih, manis, dan asin. Namun, perlu Anda tahu jika dikonsumsi terlalu sering, junk food bisa meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, dan diabetes.

Tidak hanya itu, studi yang dilakukan oleh University of Naples Federico II baru-baru ini (2019) menemukan adanya peningkatan tajam angka alergi pada anak yang makan junk food.

Peneliti mengamati anak usia 6 hingga 12 tahun, yang memiliki dua jenis alergi berbeda, yaitu alergi makanan dan alergi pernapasan. Hasilnya, anak yang alergi makanan memiliki tingkat senyawa terkait alergi yang lebih tinggi di bawah permukaan kulitnya, ketimbang anak dengan alergi pernapasan.

Setelah diselidiki lebih dalam, penyebab potensialnya adalah senyawa advanced glycation end products atau dikenal dengan AGEs. Senyawa ini ditemukan paling banyak pada makanan olahan, yang terbentuk ketika molekul gula berikatan dengan protein atau lemak yang terpapar suhu panas.

AGEs bisa ditemukan pada steik yang dibakar hingga dagingnya kecokelatan atau kentang yang digoreng dalam minyak panas. Kadar AGEs yang tinggi pada junk food inilah yang membuat anak kemungkinan berisiko tinggi memiliki alergi makanan.

Namun, junk food bukanlah satu-satunya penyebab alergi

anak makan junk food

Meski penelitian menunjukkan adanya kemungkinan junk food menjadi penyebab alergi pada anak, pakar kesehatan lain menyebut bahwa itu bukanlah penyebab tunggal.

“Penyebab alergi beragam, termasuk genetika dan lingkungan,” ujar dr. Elliot dari American College of Allergy, Asthma, and Immunology, dikutip dari laman Health Line.

Makanan olahan memang kurang memiliki keragaman protein, tapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami peran AGEs dalam berkembangnya alergi makanan,” papar Dr. Wendy Sue, Swanson MBE, FAAP dokter anak di Seattle Hospital.

Ada beberapa faktor yang dianggap turut berperan dalam menyebabkan alergi makanan pada anak selain junk food, seperti:

Waktu pengenalan makanan

Terlambat mengenalkan makanan yang sering menyebabkan alergi, seperti kacang atau telur bisa memungkinkan peningkatan risiko terjadinya alergi makanan di kemudian hari.

Terlalu bersih

Menggunakan sabun antibakteri atau pembersih tangan memang bisa mencegah anak dari infeksi. Namun, terlalu sering juga dapat membuat kekebalan tubuh anak kurang toleran terhadap patogen (zat penyebab penyakit).

Perubahan iklim

Perubahan suhu yang terus berganti dapat memengaruhi kinerja sistem kekebalan tubuh dan mengarah pada peningkatan risiko alergi makanan.

Gen dan lingkungan

Paparan ibu hamil pada alergen, seperti polusi dan bahan kimia bisa memengaruhi kesehatan janin. Pola makan yang kurang sehat juga bisa memengaruhi bakteri yang tinggal di usus yang berkaitan dengan sistem imun.

Penggunaan antibiotik atau obat tertentu

Selain junk food, penggunaan antibiotik lebih dini pada anak dapat meningkatkan risiko anak kena alergi. Selain itu, antasida yang dikonsumsi anak-anak juga bisa memengaruhi pH lambung dan cara usus mencerna dan menyerap nutrisi makanan sehingga risiko alergi makanan dapat meningkat.

Lantas, dapatkah alergi makanan pada anak dicegah?

Terjadinya alergi makanan pada anak yang disebabkan oleh berbagai faktor, bisa dicegah. Namun, tidak semuanya, seperti kondisi genetik.

Orangtua bisa melakukan tindakan pencegahan lebih awal, yakni mengenalkan makanan seperti kacang atau telur sesuai usianya. Kemudian, bantu anak untuk menerapkan gaya hidup yang lebih sehat, contohnya mengurangi konsumsi junk food untuk menurunkan risiko alergi makanan.

Jika Anda kesulitan, jangan ragu untuk melakukan konsultasi pada dokter anak. Dokter akan membantu Anda mencegah berkembangnya alergi makanan terjadi pada anak di kemudian hari.

Sumber foto: The Conversation.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Seberapa Banyak Kebutuhan Cairan Anak Balita Usia 2-5 Tahun?

Menjaga tubuh agar tetap terhidrasi tidak hanya tugas orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Lalu, seberapa banyak kebutuhan cairan anak balita?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah

Alasan Mengapa Terjadi Ruam Setelah Anda Menggunakan Parfum

Ruam di kulit setelah memakai parfum pertanda alergi parfum? Jangan terburu-buru mendiagnosis, berikut beberapa penyebab yang mungkin Anda alami.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Begini Cara Dekat dengan Anak Pasangan Tanpa Rasa Canggung

Bila Anda sedang menjalin hubungan dengan seorang single parent, tentu harus mendekatkan diri dengan anaknya. Berikut cara dekat dengan anak pasangan.

Ditulis oleh: Riska Herliafifah

Apa Saja yang Menyebabkan Anak Sering Muntah?

Gumoh biasa terjadi pada anak dan berbeda dengan muntah-muntah. Penyebab anak sering muntah ini perlu Anda ketahui agar dapat tepat dan cepat mengatasinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab hidung meler

Beragam Penyebab Hidung Meler Terus Padahal Tidak Sedang Flu

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
bahaya junk food pada otak remaja

Begini Bahaya Junk Food pada Otak Anak Remaja

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020
alergi-buah-kiwi

Alergi Buah Kiwi Cukup Umum Terjadi pada Anak, Apa Gejalanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 26/04/2020
vitamin pencernaan anak

Vitamin Terbaik untuk Sistem Pencernaan Anak

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23/04/2020