home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

6 Masalah Gizi yang Paling Sering Terjadi di Indonesia, dari Balita Hingga Dewasa

6 Masalah Gizi yang Paling Sering Terjadi di Indonesia, dari Balita Hingga Dewasa

Indonesia merupakan salah satu negara dengan masalah gizi yang beragam. Sejumlah penelitian turut menyebutkan bahwa masalah gizi di Indonesia cenderung meningkat, tidak seperti beberapa negara ASEAN lain seperti Malaysia atau Thailand.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga. Ketiganya yaitu masalah gizi yang sudah terkendali, yang belum dapat diselesaikan, serta yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat.

Masalah gizi di Indonesia yang sudah terkendali

imunisasi bayi dan anak

Ada tiga macam permasalahan gizi di Indonesia yang sudah terkendali, yaitu kurang vitamin A, gangguan akibat kekurangan iodium/yodium (GAKI), dan anemia. Berbagai masalah ini ditanggulangi melalui program pemerintah. Simak rinciannya.

1. Kurang vitamin A (KVA)

Kekurangan vitamin A (KVA) termasuk masalah gizi di Indonesia yang umum dialami oleh anak-anak dan ibu hamil. Meskipun masalah ini sudah dapat dikendalikan, kekurangan vitamin A dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani.

Pada anak-anak, kondisi ini bisa menyebabkan masalah penglihatan hingga kebutaan. Risiko penyakit diare dan campak juga meningkat. Sementara pada ibu hamil, efeknya yakni peningkatan risiko kebutaan hingga kematian saat persalinan.

Namun, Indonesia kini mampu mencegah masalah gizi ini dengan pemberian kapsul vitamin A di Puskesmas. Pemberian kapsul dilakukan dua kali dalam setahun, tepatnya pada bulan Februari dan Agustus sejak anak berumur enam bulan.

Kapsul merah (dosis 100.000 IU/International Unit) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.000 IU) untuk anak umur 12-59 bulan.

2. GAKI

Tubuh membutuhkan yodium untuk menghasilkan hormon tiroid. Hormon ini mengatur proses metabolisme dan sejumlah fungsi penting lainnya, termasuk pertumbuhan, penurunan atau pertambahan berat badan, dan denyut jantung.

GAKI bukanlah satu-satunya penyebab penurunan kadar tiroid di dalam tubuh. Meski begitu, kekurangan yodium diketahui dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid secara tidak normal. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit gondok.

Guna menanggulangi masalah gizi ini, pemerintah telah mewajibkan penambahan yodium sekurangnya 30 ppm ke dalam semua produk garam yang beredar. Jadi, pastikan Anda sudah menggunakan garam beryodium untuk menjaga kesehatan tubuh.

3. Anemia

Anemia merupakan kondisi tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen. Masalah kesehatan ini paling banyak ditemukan pada ibu hamil dengan gejala berupa rasa lelah, pucat, detak jantung tidak teratur, dan pusing.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, lebih dari 37% ibu hamil mengalami anemia. Studi menunjukkan bahwa ibu hamil yang anemia memiliki risiko meninggal dalam proses persalinan hingga 3,6 kali lebih besar akibat pendarahan dan/atau sepsis.

Untuk mencegah anemia, ibu hamil dianjurkan untuk meminum paling sedikit 90 pil zat besi selama kehamilan. Zat besi yang dimaksud yaitu semua jenis zat besi selama masa hamil, termasuk yang dijual bebas dan multivitamin yang mengandung zat besi.

Masalah gizi di Indonesia yang belum terselesaikan

anak kurus

Di bawah ini dua jenis permasalahan gizi di Indonesia yang masih belum terselesaikan.

1. Stunting

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang cukup umum di Indonesia. Kondisi ini disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, umumnya karena pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Gejala-gejala stunting yakni sebagai berikut.

  • Postur anak lebih pendek dari anak seusianya.
  • Proporsi tubuh cenderung normal, tapi anak tampak lebih muda atau kecil untuk usianya.
  • Berat badan lebih sedikit untuk anak seusianya.
  • Pertumbuhan tulang tertunda.

Pada 2013, sebanyak 37,2% balita di Indonesia mengalami stunting. Kondisi ini sering kali dianggap normal karena alasan keturunan. Padahal, stunting dapat memengaruhi perkembangan otak, dan mengurangi produktivitas seseorang di usia muda.

Stunting juga meningkatkan risiko pengembangan penyakit tidak menular pada usia lanjut. Masalah gizi ini bahkan dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas, dan kematian akibat infeksi.

Waktu terbaik untuk mencegah stunting yaitu sejak awal kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak. Pemberian ASI eksklusif dan gizi seimbang pada balita perlu menjadi perhatian khusus agar anak tidak tumbuh pendek atau stunting.

2. Gizi kurang

Tubuh kurus akibat gizi kurang kerap dinilai lebih baik daripada tubuh gemuk akibat gizi lebih. Padahal, obesitas dan gizi kurang sama-sama berdampak buruk bagi kesehatan. Sebagai awalan, Anda bisa mengukur kategori status gizi melalui kalkulator BMI.

Permasalahan gizi kurang sudah bisa terjadi sejak bayi lahir. Ciri utamanya yakni bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bayi dikatakan mengalami BBLR bila berat badannya ketika lahir kurang dari 2.500 gram (2,5 kilogram).

Bayi yang lahir dengan BBLR umumnya memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik. Pasalnya, kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit infeksi. Hal ini dimulai sejak awal kehidupan dan bisa berlanjut hingga dewasa.

Beberapa risiko yang berawal dari masalah gizi yakni:

  • malnutrisi,
  • kekurangan vitamin,
  • anemia,
  • osteoporosis,
  • penurunan kekebalan tubuh,
  • masalah kesuburan akibat siklus menstruasi yang tidak teratur, serta
  • masalah pertumbuhan dan perkembangan yang banyak terjadi pada anak dan remaja.

Masalah gizi yang paling mengancam kesehatan di Indonesia

berat badan berlebihan obesitas berisiko varises

Berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report pada 2018, Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3 permasalahan gizi sekaligus. Ketiganya yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan overweight (obesitas).

Obesitas (gizi lebih) termasuk dalam masalah gizi yang mengancam kesehatan masyarakat. Kondisi ini terjadi saat terdapat kelebihan lemak yang serius pada tubuh sehingga menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Penyebab gizi lebih yang paling mendasar yaitu ketidakseimbangan energi dan kalori yang dikonsumsi dengan jumlah yang dikeluarkan. Jika kalori yang masuk lebih banyak dibandingkan yang keluar, kalori ekstra tersebut dapat berubah menjadi lemak.

Bila sejak kecil anak sudah mengalami obesitas, mereka akan lebih rentan mengidap penyakit tidak menular ketika dewasa. Masalah gizi ini berkaitan erat dengan diabetes tipe 2, penyakit stroke, dan penyakit jantung.

Untuk menjaga berat badan tetap ideal, Anda perlu mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Caranya dengan membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, menambah asupan buah dan sayuran, serta rutin melakukan aktivitas fisik.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Menkes: Ada Tiga Kelompok Permasalahan Gizi di Indonesia. (2012). Retrieved 6 April 2021, from https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20121121/286362/menkes-ada-tiga-kelompok-permasalahan-gizi-di-indonesia/

Kekurangan Iodium Masih Saja Menjadi Masalah Kesehatan. (2019). Retrieved 6 April 2021, from https://www.litbang.kemkes.go.id/kekurangan-iodium-masih-saja-menjadi-masalah-kesehatan/

2018 Nutrition Country Profile: Indonesia. (2018). Retrieved 6 April 2021, from https://globalnutritionreport.org/documents/77/Indonesia.pdf

Riset Kesehatan Dasar 2013. (2013). Retrieved 6 April 2021, from https://www.pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf

Micronutrients. (2020). Retrieved 6 April 2021, from https://www.who.int/health-topics/micronutrients#tab=tab_1

Iodine Deficiency. (n.d.). Retrieved 6 April 2021, from https://www.thyroid.org/iodine-deficiency/

Anemia. (2019). Retrieved 6 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/anemia/symptoms-causes/syc-20351360

Obesity and overweight. (2020). Retrieved 6 April 2021, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/obesity-and-overweight

Stunting in a nutshell. (2015). Retrieved 6 April 2021, from https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri Diperbarui 21/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x