Bedong Bayi: Ketahui Manfaat dan Cara Memakaikan yang Tepat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 3 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Saat bayi baru lahir, orangtua biasanya sudah menyiapkan serangkaian perlengkapan bayi baru lahir, salah satunya kain bedong. Membedong bayi merupakan salah satu tradisi yang masih dipakai masyarakat luas. Banyak pro kontra mengenai pemakaian kain bedong pada bayi, lalu apa kegunaan dari bedong bayi? Bagaimana cara bedong bayi yang benar? Berikut penjelasannya.

Manfaat memakaikan kain bedong pada bayi

manfaat membedong bayi

Membedong bayi dilakukan dengan cara melilitkan selimut kecil pada tubuh bayi untuk memberi kehangatan dan perlindungan pada bayi. 

Seperti dilansir dari Healthy Children, membedong bayi dengan cara yang benar dapat membantu bayi tidur lebih tenang dan lebih nyaman. 

Berikut beberapa manfaat membedong bayi:

1. Membuat tidur bayi lebih nyenyak

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), membedong bayi bermanfaat untuk membuat bayi tidur lebih nyenyak, nyaman, dan menenangkan bayi bila dilakukan dengan benar.

2. Mengurangi risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)

Membedong bayi dapat mengurangi risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) pada bayi baru lahir. Namun dengan catatan bahwa bayi harus ditempatkan pada posisi telentang menghadap ke atas. 

Membedong bayi membuat bayi lebih sulit bergerak ke mana-mana saat tidur, sehingga hal ini dapat melindunginya dari hal-hal berbahaya yang dapat menyebabkan SIDS saat tidur.

3. Membantu bayi tidur lebih lama

Bayi biasanya mudah terbangun karena suatu hal kecil yang mengganggu dan mengagetkannya. Membalut bayi dengan kain bedong bisa mencegah hal tersebut dan membuat tidur lebih lama.

Dengan begitu, kebutuhan waktu tidur bayi pun terpenuhi yang dapat mendukung perkembangan dan pertumbuhan bayi

4. Membantu menenangkan bayi

Membedong bayi dapat membuat bayi merasa lebih hangat. Hal ini dapat mengingatkan mereka pada lingkungan saat mereka masih berada di dalam rahim. 

Bayi yang dibedong biasanya juga lebih jarang mennangis. Jika bayi menangis atau menggeliat saat dibedong, artinya bayi ingin lengan dan kakinya bisa bergerak bebas. Sebaiknya, longgarkan sedikit kali bedong bayi.

5. Meningkatkan perkembangan neuromuskular

Membedong bayi dapat membatasi pergerakan tangan dan kaki bayi. Hal ini dapat membantu mengembangkan keterampilan motorik bayi  lebih baik untuk kedepannya. Manfaat membedong bayi ini terutama sangat membantu bagi bayi prematur.

Cara bedong bayi yang benar

shutterstock_305883689

Jika ingin membedong bayi, pastikan Anda tahu bagaimana caranya yang benar. Berikut ini langkah-langkah dan cara bedong bayi yang tepat:

  1. Taruh kain di permukaan datar dan lipat sedikit salah satu sudutnya.
  2. Tempatkan bayi pada lipatan selimut, bahu bayi berada tepat di atas lipatan tersebut.
  3. Pastikan kedua lengan bayi berada di bawah dan mengapit tubuhnya.
  4. Tarik sudut selimut dekat lengan kirinya menutupi lengan kiri dan dadanya, kemudian selipkan sudut selimut tersebut di bawah sisi kanan tubuhnya (berikan sedikit kelonggaran agar bayi dapat bebas bergerak).
  5. Tarik sudut selimut dekat lengan kanannya menutupi lengan kanan dan dadanya, kemudian selipkan sudut selimut tersebut di bawah sisi kiri tubunya (berikan sedikit kelonggaran agar bayi dapat bebas bergerak).
  6. Putar atau lipat ujung bawah selimut tersebut dan selipkan ke bagian belakang bayi. Pastikan kedua kakinya agak menekuk ke atas, serta kaki dan pinggulnya dapat bebas bergerak

Hindari membedong bayi terlalu ketat. Hal ini bisa menyebabkan persendian pada kaki bayi melonggar karena kaki terlalu diluruskan. Selain itu, cara ini juga dapat merusak tulang rawan lunak dari rongga pinggul yang mengarah pada hip dysplasia

Hal yang harus diperhatikan saat memakaikan bedong bayi

bayi berhenti dibedong

Membedong bayi dengan cara yang salah dapat membawa dampak yang buruk bagi si kecil, seperti merusak persendian pada kaki dan pinggul bayi yang dapat berkembang menjadi hip dysplasia.

Beberapa hal yang harus Anda perhatikan saat membedong bayi adalah:

Hindari bedong bayi terlalu ketat

Jangan membedong bayi terlalu ketat terutama pada bagian kaki. Banyak ibu yang menarik dan menekan kaki bayinya sebelum melilitkan selimut bedongan. 

Hal ini dapat membuat kaki dan pinggul bayi tidak bebas untuk bergerak. Selain itu, kaki bayi yang diluruskan dengan paksa juga dapat menyebabkan persendian pada kaki dan pinggul bayi melonggar.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bayi terkena hip dysplasia (gangguan pembentukan sendi pinggul di mana bagian atas tulang paha tidak berada tepat di rongga pinggul).

Eratkan bedongan bagian atas

Biasanya para ibu membedong bayinya dengan memberikan kelonggaran pada bagian atas bedongan dan lebih erat pada bedongan bagian bawah. 

Namun sebenarnya, yang harus dilakukan adalah sebaliknya. Beri kelonggaran pada bagian bawah bedongan, dan bedong lebih erat bagian atas. 

Pergerakan bayi akan membuat bedongan sedikit terlepas, sehingga pastikan lengan bayi sudah dibedong dengan erat dan bedongan sudah terlilit dengan rapi. 

Selimut bedongan bagian atas yang terlepas dapat menjadi faktor risiko dari sudden infant death syndrome (SIDS) atau kematian bayi secara mendadak. 

Membedong bayi merupakan salah satu cara untuk menurunkan risiko SIDS karena memberikan kenyamanan pada bayi saat tertidur.

Awasi saat bayi sedang tidur

Saat tidur, sebaiknya awasi bayi yang dibedong jangan sampai terguling dan tidur dalam posisi telungkup. Tidur dalam posisi telungkup dapat membuat jalan napas bayi terhalangi, sehingga dapat memperbesar risiko bayi mengalami SIDS. 

Selain itu, usahakan agar tidak ada benda-benda apapun di sekitar bayi saat ia tidur, seperti selimut atau bantal. Benda-benda tersebut dapat menutupi hidung bayi, sehingga ia bisa mengalami kesulitan saat bernapas.

Risiko bila bayi dibedong dengan posisi tidak tepat

penyebab tidak menangis

Membedong bayi yang tidak benar akan meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, kematian bayi mendadak disebabkan oleh cara membedong yang salah.

Pertama, orangtua membedong terlalu kencang, bayi bisa tercekik dalam tidurnya.

Kedua, karena bedongan terlalu longgar, kemungkinan kain akan terlepas dan menutupi hidung karena lengan bayi bisa bergerak bebas sehingga kain menutupi mulut dan hidung.

Risiko lain yang bisa terjadi adalah dysplasia, yaitu ketidaknormalan pertumbuhan jaringan atau organ karena kaki bayi harus diluruskan ketika dibedong.

Tulang rawan dan sendi bayi bisa rusak bila hal ini terjadi. Selain itu, bayi lebih rentan dengan beberapa masalah kulit bayi, seperti ruam atau biang keringat karena cepat berkeringat akibat dibedong.

Kapan sebaiknya bayi tidak perlu memakai bedong lagi?

tumbuh kembang bayi prematur

Bayi sudah tidak perlu dibedong lagi ketika bayi sudah mulai bisa berguling. Biasanya bayi sudah bisa berguling mulai usia 4 sampai 6 bulan.

Namun karena perkembangan bayi yang berbeda-beda, mungkin juga ada bayi yang sudah bisa berguling sebelum bayi berusia 4 bulan.

Selain penentuan usia bayi yang disarankan, orangtua juga bisa memperhatikan beberapa tanda ketika bayi ingin bedongan dilepaskan. Berikut tanda-tandanya:

  • Bayi sering terbangun pada malam hari seolah-olah mencari posisi nyaman untuk bayi tidur.
  • Bila bedongan hanya dibatasi dari bagian dada hingga kaki, dan bayi sudah mulai bergerak-gerak untuk menggulingkan badannya.
  • Bedongan yang hanya membungkus bagian dada sampai kaki mungkin bisa terlepas sebab bayi terus bergerak.

Tanda-tanda berikut adalah transisi perkembangan pergerakan bayi untuk posisi berguling dan juga sebagai tanda bahwa orangtua harus berhenti membedongnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Bayi 1 Minggu

Bayi Anda kini sudah memasuki usia 1 minggu. Apa saja perkembangan bayi 1 minggu? Cari tahu kemampuan si kecil ketika berusia 1 minggu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 6 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Tahap Demi Tahap Perkembangan Bayi Usia 0-11 Bulan

Satu tahun pertama merupakan masa tumbuh kembang yang paling penting. Yuk, simak tahap perkembangan bayi dari baru lahir hingga berusia 11 bulan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 6 Oktober 2020 . Waktu baca 16 menit

Cara Membersihkan Badan Bayi dari Kepala, Tali Pusat, Sampai Organ Intim

Kebanyakan orangtua baru bingung bagaimana cara membersihkan badan bayi. Berikut panduannya, mulai dari kepala, tali pusat, sampai organ intim si kecil.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 5 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Penjelasan Lengkap Imunisasi, Mulai dari Pengertian, Manfaat, Sampai Jenisnya

Imunisasi penting untuk mencegah si kecil terkena penyakit berbahaya di kemudian hari. Untuk lebih jelasnya, berikut semua hal yang perlu diketahui.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bayi baru lahir

Tahapan Perkembangan Bayi Baru Lahir 0-7 Minggu

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 15 menit
Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
menghadapi anak masturbasi

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perkembangan bayi 2 minggu setelah lahir

Perkembangan Bayi 2 Minggu

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit