9 “Fakta” Seputar Cara Merawat Bayi yang Ternyata Salah Besar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/12/2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Banyak nasihat warisan nenek moyang dan kabar burung yang beredar di tengah masyarakat tentang cara yang paling benar untuk merawat bayi baru lahir. Padahal belum tentu semua kebiasaan itu baik atau tepat untuk bayi. Beberapa “panduan” merawat bayi ini justru bertentangan dengan apa kata dunia medis. Jadi, mana cara merawat bayi yang benar, dan mana yang sebenarnya sudah tidak perlu Anda percaya lagi? Cari tahu di sini.

Mitos cara merawat bayi yang terbukti tidak benar

1. Bayi harus pakai gurita

Banyak orangtua yang memakaikan gurita pada bayi untuk mencegah bayi mengalami perut kembung. Faktanya, bayi justru bisa kesulitan bernapas karena lilitan kain gurita bisa menghambat ruang untuk pertumbuhan organ dalamnya. Dinding perut bayi masih lemah dan volume organ tubuhnya tidak sesuai dengan luas rongga dada dan rongga perut yang ada karena sampai usia lima bulan dalam kandungan, organ ini terus tumbuh sementara tempatnya sangat terbatas.

2. Jangan potong kuku bayi dalam 40 hari pertama

Katanya kuku bayi tidak boleh dipotong sebelum 40 hari. Mitos ini muncul lebih karena kekhawatiran ibu akan melukai kulit jari tangan atau kaki saat memotong kuku anak. Padahal, jika kuku bayi tidak dipotong selama 40 hari, kuku panjangnya bisa melukai wajah bahkan kornea mata. Sebaiknya gunting kuku bayi dengan peralatan khusus yang aman untuk perawatan bayi Anda.

3. Kaki bayi harus dibedong

Banyak orangtua membedong bayi untuk meluruskan kaki bayi yang pengkor. Faktanya, bedong justru menghambat perkembangan motorik bayi karena tangan dan kakinya tidak mendapatkan kesempatan bergerak. Kaki bayi yang baru lahir memang bengkok secara alami karena bayi masih terbiasa dengan posisi meringkuk setelah 9 bulan dalam kandungan. Kaki bayi akan lurus dan menguat dengan sendirinya seiring waktu, tanpa perlu dibedong.

Bedong sebaiknya hanya dilakukan setelah bayi dimandikan atau kala cuaca dingin. Tujuan bedong lebih untuk menjaga bayi dari udara dingin. Pemakaiannya pun sebaiknya longgar bukan dengan ‘dibungkus’ ketat dan kencang.

4. Ibu dan bayi yang baru lahir tidak boleh keluar rumah selama 40 hari

Anggapan bahwa ibu dan bayi tidak boleh keluar rumah selama 40 hari sebenarnya kurang tepat. Anda dan bayi tak perlu mengurung diri selama 40 hari dari kegiatan di luar rumah. 

Boleh saja beraktivitas seperti biasa jika tubuh Anda sudah kembali fit. Namun begitu, sebaiknya jangan bawa bayi yang baru lahir pergi ke tempat-tempat ramai yang terlalu banyak orang, misalnya ke mall atau ke tempat wisata, karena bayi berpotensi terkena kuman penyakit. Kekebalan bayi masih sangat rentan saat usianya di bawah 40 hari.

5. Mandikan bayi dengan air dingin supaya kuat

Memandikan bayi dengan air dingin dianggap sebagai cara membuat bayi tumbuh  kuat, adalah hal yang kurang tepat. Bayi rentan terhadap suhu dingin. Air dingin dapat membuat metabolisme tubuh bayi meningkat, yang menyebabkan makanan dalam tubuh bisa terbakar terlalu banyak untuk mengatur suhu tubuh. Akhirnya bayi kehabisan tenaga dan mudah sakit. Sebaiknya mandikan bayi dengan air hangat, angkat sebelum ia kedinginan dan pastikan bayi selalu dalam keadaan hangat setelah mandi. Mandi dengan air dingin amannya untuk anak di atas satu tahun.

6. Rambut bayi harus dicukur

Banyak orangtua yang mencukur rambut bayi sampai habis agar tumbuh lebat dan hitam. Padahal ini sama sekali tak ada hubungannya. Tebal tipis rambut seseorang sangat dipengaruhi faktor genetik turunan orangtua. Penampakan rambut yang tebal biasanya hanya karena tekstur barunya yang memang agak kasar setelah dicukur.

7. Bayi harusnya dikasih kopi saat kejang

Hati-hati dengan nasihat cara merawat bayi yang satu ini. Katanya, bayi yang kejang harus diminumi kopi hitam untuk menghentikan kelojotannya. Ini salah besar. Kafein dalam kopi dapat meningkatkan detak jantung bayi. Meski detak jantung bayi yang baru lahir pada dasarnya memang lumayan cepat (130 detak per menit, dan bisa naik hingga 160 lebih per menit saat menangis atau demam), detak jantung cepat yang tidak normal akan membahayakan kesehatan bayi Anda.

8. Baby walker bikin bayi lebih cepat berjalan

Tak sedikit orangtua yang mengandalkan baby walker untuk mempercepat kemampuan bayi berjalan. Faktanya, baby walker justru hanya memperlambat bayi kemampuan berjalan, daripada tidak menggunakannya sama sekali. Keterbatasan ruang dalam baby walker jadi membatasi ruang gerak dan visualisasinya. Selain itu, bayi yang menghabiskan waktu aktifnya “terkurung” di dalam baby walker yang sempit hanya akan belajar duduk dan bergerak mengayuhkan kaki ke sana kemari tanpa dukungan postur tubuh yang tegap dan tulang yang kuat. Lama kelamaan ini akan berdampak pada perkembangan koordinasi otot tubuhnya.

9. ASI harus diperas dan dibuang sebelum menyusui

Memeras ASI dan membuangnya sebelum menyusui adalah juga mitos cara merawat bayi yang tak perlu lagi diikuti. Anggapan ini berasal dari kata nenek moyang yang percaya bahwa ASI bisa basi. ASI tidak mungkin basi. Kadang ASI yang keluar memang terlihat kekuningan terkesan tak segar. Justru ASI seperti inilah yang berkualitas baik, terutama di masa-masa awal menyusui. Tetes ASI pertama yang berwarna kekuningan disebut sebagai kolostrum.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Aman untuk Ibu Menyusui yang Positif COVID-19

Pandemi COVID-19 memang meresahkan semua orang, termasuk ibu menyusui. Lantas, bagaimana dengan ibu yang positif terinfeksi coronavirus tetap menyusui?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 21/04/2020 . Waktu baca 6 menit

Tips Menyusui yang Baik Sesuai Bentuk Puting Ibu

Tidak semua ibu menyusui dengan mudah. Pada beberapa ibu, ada yang bermasalah dengan putingnya dan membuat menyusui terasa sulit.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Bayi, Parenting, Menyusui 23/02/2020 . Waktu baca 4 menit

Bisakah Kandungan Susu Formula Menggantikan Manfaat ASI?

Kandungan susu formula tidak akan sama dengan ASI. Namun, apakah ada kandungan penting dalam susu formula yang bisa menggantikan manfaat ASI pada bayi?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Parenting, Nutrisi Anak 07/01/2020 . Waktu baca 4 menit

Ini Cara Menyusui Bayi Prematur Agar Pertumbuhannya Optimal

Bayi prematur membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak dari bayi yang lahir secara normal. Sebaiknya Anda mengikuti cara menyusui bayi prematur ini!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Bayi, Parenting, Menyusui 06/01/2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

asi tidak keluar

Penyebab dan Cara Mengatasi ASI yang Tidak Keluar Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020 . Waktu baca 10 menit
rasa asi

Kerap Bikin Penasaran, Ternyata Seperti Inilah Rasa ASI

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020 . Waktu baca 4 menit
manajemen perah asi ibu bekerja

Ini Panduan Manajemen ASI Perah untuk Ibu Bekerja

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 28/04/2020 . Waktu baca 4 menit
peralihan asi ke susu formula

Bu, Ini Tips Peralihan dari ASI ke Susu Formula

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 27/04/2020 . Waktu baca 4 menit