home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

7 Bahaya Sering Makan Makanan Berminyak

7 Bahaya Sering Makan Makanan Berminyak

Jika Anda sering kesulitan menahan godaan untuk menikmati makanan berminyak, Anda tidak sendirian dalam hal ini. Meski hampir semua orang tahu bahwa makanan tinggi minyak bukanlah makanan sehat, menghindarinya memang sangatlah sulit.

Makanan berminyak berkandungan lemak tinggi. Jenis lemak pada makanan ini biasanya juga merupakan lemak “jahat” yang merugikan kesehatan. Lantas, apa saja dampak yang mungkin muncul saat sering makan makanan mengandung minyak?

Bahaya makanan berminyak bagi kesehatan

gorengan menyebabkan batuk

Salah satu cara memasak yang mudah dan praktis yakni menggoreng. Itulah mengapa Anda bisa menemukan makanan mengandung minyak di mana saja, mulai dari restoran cepat saji, pusat jajanan, kaki lima, hingga dapur Anda sendiri.

Jika Anda hanya mengonsumsinya sesekali dalam sebulan, mungkin tidak akan muncul masalah pada tubuh Anda. Namun, dalam jumlah banyak atau jangka panjang, minyak pada makanan dapat menimbulkan masalah kesehatan sebagai berikut.

1. Gangguan sistem pencernaan

Minyak berlebih yang Anda dapatkan saat makan gorengan bisa memberikan tekanan pada sistem pencernaan. Ini karena proses pencernaan lemak lebih lama dibandingkan zat gizi lainnya sehingga lemak bertahan lebih dalam dalam perut Anda.

Sistem pencernaan akhirnya bekerja lebih berat untuk memecah makanan yang berasal dari makanan berminyak. Lama-kelamaan, Anda mungkin mengalami keluhan seperti kembung, mual, atau sakit perut.

Makanan ini juga bisa memicu gejala pada orang yang mengalami penyakit pada sistem pencernaan seperti sindrom iritasi usus (IBS), pankreatitis kronis, atau muntaber. Mereka mungkin mengalami kram, sakit perut, dan diare.

2. Mematikan bakteri baik dalam usus

Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa apa yang Anda makan memengaruhi keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Usus Anda memiliki bakteri baik yang bertugas menjaga kekebalan tubuh dan membantu beberapa fungsi lainnya.

Konsumsi makanan berminyak yang berlebih dapat mengganggu keseimbangan bakteri di dalam usus. Lemak akan mematikan bakteri baik sehingga jumlah bakteri merugikan menjadi lebih banyak.

Perubahan jumlah bakteri usus tidak hanya dapat memengaruhi kekebalan tubuh, tapi juga pencernaan serat, berat badan, kesehatan jantung, hingga kesehatan pencernaan secara umum. Jadi, mulailah membatasi konsumsi makanan yang tinggi akan minyak.

3. Memicu pertumbuhan jerawat

Jerawat memang tidak langsung muncul setelah Anda makan gorengan atau makanan lainnya yang banyak mengandung minyak. Meski begitu, asupan minyak yang berlebih lambat laun dapat mengganggu keseimbangan hormon di dalam tubuh.

Gangguan hormon merupakan salah satu penyebab munculnya jerawat. Tak hanya itu, makanan yang mengandung minyak bisa merangsang kerja kelenjar minyak pada kulit. Akibatnya, minyak berlebih menutup pori dan menjadi awal munculnya jerawat.

Anda mungkin menyadari kalau sebagian besar makanan berminyak juga mengandung gula. Lemak dan gula yang berlebih dapat memperparah peradangan di dalam tubuh. Jerawat akhirnya tidak hanya sulit sembuh, tapi juga bisa bertambah parah.

4. Meningkatkan risiko obesitas

Lemak dan minyak sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko obesitas. Tidak heran mengingat makanan tinggi lemak memang mengandung lebih banyak kalori. Sebagai gambaran, tiap 1 gram lemak dapat menyumbangkan sekitar 9 kalori untuk tubuh Anda.

Jika Anda sering makan makanan berminyak, asupan kalori harian tentu semakin banyak. Misalnya saja, kalori pada tahu goreng bisa mencapai lebih dari 100 kkal. Kini bayangkan sebanyak apa asupan kalori Anda bila Anda makan gorengan setiap hari.

Asupan lemak yang tidak diiringi pola makan dan gaya hidup sehat bisa meningkatkan risiko kegemukan hingga obesitas. Keduanya merupakan faktor risiko dari beragam penyakit, mulai dari penyakit jantung, diabetes, hingga radang sendi.

5. Meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes

Terlalu sering makan makanan berminyak dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, terutama penyakit jantung dan diabetes. Hal ini didasarkan pada penelitian di Harvard School of Public Health, kepada 100.000 orang pria dan wanita selama 25 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang makan gorengan sebanyak 4 – 6 kali seminggu berisiko hingga 39% untuk terkena diabetes tipe 2. Risiko penyakit jantung pun meningkat 23% dibandingkan dengan yang makan gorengan sekali seminggu.

Sementara itu, orang-orang yang makan gorengan 7 kali atau lebih selama seminggu mengalami peningkatan risiko penyakit diabetes hingga sekitar 55%. Cara terbaik untuk mencegahnya tidak lain dengan membatasi asupan makanan berminyak.

6. Meningkatkan risiko kanker

Pola makan yang tinggi lemak dan minyak tidak hanya berdampak pada risiko obesitas dan penyakit jantung. Hal ini juga meningkatkan risiko beragam penyakit kanker seperti kanker payudara, kanker usus besar, dan kanker paru.

Sampai saat ini para peneliti masih terus melakukan riset untuk memastikan hubungan tersebut. Meski begitu, National Cancer Institute AS menyarankan setiap orang untuk membatasi asupan lemak jenuhnya dari makanan sehari-hari.

Anda juga disarankan untuk menghindari konsumsi makanan mengandung lemak trans. Sebaliknya, pilihlah lemak menyehatkan yang berasal dari ikan, kacang-kacangan, alpukat, biji-bijian, dan makanan alami sejenisnya.

7. Mengganggu fungsi otak

Konsumsi berlebihan makanan berminyak mungkin dapat mengganggu fungsi otak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hal ini berkaitan dengan kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, dan gangguan metabolisme akibat asupan lemak berlebih.

Semua faktor tersebut berkaitan dengan gangguan pada struktur, jaringan, dan aktivitas pada organ otak. Bahkan, sebuah studi dalam Journal of Nutritional Science menunjukkan adanya penurunan dalam kemampuan belajar dan mengingat.

Berbagai efek ini tentu tidak langsung muncul dalam waktu singkat. Namun, tentu lebih baik bila Anda mencegahnya dengan membatasi asupan makanan yang mengandung minyak seperti fast food, donat, piza, kentang goreng, dan sejenisnya.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mazzawi, T., & El-Salhy, M. (2017). Effect of diet and individual dietary guidance on gastrointestinal endocrine cells in patients with irritable bowel syndrome (Review). International journal of molecular medicine, 40(4), 943–952. https://doi.org/10.3892/ijmm.2017.3096

Pearson, K. E., Wadley, V. G., McClure, L. A., Shikany, J. M., Unverzagt, F. W., & Judd, S. E. (2016). Dietary patterns are associated with cognitive function in the REasons for Geographic And Racial Differences in Stroke (REGARDS) cohort. Journal of nutritional science, 5, e38. https://doi.org/10.1017/jns.2016.27

Murphy, E. A., Velazquez, K. T., & Herbert, K. M. (2015). Influence of high-fat diet on gut microbiota: a driving force for chronic disease risk. Current opinion in clinical nutrition and metabolic care, 18(5), 515–520. https://doi.org/10.1097/MCO.0000000000000209

Zhao, Y., Wang, L., Xue, H., Wang, H., & Wang, Y. (2017). Fast food consumption and its associations with obesity and hypertension among children: results from the baseline data of the Childhood Obesity Study in China Mega-cities. BMC public health, 17(1), 933. https://doi.org/10.1186/s12889-017-4952-x

Belin, R. J., Greenland, P., Martin, L., Oberman, A., Tinker, L., Robinson, J., Larson, J., Van Horn, L., & Lloyd-Jones, D. (2011). Fish intake and the risk of incident heart failure: the Women’s Health Initiative. Circulation. Heart failure, 4(4), 404–413. https://doi.org/10.1161/CIRCHEARTFAILURE.110.960450

Jannasch, F., Kröger, J., & Schulze, M. B. (2017). Dietary Patterns and Type 2 Diabetes: A Systematic Literature Review and Meta-Analysis of Prospective Studies. The Journal of nutrition, 147(6), 1174–1182. https://doi.org/10.3945/jn.116.242552

Melnik B. (2012). Dietary intervention in acne: Attenuation of increased mTORC1 signaling promoted by Western diet. Dermato-endocrinology, 4(1), 20–32. https://doi.org/10.4161/derm.19828

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui 08/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x