Kenali Gejala Stres pada Anak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16 November 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Anak-anak memang belum cukup banyak makan asam garam kehidupan, tetapi bukan berarti ia tidak bisa stres. Stres bisa saja terjadi pada anak, terlebih karena ia belum mengerti bagaimana cara efektif untuk menyelesaikan masalah.

Lantas, seperti apa penyebab stres pada anak, ciri-ciri, dan bagaimana cara mengatasi stres tersebut? Temukan informasi selengkapnya dalam ulasan berikut, ya, Bu!

Apa penyebab stres pada anak?

anak mimpi buruk

Kebanyakan orangtua umumnya tidak menyadari munculnya ciri-ciri stres pada anak. Ini bisa jadi disebabkan oleh pemahaman keliru bahwa hanya orang dewasa yang bisa stres.

Stres pada anak dapat muncul dari tuntutan yang berasal dari lingkungan sekitar seperti orang tua, sekolah, ataupun lingkungan sosial.

Selain itu, rasa stres juga dapat muncul dari dalam diri sendiri ketika adanya perbedaan antara hal yang ingin dicapai dengan kemampuan diri sendiri.

Sumber stres yang dapat berdampak buruk pada anak merupakan jenis stres yang dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan, cedera, ataupun sakit yang di luar kemampuan mereka untuk menghadapinya.

Sumber stres yang umum dialami oleh usia anak di antaranya:

  • Kecemasan berlebih terkait tugas sekolah dan peringkat akademis
  • Kesulitan untuk merasa rileks karena padatnya jadwal atau tanggung jawab
  • Sering berpindah rumah atau sekolah
  • Mengalami hidup terlantar
  • Mengalami bullying atau tekanan dari teman sebaya atau lingkungan sosial
  • Memiliki pikiran buruk akan dirinya sendiri
  • Sedang melewati masa pubertas dengan perubahan emosi dan fisik
  • Menghadapi perceraian atau pisah rumah kedua orang tua
  • Menghadapi lingkungan keluarga yang bermasalah
  • Hidup dalam keluarga yang mengalami kesulitan finansial
  • Tinggal di lingkungan rumah yang tidak aman

Di samping contoh di atas, beberapa hal dapat secara tidak langsung juga dapat membuat anak cemas dan merasa tertekan.

Hal ini contohnya mendengar pertengkaran orangtua, kekerasan pada anak, atau terpapar informasi seperti masalah sosial yang belum sesuai dengan usianya.

Apa saja ciri-ciri stres pada anak?

tantrum pada anak yang berbahaya

Anak-anak, termasuk di masa perkembangan anak 6-9 tahun, umumnya belum bisa memahami dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Mereka sendiri bahkan tidak sadar kalau yang dialaminya adalah stres.

Oleh karenanya, sudah menjadi tugas Anda sebagai orangtua untuk membantu mengenali gejala atau ciri-ciri stres pada anak.

Berikut ciri-ciri anak mengalami stres yang perlu segera disadari:

1. Munculnya perilaku negatif

Perhatikan kalau akhir-akhir ini anak menunjukkan perubahan perilaku yang kurang baik. Apakah anak jadi mudah marah, tersinggung, mengeluh, membantah, atau menangis?

Kebiasaan anak untuk jujur yang biasa dilakukannya mungkin berganti perlahan menjadi kerap berbohong dan menyalahi aturan di rumah.

Sebagai contohnya anak tidak jujur dengan nilai yang didapatkannya di sekolah serta menolak mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang jadi tanggung jawabnya.  

2. Stres pada anak membuatnya merasa takut

Salah satu gejala atau ciri-ciri anak stres adalah tiba-tiba jadi mudah takut. 

Ketakutan tersebut misalnya jadi tidak berani sendiri, takut ruangan yang gelap, takut ditinggal orangtua, atau takut menghadapi orang asing.

Jika sebelumnya anak adalah sosok yang cukup pemberani, perubahan ini bisa menjadi ciri-ciri bahwa anak mengalami stres. 

3. Menarik diri dari keluarga atau pergaulan

Saat dilanda stres, anak mungkin memilih untuk menghindari interaksi dengan keluarga atau teman-temannya.

Perhatikan apakah anak selalu menghindar ketika Anda bertanya, tidak mau diajak makan atau pergi bersama, atau lebih sering menghabiskan waktu sendirian di kamar.

Begitu juga perubahan saat anak jadi jarang bermain dengan teman-temannya.

Ciri-ciri tersebut bisa menjadi pertanda bahwa ada yang sedang ia alami atau pikirkan sehingga membuat anak menjadi stres.

anak melakukan bullying

4. Sakit tanpa penyebab yang jelas

Mengutip dari American Psychological Association, jika stres yang muncul sudah begitu serius, anak biasanya mengalami gejala-gejala fisik seperti sakit perut, sakit kepala, atau pusing.

Namun ketika diperiksa ke dokter, anak dinyatakan tidak sedang mengidap penyakit tertentu. Gejala atau ciri-ciri tersebut adalah reaksi tubuh anak terhadap stres.

5. Perubahan nafsu makan

Nafsu makan anak bisa naik atau menurun secara drastis karena stres.

Bila anak susah makan karena tidak nafsu makan, ia mungkin saja beralasan bahwa makanannya tidak enak atau sedang tidak lapar.

Sementara kalau nafsu makannya naik, anak mungkin jadi lebih sering ngemil dan cepat lapar padahal sudah makan.

6. Sulit tidur

Tak cuma orang dewasa yang kalau sedang stres jadi susah tidur, anak yang sedang dilanda stres juga demikian.

Selain susah tidur, biasanya stres pada anak membuatnya sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk.

Hal ini tentu membuat kualitas tidur anak menurun karena jam tidurnya berkurang.

penyebab anak susah tidur

7. Mengompol

Hati-hati kalau anak yang sudah berhenti mengompol tiba-tiba kembali menunjukkan kebiasaan tersebut.

Biasanya anak yang sedang stres memang kembali melakukan berbagai kebiasaan yang dimilikinya saat kecil dulu.

Di samping mengompol, anak mungkin juga mengisap jari lagi setelah kebiasaan tersebut lama hilang.

8. Sulit berkonsentrasi

Karena merasa kewalahan dengan beban yang ditanggung, anak pun sulit berkonsentrasi.

Kesulitan dalam berkonsentrasi tersebut dialaminya saat belajar di sekolah, mendengarkan perintah dari orangtua, atau bahkan ketika menonton televisi.

Perhatikan kalau anak cenderung menatap kosong ke depan atau menunduk saat melakukan aktivitas-aktivitas seperti biasanya.

Itu bisa menjadi tanda anak sudah tidak konsentrasi lagi terhadap hal yang sedang dilakukan.

Apa dampak stres pada anak?

vitamin penambah nafsu makan

Ketika anak sudah menunjukkan berbagai gejala stres, sebaiknya jangan diabaikan.

Stres pada anak yang terus dibiarkan bisa berdampak negatif dalam jangka panjang. 

Berikut beberapa dampak yang mungkin terjadi akibat stres pada anak:

  • Anak yang stres juga lebih rentan mengidap gangguan jiwa seperti depresi.
  • Anak berisiko mengalami kekurangan gizi atau kelebihan berat badan karena pengaruh perubahan nafsu makan akibat stres.
  • Prestasi di sekolah menurun karena sulit berkonsentrasi saat belajar.

Selain berdampak terhadap kesehatan mental di masa anak-anak, stres juga memengaruhi perkembangan emosi anak.

Bukan hanya itu, perkembangan kognitif anak dan perkembangan sosial anak juga dapat ikut terkena dampak dari stres.

Perubahan nafsu makan yang dialami anak karena stres juga bisa berdampak pada perkembangan fisik anak.

Bagaimana cara mengatasi stres pada anak?

Mengingat dampak yang bisa ditimbulkan dari stres pada anak tidak main-main, pastikan Anda tahu bagaimana cara mengatasi yang tepat bila hal ini terjadi pada si kecil.

Berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres pada anak yakni sebagai berikut:

1. Bantu anak menyadari bahwa ia sedang dilanda stres

Jika anak sudah menunjukkan gejala-gejala stres, belum tentu ia sendiri menyadari kalau gejala tersebut adalah bentuk dari stres.

Orangtua harus membantu menyadarkan anak. Anda bisa bilang, “Kakak stres ya kalau pulang sekolah masih harus les lagi sampai malam?”

Kemudian lanjutkan dengan, “Ibu tahu Kakak sedang stres, tapi Ibu nggak tahu alasannya. Kakak mau cerita sama Ibu, nggak?”

Berikan pertanyaan ringan yang membantu anak menyadari apa yang saat ini sedang ia rasaka

2. Dengarkan keluh kesahnya

Ketika anak sudah mulai tenang dan mau membuka diri, dengarkan baik-baik keluh kesahnya tanpa maksud menyalahkan, menghakimi, atau menggurui.

Biarkan saja anak bercerita panjang lebar dan jangan disela kecuali Anda ingin memastikan saat kurang memahami apa yang anak sampaikan. 

Berdasarkan laman Medline Plus, buat anak merasa dimengerti dan dicintai, tetapi bukan dengan memarahi atau mengkritiknya.

Beri tahu anak bahwa Anda tidak kesal ketika ia selalu menggigiti kuku atau mengompol agar dirinya merasa aman.

Sebaliknya, bila dimarahi, anak justru tidak akan menghentikan tingkah lakunya, bahkan bisa membuat anak semakin takut.

3. Bantu anak memahami perasaannya

Setelah anak bercerita soal apa yang membuatnya stres, yakinkan anak bahwa Anda memahami dan sangat memaklumi perasaannya.

Katakan dengan lembut, “Pantas saja kamu merasa kesal sekali,” atau, “Kamu pasti sangat kecewa ya, Nak?”.

Kemudian jelaskan baik-baik kalau apa yang dirasakan dan dialaminya adalah bagian dari proses hidup.

Kadang orangtua bisa lupa kalau anak-anak bisa juga mengalami kegagalan atau kesulitan.

Anda juga mungkin terlalu berharap anak harus sukses di sekolah, punya banyak teman, selalu ceria, dan tidak pernah menemui kesulitan dalam hidupnya.

Maka itu, jadikan kesempatan ini sebagai ajang bagi si kecil untuk mengenali emosi negatif dan memahaminya sebagai bagian yang lumrah dari hidup.  

4. Jelaskan pada anak bahwa stres itu normal

Buat anak mengerti bahwa tidak apa-apa untuk merasa takut, sedih, atau marah.

Beri tahu juga bagaimana cara yang baik untuk mengatasi situasi-situas tersebut.

Cara ini membuat mereka tidak merasa sendirian menghadapi situasi-situasi menakutkan dan membuat anak lebih berani untuk membicarakan apa yang mereka rasakan juga.

5. Ajarkan anak mengelola emosi

Bila sudah paham bahwa emosi negatif itu adalah hal yang wajar, bantu anak untuk mengelola emosinya dengan baik.

Ingat, setiap anak berbeda sehingga caranya mengelola emosi pada masing-masing anak juga tidak sama.

Ada anak yang bisa merasa lebih baik setelah berolahraga atau bergerak aktif. Ada juga yang akan lebih lega dan tenang kalau sudah menangis.

Itu sebabnya, Anda harus peka melihat dan mau mencoba berbagai cara yang sekiranya paling efektif.

6. Cari solusi stres pada anak bersama-sama

Langkah selanjutnya yaitu mencari solusi bersama-sama.

Tanyakan dulu pada anak apa yang dia inginkan dan cari jalan tengahnya.

Ambil contohnya anak stres karena harus pindah sekolah dan ia tidak rela berpisah dari teman-temannya.

Anda bisa menyarankan anak untuk mengundang teman-teman lamanya untuk main ke rumah di akhir pekan.

Jika cara tersebut tidak memungkinkan, berkomunikasi dengan teman-temannya melalui telepon.  

7. Bangun suasana rumah yang tenang dan aman

Cara mengatasi stres pada anak lainnya yaitu dengan memastikan suasana di rumah cukup tenang supaya ia merasa aman bersama keluarganya.

Bila ternyata setiap bangun pagi saja sudah diburu-buru dan diteriaki atau kalau orangtuanya bertengkar terus, anak pun jadi tambah stres.   

8. Luangkan waktu untuk anak

Selain membangun suasana yang nyaman di rumah, Anda juga sebaiknya meluangkan waktu berkualitas bersama anak.

Meluangkan waktu untuk anak bisa hanya dengan menemaninya makan atau mendengarkan keluh-kesahnya setiap hari. 

Tunjukkan pada anak bahwa Anda akan selalu ada di saat ia membutuhkan.

Bila setiap hari Anda kerja di kantor, coba lebih sering menelepon anak, misalnya kalau anak sudah pulang sekolah.

Usahakan juga untuk langsung pulang kalau pekerjaan di kantor sudah selesai.

9. Dukung anak dengan hal-hal yang positif

Agar anak bisa mengurangi stres, dampingi anak dan berikan dukungan positif.

Berikan pujian kalau ia berhasil melewati satu hari tanpa menangis bila hal ini cukup sering dilakukan anak sebelumnya.

Selain itu, jangan lupa semangati anak dengan pelukan, ciuman, atau kata-kata penyemangat setiap hari.

10. Pastikan anak cukup tidur dan makan

Anak yang sedang stres bisa kurang tidur dan kurang makan.

Sudah jadi tugas Anda untuk memantau dan memastikan anak tetap cukup tidur dan cukup makan.

Ajak anak untuk menjalani pola hidup sehat, contohnya dengan olahraga rutin agar ia bisa tidur lebih nyenyak dan meningkatkan nafsu makan.

Berikan berbagai makanan sehat untuk anak dalam menu makanan harian, bekal anak sekolah, maupun camilan sehat untuk anak

Bila stres pada anak tak kunjung membaik, Anda bisa berkonsultasi dengan seorang psikolog anak sebagai solusi lainnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Stres Berkepanjangan Ternyata Bisa Mengubah Bentuk dan Fungsi Otak

Stres adalah hal yang wajar. Namun, stres yang dibiarkan berlarut-larut bisa mengubah bentuk dan fungsi otak. Ini sederet cara mencegahnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 7 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Stres Ternyata Membuat Seseorang Menerima Berita Buruk dengan Berbeda

Siapa yang tidak pernah merasa stres? Faktanya, ketika seseorang dilanda stres disebut dapat mengubah cara mereka menangani kabar buruk. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 4 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Begini Cara Mengatasi Stres Karena PHK Akibat dari Pandemi COVID-19

Imbas dari COVID-19 membuat sebagian pekerja diberhentikan dari pekerjaannya dan merasa stres. Yuk, kenali cara mengatasi stres karena PHK di sini.

Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 4 Mei 2020 . Waktu baca 7 menit

5 Langkah Cerdas Menjelaskan COVID-19 dan Penyakit Pandemi pada Anak

Ditetapkannya COVID-19 sebagai pandemi global oleh WHO meningkatkan kewaspadaan masyarakat, termasuk orangtua. Bagaimana menjelaskan COVID-19 ke anak?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 16 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

anak stunting

Stunting pada Anak: Ketahui Penyebab, Ciri, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 12 menit
berimajinasi mengatasi stres

Berimajinasi Bantu Atasi Stres dan Gangguan Kecemasan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 7 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Dampaknya Bila Orangtua Sering Membentak Anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22 Juni 2020 . Waktu baca 7 menit
tinggi anak, tumbuh kembang anak pandemi

Pentingnya Mengontrol Tumbuh Kembang Anak Saat Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit