home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Wajib Tahu, Macam-Macam Obat Berdasarkan Tujuan Penggunaannya

Wajib Tahu, Macam-Macam Obat Berdasarkan Tujuan Penggunaannya

Obat berperan penting dalam mencegah, mengurangi, dan menyembuhkan gejala, penyakit, atau gangguan kesehatan tertentu. Sebagian besar metode terapi atau penanganan medis tidak terlepas dari penggunaan obat-obatan. Begitu banyak jenis obat dengan fungsi berbeda yang bisa mengatasi berbagai penyakit, mulai dari penyakit ringan hingga berat.

Nah, agar lebih paham, ketahui jenis obat-obatan berdasarkan bentuk sediaan dan klasifikasi berikut ini, yuk!

Jenis obat berdasarkan bentuk atau ketersediaannya

Berbagai obat stroke ringan

Obat tersusun dari bahan atau zat aktif yang memiliki efek terapis (pemulih) pada tubuh. Zat aktif penyusun obat bisa diformulasikan ke dalam berbagai bentuk.

Umumnya, Anda mungkin sering menemukan obat dalam bentuk padat seperti tablet atau kapsul.

Namun, terdapat juga jenis obat lain yang tersedia dalam bentuk sirup, suntikan, atau suppositoria.

Formulasi obat dalam bentuk yang berbeda bertujuan untuk mendukung fungsi dan kemanjurannya, misalnya obat-obatan tertentu akan lebih efektif dan cepat bekerja jika disuntikkan daripada diminum.

Selain itu, bentuk obat juga disesuaikan dengan kebutuhan pasien, seperti jenis obat cair yang diresepkan pada pasien yang kesulitan menelan obat padat.

Berdasarkan bentuk sediaan obat, NHS menjelaskan tipe obat dapat dikelompokan sebagai berikut:

1. Obat cair

Seperti namanya, obat ini terdiri dari zat aktif yang dilarutkan dalam cairan sehingga lebih mudah untuk diminum sekaligus lebih cepat terserap oleh tubuh.

Jenis obat cair yang umumnya adalah sirup dan puyer.

Pada obat puyer untuk anak-anak biasanya pelarut yang digunakan ditambahkan sedikit pewarna dan gula untuk mengurangi rasa pahit obat.

Akan tetapi, sekarang ini sudah banyak tersedia pelarut obat yang tidak mengandung pewarna ataupun pemanis.

2. Tablet

Obat tablet biasanya berupa padatan berbentuk bulat atau oval.

Jenis obat ini tersusun atas zat aktif yang dikombinasikan dengan bahan-bahan tertentu dan kemudian dipadatkan.

Sekalipun bentuknya padat, obat tablet bisa dengan mudah larut di dalam air sehingga aman untuk pencernaan.

3. Kapsul

Pada obat kapsul, zat aktif dalam bentuk bubuk tersimpan di dalam tabung plastik kecil yang bisa larut secara perlahan.

Ada beberapa jenis obat kapsul yang perlu dikonsumsi dalam bentuk utuh. Namun, Anda bisa membuka tabung plastiknya untuk mengeluarkan bubuk obat yang berisi zat aktif.

Bubuk obat ini bisa Anda taburkan untuk dicampur dengan makanan atau minuman favorit.

Cara minum obat ini biasanya diterapkan pada anak-anak yang kesulitan untuk minum obat kapsul.

Meski begitu, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter tentang tata cara minum obat kapsul yang tepat.

4. Obat oles

Jenis obat ini juga dikenal dengan obat topikal atau obat luar karena diaplikasikan langsung di atas kulit.

Hal tersebut bertujuan agar obat les efektif untuk mengatasi berbagai penyakit kulit, cedera otot, maupun gangguan saraf.

Obat oles biasanya berupa salep, losion, krim, atau minyak pelembab yang dibungkus dalam tabung atau botol.

Zat aktif pada obat dicampurkan dengan komponen lain sehingga membuat obat ini lebih mudah dioleskan dan menyerap dalam kulit.

5. Suppositoria

Suppositoria adalah obat yang tersusun dari zat aktif berupa krim, losion, atau minyak pelembab yang dibungkus dalam tabung pipih atau berbentuk menyerupai peluru.

Namun, penggunaan suppositoria bukan untuk dioleskan pada kulit, melainkan dimasukkan secara langsung melalui lubang anus.

Oleh karena itu, jenis obat ini biasanya digunakan untuk obat sembelit (pencahar).

Suppositoria juga bisa diberikan melalui vagina atau uretra.

6. Obat tetes

Beberapa jenis obat akan lebih efektif bekerja apabila diaplikasikan langsung pada bagian tubuh, salah satunya adalah obat tetes.

Obat tetes adalah cairan yang mengandung zat aktif. Jenis obat ini umumnya digunakan langsung pada hidung, mata, atau kuping.

7. Inhaler

Inhaler biasanya terdapat dalam bentuk tabung yang berisi zat aktif.

Saat menggunakan inhaler, zat aktif yang tersimpan dalam tabung obat akan dilepaskan dan mengalir ke dalam paru-paru.

Pada awalnya, Anda mungkin akan kesulitan menggunakan jenis obat yang satu ini. Penggunaan inhaler pada anak-anak bahkan membutuhkan alat bantu seperti spacer.

Oleh karena itu, sebelum menggunakannya, sebaiknya tanyakan tata cara pakai inhaler pada dokter atau apoteker terlebih dulu.

8. Obat suntik

Sebagaimana namanya, jenis obat ini diberikan melalui suntikan. Obat suntik sendiri terdiri dari beberapa tipe yang ditentukan berdasarkan lokasi penyuntikkannya.

Obat yang disuntikkan di dalam permukaan kulit adalah subcutaneous injection (SC). Sementara itu, ada jugua intramuscular (IM) yakni obat suntik yang disuntikkan secara langsung pada jaringan otot.

Macam-macam obat suntik lainnya adalah suntikan intratekal yang diberikan ke dalam cairan di sekitar sumsum tulang belakang dan suntikan intravena (IV) yang langsung ke pembuluh darah.

Sebagian besar obat suntik memang digunakan dalam pengobatan di rumah sakit, meskipun beberapa jenis lainnya bisa juga diberikan di rumah, seperti suntik insulin.

9. Implan atau obat tempel

Zat aktif pada obat ini dapat menyerap melalui kulit dan memberikan efek langsung pada tubuh.

Beberapa jenis obat tempel adalah koyo untuk meredakan pegal, plester nikotin untuk mengurangi kebiasaan merokok, dan implan untuk alat kontrasepsi.

Tujuan mengetahui klasifikasi obat

magnesium klorida

Obat-obatan juga bisa dikelompokkan berdasarkan kemiripan fungsi, cara kerja, kandungan zat aktif, dan struktur kimia obat dalam klasifikasi tertentu.

Klasifikasi obat bertujuan untuk keamanan sekaligus mengoptimalkan penggunaan obat-obatan sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih besar ketimbang risikonya.

Pasalnya, setiap konsumsi obat menyebabkan perubahan reaksi kimia tertentu pada tubuh. Selain untuk memulihkan gangguan kesehatan tertentu, obat juga bisa memberikan efek samping.

Jika Anda terlalu banyak minum obat, apalagi dalam jangka waktu lama, perubahan reaksi kimia di dalam tubuh bisa membuat kerja obat menjadi semakin kurang efektif.

Bahkan, kebanyakan minum obat juga berisiko meningkatkan efek samping yang lebih berbahaya.

Klasifikasi obat juga membantu dokter dan tenaga kesehatan lain mengetahui efek dari interaksi dari penggunaan beberapa obat.

Hal ini dapat membantu menentukan dosis dan tahapan pengobatan yang tepat sekaligus mencegah efek kebal obat, seperti resistensi antibiotik.

Jenis obat berdasarkan klasifikasi medis

lithium litium adalah obat

Sebenarnya, dalam dunia farmasi ada beberapa klasifikasi obat yang dapat dijadikan rujukan oleh dokter dan tenaga medis, seperti ATC Classification System dari WHO atau penggolongan obat-obatan dari Kementerian Kesehatan RI.

Namun, klasifikasi dari United States Pharmacopeia (USP) membantu Anda sebagai pasien untuk mengenali jenis-jenis obat berdasarkan kandungan, kegunaan, dan cara kerjanya dengan lebih mudah.

Berikut ini adalah macam-macam golongan obat yang termasuk dalam klasifikasi USP beserta manfaatnya:

1. Analgesik

Fungsi utama obat ini adalah untuk meredakan nyeri. Terdapat dua jenis obat analgesik, yaitu non-narkotika untuk mengatasi nyeri ringan dan analgesik narkotika untuk nyeri berat.

2. Antasida

Obat antasida dapat meredakan gangguan pencernaan dan gejala mulas dengan cara menetralkan kadar asam lambung.

3. Anticemas

Kelompok obat-obatan ini bersifat sedatif dan bekerja dengan cara mengurangi kecemasan dan mengendurkan otot-otot tubuh.

Anticemas juga disebut sebagai anxiolytics atau obat penenang ringan.

4. Antiaritmia

Kegunaan obat antiaritmia adalah mengontrol detak jantung yang tidak teratur sehingga sering digunakan dalam pengobatan berbagai gangguan jantung.

5. Antibiotik

Jenis obat ini berasal dari bahan alami dan sintetis yang bertugas untuk memerangi infeksi bakteri.

Beberapa antibiotik hanya efektif melawan jenis bakteri tertentu, tetapi jenis antibiotik spektrum luas efektif melawan berbagai macam bakteri.

6. Antikoagulan dan trombolitik

Tipe obat-obatan antikoagulan dapat mencegah pembekuan darah. Sementara trombolitik membantu melarutkan penggumpalan darah.

7. Antikonvulsan

Jenis obat antikonvulsan berfungsi untuk mencegah kejang atau serangan epilepsi, salah satu jenisnya adalah phenytoin.

8. Antidepresan

Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan suasana hati dan memperlambat kerja hormon tertentu.

Ada tiga kelompok utama obat antidepresan yaitu trisiklik, inhibitor oksidase monoamine, dan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).

9. Antidiare

Sesuai namanya, tipe obat ini digunakan untuk meredakan diare.

Cara kerja obat antidiare adalah mengurangi kontraksi otot usus sehingga bekerja lebih lambat dalam mendorong makanan keluar dari tubuh.

10. Antiemetik

Obat untuk mengobati mual dan muntah sehingga dikenal juga sebagai antiemetik atau antimuntah.

Jenis obat ini bekerja mengganggu reseptor saraf di otak yang berhenti memicu respons mual dan muntah.

11. Antijamur

Jenis obat ini digunakan untuk mengobati infeksi jamur yang umumnya menyerang rambut, kulit, kuku, atau selaput lendir.

12. Antihistamin

Fungsi utama obat antihistamin adalah melawan efek histamin yaitu salah satu bahan kimia yang bisa menyebabkan reaksi alergi.

Itu sebabnya, antihistamin dikenal juga sebagai obat alergi.

13. Antihipertensi

Kegunaan obat antihipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah.

Jenis-jenis obat darah tinggi yang ada saat ini adalah diuretik, beta inhibitor, ACE inhibitor (captopril, enalapril, lisinopril), dan antihipertensi yang bekerja secara terpusat, dan simpatolitik.

14. Anti-inflamasi

Obat-obatan anti-inflamasi atau antiperadangan digunakan untuk mengurangi peradangan, kemerahan, panas, bengkak, dan peningkatan aliran darah.

Gejala tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit infeksi.

Namun, obat jenis ini juga bisa mengatasi peradangan akibat penyakit non-infeksi kronis seperti rheumatoid arthritis dan asam urat.

15. Antineoplastik

Antineoplastik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi kanker dalam pengobatan kemoterapi.

Obat antineoplastik bekerja dengan cara membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya.

16. Antipsikotik

Obat ini bekerja untuk mengobati gejala gangguan kejiwaan yang parah. Antipsikotik terkadang disebut juga sebagai obat penenang utama.

Jenis-jenis antipsikotik meliputi olanzapine, haloperidol, dan risperidone.

17. Antipiretik

Antipiretik adalah golongan obat yang berfungsi untuk menurunkan demam dan meredakan nyeri akibat radang sendi, cedera, sakit gigi, dan sakit kepala.

18. Antivirus

Jenis obat ini bertugas untuk mengobati infeksi virus dan memberikan perlindungan sementara terhadap serangan virus, contohnya influenza.

Beberapa jenis obat antivirus di antaranya adalah acyclovir, antiretroviral, dan oseltamivir.

19. Beta-blocker

Obat beta-blocker atau penghambat beta berperan juga disebut sebagai agen penghambat beta-adrenergik.

Beta blocker dapat mengobati masalah pada jantung, seperti mengurangi kebutuhan oksigen jantung dengan cara mengurangi detak jantung.

20. Bronkodilator

Kegunaan utama obat ini adalah membuka saluran bronkial di dalam paru-paru saat saluran pernapasan menyempit.

Bronkodilator seperti salbutamol bertugas untuk memudahkan pernapasan, misalnya pada penyakit asma.

21. Kortikosteroid

Jenis obat kortokosteroid umumnya digunakan sebagai anti-inflamasi atau antiperadangan pada radang sendi maupun asma.

Obat kortikosteroid juga berfungsi untuk menekan kerja sistem imun (imunosupresif).

Selain itu, kortikosteroid berguna untuk mengobati gejala akibat kondisi kekurangan hormon alami pada penyakit Addison.

22. Sitotoksik

Jenis obat sitotoksik dapat membunuh atau merusak sel sehingga berperan sebagai antineoplastik (obat kanker) dan imunosupresif.

Beberapa jenis obat sitotoksis adalah capecitabine, mercaptopurinem, dan tamoxifen.

23. Dekongestan

Dekongestan bertugas untuk mengurangi pembengkakan pada selaput lendir yang melapisi hidung.

Cara kerja obat dekongestan yakni menyempitkan pembuluh darah,sehingga mampu meredakan hidung tersumbat.

24. Ekspektoran

Jenis obat ekspektoran bekerja merangsang aliran air liur dan memicu refleks batuk guna menghilangkan dahak dari saluran pernapasan.

25. Obat tidur

Obat tidur adalah jenis obat-obatan yang memiliki efek menenangkan atau sedatif dalam dosis rendah hingga tinggi.

Dua jenis obat tidur untuk insomnia yang paling sering digunakan adalah benzodiazepin dan barbiturat.

Nah, setelah mengenal jenis dan klasifikasi obat di atas dapat membantu Anda untuk memahami fungsi utama serta risiko dari obat yang digunakan.

Anda juga bisa mengetahui beberapa pilihan obat pengganti dengan kegunaan yang sama bila konsumsi obat tertentu ternyata kurang manjur atau memberikan efek samping yang merugikan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Masnoon, N., Shakib, S., Kalisch-Ellett, L., & Caughey, G. (2017). What is polypharmacy? A systematic review of definitions. BMC Geriatrics, 17(1). doi: 10.1186/s12877-017-0621-2

USP. (2021). USP Medicare Model Guidelines v6.0 & v5.0. Retrieved 8 March 2021, from https://www.usp.org/health-quality-safety/usp-medicare-model-guidelines/medicare-model-guidelines-v50-v40#:~:text=A%20USP%20Class%20is%20a,practices%20and%20standards%20of%20care

FDA. (2019). Pharmacologic Class. Retrieved 8 March 2021, from https://www.fda.gov/industry/structured-product-labeling-resources/pharmacologic-class

FDA. (2018). General Drug Categories. Retrieved 8 March 2021, from https://www.fda.gov/drugs/investigational-new-drug-ind-application/general-drug-categories

Nuryati. (2017). Farmakologi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved from http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/11/FARMAKOLOGI-RMIK_FINAL_SC_26_10_2017.pdf

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Fidhia Kemala
Tanggal diperbarui 09/03/2021
x